Novel Ayah - Andrea Hirata

[caption id="" align="alignright" width="333"] image source : perpustakaansekar.wordpress.com[/caption]

Mungkin saya termasuk pembaca yang seringkali lupa ingatan ketika membaca tulisan awal dari sebuah novel. Seperti orang yang dimabuk cerita, dan lupa awal mula cerita yang dipaparkan penulis. Tapi darisana saya seringkali menemukan kehebatan penulis. Mereka selalu bisa menyembunyikan cerita yang sesungguhnya, sehingga pembaca menjadi terkejut dan berkata “oh, begitu rupanya!”

Kejutan-kejutan dalam isi sebuah novel selalu menjadi bagian yang paling penting dalam cerita. Sebagai pembaca novel, saya senang dengan alur cerita yang seperti itu. Sama seperti yang dilakukan Eka Kurniawan dalam novelnya Manusia Harimau dan Cantik Itu Luka, atau beberapa cerpennya yang pernah saya baca dan lupa apa judulnya.

Tekhnik bercerita seperti itu yang seringkali menarik tapi bagi saya itu adalah hal tersulit. Menyembunyikan cerita dengan cara yang apik dan tidak mudah ditebak.


Dalam Ayah, saya tidak pernah menyangka kalau Amiru itu adalah Zorro yang selama ini dicari-cari oleh Sabari. Memang menjelang akhir cerita saya sempat bertanya-tanya, kemanakan cerita anak yang bernama Amiru yang Andrea ceritakan di awal? Amiru yang bekerja keras  untuk menebus radio yang di gadai, agar ayahnya bisa mendengarkan siaran radio kesayangannya.

Di awal sebenarnya sudah diceritakan kisah tentang Amiru, tapi tidak disebutkan siapa sebenarnya ayah dari Amiru ini, kalau saya tidak salah ingat. Tapi kemudian, cerita lebih banyak membahas Sabari, sehingga fokus cerita terhadap Amiru dengan otomatis teralihkan kepada sosok Zorro, anak Marlena yang diasuh oleh Sabari, dengan beragam cerita menyenangkan dan menyedihkan antara Sabari dan Zorro. Otomatis, lupa lah saya kepada cerita tentang Amiru tadi. Tapi kemudian, penulis ini sangat menjengkelkan, karena setiap kali Zorro akan disebutkan nama aslinya, penulis hanya menyebutkannya dengan inisial A. Tentu saja, saya terheran-heran dan tidak sempat menebak bahwa itu adalah Amiru. Iya, mungkin saya sering lupa ingatan ketika membaca novel.

Dari seluruh novel Andrea yang saya baca, gaya yang dipakainya tetap saja tidak berubah.  Hal penting dalam novel ayah adalah Andrea selalu mengangkat keadaan desanya dengan rapi dan menakjubkan. Dia juga selalu menggambarkan kepolosan-kepolosan orang desa yang seringkali melakukan sesuatu dengan tulus. Sabari lah disini yang memegang peran itu. Dia Andrea gambarkan sebagai lelaki Belitong yang hidupnya digantungkan dan termotivasi oleh perempuan bernama Marlena. Tidak ada hal lain yang paling berharga daripada cintanya kepada perempuan yang tidak pernah memperdulikannya itu.

Selain itu, yang tidak hilang dari Andrea adalah dialog-dialog kecilnya yang sarat humor. Dan itulah yang menarik. Barangkali ini cara orang Belitong berbicara saat di warung kopi atau warung nasi. Menyenangkan.

Kehidupan Sabari yang tidak akan pernah menemukan keberuntungan kecuali dengan bekerja keras. Kemudian hal itu Andrea sajikan dengan cara yang seringkali manusia sendiri tidak habis pikir, disitulah Tuhan bekerja. Sabari yang bekerja keras untuk mendapatkan hati Marlena akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menikah dengan Marlena tanpa diduga sebelumnya.

Kehidupan tidak berjalan seperti apa yang diinginkan. Kalau anak kecil mungkin menangis, lain dengan Sabari yang tetap sabar menghadapinya. Hingga anak Marlena lahir, dan dia menjadi seorang ayah. Disitulah dia menemukan dirinya. Meskipun itu bukan anaknya tapi Sabari tetap merasa dia adalah ayah bagi anak itu. Marlena pergi dan Sabari menghidupi Zorro menjadi ayah dan keluar dari pekerjaan agar bisa terus menjaga anaknya. Pahit dan mungkin saja memuaskan bagi Sabari.

Sabari adalah manusia tulus yang tidak menimbang kebahagiaan hanya sekedar materi. Pekerja keras yang pintar merasa, seperti orang jawa sering mengingatkan “Bisalah merasa, jangan merasa bisa”. Ini ada dalam diri Sabari, dia merasa bukan orang yang mampu mendapatkan apa pun dengan hanya diam duduk saja. Dia sadar bahwa dirinya adalah manusia yang serba kekurangan, sehingga Tuhan tidak akan begitu saja memberikan keajaiban kepadanya tanpa berusaha.

Dia juga adalah sosok ayah. Ayah yang bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya. Anak-anaknya tidak hanya Zorro, anak-anaknya mungkin saja kita bisa artikan adalah orang-orang yang berada di sekitar Sabari yang terpengaruh oleh semangat dan tekad Sabari.

Selain kegagahan Sabari tema novel ini saya kira cinta, ya cinta yang Andrea selalu angkat menjadi hal yang sangat penting dalam setiap perjalanan manusia. Cinta adalah hal aneh yang seringkali menjadikan manusia ingin bunuh diri atau terbang tidak karuan. Meskipun seperti ilusi, tapi begitulah cara rasa, yang orang sebut cinta, bekerja.

Ini bukan resensi buku Ayah Andrea Hirata, ini hanya sedikit pengalaman membaca buku Andrea Hirata. hehe
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel