Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

MARYAM : Suara Kaum Minoritas



Beberapa bulan terakhir, dunia sedang dirundung duka. Dimana sebuah virus baru mengganggu keberadaan manusia. Virus tersebut bernama virus covid-19. Mari kita berdoa bersama, semoga keluarga, sahabat, dan orang-orang yang dekat dengan kita dijauhkan dari penyakit tersebut. Amiiin

Akhir-akhir ini juga terjadi sebuah peristiwa dimana seluruh negara memberlakukan distance relations. Jaga jarak dengan manusia lain agar penyebaran virus bisa dicegah. Sehingga orang banyak menghabiskan waktu di rumah. Salah satunya aku, yang membaca buku Maryam.

Sebenarnya sudah lama ingin menyelesaikan buku Maryam karya Okki Madasari ini. Tetapi ternyata baru selesai kemarin. Dan buku ini memang seseru itu. Membacanya, membuat kita merasakan apa yang sebenar-benarnya kaum Minoritas rasakan.

Di Negaraku, pelabelan pada suatu kaum yang memang tidak merupakan kaum kebanyakan dinyatakan sesat. Penyesatan bahkan dilakukan oleh pemerintah yang notabene seharusnya menjaga rakyatnya. Dan label sesat yang diberikan oleh pemerintah itu, menghancurkan persaudaraan, rasa kepercayaan, dan rasa aman yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia Indonesia.

Keluarga Maryam adalah keluarga yang menganut Ahmadiyah sejak dari kakek buyut mereka. Tinggal di sebuah desa yang tentram dan damai. Rukun dengan tetangga yang memiliki perbedaan aliran. Mereka tidak mengganggu satu sama lain, bahkan mereka mengadakan pengajian yang berbeda tanpa ada masalah apapun.

Maryam merasakan, menjadi Ahmadiyah sudah menjadi hal yang sulit sejak ia kecil. Seringkali dibeda-bedakan, dan ia merasa ia harus lepas dari label agama sehingga orang tidak akan memandang ia berbeda. Dan itu ia lakukan, sehingga ayahnya murka dan ia kabur ke ibukota menikah dengan seorang lelaki yang bukan Ahmadi.

Kehidupan di ibukota yang tidak pernah memandang perbedaan agama dan aliran, membuatnya sedikit bisa bernafas lega. Bayang-bayang agama yang menjadikan ia sulit bergerak dan dikucilkan kini sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupannya.

Tetapi gejolak batin, kerinduan kepada keluarga dan rasa bersalah yang besar membuat Maryam ingin pulang. Dia kembali kepada ibu bapaknya dengan penyesalan yang mendalam. Ia tahu, bahwa ayahnya kesulitan karena mereka terusir dari kampungnya, tidak lain karena Ahmadiyah di cap aliran sesat oleh pemerintah.

Maryam murka, merasa hidup mereka tidak mendapatkan keadilan yang semestinya. Tanah yang ditempati mereka adalah tanah yang perjuangkan dengan darah, keringat, dan air mata ayahnya dan kakeknya dulu. Kini mereka harus pergi dan terusir karena agama mereka dianggap sesat.

Pengusiran kedua terjadi setelah mereka mendapatkan pemukiman yang nyaman, hasil dari patungan dengan warga Ahmadiyah lain. Rumah mereka dibakar, orang-orang yang merasa tidak sesat melempar batu tanpa ragu. Hingga akhirnya, orang yang sedikit harus kembali menerima kepedihan tinggal di pengungsian. Selama 5 tahun tinggal di sebuah pengungsian yang disediakan oleh pemerintah.

Apakah ada mediasi? tentu saja Maryam dan keluarganya paling lantang menyuarakan apa yang mereka inginkan kepada pemerintah. Tetapi yang terjadi, pemerinta sekitar tidak bisa berbuat apa-apa Mereka merasa bahwa kaum yang banyak adalah yang paling benar. Dan Maryam serta Ahmadiyah yang lain diminta untuk bertaubat agar kembali ke jalan yang menurut kebanyak orang benar.

Baru pertama kali membaca karya Okki Madasari dan novel ini menggambarkan kepedihan kaum minoritas dengan sangat cerdas. Dan suara-suara seperti inilah yang seharusnya banyak diperhitungkan saat membuat kebijakan. Pelabelan pada sebuah agama yang memiliki aliran berbeda, seharusnya diperhitungkan dari sisi keamanan pemeluknya.

Seharusnya kita bisa melihat dari sisi orang yang terusir. Karena dengan terusirnya mereka, maka akan banyak hal yang terputus. Perekonomian sudah jelas, mereka tidak bisa lagi melanjutkan usaha yang sudah mereka rintis dan bangun dari awal. Persaudaraan apalagi, tetangga-tetangga yang pada awalnya tidak masalah dengan kepercayaan mereka, kini menjauh seperti melihat najis. Dan juga, anak-anak yang terusir, yang masa depannya masih sangat panjang harus merasakan pedihnya hidup di negara yang tidak menerima mereka.

Dari novel ini aku setuju bahwa, seharusnya negara tidak begitu campur tangan dengan urusan pribadi masyarakatnya, seperti agama. Biarkanlah agama berada di ranah privat. Karena setiap orang yang memeluk agama tersebut memiliki sejarah panjang yang tidak bisa mereka lepaskan begitu saja.

Pelabelan pada sebuah aliran keagamaan hanya akan membuat mereka menjadi manusia Indonesia yang akan merasa dikecualikan. Hak-hak hidup yang terampas, ternyata tidak semudah yang kita lihat. Mungkin karena kita kaum mayoritas jadi tidak banyak yang bisa kita rasakan dari terusirnya mereka. Tetapi, jika rasa kemanusiaan menyala dalam diri, apakah tega melihat tetangga kita terusir dengan sangat tidak adil di negara tempat mereka lahir?

Pamarican, 18 Maret 2020
Read more

30 Days Creatives #18 Membaca Sirkus Pohon

Sirkus Pohon Andrea Hirata
Source : Goodreads
Baru selesai membaca buku baru bang Andrea Hirata. Buku terakhirnya yang aku baca judulnya `Ayah` dan kayanya gak sempet aku review. Dan buku ini pun kalo gak dateng ke Gramed, gak bakal tahu kalau bang Andrea ngeluarin buku baru. Buku ini cetakan pertamanya terbit bulan Agustus 2017 kemaren.

Andrea selalu memiliki gaya khas dalam bercerita yang buat aku bisa berlama-lama membaca buku ini dengan khusuk tanpa mengantuk. Ceritanya selalu mengalir dengan kata-kata yang tidak pernah pantang menyerah untuk selalu indah. Ia selalu membawa cerita dengan amat apik dengan penggambaran suasana yang selalu jeli. Dan yang paling sering ia perhatikan dalam setiap novel yang pernah aku baca adalah menghidupkan benda-benda mati. Maksudku, ia selalu membuat benda mati seolah sedang berbicara dengan kita. Ia selalu menghidupkan mereka dan membuat suasana yang dibangun dalam ceritanya menjadi sangat anggun dan terasa oleh aku sebagai pembaca.

Dan hingga sekarang, cerita yang dibangun selalu berada di daerah Belitong di kampung halamannya. Ia selalu menjunjung tinggi keunikan di daerahnya dengan mengangkat persoalan kehidupan masyarakat ekonomi yang rendah. Ia seolah sedang menyuarakan jeritan hati orang-orang desa. Ia juga tidak kalah cerdas dalam menggambarkan kehidupan orang kampung dengan segala kepolosan dan kesengsaraan mereka.

Ia juga menggambarkan kehidupan orang kampung yang memiliki tingkat ekonomi rendah dengan cara bahagia yang sungguh sederhana, yaitu dengan mendapatkan cinta. Cinta selalu Andrea gambarkan sebagai salah satu hal yang membuat orang dan manusia manapun menjadi bahagia. Cinta adalah sesuatu hal yang membuat kita bisa hidup dan bertahan untuk hidup. Dan cinta adalah suatu hal yang membuat Andrea selalu bercerita dengan indah. Hal itu berdasarkan pembacaanku dari buku-buku yang pernah aku baca. Serial laskar pelangi, menceritakan cinta seorang anak mudah yang mencintai perempuan elok. Novel ayah bercerita juga tentang cinta seorang ayah kepada anaknya. Dan kali ini, cerita cinta juga ia bawa dalam novel Sirkus Pohon ini.

Novel Sirkus Pohon ini difokuskan pada dua tokoh dalam cerita ini. Tokoh pertama adalah Hobri dan cintanya Dinda, dan yang kedua Tegar bersama perempuan bernama Tara. Kedua lelaki miskin itu memiliki cinta yang amat hebat kepada perempuan yang mereka kagumi. Bahkan Hobri rela untuk menunggu hingga Dinda sadar dari penyakitnya, hingga ia sendiri yang disebut orang gila. Dan kisah cinta Tara dan Tegar adalah kisah cinta unik yang Andrea pertemukan dengan cara yang begitu unik. Mereka bertemu di masa kecil di Pengadilan Agama saat sidang cerai ayahnya. Mereka secara tidak langsung saling memperhatikan satu sama lain, karena suatu hal. Mereka saling jatuh cinta satu sama lain dan bertemu dengan cara yang sanat unik dan mengesankan.

Andrea juga menyelipikan cerita-cerita yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat bawah. Yaitu kepemimpinan di masyarakat bawah. Bagaimana pemerintahan di masyarakat bawah berjalan, bagaimana orang miskin seperti Hobri bisa dibodohi dengan mudah oleh orang yang memiliki kekuasaan dan uang, dan bagaimana orang-orang yang ingin mendapatkan kekuasaan mengandalkan berbagai cara untuk bisa mendapatkan kursi kekuasaan. Kritik kepada pemerintah dalam novel tersebut Andrea bawa dengan cara yang jenaka, polos dan juga mengesalkan.

Namun, aku cukup kecewa dengan akhir cerita dari novel ini. Karena terlalu menggantung dan tidak enak saat menyelesaikan. Aku ngerasa novel ini masih ada cerita selanjutnya yang bisa diceritakan lagi. Dengan akhir cerita yang lebih memuaskan. Atau memang mungkin novel ini sengaja di buat menggantung karena ada sambungannya?
Read more

Hujan Bulan Juni ‘Sapardi’ dalam Novel

[caption id="" align="alignnone" width="780"] image source : entertainment.kompas.com[/caption]

Hujan Bulan Juni ‘Sapardi’ dalam Novel

Puisi adalah medium, medium bisa berarti dukun. Dalam ilmu yang dipelajarinya, orang pandai di zaman lampau yang dianggap mampu menghubungkan yang masih hidup dengan yang sudah mati. Ia percaya, bahwa manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertemu muka. Bahkan dari jarak yang sangat jauh sekali pun. Dia percaya pada teori yang menjelaskan bahwa inti dari kehidupan adalah komunikasi dan komunikasi itu inti dari kehidupan. Dan bahwa puisi itu komunikasi, dan bahwa komunikasi itu shaman. Dan bahwa shaman itu medium. Dan oleh karenanya puisi itu medium.

Bulan Juni termasuk bulan kemarau. Ini tidak masalah baginya, karena bagi Sarwono
Read more

Dilan : dia adalah Dilanku tahun 1991 ( Novel Dilan ke dua )

[caption id="" align="alignnone" width="592"] image source : ceritadwi.blogspot.com[/caption]

Inilah novel yang banyak penunggunya. Mulai dari anak-anak sampai lansia, jelas tanpa penelitian, jadi tidak usah dipercaya. Saya tidak sempat mereview novel Dilan pertama. Tapi yang jelas novel itu seperti sudah menjadi buku wajib anak gaul Bandung. Jadi yang gak gaul seperti saya pun ingin punya novelnya. Dan dari novel itu, banyak sekali yang ke Dilan Dilanan, banyak perempuan yang bermimpi memiliki pacar seperti Dilan, atau ada juga yang yang cara ngobrol atau bikin statusnya bergaya Dilan. Seperti salah satu teman saya yang tidak usah saya sebutkan disini, karena itu tidak penting.

Meskipun yang saya dapat dari novel ini adalah murni cerita cinta. Tapi jika hanya cerita cinta orang lain pun akan punya. Dilan tentu saja berbeda bagi Millea yang jelas mencintainya. Itu sudah otomatis ketika punya pacar, dan pacarnya itu akan diunggulkan dan dikatakan paling special. (Iya gak? :D )

Ini beda sih rasanya memang
Read more

Novel Ayah - Andrea Hirata

[caption id="" align="alignright" width="333"] image source : perpustakaansekar.wordpress.com[/caption]

Mungkin saya termasuk pembaca yang seringkali lupa ingatan ketika membaca tulisan awal dari sebuah novel. Seperti orang yang dimabuk cerita, dan lupa awal mula cerita yang dipaparkan penulis. Tapi darisana saya seringkali menemukan kehebatan penulis. Mereka selalu bisa menyembunyikan cerita yang sesungguhnya, sehingga pembaca menjadi terkejut dan berkata “oh, begitu rupanya!”

Kejutan-kejutan dalam isi sebuah novel selalu menjadi bagian yang paling penting dalam cerita. Sebagai pembaca novel, saya senang dengan alur cerita yang seperti itu. Sama seperti yang dilakukan Eka Kurniawan dalam novelnya Manusia Harimau dan Cantik Itu Luka, atau beberapa cerpennya yang pernah saya baca dan lupa apa judulnya.

Tekhnik bercerita seperti itu yang seringkali menarik tapi bagi saya itu adalah hal tersulit. Menyembunyikan cerita dengan cara yang apik dan tidak mudah ditebak.
Read more

Manusia Puisi : Umbu Landu Paranggi

image source : trudonahu.blogspot.com

“Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan..... –Melodia-“



“....Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati”

-Apa ada angin di Jakarta-
Read more

Memoar Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer

Buku ini mengatakan kepada kita bahwa betapa berharganya Pram sebagai milik bangsa Indonesia. Keterlibatannya dalam dunia menulis ditularkan kepada adik-adiknya dengan didikan seorang kakak

Koesalah menuliskan dalam buku ini tentang perjalanannya bersama Pram. Dan kebanyakan ia menulis tentang hubungannya dengan Pram dan cara Pram mendidiknya dari mulai ia kecil.
Read more

Ulasan Buku : Gadis Pantai

image source : hembusananginlembut.wordpress.com[/caption]


Judul : Gadis Pantai

Penerbit : Lentera Dipantara

Halaman : 207

Cetakan ke 7 - 2011

Gadis Pantai, bukan anak Reggea. Gadis Pantai adalah ia yang harus menelan keganasan kekuasaan, kepicikan berfikir,dan kekerdilan aksara vandalisme Angkatan Darat. Saksi sejarah negara yang tidak usah terulang kembali.
Read more

Belajar dari Guru Isa



Akhir-akhir ini saya menyibukkan diri memegang buku Jalan Tak Ada Ujung karya dari Mochtar Lubis. Bukan memegang buku asli, atau membacanya dengan sengaja. Hanya saja, kebetulan harus membacanya dan mengetiknya.

Novel ini mengambil setting di Jakarta tahun 1946. Berarti setahun setelah Proklamasi kemerdekaan negara di bacakan. Dan negara telah merdeka. Tapi ternyata pemberontakan dan penyerangan terhadap warga masih terjadi. Saya pernah baca sejarah tentang ini, tapi bodohnya saya luput untuk menceritakan kembali karena lupa dan buku tersebut tidak ada di tempat saya sekarang.



Pemuda masih berapi-api melawan penjajah yang sejatinya belum hilang. Seperti peristiwa yang terjadi pada siang itu, dimana serdadu-serdadu NICA menyerang setiap penduduk yang berusaha lari padahal hanya untuk mengambil keluarga Indo di tempat itu yang merasa terancam tinggal disana dan minta dipindahkan ke Bataliyon Sepuluh, serdadu itu pun datang untuk melindungi mereka.

Saya setuju dengan Guru Isa, kenapa hanya untuk mengamankan satu keluarga harus menyerang warga lain di sekitar. Entah berupa sikap tidak menerima kekalahan atau apa, saya tidak paham.

Hazil dan kawan-kawan pemuda bersatu untuk memberontak para penjajah dengan senjata berupa bambu runcing dan sebuah pistol milik Hazil. Menarik ketika berbicara tentang pistol ini bagi saya sendiri, karena teman-teman Hazil merasa cemburu dan bangga melihat pistol yang dibawa oleh Hazil. Pistol ini juga dibawa-bawa dalam cerita awalnya. Pemuda yang bernama Hazil ini digambarkan dengan pistolnya. Saya merasa ini sangat menonjol sekali, entah kenapa harus pistol, bukan bambu runcing yang di tonjolkan oleh penulis. Selain itu, dari perkumpulan anak muda yang bersama Hazil mereka hanya disebutkan memiliki dua buah pistol, geranat, dan perlawanan lainnya lebih banyak menggunakan bambu runcing.

Menurut saya ini menunjukkan sebuah keberanian dari anak muda. Sedangkan lawan yang mereka hadapi seluruh serdadu mengenakan senjata tersebut. Bukan hanya satu atau dua. Mungkin juga penulis ingin menunjukan bahwa meskipun di tengah keterbatasan, bagi pemuda masa itu tidak ada halangan untuk tidak melawan karena senjata yang sebenarnya adalah keberanian dan keyakinan.

Bagi saya bagian yang paling menarik bukanlah tentang pemberontakan yang dilakukan anak muda, yang dalam hal ini diperankan oleh sosok Hazil. Dan justru inti dari buku ini juga bukan dalam masalah perlawanan terhadap musuh yang real. Tapi sebuah perlawanan terhadap musuh dalam diri sendiri, yaitu berupa pikiran yang dimiliki Guru Isa, ketakutan.

Ketakutan yang dirasakan Guru Isa ternyata berpengaruh terhadap psikologi dan psikis nya. Sampai dokter memfonisnya sebagai akibat dari psikologis ketika kelelakiannya tidak berfungsi, dan Fatimah, istrinya amat kecewa karena tidak bisa memuaskan hak batinnya sebagai seorang suami. Hal ini memperparah ketakutan yang dirasakan Guru Isa dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya termasuk cara dia memainkan musik. Musik yang dimainkan Guru Isa adalah musik dengan melodi yang penuh dengan perburuan akan kebahagiaan.

Guru Isa seringkali diliputi dengan ketakutan. Bahkan dia takut dimarahi anaknya yang berusia empat tahun saat dia dengan tidak sengaja menyiram anaknya dengan air tadahan hujan. Begitupun dia sangat takut ketika pulang tidak membawa uang untuk membeli beras, ia sangat takut kepada istrinya. Hingga ketakutan itu membawanya untuk melakukan hal yang diluar dari kebiasaan dirinya, mencuri.

Mochtar Lubis membuat saya greget saat berhadapan dengan Guru Isa. Saat membacanya, saya melalui sebuah keadaan yang membosankan saat Guru Isa tidak juga menemukan dirinya dan selalu saja dihadapkan pada ketakutan-ketakutan yang tidak berarti. Emosi saya yang harusnya terbawa pada cerita menarik lain jadi terkalahkan oleh ketakutan Guru Isa.

Tapi kita akan dibawa pada kesadaran lain di ujung cerita. Kita akan tahu bahwa segala hal yang dilalui oleh Guru Isa memiliki sebuah keajaiban. Selain sebuah keajaiban ketika kelelakiannya kembali, dan senyum lebar Guru Isa saat harus mendekam di penjara bersama kekalahan Hazil. Ketika Hazil merasa kalah, justru Guru Isa merasa dirinya adalah pemenang yang sebenarnya. Sebab dia terbiasa dengan rasa takutnya dan bisa berdamai dengan rasa takut itu.

Saya pikir tentang ‘ketakutan’ Guru Isa memang inti ceritanya, dan Mochtar Lubis benar-benar kuat memerankan peran Guru Isa disini. Karena seperti yang saya sebutkan tadi, saya jadi terpaku pada ketakutan Guru Isa, dan hampir tidak bisa tertarik pada cerita lain karena terfokus pada Guru Isa.

Dan pada akhirnya, bacalah buku ini. Sekalipun di pertengahan kau mungkin akan merasa bosan. Tapi cerita akhir akan membuatmu bernafas lega kembali.
Read more

The Impression of Book : Man Tiger – Eka Kurniawan

Kesan saya ketika membaca sepersekian lembar dari halaman buku ini, yaitu "gagal paham". Suguhan cerita disajikan dengan alur mundur. Eka menulis seperti sedang membawa seorang manusia berumur 28 tahun kehadapan saya. Dan saya tidak tahu asal usulnya, kemudian laki-laki itu ternyata laki-laki yang sangat aneh dan membuat terheran-heran, tapi disinilah serunya. Tiba-tiba saja saya harus menyaksikan sebuah kejadian yang mengerikan dimana Margio membunuh Anwar Sadat. Anwar Sadat dibunuh oleh Margio dengan cara yang sangat mengerikan, Margio membunuhnya dengan menggigit leher Anwar Sadat sampai putus urat-uratnya. Dan mati dalam cengkraman gigitan yang ketiga kalinya. Di awal cerita, Eka berhasil membuat saya merasa kasihan dan iba melihat antagonis seperti Anwar Sadat.

Kemudian, Eka menceritakan kronologi kejadiannya:

Margio adalah anak yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Saat ia duduk-duduk bersama temannya di warung, tiba-tiba saja dia berpamitan kepada temannya untuk pergi ke rumah Anwar Sadat. Temannya pun tidak ada kecurigaan sama sekali karena memang raut muka Margio amatlah datar. Tapi, betapa terkejutnya mereka ketika Ma Soma berlari dan memberi tahu bahwa Anwar Sadat telah mati digigit oleh Margio. Dan alasan Margio saat diinterogasi adalah dia berkata bahwa bukan dia yang membunuh Anwar Sadat, tapi harimau yang ada dalam tubuhnya. Alasan yang ngawur ketika diungkapkan di zaman hutan gundul.

Sabab musabab kenapa Margio membunuh Anwar Sadat penulis ceritakan dalam bab-bab selanjutnya. Dan ini membuat pembaca menjadi meledak-ledak, terbawa emosi yang diciptakan dari karakter-karakter tokoh yang disajikan dalam cerita itu. Perasaan jengkel kepada Anwar Sadat dan Komar bin Syuaib, serta rasa jengkel kepada Nuraeni yang tidak juga melawan. Haru yang dirasa ketika Kasia harus mengurusi bayi yang tanpa diketahuinya adalah hasil dari kebiadan suaminya. Memberi susu dan pisang agar si ibu hamil dan si bayi dalam perut si ibu sehat. Membuat si ibu hamil terasa diiris-iris oleh dosa yang telah dia buat.

Setelah beberapa bab, Eka menjelaskan semua duduk perkaranya kepada saya, bahwa cerita yang selengkapnya adalah: Nuraeni adalah seorang anak yang cantik berumur 16 tahun. Dimana anak perempuan seumuran itu akan segera ada yang melamar, dan si perempuan pun tahu bahwa dirinya akan dilamar dan akan sangat senang ketika ada yang melamar. Datanglah Komar bin Syuaib laki-laki berumur 30-an melamar si cantik Nuraeni. Nuraeni pun senang bukan kepalang, tapi mereka berpisah beberapa tahun karena Komar bekerja di luar kota sebagai tukang cukur. Nuraeni sering menunggu surat dari Komar, minggu pertama dia menerima surat dari Komar tapi minggu-minggu selanjutnya Komar tidak mengirimi Nuraeni surat lagi. Dan itu melukai Nuraeni dan membuat Nuraeni jadi ragu kepada cinta Komar. Ketika Komar pulang ia bertemu dengan Nuraeni dan mengajaknya nonton, tapi Nuraeni tidak merespon apa yang dilakukan Komar kepadanya. Dia hanya diam dalam kekesalan yang tidak dimengerti Komar. Nuraeni merasa dirinya dicampakkan oleh Komar, dan dia hanya bisa diam dalam ketidakpahaman Komar. Tidak lama mereka menikah, dan Nuraeni tidak juga merubah sikapnya kepada Komar, dia tetap dingin. Hingga malam pertama pun Nuraeni memilih diam diperlakukan oleh suaminya.

Sampai mereka memiliki dua anak, Nuraeni tidak juga mendapatkan rasa cintanya kembali, ditambah dengan kelakuan Komar kepadanya yang seenaknya ketika bercinta dengan dia dan seringkali memukulnya dengan rotan.
Ia semakin tidak bisa menikmati kehidupan rumah tangganya, setiap hari dia berbicara dengan panci dan tungku di dapur. Hanya itu yang bisa dia ajak bicara, dan kalau Komar mengetahui ada perkataan Nuraeni yang tidak enak baginya, maka pukulan akan melayang. Pukulan itu juga menghantam anak-anaknya, apalagi Margio yang seringkali melawan ketika dilarang bermain oleh Komar. Karena hal itulah Margio merasa sangat benci kepada ayahnya dan ingin membunuhnya.

Kegetiran juga dilengkapi dengan keadaan ekonomi mereka yang tidak kunjung membaik. Awalnya mereka pergi ke rumah gedung bekas jualan, yang kotornya bercampur dengan tikus-tikus yang sudah menghuni tempat itu. Tapi tempat ini membuat Nuraeni merasa lebih baik. Namun tidak lama, mereka pun harus pindah ke rumah yang ditemukan Komar yang sudah ditinggal 18 bulan oleh pemilik. Karena rumah bekas jualan itu akan dipergunakan kembali. Mereka pindah ke rumah yang besar namun hampir roboh itu, dan bau lembab. Nuraeni merasa tidak nyaman sama sekali tinggal di rumahnya yang baru, meskipun pada akhirnya rumah itu menjadi milik mereka.

Semakin hari kejengkelan Komar semakin menjadi-jadi, setiap hari selalu saja Nuraeni jadi sasaran pukulan dia. Sampai Nuraeni tidak ingin sama sekali tidur dengan Komar meskipun Komar selalu menyetubuhi Nuraeni dengan cara memaksanya.

Pekerjaan Komar yang hanya tukang cukur tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka. Maka Nuraeni mencari kesibukan lain, bekerja di rumah Anwar Sadat. Nuraeni bekerja dengan sangat giat dan tekun disana. Sampai debu-debu dan lantai dipel lebih mengilat daripada yang dilakukan oleh tuan rumahnya. Lain dengan rumahnya yang tampak tidak diurusnya. Dan itu membuat istri Anwar Sadat, Kasia merasa senang dengan pekerjaan Nuraeni. Nuraeni semakin giat pergi ke rumah Anwar Sadat bahkan ia bersedia membuat sarapan untuk mereka, tapi semua itu Nuraeni lakukan dengan senang hati. Lain dengan yang ia lakukan di rumahnya.

Hari demi hari, Anwar Sadat yang terkenal mata keranjang itu tertawan oleh kecantikan Nuraeni. Bentuk tubuh Nuraeni lebih bagus daripada Kasia, dan Anwar Sadat mulai merayu Nuraeni dengan sihir-sihir rayuannya. Tapi Nuraeni ternyata tertarik dengan rayuan Anwar Sadat, karena ia merasa selama ini yang didapatkan dari Komar bukan cinta, tapi nafsu lalaki kurang aja. Maka, tidak sulit bagi Anwar Sadat yang sudah ahli merayu perempuan. Hingga akhirnya Nuraeni melahirkan seorang anak dari Anwar Sadat. Memuncaki kemarahan Komar dan memukul Nuraeni sejadi-jadinya, sampai perempuan itu tidak kuat untuk melawan.

Komar semakin jarang pulang ke rumah, dan jikapun pulang hanya sebentar. Hingga saat kelahiran anak ketiga Nuraeni, Komar tidak memunculkan batang hidungnya. Dan itu membuat Margio semakin kesal kepada Komar, meskipun Margio tahu bahwa itu adalah hasil hubungan ibunya dengan Anwar Sadat. Margio tidak ingin menyalahkan ibunya yang memang tersiksa oleh cara Komar memperlakukannya baik saat berhubungan suami istri ataupun hal lainnya. Kekesalan Komar juga tidak surut saat anak tersebut harus diberi nama oleh ayahnya. Namun, anak ketiga itu tidak berumur panjang. Dia mati, dan hanya beberapa saat melihat dunia.

Margio minggat dari rumah, hal itu membuat Komar bin Syuaib merindukan anaknya ini. Ia merasa kehilangan, dan kehilangannya tidak main-main, ia tidak beranjak dari tempat tidur, kurus tak karuan dan mengigau tak ada henti. Hingga berhari-hari dia tidak mencukur, dan penyakit menyerang. Dokter mengatakan banyak sekali penyakit di tubuh Komar bin Syuaib dan dia dikutuk untuk tidur di bangsal dingin penuh hantu orang mati. Nuraeni tidak sudi mengurus Komar bin Syuaib dan ia hanya diurus oleh Mameh anak perempuannya. Hingga kematian Komar bins Syuaib, Nuraeni tidak pernah mengurus jenazahnya sekalipun. Begitupun saat Mameh harus mengambil bunga yang ditanam Nuraeni di halaman rumahnya, Nuraeni marah dan kesal kepada Mameh. Dan Margio bersyukur tidak harus membunuh ayahnya.

Harimau yang ada dalam tubuh Margio adalah keturunan dari kakeknya dulu. Kakeknya sering bercerita tentang harimau itu kepada Margio. Harimau itu putih serupa angsa. Margio sendiri menemukannya keluar dari tubuhnya saat dia terbangung seorang diri di surau, menjilati kakinya. Ia tahu binatang itu tidak sungguh-sungguh hidup, hanya keluar masuk dari tubuhnya. Kakeknya mengatakan kalau harimau itu turun temurun, kalau tidak kepada ayah Margio berarti kepada Margio sendiri. Kalau tidak kepada Margio berarti kepada keturunannya. Tapi harimau itu datang kepada Margio.

Dari beberapa novel yang pernah saya baca, novel ini bercerita engan penuturan yang berbeda. Sangat menarik dan membuat penasaran. Pengalaman saya waktu membaca buku ini, pertama itu niatnya ingin berhenti dulu di halaman ini, tapi tidak jadi, karena membuat penasaran ceritanya. Dan tenang saja disini tidak ada cerita anak-anak SMA yang sedang mengalami puber, jelas tidak ada disini.

Penulisnya baru-baru ini saya tahu. Karena orang banyak membicarakannya dari bukunya yang berjudul Cantik Itu Luka. Dari sana saya penasaran sebab kata orang-orang Eka adalah Pram era ini. Karena saya sangat suka dengan tulisan-tulisan Pram, maka ketika mendengar ada yang dihubung-hubungkan dengan Pram telinga saya berdiri. Dan hasilnya, Eka Kurniawan meman hebat. Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya tahun 1975, dan kuliah di Universitas Gadjah Mada jurusan Filsafat. Karya-karya yang pernah diterbitkan adalah Corat-Coret di Toilet dan Cerita-Cerita Lainnya (2000), Cantik Itu Luka (2002), dan Lelaki Harimau (2004).
Lelaki Harimau judul asli dari buku yang saya baca kali ini. Man Tiger, adalah bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris yang akan segera terbit. Eka, dalam blog pribadinya mengatakan bahwa Man Tiger adalah terjemahan yang ia pilih untuk Lelaki Harimau bukan Tiger-Man. Menurutnya Tiger-Man lebih berarti Manusia Harimau yang juga merupakan judul buku yang ditulis S.B Chandra.

[caption id="attachment_398" align="aligncenter" width="183"]mn Sampul Baru[/caption]

Read more

Books ; Mari Berteman

Hari ini saya seperti makhluk yang keren. Mencoba-coba membuat target membaca buku dalam setahun. Ini saya targetkan karena tahun-tahun sebelumnya saya terlalu menyibukan diri dengan kemalasan atau tugas-tugas kuliah yang dibuat pusing sendiri. Target membaca saya tahun ini tidak begitu banyak, 100 buku saya kira untuk saya ini sudah banyak. Ya, seratus buku semoga saja ini bisa menjadi stimulus untuk terus membaca buku apa saja.

Buku apa saja, karena kita akan mendapatkan banyak pengalaman dengan membaca buku apapun. Mau itu teenlit atau buku-buku berat lainnya. Meskipun memang seringkali kepala saya gampang menolak untuk membaca tulisan-tulisan yang seperti itu. Padahal saya fikir - seperti yang pernah Beben Jazz (musisi Jazz) katakan – jika kita ingin mengenal musik, kita harus mendengarkan berbagai genre musik. Jangan stuck dengan satu jenis dan aliran musik saja. Dan dari banyak membaca buku dari berbagai genre itu pun bisa membuat wawasan lebih luas.

Pramoedya Ananta Toer adalah makluk pembaca, begitupun tokoh tersohor lain. Hidup mereka diisi dengan kegiatan membaca, saya merasa itu adalah warisan yang sangat berharga. Warisan budaya yang harus kita contoh, selain daripada pemikirannya.

Teringat salah satu penulis Ann Morgan yang sedang membuat target lumayan gila, dia adalah salah seorang perempuan yang sedang membuat satu target keren dalam hidupnya dengan tema Reading World in 365 days. Ann membuat target untuk membaca buku-buku dari berabagai belahan dunia. So, what about you?

Buku akan membawa kita ke suatu dunia yang tidak sedang kita injak. Misalnya dengan membaca novel kita bisa tahu bagaimana isi kepala seseorang saat dia berada dalam suatu kondisi, kadangkala novelis Menuliskan seluruh penglihatannya kedalam sebuah tulisan dan karyanya itu. Selain itu, dari buku kamu juga bisa melihat sebuah sudut pandang yang mungkin tidak akan kamu dapatkan dari apa yang hanya kamu lihat.

Jika ada orang yang menyebutkan buku adalah jendela ilmu, ya. Dia adalah jendela, bahkan menurutku dia adalah pintu masuk untukmu masuk kedalam dunia dan keluar dari duniamu. Kau tahu pintu Doraemon, yang akan membawamu kedalam sebuah dimensi lain di dunia. Ya, seperti itu lah buku. Buku semacam cakrawala, dimana isi kepalamu sebagiannya ada di dalam buku.

Kegilaan membaca membawa Soe Hok Gie menjadi seorang aktifis yang mencintai negaranya. Dan menemaninya membuat karya tulis yang diperhitungkan. Dia menjadi manusia yang sangat kritis dan keberadaannya dianggap di negara. Menjadi orang yang menonjol di angkatannya.

Ada juga seorang perempuan yang saya kenal baik, dia sejak kuliah memulai menikmati buku. Karena dalam fikirannya dia ingin sekali berbicara dengan teman-teman seoranganiasinya tentang buku. Karena dia sering mengikuti diskusi dan hanya mendengarkan saja, itu membuat dia merasa miris kepada diri sendiri. Maka dari sana dia memiliki keinginan untuk membaca lebih banyak buku.

Dengan buku kita juga bisa menjadi manusia yang faham sejarah. Orang yang faham sejarah adalah ia yang bisa menilai mana yang harus diulangi, dipertahankan dan tidak diulangi. Misalnya saja sejarah perbudakan dan penyebabnya di masa lalu. Itu bisa saja terjadi lagi di masa kini ketika tidak tahu penyebabnya dan tidak peka terhadap masalah yang terjadi di lingkungan.

Ya, seperti itulah buku. Maka tidak ada yang salah ketika menyisikan uang untuk membeli buku atau pergi ke perpustakaan di waktu luangmu. Atau mengisi waktu liburan untuk membaca buku. Dan mari berbagi isi buku.
Read more

Ini Tentangmu Yang Suka Buku

Cukup sulit disini menemukan teman yang bisa diajak berbagi tentang isi buku. Banyak orang yang saya temui mereka lebih tertarik kepada hal lain daripada buku. Bahkan untuk membeli buku saja mereka harus memperhitungkan kembali.  Dalam pada itu, ketika saya menemukan orang yang pernah merekomendasikan saya sebuah buku saya merasa tertarik tapi sayangnya sudah lama tidak saya temukan lagi orang tersebut. Dan ketika anda membaca tulisan ini, rekomendasikanlah saya buku untuk dibaca. :)

Hari ini akan lebih mudah menemukan orang yang up-to-date soal sosial media daripada menemukan orang yang senang membaca buku. Selama disini saya banyak bertemu dengan anak-anak yang baru saja keluar dari SMA. Kebanyakan dari mereka tidak saya dapati senang membaca buku. Dan yang mereka perbincangkan masih tentang pria. Dan waktu itu hanya satu orang yang saya temui di sebuah kursusan namanya Fadlan yang sangat lihai membicarakan Harun Yahya, yang ternyata anak itu ingin masuk jurusan Perbandingan Agama atau yang sekarang katanya disetujui dengan nama Studi Agama-Agama.  Menyoal tentang jurusan yang bernama baru ini, pembahasan seminar BEM-J Perbandingan Agama se-Indonesia dulu adalah perubahan nama jurusan Perbandingan Agama menjadi Studi Agama-Agama. Yang dulu ditangguhkan karena katanya pemerintah merasa berjasa kepada Mukti Ali foundernya dan tidak sopan ketika merubah nama jurusan tersebut. Tapi syukurlah sekarang nama jurusan tersebut sudah diganti sesuai dengan mata kuliah-mata kuliah yang berhubungan di dalamnya.

Orang-orang sering membuat cita-cita, tapi saya tidak punya cita-cita yang tinggi, hanya sebuah harapan, yang dalam bahasa Inggris dipakai kata hope bukan wish yang saya pakai. Karena menurut ilmu grammar wish itu bermakna pengandaian yang kemungkinan terwujudnya tidak begitu bisa terjadi. Jadi hope saya untuk esok hari adalah saya hope saya menemukan orang yang bisa saya ajak bicara dan mengajak saya bicara tentang buku. Meskipun jika anda berbicara dengan saya, saya hanya akan lebih banyak menjadi pendengar yang baik daripada menjelaskan kepada anda. hehe

Berbicara tentang masa depan, saya pernah menulis PM di BBM yang isinya "Hidupku adalah hari ini, bukan esok. Maka hari ini saya harus lakukan yang terbaik" begitu bunyinya. Saya tidak bisa memegang perkataan itu setiap hari, tulisan itu saya tulis ketika setelah subuh saya sangat menikmat subuh, bersepeda mengelilingi kampung dan nikmatnya luar biasa. Hal itu saya lakukan karena saya membaca buku Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Pramoedya Ananta Toer. Ketika dalam suratnya ia mengatakan pada anaknya bahwa pada pagi hari sebelum berangkat sekolah hendaknya melakukan beberap olah raga ringan, saya lupa alasannya kenapa. Ternyata orang luar negeri khususnya Amerika sering melakukan hal ini sebelum mereka berangkat kerja di pagi hari. Mereka sering melakukan lari-lari kecil atau jalan-jalan. Dan coba saja dulu, kepala menjadi lebih segar, dan fikiran positif datang lebih banyak.

Read more

Semua Karena Senang; Baca



Mungkin [kata yang sering ingin dihindari tapi terlalu runyam untuk mencari kata pengganti lain] ini akan menjadi semacam catatan perjalanan. Terinspirasi dari teman blogger, teman sewaktu kuliah, teman organisasi si penulis Catatan Baru. Dia menulis catatan-catatan perjalannya dengan tulisan yang cukup panjang. Entah apa isi dalam kepalanya. Padahal dia sangat pandai bicara, menurut teoriku orang yang pandai bicara adalah mereka yang tidak terlalu pandai dalam menulis. Tapi semua ternyata bisa terbantahkan, dengan latihan semuanya bisa terjadi. Practice makes perfect.

Tempat yang sangat ingin saya tinggali, maksudna dijadikan tempat hidup untuk selamanya adalah daerah Jawa (Jawa Timur atau Jawa Tengah). Bukan karena hawanya yang panas, atau orang-orang yang hitam manis. Tapi lebih karena orang-orang yang saya senangi bermukim manis didaerah ini. Mereka seperti Pramoedya Ananta Toer, Emha Ainun Nadjib, Timur Sinar Suprabana, Gus Dur, Gus Mus, dll. Dalam kepala saya seolah mereka telah ditempatkan di tempat yang memang bertuah. Dan itu kenapa saya ingin bermukim manis di daerah berbahasa Jawa. Berharap ada semacam penularan penyakit inspirasi. :D

Sekarang saya sedang bermukim manis di daerah Jawa Timur, tepatnya desa kecil bernama Pare. Pernah saya ceritakan sebelumnya di tulisan kecil. Dan ia (Pare) selalu mengajakku mengenal dan membaca lagi tulisan-tulisan Pram. Ya, hampir disetiap toko buku memajangkan karya Pram, mulai dari Tetralogi Bumi Manusia, Gadis Pantai, atau tulisan tentang Pram yang ditulis oleh adiknya (saya lupa judulnya). Dengan harga kurang dari Rp. 30.000 kita bisa membeli buku tersebut. Terjangkau bukan? :D (I hope you get in what i mean)

Ada sebuah problem sosial, "Ekonomi dan minat baca yang tinggi". Pertama dalam bidang ekonomi, kenapa di Indonesia, khususnya yang saya tahu sendiri di Pulau Jawa. Banyak terjadi pembajakan mau itu buku, DVD, atau lagu-lagu karya anak bangsa. Bisa jadi itu karena problem ekonomi mereka yang tidak merata, bukan? Kita sering dengar istilah daripada meminta-minta lebih baik kita bikin karya. Nah itu dia, ini adalah sebuah karya yang anak bangsa kita sedang lakukan. Orang Indonesia itu banyak akalnya, sehingga dari keterimpitan ekonomi, kita bangsa yang pernah terjajah oleh bangsa lain semakin cerdas dalam menyikapi kenyataan hidup kita. Termasuk melanggar aturan yang telah dibuat oleh pemerintah, atau orang-orang yang mewasiatkan untuk tidak melakukan pembajakan. Dan jangan salahkan ketika itu semua terjadi, sebab larangan harus sebanding dengan jaminan. Karena mereka adalah anak-anak yang tidak ingin kembali dijajah.

Dan satu lagi, kenapa pembajakannya terjadi di bidang karya seperti buku, atau DVD dan lagu-lagu mp3. Kemungkinan besar itu terjadi karena banyaknya minat baca dan karya-karya. Karena pertumbuhan minat baca dan karya tidak terbendung dari berbagai kalangan, maka tidak heran jika pembajakan adalah solusi. Sebenarnya orang-orang seperti saya yang masih mengandalkan uang dari keluarga dengan adanya pembajakan itu menguntungkan. Saya bisa baca buku sebanyak yang saya mau, termasuk buku-buku langka yang sekarang menjadi barang antik sehingga harga jualnya menjadi selangit. Meskipun, saya sendiri tahu pembajakan itu katanya pelanggaran hak cipta dan tidak mengharga karya. Ya, mungkin pelanggaran hak cipta, tapi untuk tidak menghargai karya itu lain lagi. Justru saya membaca buku tersebut karena saya berminat dengan karya tersebut, dan mungkin yang dimaksud tidak menghargai karya adalah tidak menghari dengan rupiah. O, iya mungkin begitu :D .

Dan ya, kalau saja pemerintah punya solusi untuk hal ini misalnya membangun lebih banyak perpustakaan di setiap daerah. Mungkin orang-orang seperti saya tidak usah membeli buku-buku bajakan. Tapi Perpustakaan kita tahu mungkin di satu kota hanya satu atau dua. Dan saya sendiri punya kemalasan yang tidak bisa ditangguhkan ketika pergi ke suatu tempat hanya untuk meminjam buku, setelah itu pulang dan kemudian pulang lagi untuk mengembalikan buku dengan jarak yang sangat jauh. Bahkan, di Kecamatan saya tidak pernah saya temukan perpustakaan. Mungkin selain perpustakaan sekolah.

Jadi, tolonglah para pembuat karya, jangan merasa dirugikan kalau semisal banyak orang-orang seperti saya yang membeli segala hal yang bajakan. Karena kita mencintai karya kalian, dan kalian juga mestinya tahu sendiri keadaan ekonomi bangsa Indonesia saat ini.

Dan kadang memang menyedihkan membaca buku bajakan, dimana saya harus kehilangan beberapa halaman saat membacanya. :D :D :D Selamat membaca, kalau punya uang jangan beli bajakan ya... !!!! :*
Read more

BUKAN PASAR MALAM

“Mengapa kita harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itu pun mencitai kita --. Mengapa kita kemudian harus bercerai berai dalam maut. Seorang, seorang, seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang kini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam.”

Jakarta selalu menjadi cerita, tahun ’49 Jakarta sepertinya menampakkan kebisingan yang sama seperti abad ‘20 ini. Agus (di dalam cerita pria ini dipanggil dengan Gus, entah apa nama aslinya, dan aku memakai nama Agus saja, hehe) adalah seorang anak dari Blora yang harus menghadapi Jakarta yang tak ramah. Di tengah kegelisahannya mencari uang untuk pulang ke Blora, ia pergi mencari kawan untuk meminjam uang.

Begitu susah mencari uang untuk orang kecil padahal orang besar bisa mendapatkan segalanya, membuat Agus memikirkan segala hal yang tidak bisa ia rasakan layaknya orang berkuasa. Ketika sepedanya lewat depan istana, cahayanya membuat ia mandi dalam cahaya yang terang. Entah berapa puluh ratus watt, dan sekiranya kekurangan, mereka tinggal menelpon dan mendapat tambahan watt yang lebih besar. Presiden adalah orang yang beruntung dalam hal itu, dan jika kau buka presiden, jangan berharap kau tidak harus menyogok untuk mendapatkan hal yang sama.

Panas waktu itu, dan mobil yang berpuluh ribu banyaknya itu menyemburkan debu pada badan yang berkeringat. Dan debu yang merupakan berbagai macam campuran: reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda dan becak. “sekiranya aku punya mobil, mungkin semua takkan terjadi. Di kala itujuga berpendapat: bahwa orang yang punya itu banyak menimbulkan kesusahan kepada yang tak punya. Dan mereka tak merasai ini”. Ujar Agus.

Demokrasi telah menjadikan manusia yang tak beruang menjadi lumpuh dan tak bergerak. Bagi orang kecil, engkau hanya boleh menontong barang yang engkau ingini. Meskipun banyak kemenangan lain, seperti engkau boleh saja jadi presiden, hak yang sama dengan yang lain, tak perlu menyembah presiden atau menteri dan paduka-paduka lain.

Agus pulang untuk menemui ayahnya yang sakit. Surat yang ia terima menyiratkan keriduan seorang ayah kepada anaknya “di dunia ini tak ada satu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak ang mendapatkan anaknya kembali,.....”

Hidup ayah Agus adalah hidup yang tercangkuli, diendapkan dan diseret. Seorang guru, yang menghargai masa depan anak bangsa. Ia berkeinginan agar guru di tanah air jangan sampai kurang seorang pun. Sebab, memperbaiki keadaan masyarakat tidak harus pada perwakilan rakyat yang lebih berperan dalam panggung sandiwara yang akan membentuk badut-badut.

Orang yang jatuh sakit oleh kekecewaan-kekecewaan oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Ia membela jenderal di daerah gerilya dan membela kepentingannya, hingga menjadi bapak rakyat yang sungguh-sungguh. Tapi kala kemerdekaan telah tercapai, mereka itu sama berebutan gedung dan kursi. Dan yang tidak memperoleh apa yang diinginkannya mereka pergi. Hingga orang ini tidak sanggup lagi berada dalam keadaan demikian. Kekecewaan diredamnya saja dalam hati hingga ia sakit dan meninggal.

Mati adalah kata yang sangat menyiratkan sepi yang dalam. Ketika orang mati, selalu banyak cerita yang bahkan dahulu tidak terdengar, namun kini menjadi sebuah perbincangan pengantar mewakili keberadaannya ditengah perbincangan.

“dulu ia bercita-cita tinggi, dulu ia gagal dalam cinta, dulu ia sering terdengar bernyanyi, tapi suaranya kini telah mati”

“tak ada orang yang lebih kuat berjudi selain dia”

“dan aku masih ingat, sepuluh tahun yang lalu......”

“Di dunia ini tak ada sesuatu kegirangan yang lebih besar daripada kegirangan seorang bapak yang mendapatkan anaknya kembali”

Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawaya terbang entah kemana.

Kembali aku menemukan buku Pramoedya Ananta Toer disebuah toko buku di depan kampus. Dengan penerbit yang sama yaitu Lentera Dipantara. Buku ini dicetak ulang sampai cetakan ke 7 pada oktober 2013. Roman Bukan Pasar Malam ini disajikan dalam buku setebal 104 halaman.

Buku ini dikemas dengan cerita yang menarik. Pram mengangkat suara-suara nurani yang tak pernah didengar dan bahkan dibenamkan dalam arus kehidupan sejarah yang dikuasai. Dari cerita ini, ia mengangkat sosok seorang penggiat politik yang berjuang membela tanah air dan harus dihianati. Selain itu, dalam cerita ini ia mengangkat kekerdilan diri sendiri, yang disajikan secara apik dan menarik.
Read more

Batu Api : Cahaya Dalam Kegelapan

Buatku perjalanan selasa siang adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Entah apa yang membuatku enggan melepas percaya diri, pergi sendiri dengan yakin. Resah yang biasanya datang pun kini tak berkunjung mengetuk pintu dan menertawakanku.

Perjalanan yang membuat rasa percaya diriku muncul. Iya, memang setiap perjalanan selalu menghadirkan sejuta nuansa buatku. Ada yang tertulis, dan ada juga yang memang sulit kukeluarkan menjadi sebuah cerita. Sebab, sejuta kenang kadang datang, sehingga tak ada hari yang ingin ku lewati tanpa berkisah. ^_^

Sedari perjalanan tadi, aku sedang merasakan aku memang sendiri. Namun selalu tertancap di benakku bahwa Tuhan benar-benar bersamaku. Rama-ramai jalan aku rasakan sebagai tontonan yang mengasyikan. Sepi menyendiri bersama kesunyian, itu terasa lebih baik.
Bukan aku tak mampu mengajak kawan, kawanku banyak. Tapi kadang mereka lebih banyak membunuh keheningan itu. Memang, tidak bisa dikatakan tidak, aku butuh ramai. Tapi sesekali aku butuh pergantian dari itu.

Aku berjalan dengan yakin, setiap berjalan sendiri ataupun bersama teman, aku selalu merasa harus dilihat orang, dan mereka setidaknya tersenyum melihatku, bahkan berniat ingin menyapaku.. hahaha selalu seperti itu, dan hal itu yang selalu terasa membunuh kebersamaanku dengan hening. Aku ingin menumbuhkan pesan lain, rasa lain, yang berbeda dan tidak seperti biasanya.

Di Batu Api, aku disambut oleh suasana damai penuh pengetahuan. Ya, disana buku-buku tersusun rapih dan sempit. Serta suasana tempo dulu yang ditampilkan begitu membawa kedamaian dan keriuhan sebuah perdebatan batin penulis-penulis. Ia adalah sebuah perpustakaan yang berada di jalan nama penulis, Pramoedya Ananta Toer.

Seluruh bagian yang ada di perpustakaan itu sungguh mengajak bersahabat. Aku yang canggung pun diajaknya untuk santai. Mereka tak memberi jarak, mengajakku duduk berbincang, segala hal ia tawarkan untukku sentuh dan kubaca. Wajah mereka rupa-rupa, ada filsafat, roman, agama, cerpen, esai dll. Namun tetap, aura mereka bersahabat dan mengajak. Sampai akupun kewalahan menghadapi mereka. Ah, sungguh panjang jika harus ku ceritakan semua.

Perpustakaan yang berdiri sejak tahun 90-an itu memiliksi koleksi buku-buku antik yang memang jarang dimiliki oleh orang kebanyakan. Seperti buku yang kawanku cari sampai kemana-mana pun ternyata ketemunya disana juga. Tidak heran, karena Batu Api mengoleksi buku-buku sejak zaman reformasi.

Perpustakaan ini buka pada hari senin sampai hari sabtu, pukul 10.00-18.00. Tidak ada celah yang tidak diisi dengan buku pada tiap dinding. Buku yang tingginya mencapai langit-langit ruangan itu membuat kita tergiur ingin membaca seluruh buku yang ada disana.

Selain buku-buku antik, disana juga mengoleksi musik dan film-film. Film-film yang dikoleksi disana memang sepertinya film-film yang juga antik. Film dan lagu tersebut bisa didapat dengan harga 3 ribu rupiah saja. Dan kita bisa mendapatkan film yang memang tidak banyak dijual dipasaran dengan kualitas film yang keren abis.

Diluar ruangan buku itu ada sebuah meja dan beberapa kursi untuk santai atau membaca buku ditempat. Selain itu, disampingnya ada sebuah kafe kecil yang sepertinya memang sudah tidak dibuka lagi. Sangat sayang memang, padahal kalo kafe itu buka mungkin bisa menikmati buku dengan secangkir kopi akan lebih menyenangkan.
Read more

Seperti Rumah Diatas Pasir dan Angin Sedang Badai




Hilman berujar kepada Arsena, “Jangan buru-buru ingin maju, jangan ambil jalan pintas. Memang akan memakan waktu sangat panjang dan butuh kesabaran. Batin harus tetap lega. Dan jujur, itulah kerja kreatif, kerja kesenian.”

Hilman semakin khawatir dengan kehidupan adiknya, Arsena menjalani hari-hari dengan imajinasi tentang orang-orang yang sangat berpengaruh terhadap dirinya. Ayah yang dituduh sebagai PKI, Herman kakak yang dicintainya, dan Nancy kekasihnya sebagai penyebab kekalutan pikiran Arsena. Selain itu, kebersamaannya bersama Edu ia rayakan sebagai kesalahan yang manis.

Arsena menemukan nasibnya di Jakarta dari kota C, ia bekerja di produksi film dalam film baru berjudul Rahasia Permata Biru. Ia tinggalkan kehidupan di kota C yang mana kemiskinan mulai dirasa mencekik lehernya. Meskipun tenaganya mesti hilang setelah ia disuruh pulang kampung oleh orang tuanya, mau dikawinkan.

Perjalanan hidup yang menarik ia tuliskan menjadi sebuah novel. Daya Imajinasi yang dimiliki Arsena saat ia menulis novel itu tidak bisa dikendalikan. Sehingga seringkali kehidupan nyata Arsena dikendalikan oleh bayangan orang-orang yang membuatnya menangis, menyesal, dan merasa disayangi. Proses menulis novel yang ia rasa sebagai sebuah perjalanan yang melelahkan.

Arsena putus asa, menyalahkan dirinya dan novel yang ia rasa telah membuatnya melupakan Nancy. Isi pikiran Arsena selama dua tahun adalah isi pikiran dan kesimpulan yang ditolak oleh para penerbit. Isi pikiran yang katanya membahayakan stabilitas negara. Isi pikiran tokoh rekaan di novel yang juga bernama Arsena, namanya. Namun pikirannya mengatakan bahwa ia tidak mempunyai daya dan kekuatan seperti Rahwana yang mampu membahayakan stabilitas, dan hanya kutu yang rapuh. Orang sakit yang tidak tahu apa sakitnya.

“Seperti rumah diatas pasir dan angin sedang badai” sebuah kata yang sering diungkapkan oleh Hilman ini menggambarkan kehidupan Asena. Kehidupan  Arsena yang terus ragu dan goyah, dan tidak bisa mengatasi imajinasi yang terus muncul dari masa lalu yang terus menghantui. Sehingga ia tahu bahwa upah bagi seorang peragu adalah ketidak pastian.

Lakon-lakon diceritakan penulis dengan kejutan-kejutan yang membuat pembaca mesti bertanya-tanya, siapakah ini? Yang kemudian diceritakan dengan sangat lihai dengan perasaan dan percakapan yang sangat teliti dan jeli pada judul-judul berikutnya.

Novel ini berjudul Cermin Merah karya Nano Riantiarno. Nano Riantiarno adalah pendiri Teater Koma, lahir di Cirebon, 6 Juni 1949. Nano menulis sebagian besar karya panggungnya. Selain menulis naskah teater Nano juga menulis skenario film, dan novel.

Novel ini merupakan novel autobiografi dengan memakai kata aku sebagai kata pengganti. Si aku yang bernama Arsena berhasil membawa dimensi-dimensi kekalutan kehidupan, dinamika seorang laki-laki yang kehilangan orang-orang yang dicintai dan menjadi penentram hidupnya.

Cermina Merah adalah sebuah kuburan Arsena, Nancy dan seluruh kenangan lama. “Aku akan belajar mencintai lagi. Aku tidak akan berkutat hanya menulis diriku sendiri saja. Ada banyak di luar diriku yang berharga untuk diserap dan dibaca. Aku harus membaca Indonesia seumur hidup.” ungkap Arsena..
Read more

CERITA CALON ARANG

Judul : Cerita Calon Arang
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (1954)
Penerbit : Lentera Dipantara
Edisi : Cetakan 5, Mei 2007
Format : Paperback, 94 halaman

Calon Arang adalah nama seorang janda di desa Girah yang termasuk wilayah Kediri.  Nama asli janda tersebut adalah Dayuh Datu. Ia memiliki ilmu sihir yang amat sakti, yang ia pergunakan sebagai alat untuk memperdaya lawan politiknya.

Calon Arang memiliki putri yang cantik jelita, namun, semua lelaki enggan untuk meminangnya karena takut sang putri akan memiliki tabiat seperti ibunya. Maka, hal ini mengakibatkan murkanya Calon Arang. Sehingga ia membunuh seluruh rakyat desa tersebut dengan sihirnya yang kuat.

Ia melawan lawan politiknya dengan cara yang licik, menghisap darah manusia sebagai sebuah ritual, pongah, membunuh, merampas dan menyakiti mereka. Bahkan ia sampai menjadikan darah manusia untuk berkeramas.

Cerita ini disampaikan Pram dalam bukunya yang berjudul Cerita Calon Arang. Ia sampaikan dalam bentuk cerita anak-anak. Jika pun saya membaca, awalnya tidak begitu menarik untuk dibaca pada zaman digital ini. Perempuan, sihir dan kecongkakkan-kecongkakkan. Namun, jauh bisa difahami dari cerita tersebut. Saya bisa menangkap dan agak menariknya kedalam kehidupan masa kini, justru sangat menarik. Ya, terlepas dari cerita mistis tentangnya yang dijadikan sebuah legenda ataupun mitos. Cerita Calon Arang bisa kita simak di beberapa tulisan teman-teman kita yang memaparkan lebih jauh tentang cerita tersebut. Misalnya, kisah Calon Arang di Bali di jadikan sebuah dramatari magis. Ya, sangat menarik.

Jika saya coba mengibaratkan pada masa kini. Perpolitikan yang di lakukan Calon Arang adalah sebuah contoh perpolitikan yang tidak beradab. Darah, adalah inti kehidupan manusia. Manusia dikatakan mati jika pembuluh darahnya berhenti. Calon Arang jika diibaratkan telah merampas hak hidup manusia. Yang mana, darah adalah sumber kehidupan, sebuah jati diri manusia. Maka, manusia yang tidak memiliki darah tidak akan mungkin mampu hidup. Atau, darah mereka dikendalikan dan dikuasai oleh seorang pihak, hidup dan matinya akan dikendalikan oleh seseorang. Mereka akan mati, mati sosial jika kita artikan darah adalah sebuah jati diri.

Maka, kufahami disini bahwa politik itu jikapun pemimpinnya sudah tidak beres, maka, ya sudah pengikutnyapun akan terkonstruk seperti pemimpinnya pula.

Karena pun Tuhan menciptakan dunia ini dari kebenaran dan cinta. Maka, kebenaan slalu menundukan kejahatan dalam cerita manapun yang pernah ditorehkan manusia penulis cerita. Kebenaran dan cinta adalah tempat pulang, saat perjalanan panjang kehdupan mendiami sebuah kubang kepongahan. Begitupun Calon Arah, Pram menceritakan ia pulang dalam keadaan suci.

Selain itu, Pram juga mengajari kita bahwa di balik kehebatan-kehebatan lain di luar sana yang membuat kita tidak meti sombong alias pongah. Seperti saat Calon Arang dikalahkan oleh lawan politiknya.


Read more

Amba dan seribu cerita dari Buru


Buru adalah salah satu kepulauan terbesar di Kepulauan Maluku. Pulau ini dikenal sebagai pulau pengasingan bagi para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru - Soeharto (sumber:wikipedia).

Hingga banyak cerita tentang kehilangan, penderitaan, pelajaran hidup, penyesalan keluar dari pulau ini. Dari itupun beberapa novel lahir dari tangan-tangan orang yang perduli akan sejarah. Sejarah yang bisa jadi dimaksudkan agar orang-orang pada masa kini tidak mengulangi penderitaan yang pernah dirasakan oleh mereka. Atau dalam istilah "tidak tersandung pada batu yang sama".

Dari Buru, sastrawan Pramoedya Ananta Toer menerbitkan novelnya. Serta satu buku  tentang mimpi-mimpi besar para perawan remaja, harus dirampas dengan sebuah harapan palsu para militer Jepang, menjadikan mereka pelampiasan berahi para tentara militer. Dibalut dalam sebuah judul "Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer".

Novel Amba lahir dari tangan seorang perempuan bernama Laksmi Pamuntjak. Diterbitkan Gramedia pada tahun 2012.

Amba adalah nama seorang perempuan yang lahir dari lelaki yang berprofesi sebagai kepala sekolah dan mempelajari serat centhini.

Laksmi, menggambarkan sosok Amba sebagai seorang wanita menarik, dengan mata kucing dan kenari, bahu yang kokoh, leher panjang, tulang pipi yang tirus nan tajam serta mulut yang begitu feminim menggambarkan ketegasan, lentur, dan cerdas. Namun bagi Amba kecantikan ini bukan berupa jalan menuju kebahagiaan, namun sebaliknya adalah sebuah kutukan dan beban.  Jika pernah melihat film "7 dunia, 7 cinta, 7 wanita" mungkin kata ini akan dapat lebih difahami.

Amba tak pernah tahan terhadap perempuan yang mudah dirayu atau cepat tersanjung oleh omongan laki-laki. Sampai Amba berpesan kepada adiknya "perempuan jangan selalu merasa harus mengorbankan dirinya kepada laki-laki dengan gampang".

Waktu berlalu menjadi lalu, dan keadaan Amba yang tidak ingin menjadi manusia yang ditindas manusia lain. Terkalahkan oleh rasa cintanya terhadap seorang dokter yang ditemuinya di Kediri, Bhisma. Srikandi pun hadir dari buah cinta dan penghianatan.

"Amba tetap bersikeras hanya ingin menikah dengan Bhisma yang merupakan seorang  sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut padanya. Namun Bhisma tidak mau menerima cinta Amba karena dia hanya seorang wakil dalam sayembara untuk mendapatkan tiga dewi. Sehingga Amba di takut-takuti Bhisma dengan senjata sakti yang justru tidak sengaja membunuh Amba. Amba yang sedang sekarat dipeluk Bhisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Amba. Sehingga roh Amba menetes pada Srikandi yang akan membunuh Bhisma dalam perang Bharatayuda" (Nanda M.H : Ensiklopedi Wayang). Inilah kisah wayang yang dibawa oleh Laksmi, dan Laksmi tidak membawanya begitu jauh dari cerita ini.

Kita akan dibawa ke masa 1956 pada zaman Orde Baru. Dimana di Jogja ada sebuah penyerbuan terhadap gerakan-gerakan yang dianggap mengancam. Penyerbuan itulah yang membuat Bhisma harus terpisah dengan Amba dan membawa Bhisma menjadi tahanan politik.

Kembali cerita harus dibawa ke pulau Buru. Tahun 1971 Bhisma dibawa ke pulau Buru. Kuatnya cinta yang melekat dan ketidak pastian yang didapatkan Amba akan cerita tentang Bhisma membuatnya harus berhari-hari mencari kekasihnya itu. Dan sepertinya hal itu juga merupakan panggilan, karena pencarian Amba tidaklah sia-sia, dia menemukan surat-surat yang ditimbun Bhisma di bawah pohon yang ditujukan kepadanya. Dan mengungkap segala kehidupan disana.

Indonesia, tidak pernah bisa lepas dari hal-hal mistik. Bhisma, dalam kehidupannya sebagai dokter di Buru, mendapat sebuah kekuatan dari seorang Banten. Kekuatan yang memberi Bhisma sebuah kesempatan yang tidak akan pernah diperoleh manusia biasa. Kekuatan yang memberinya kesempatan tidak bisa merasakan sakit, meskipun telah beberapa kali dihantam benda-benda yang memungkinkannya melepas nyawa. Ini menjauhkan Bhisma dari kematian. Namun dia berhak memilih kapan kehidupannya itu akah diakhiri.

Walaupun harus menerima kenyataan tidak pernah bertemu Bhisma kembali. Namun, ketidak pastian akan penantiannya dan kegelisahan Amba  terjawab di pulau Buru.

Membaca Amba adalah membaca lubuk hati dari sejarah. Cerita dari beberapa tokoh yang dikisahkan oleh seseorang merupakan ungkapan hati dari setiap orang yang telah menjadi pengisi sejarah. Yang kadang mungkin dilupakan, bahwa mereka yang tidak pernah diperlakukan baik dalam sejarah juga merupakan orang-orang yang tidak dapat lepas dari kesalahan yang pernah dilakukan para penguasa.

Selain itu, kisah dua insan juga selalu menjadi hal yang menarik dalam peradaban manusia. Hati yang terpaut pada seseorang kadang menjadikan sebuah cerita panjang perjalanan.  Dan tidak dapat diingkari, bisa dijadikan sebuah rujukan perjalanan hidup kita juga sebagai pembaca.


Read more

Perbandingan Agama di Dukuh Paruk

Novel itu seperti oase di atas keringnya tenggorokan yang dahaga. Namun,  tidak semua, dan... pahami sajalah kamu pasti mengerti.

Seorang novelis, hmm  saya lebih senang menyebutnya seorang seniman, karena Pram juga pernah mengatakan bahwa seorang penulis adalah seorang seniman dalam bentuk tulisan. Novelis adalah orang yang bisa berposisi menjadi apapun. Dia bisa menjadi sejarawan seperti Pram;  bisa menjadi filsuf seperti Justein Gardeer, pengarang Dunia Sophie ;dan  Ahmad Tohari, dia  antropolog dalam novelnya ini. Dan yang pasti kepekaan perasaan seorang novelis tercermin dari kata demi kata yang tercurah dalam karyanya itu. Serta editor itu,,, terimakasih saya ucapkan.

Tak perduli halnya walaupun seorang novelis itu sudah menulis berpuluh-puluh novel, namun isinya kurang memuaskan. Tohari, pernah saya tahu dia memposisikan karya itu sebagai janin. Karya itu seperti sebuah janin yang dibentuk berlama-lama dalam perut yang akhirnya akan dilahirkan, dan jadilah seorang anak. Agar anak sehat, dan tidak cacat maka (hal yang tidak sepenuhnya saya tahu dalam hal ini) merawat janin itu agar bisa melahirkan dengan kebanggaan. Sehingga semua orang bisa menjadi ibu. Adalah suatu kepuasan tersendiri ketika sebuah janin keluar. Ah saya hanya mendengarnya seperti itu, mungkin tidak sebenar-benarnya demikian, tapi kebanyakan yang saya dengar dan terfikirkan adalah seperti itu.

Mungkin ini adalah sebuah pengejawantahan perkataan Galah, ketika menulis tidak bermanfaat bagi orang lain dan hanya mengungkapkan perasaan-perasaan psikologis saja. Urungkan dulu sajalah.

Beberapa pertemuan mata kuliah fenomenologi agama dan beberapa lembar buku yang dibaca, ternyata menurut saya fenomenologi yang lebih mudah diterapkan adalah dalam sebuah karya novel. Fenomenologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari sebuah fenomena-fenomena yang terjadi dalam diri seseorang, bedanya dengan psikologi? Entahlah anda bisa mencari sendiri.

Jadi, sebuah Epoche, Reduksi dan Intensionalitas bisa diterapkan pada penulisan novel. Kalau saja saya tahu Hursell membuat suatu novel, bukan tulisan ilmiah, dan saya bisa membacanya. Mungkin saya tidak akan pusing bagaimana fenomenologi itu tepatnya diterapkan. Karena, sampai saat ini, sepanjang yang saya fahami, metodologi itu selalu dituliskan dalam hal-hal yang berbau ilmiah. Ah, ilmiah lagi-lagi.

Tohari, tak akan sembarangan pula dia menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, jika dia tidak pernah melakukan penelitian terlebih dahulu. Bisa saja, ketika dia membicarakan hutan, dia pernah merasakan atau mungkin mencari tahu keadaan jiwa orang yang sedang tersesat di hutan dengan keadaan kaki yang amat sakit. Begitupun peran seorang ronggeng srintil. Tohari, menggambarkan keadaan ronggeng Srintil dengan sangat teratur. Nafas yang dikeluarkan Stintil, dia terjemahkan kedalam bahasa yang bisa dibaca oleh perasaan pembaca. Teratur dan sangat alami.

Jika dillihat dari fenomenologi agama, ini adalah semacam Epoche. Epoche ini, diberlakukan dimana objek disuruh berbicara sendiri. Ya, saya faham, namanya novel itu subjektifitasnya penuh. Tapi lagi-lagi tidak mungkin Tohari menggambarkan Srintil, kalau dia tidak pernah melakukan sebuah penelitian tentang perasaan seorang ronggeng.

Mahasiswa Perbandingan Agama tidak melulu harus membaca buku-buku ilmiah sepertinya. Novel itu 
lebih bermasyarakat, memasyarakat mungkin lebih tepatnya. Dalam novel Tohari, kita juga bisa menemukan, bagaimana faham animisme sebenarnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang yang memahaminya, dan juga orang sekitar yang menanggapinya. Menarik, sangat menarik, cobalah kamu lakukan.

Saya sangat suka pada tulisan Tohari yang ini "Dukuh Paruk yang merupakan sebuah desa, lengkap dengan kemelaratannya, kecabulannya tetapi lugu dan sejati". Disini Tohari menggambarkan desa Dukuh Paruk dengan lembut, dan anggun.

Tohari, disini merepresantasikan sebuah keadaan yang memang bakal terjadi pada setiap desa. Desa, dengan segala keluguan dan kesejatiannya itu tetap akan dikeruk zaman. Kita bisa mentransformasikannya pada saat ini, dimana keasrian desa harus disundul dengan kepentingan orang-orang yang akan membangun proyek. Ya, proyek, bukan tempat ibadah. Karena jika tempat ibadah, apalagi kaum minoritas, akan ditentang oleh warga kaum mayoritas.




Dan Srintil, seorang ronggeng Dukuh Paruk yang menjadi anak kandung dari keluguan alam dan kehidupan. Dia hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru seorang ronggeng.  Namun disini juga srintil yang memegang peranan penting dalam cerita novel ini. Srintil, menjadi titik sentral dimana kehidupan dukuh paruk menjadi lebih berwarna dan bernafas.

Sama halnya seperti artikel yang pernah saya baca di kompas.com suatu hari, namun maaf lupa siapa penulisnya. Artikel itu tentang novel Bumi manusia Pram, dimana penulis mengatakan bahwa peran nyai Ontosoroh dalam kehidupan Minke (tokoh utama dalam novel Pram) sangat berpengaruh terhadap dirinya. Nyai Ontosoroh adalah orang yang mampu mendorong Minke lebih mengerti kehidupan yang sebenarnya harus dijalani. Karena bukan hanya keperempuanan Ontosoroh saja Minke bisa seperti itu. Jika dilihat, Ontosoroh adalah perempuan yang teguh pendirian dan tegas. Dia pasti punya prinsip yang diikatkan pada pinggangnya dengan erat.

Memang saya lihat setiap membaca karya-karya Pram, dia seringkali mengedepankah Perempuan. Bahkan saya salut ketika membaca buku pram yang berjudul "Perempuan dalam cengkraman militer". Dalam buku itu, Pram berusaha mencari perempuan-perempuan yang terdampar di hutan. Yang berusaha melarikan diri, atau dibuang dari cengkraman militer Jepang. Menarik, bacalah.
Read more

Belajar dari Semua Bangsa

Kalau belajar bahasa asing Eropa untuk mengenal  Eropa. Melalui Eropa kau baru mengenal bangsamu sendiri. Belajar bahasa-bahasa Eropa bukan berarti kau harus tidak bicara dengan bangsamu dan hanya  bicara pada orang-orang eropa.

Itulah sebuah kutipan dari novel Anak Semua Bangsa yang di tulis Pram. Saya kira namanya cukup populer, lebih populer di kalangan para pembaca dan penikmat novel, karena dia adalah seorang novelis yang tersohor di berbagai negeri. Novel Anak  Semua Bangsa ini adalah Novel kedua setelah Bumi Manusia. Dan novel ini dibentuk dalam sebuah tetralogi.

Membaca sebuah novel, layaknya menelusuri jejak perjalanan dengan segala batu sandungan, suka cita dan gelombang yang membentuk karang menjadi pahatan yang indah. Segala emosi yang dikeluarkan pengarang lewat novelnya bisa kita rasakan juga dalam posisi duduk dibawah senja, atau dibawah langit yang meninggalkan birunya dengan taburan bintang dan bulan yang mengintip dari celah langit. Darinya kita bisa mengambil pelajaran, mengambil hikmah dari hidup dan menempelkannya menjadi sebuah laku, bukan hanya mengikuti jejak emosi dalam sekejap.

Adalah sebuah perjalanan panjang sebuah ilmu pengetahuan yang masuk ke Indonesia. Dan kekakuan seorang Pribumi terpelajar bernama Minke yang selalu merasa bangga dengan Eropa dan tulisannya yang selalu berbahasa Belanda. 

Kekakuan yang membuat ia dituding melupakan bangsanya, melupakan tanah kelahirannya, karena ia terlihat seperti kacang lupa kulitnya. Sosok Minke yang seorang penulis, telah lupa bahwa kewajibannya tidak hanya menulis saja, menulis untuk kepentingan Belanda, dengan segala kebanggaannya. Sedangkan sebangsa pribuminya sendiri tidak bisa mengambil pelajaran dari saudaranya yang mempunyai pengetahuan yang lebih, dari semua bangsa. Namun ada sumber yang mengatakan bahwa Minke adalah seorang jurnalis pertama dari Indonesia dalam novel ini.

Jaman modern ini telah menyampaikan padaku buah dada untuk menyusui aku, dari pribumi sendiri, dari  Jepang, Tiongkok, Amerika, India, Arab, dan semua bangsa di muka bumi ini. Mereka adalah induk-induk sejarah yang menghidupi aku untuk menjadi pembangun Roma! Apakah kau benar akan membangun Roma? Ya, jawabku pada diri sendiri. Bagaimana? Aku tak tahu. Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah anak semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orang tua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Mengawali sebuah perjalanan pengetahuan yang masuk kedalam diri Minke, seluruh pengetahuan  didapatnya dari seluruh bangsa. Karena dengannya dia bisa membangun Roma, membangun suatu hal yang bisa dinikmati manusia di Buminya ini. Hal itu bisa diawali oleh sebuah pemikiran seorang yang mulai berfikir revolutif, membongkar pemikiran yang membeku, meminimalisir penggunaan akal dan melatih otot-otot lengannya untuk mendapatkan senyuman dibawah telunjuk-telunjuk pemilik modal atau seorang Nyai. Seperti yang dilakukan Darsam terhadap Nyai Ontosoroh.

Darsam, dan orang-orang seperti dia, baru sadar : selama ini hidup hanya terkandung pada jari-jari kanan. Hidup dan jari-jarinya. Mendadak, jari-jari itu tak dapat dipergunakan lagi. Dia baru tahu setelah modalnya rusak, modal hidup si jari-jari. Orang lain berlagak bekerja dengan otak, belasan tahun dia belajar, belajar berfikir untuk bisa hidup secara layak sebagaimana dia kehendaki. Juga pada suatu kali otak bisa rusak. Lenyap semua pendidikan dan latihan belasan tahun. Gentayangan seperti hewan di makan hari, tak tahu lagi diri masih manusia.

Pram selalu menampakkan bahwa kemanusiaan itu  perlu dijunjung, karena bagaimanapun juga bumi ini adalah bumi manusia.   Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikir waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang memang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.

Sehingga melalui Nyai Ontosoroh nampaknya Pram menampakkan sosok seorang yang mampu mencukulkan manusia dari ketertindasan. Dia menampilkan sebuah kehidupan Nyai yang terhina dengan segala kemampuannya mengangkat segi-segi kemanusiaan.

Nyai Ontosoroh adalah sosok perempuan jawa yang dengan keadaannya yang tertekan oleh segala hal terutama kelakuan suaminya, membuat dia bisa bangkit dan membangun. Seorang wanita yang berfikir, tidak lagi bisa kalah dengan ketertindasan sebagai Nyai. Berbeda dengan wanita-wanita Jawa kebanyakan, yang hanya bisa menunduk patuh terhadap Tuannya. Dia mempunyai keberanian sehingga dengan itu, dia bisa belajar dari apapun dari manapun, dengan satu keyakinan bahwa manusia adalah manusia yang harus menjadi manusia. Dia juga yakin bahwa orang yang menulis akan merubah segalanya, yang membuat dia sayang kepada menantunya, Minke.

Menulis bukan hanya untuk memburu kepuasan pribadi menulis juga mengisi hidup. Ungkap Pram, yang membuat tulisan-tulisan saya memerah, dan merunduk malu, jangan-jangan tulisan-tulisan saya hanya memburu kepuasan itu. Tapi saya sudah mengenal terang itu dan harus memburunya, saya yakin suatu saat bisa menemukan terang. Walaupun jalan yang dilalui harus dengan meraba dan meraba, dengan keadaan air yang deras. Saya tahu, jalan yang dilalui bukan jalan yang mudah, dimana disana saya harus menunduk, bahkan saya harus jongkok dengan air yang sudah mencapai dada. 
Read more