Cara Membentuk Karakter Anak : Belajar dari Song Triplets

[caption id="" align="alignnone" width="1280"] image source : debeacham.com[/caption]

Saya memang orang yang jarang jalan-jalan, tapi bukan berarti saya tidak mau jalan-jalan. Malahan, bisa dibilang obsesi saya saat ini adalah jalan-jalan ke seluruh penjuru kota dan dunia. Tapi itu masih belum bisa tereksekusi, dan bukan berarti saya tidak merasa saya sedang jalan-jalan atau traveling. Traveling bisa dilakukan dimana saja, asal jiwa kita jiwa traveling. Maka, hasilnya akan menjadi sebuah traveling yang sangat menyenangkan. (Ngabubungah diri sendiri aja sih sebenernya hehe).

Setiap pagi saya sering sibuk menata kamar kos, agar saya selalu semangat setiap pagi dan mandi juga pagi. Karena berdasarkan pengalaman, mandi pagi ternyata membuat badan terasa lebih segar dan semangat untuk melakukan banyak hal. Maka, sebelum shalat subuh saya selalu memaksakan diri untuk mandi terlebih dahulu, meskipun udara Bandung sedang dingin-dingingnnya. Tapi semangat saya untuk mandi tidak akan luruh, karena dengan mandi saya berarti menjemput semangat. Manse!

Perjalanan saya yang sangat menyenangkan adalah bertemu dengan tiga orang kembar dari Korea. Nama mereka sangat nasionalis sekali, Dae Han, Min Guk, dan Man Se. Tahu artinya apa?
Artinya adalah Jayalah Republik Korea. Saya heran bagaimana mereka menamai anak-anak mereka dengan nama negara, karena saya belum pernah menemukan orang Indonesia yang memakai nama ‘Indonesia’ sebagai nama anaknya. Ada yang pernah dengar? Kalau artis, mungkin Afgan ya, yang pakai nama negara. Dan itu juga bukan nama negaranya sendiri.

Apa sih yang menarik dari mereka?

Bagi saya, bertemu tiga orang itu seperti bertemu dengan dunia baru anak-anak. Mereka ceria, kompak, penuh imajinasi dan bebas. Mereka menggambarkan dunia anak-anak yang sebenarnya.

Sang Ayah dari tiga kembar itu memberi tahu saya bahwa masuk kedalam dunia anak-anak harus disertai kesabaran. Sebagai orang dewasa, seharusnya lebih mengerti. Bukan anak yang dipaksa mengerti, karena mereka secara pengalaman tidak mungkin bisa mengerti orang tuanya.

Kenapa saya katakan baru? Karena setiap orang tua yang saya temui di sekitar saya, tetangga saya atau orang-orang yang saya temui, mereka dengan anaknya kadang membuat dunia anak menjadi dunia mereka sendiri. Misalnya seperti ini, saya punya tetangga yang memiliki anak kecil berumuran sekitar empat tahun. Hampir setiap pagi saya dengar si ibu memarahi si anak, membentaknya bahkan membuat anak itu pagi-pagi sekali sudah menangis. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati saya, apakah tidak ada keinginan untuk anak itu kabur saja dari rumah. Hehe, maklum fikiran perempuan berusia 23 tahun.

Saya kira, ibu itu tidak bisa masuk kedalam dunia anaknya yang penuh imajinasi dan kebebasan. Bukan untuk menjelek-jelekan orang lain, tapi saya miris sekali melihat peristiwa-peristiwa itu selalu terjadi, terutama di kampung saya. Dunia anak adalah dunia yang tentu saja berbeda dengan dunia orang dewasa. Sebagai anak-anak mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya dilahirkan dengan potensi-potensi yang mesti diasah oleh orang tuanya. Bayangkan saja, jika orang tuanya setiap hari menanamkan kekerasan, melarang ini, itu kepada anaknya. Saya kira mereka malah akan mengalami banyak ketakutan dan keraguan saat dewasa nanti. Tapi, who knows, ini hanya observasi saya, perempuan yang belum memiliki anak dan menikah.

Saya jadi berfikir, bagaimana nanti kalau saya punya anak. Apakah saya bisa masuk kedalam dunia mereka? mengerti mereka dan memberikan mereka pendidikan yang baik?

Asuhan dari sang ayah ternyata adalah hal penting. Psikolog Carl Gustav Jung menyebutkan tentang anima dan animus. Ia adalah sisi maskulin dan fenimin dari manusia. Keberadaannya harus seimbang untuk membentuk psikologi yang sehat. Karena jika salah satunya tidak ada, ini akan mengakibatkan beberapa gangguan psikologi. Anima dan animus ini tentu saja didapatkan dari orang-orang yang memiliki potensi itu, yaitu ibu dan ayah. Jika menemukan lelaki yang gagah dengan kasih yang luar biasa, mereka adalah orang dengan anima dan animus nya seimbang.

Kenapa gangguan psikologi bisa menjadi masalah?

Gangguan psikologis bisa mengancam keindahan dalam hidup. Hidup yang seharusnya berjalan dinamis, akan menjadi penderitaan yang mendrastis. Misalnya begini, ketika seseorang dengan tingkat sisi ibu yang lebih dominan, ia hanya akan memiliki sisi lembut dari si ibu. Dan tentu saja, sifat feminim ini akan membawa manusia pada sifat yang mengedepankan perasaan. Ini sangat berbahaya, kerena sifat mengedepankan perasaan tanpa aktifnya logika akan membuat seseorang lebih sering terkena stres. Ketika ia stres, banyak pekerjaan atau hal-hal yang akan tidak sesuai dengan seharusnya. Dan akan mengacaukan perputaran yang sudah direncanakan.

Dan saya kira, psikologis yang sehat juga akan membantu kita meraih mimpi-mimpi kita.

Masih banyak yang ingin ditulis, tapi nanti saja deh, biar banyak postingannya. Semoga tulisannya bisa dilanjutkan.
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel