Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Menikah Adalah Pilihan

Just thought at night sambil mendengarkan lagu lawas dari ibu kos..

Hidup di dunia patriarki kuat itu memang menyedihkan ya.
Di acara keluarga, ketemu teman lama yang sudah punya dua putra. Sedikit say Hi, habis itu nanya "mau kapan? (Nikah) masa mau gitu terus?"



Mostly pertanyaan yang didapatkan seputar urusan seperti itu, nikah nikah dan nikah. Bukan satu dua yang bertanya, banyak sekali.

Apakah pertanyaan 'kapan nikah' itu adalah kata2 motivasi? Motivasi agar saya bisa hidup dengan cara yang common  di suatu daerah tertentu. Saya tidak yakin itu motivasi. Atau pertanyaan tersebut benar2 kekhawatiran seorang teman karena teman lamanya belum juga hajatan?

Selebihnya saya lebih yakin kalau hal tersebut merupakan sindiran akan ketidakbiasaan yang saya miliki di dalam "budaya mereka". Budaya yang memang menempatkan kalau perempuan yang sudah mendekati usia 30an adalah mereka yang seharusnya sudah memiliki beberapa anak dan membangun sebuah rumah tangga. Bagi mereka, perempuan tidak usah sekolah tinggi, tidak usah berlaku sok seperti laki-laki yang ujung-ujungnya nanti juga bakal menyusahkan diri sendiri yaitu susah nikah.

Anggapan dalam masyarakatku yang masih memegang prinsip tersebut membuat banyak sekali perempuan di desa yang lebih memilih menikah ketimbang mencari pengalaman lain. Seperti misalnya bekerja ataupun sekolah.

I mean, kapan kita bisa mencoba merubah pertanyaan yang menjurus ke hal2 private seperti itu. Saya akan lebih senang ketika ditanya "apa kabar keluarga? Sehat?" "Oh kita udah lama yah ga ngobrol, seneng bisa ketemu lagi di momen kaya gini" atau "gimana di tempat kerja? Betah?" "Mau bikin karya apa lagi?"

Pertanyaan seperti itu akan jauuuh sekali saya dengar dari kelompok perempuan di kampung saya. Sakit memang, tetapi memang seperti itulah keadaannya. Ketika pandangan terhadap perempuan memang benar-benar masih sekadar sumur dan kasur. Ini memang zaman modern, tetapi tidak lantas membuat kepala manusia menjadi modern. Bahkan dengan smart-nya ponsel pun tidak lantas membuat manusia kita menjadi lebih smart.

Tidak bisakah kita saling memberikan motivasi sesama perempuan?

Mba kalis bilang :
Jangan jadi perempuan yang menormalkan kebiasaan menjatuhkan perempuan lain. Gimana cara untuk mengganti kalimat-kalimat buruk itu? Ganti dengan pertanyaan simpatik, "bagaimana kabarmu? Jangan sungkan buat bilang kalau ada yang bisa kubantu ya!". Kalau nggak bisa simpatik, maka belajar untuk diam. ðŸ˜Š

Bagiku, pernikahan bukan hanya sesuatu hal yang bisa dilakukan karena melihat orang lain sudah menikah. Pernikahan adahal ikatan yang sakral, dimana dua orang akan hidup bersama sampai akhir hayat, sehingga butuh sesuatu yang benar2 matang saat ingin menentukannya.

Pamarican, 14 Februari 2020
Read more

30 Days Creatives #21 Pray For Surabaya



Hari minggu, 13 Mei 2018 beberapa hari lagi sebelum puasa, orang Indonesia kembali mendapati kabar duka. Kabar tersebut aku dapatkan tadi pagi dari status social media teman-teman sosmed. Hastagnya #PrayForSurabaya. Aku tidak tahu kalau hal inilah yang terjadi, aku kira bencana alam kembali datang. Tetapi bukan bencana alam, tetapi bencana kemanusiaan.

Aku mulai penasaran dan mencari informasi yang lebih rinci tentang hastag tersebut. Dan ternyata, pengeboman gereja kembali terjadi di kota Surabaya. Pertama aku merasa sakit hati sekaligus duka yang sangat mendalam di hati. Terlebih, ada beban akademis yang aku miliki terkait perdamaian agama-agama.

Bagaimana bisa orang-orang dengan mudahnya mengambil nyawa orang lain hanya karena ingin masuk surga? Bagaimana bisa dengan satu ayat saja mereka berani mengambil nyawa orang lain hanya karena dijanjikan surga untuknya. Doktrin egois macam apa yang membuat mereka memberanikan diri untuk serta merta menundukan kemanusiaannya hanya untuk mendapatkan surga? Dengan mudahnya, mencari satu ayat agar bisa menjadi alibi kekerasan dan kekejaman tersebut. 

Hari minggu, adalah hari sembahyangnya umat Kristiani. Semasa mahasiswa, aku pun sering berkunjung ke teman-teman di beberapa gereja di Bandung untuk studi lapangan. Dan saat aku datang ke gereja, betapa damai, seperti halnya masjid. Karena gereja adalah tempat dimana orang-orang biasa berkomunikasi dengan Tuhan, menyampaikan keluh kesah mereka kepada Tuhan.

Sehingga, ketika mendengar kabar bahwa pada hari minggu, dimana orang-orang yang di gereja sedang bersembahyang kepada Tuhannya. Sedang bersilaturahmi, menyampaikan pujian, meminta pertolongan kepada Tuhan, mendoakan kedamaian Indonesia, ada dari mereka yang serta merta mengganggu kekhidmatan silaturahmi hamba dengan Tuhannya. Aku hanya bertanya-tanya, sedang apa sebenarnya mereka?

Dalam Islam, menganggu orang yang sedang shalat adalah perbuatan dosa. Sekalipun ia hanya lewat di depan orang yang sedang shalat. Denda hukuman dari Tuhan adalah dilaknat malaikat selama empat puluh hari. Begitu yang aku dapatkan dari guruku, sewaktu mesantren.

Dari hal sederhana seperti itu, jika kita bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mengganggu orang yang sedang sembahyang. Karena orang yang sedang bersembahyang adalah orang yang sedang bertemu dengan Tuhan. Cara manusia berkomunikasi dengan Tuhannya adalah dengan sembahyang. Lantas, jika manusia berani-beraninya mengganggu komunikasi manusia dengan Tuhannya apakah Tuhan gembira? Apakah Tuhan rela membuka pintu surga-Nya untuk orang seperti itu?

Dan orang yang bersembahyang, adalah orang yang Tuhan sayangi. Siapapun orang tersebut, apapun agamanya, jika orang tersebut memanggil Tuhan dalam kesehariannya, mereka adalah orang-orang yang beriman. Meskipun kita tahu kita berbeda dalam masalah pemahaman, tetapi semua agama akan mengatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang tidak pernah offline dengan Tuhannya. Dan Tuhan,akan melaknat orang-orang yang mengganggu keakraban, keromantisan hamba dengan Tuhannya.

Mayoritas orang Indonesia mengaku beragama, tetapi orang yang paham agama tidak sebanyak penganutnya. Mereka yang  pemahaman agamanya dangkal, mudah sekali mendapatkan doktrin dari luar. Artinya, mereka yang bodoh dan dangkal pemikirannyalah yang melahirkan kekerasan dan kekejaman.

Dengan begitu, banyak tugas yang masih harus kita kerjakan sebagai umat beragama, Apapun profesi yang kita ampu sekarang, pastikan untuk tahu agama kita dengan benar. Pastikan anak-anak, anak didik, teman-teman dan keluarga kita tidak terpengaruh dengan faham-faham radikal yang bisa memecah belah bangsa.

Para aktifis, para guru,  ulama, dan pemerintah, kita masih memiliki tugas yang sulit berkaitan dengan hal ini. Jadi, mari kita maksimalkan peran kita masing-masing di negara kita.

Sebagai pengajar, sebagai orang tua, tentu kita harus selalu mewaspadai pemahaman agama dari anak-anak agar tidak terjerumus kedalam faham radikal. Jangan sampai kekeluargaan kita dengan orang-orang Kristen, Budha, Hindu, dan agama lainnya rusak hanya karena orang-orang bodoh yang mengajarkan kekerasan kepada generasi muda dan ingin menghancurkan NKRI. Mari kita kerjakan PR masing-masing, mari kita lebih siaga dan memaksimalkan peran yang sedang kita ampu untuk menjaga negara kita.
Read more

30 Days Creatives #17 The Human Panda

Eddi Huang
Source : Viceland

Eddie Huang

 "Is a good dude and has a good show, but he's pretty racist against white people lol" - white jared
Aku nemuin orang keren lagi dari kegiatan ngeYoutube. Karena sering ngeYoutube, jadi banyak video yang aku temuin dan itu menarik. Salah satunya adalah ketemu The Human Panda, Eddi Huang.

Eddi Huang, adalah seorang chef imigran dari Taiwan. Tapi, dia bukan chef biasa yang hanya pintar memasak dan memiliki restoran. Dia punya acara jalan-jalan dan nyari makanan, yang keren banget. Kenapa aku bilang keren? Karena di acara tersebut, dia gak melulu bicara soal makanan. Dia bicara tentang kebudayaan, kehidupan sosial dan kehidupan politik dari negara-negara yang ia kunjungi dan dari makanan khas mereka sendiri.

Kehidupan imigran bukanlah kehidupan yang mudah. Kita bisa mendengar banyak cerita dari imigran, betapa sulitnya kehidupan mereka sebagai pendatang. Termasuk di Indonesia sendiri, pendatang Cina adalah orang yang sangat kesulitan hidup di negara Indonesia. Tidak terkecuali Eddi Huang. Di Amerika dia tidak bisa dianggap sebagai orang Amerika, dan di Taiwan dia bukan lagi seorang Taiwan. Meskipun sekarang mungkin lebih baik. Aku gak bisa deskripsikan banyak soal ini, karena aku gak punya pengalaman masalah ini.

Aku senang dengan orang ini karena dia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi multikulturalisme. Kenapa aku bilang kaya gitu? karena acara yang dia bawakan sendiri adalah acara keren yang memang mengangkat fakta-fakta dari orang-orang yang terpinggirkan. Dia menguak sisi yang orang lain tidak pernah sentuh. Dan ada tempat yang paling bikin pengen nangis saat nontonnya, ketika Eddi dateng ke kota Detroit. Kota Detroit setelah aku searching adalah kota yang mengalami kebangkrutan. Banyak orang yang menjadi pencuri di kota tersebut, karena rendahnya perekonomian yang mereka dapatkan. Rumah-rumah yang mereka tinggali harus dihancurkan oleh pemerintah, banyak yang menjadi gelandangan. Dan salah satu orang yang dikunjungi Eddi, adalah seorang kakek yang tidak punya tempat tinggal. Dia mengumpulkan puing-puing bangunan yang sudah tidak layak pakai. Anjingnya yang kelaparan yang selalu mencari cela untuk memakan makanan sisa dari majikannya. Kondisi yang sangat menyedihkan terjadi di kota tersebut.

Yang sering bikin aku ngakak, setiap kali dia berbicara dengan orang kulit putih. Dia kadang menyindir mereka dengan cara bicaranya yang jenaka. Dia sering menyindir orang kulit putih, karena mereka adalah orang yang selalu merasa menjadi ras paling baik. Dan menindas terhadap kulit hitam, termasuk juga Asia.

Setiap makanan yang ia temui di setiap negara yang dikunjungi, selalu ia gali dari sisi politisnya dan dari sisi kebudayaannya. Sehingga, meskipun aku gak terlalu ngerti sebagian obrolan yang dia bicarakan, tapi aku kagum dengan acara seperti ini. Nambah pengetahuan kita, dan betapa kita bisa mengengali sebuah kebudayaan, sebuah kondisi politik dari makanan yang mereka sajikan setiap hari di meja makan.

Dari Eddi Huang, aku merasakan semangat untuk selalu mencari tahu dan selalu maksimal dalam menjalankan segala hal. Dia keren, dan salah satu orang yang baru-baru ini aku kagumi.
Read more

30 Days Creatives #10 - Be Creative Person

To survive in the live, we have to be creative
Percaya gak percaya, tapi itulah yang terjadi. Kreativitas bisa mengalahkan orang yang berpendidikan tinggi. Aku gak ngartiin orang kreatif itu orang yang gak berpendidikan, tetapi semua orang bisa menjadi keratif dengan apa yang mereka miliki. Dengan apa yang Tuhan anugerahkan kepada mereka. Karena setiap kemampuan orang berbeda-beda, kesempatan orang untuk melangkan juga berbeda-beda, dan sejarah kehidupan setiap orang juga berbeda-beda.

Jadi untuk kreatif tidak akan pernah memandang siapa, darimana, dan sampai mana dia sekolah. Tidak, karena kreatif adalah kemampuan diri untuk bisa survive dalam kehidupan.

Sekarang banyak banget sarjana muda tetapi harus menganggur setelah kuliah. Tidak sedikit dari mereka yang bilang `udah sekolah mahal-mahal tapi tetep aja cari kerja susah`. Bagi mereka yang memiliki mindset kuliah itu untuk cari kerja memang mungkin akan seperti itu. Tetapi untungnya aku udah nyerah duluan masalah itu. Karena aku tahu, kita gak bakal bisa mandiri kalau memang hanya mengandalkan satu alat tersebut `ijazah`. Kita juga harus memiliki kreatifitas, yang artinya itu bisa menjadi planning B dimana jika kita sulit mendapatkan kerjaan, dengan kita kreatif, kita akan bisa menghasilkan sesuatu dan berkarya. Bukankah berkarya juga adalah pekerjaan?

Mari kita bicara kreatif tanpa harus memandang siapa, dan dimana. Seperti yang aku bilang tadi, kreatif itu adalah memaksimalkan kemampuan diri untuk bisa menjadikannya sesuatu yang berbeda dari orang lain.

Pertama, untuk menjadi orang kreatif kita harus percaya dulu satu hal. Bahwa, Tuhan menganugerahi kita kemampuan yang berbeda dari orang lain. Kita adalah orang spesial yang Tuhan turunkan ke bumi untuk melakukan satu misi. Dan kita maksimalkan perintah menjalankan misi tersebut, sehingga saat kembali kepada Tuhan kita bisa tersenyum kepada dunia, bahwa `aku telah menjalankan misi yang diperintahkan Tuhan buatku`.

Kedua, hindari pandangan negatif terhadap diri sendiri. Yang seringkali terjadi adalah kita memandang diri sendiri rendah ketika melihat orang lain sudah mampu mengembangkan dirinya dengan kemampuannya. Mereka sudah kreatif dengan jalan mereka sendiri, dengan kemampuan mereka sendiri, dengan takdir yang mereka jalani sendiri. Jangan sekali-kali menjudge bahwa diri kita gak berguna. Karena hal tersebut sudah mendegradasikan kekuasaan Tuhan yang telah memberikan takdir untuk kita jalani. Yang harusnya dilakukan adalah mengenali diri sendiri, gali potensi yang ada dalam diri.

Seperti yang dikatakan tadi, bahwa setiap orang memiliki kemampuan berbeda. Kalau orang lain ternyata memiliki kesempatan untuk sekolah tinggi, kita juga pasti punya hal lain yang lebih bisa kita banggakan. Misalnya, jika memiliki kemampuan untuk membuat suatu pola pakaian dengan rapi, atau bisa menggambar dengan indah, maksimalkan kemampuan tersebut. Jangan disia-siakan karena satu atau lain hal. Maksimalkan sosial media, maksimalkan ke hal-hal lain yang mungkin akan menghasilkan benefit untuk hal tersebut.

Ketiga, pastikan untuk tidak ingin langsung berhasil. Nah, menurutku ini yang paling penting. Melakukan sebuah proses kreatif tidak akan langsung mendapatkan hasilnya. Proses kreatif haruslah dikerjakan dengan penuh kesabaran. Karena Tuhan juga nyiptain manusia gak langsung jadi CEO, dia merangkak dulu dari air mani kemudian jadi jabang bayi, lahir ke dunia, tumbuh, dan jadi orang dewasa.

Keempat, keef focus. Nah ini yang sering kali sulit dijalanlan. Fokus pada satu hal bisa membuat kreatifitas yang sedang kita jalani maksimal. Jika ingin menjadi orang yang multitasking, kuasai satu terlebih dahulu hingga ia tajam. Jangan dulu melangkah pada hal lain sebelum ia benar-benar tajam. Multitasking dengan melakukan satu hal setengah-setengah akan membuahkan hasil yang tidak maksimal.

Dan terakhir, gak ada yang namanya bakat. Aku sering nonton wawancara artis favorit aku, Jay Park. Dia adalah orang yang berhasil sekarang. Yang sudah menempuh banyak banget masalah, termasuk masalah besar saat ia harus di departur dari Korea ke Amerika. Tetapi, dia bisa survive, dia melatih dirinya terus menerus. Dia gak nyerah dengan kondisi yang ia alami. Hingga sekarang dia terus kerja keras tanpa orang lain tahu kerja keras dia. Yang orang tahu, dia udah jadi terkenal dan menyandang banyak penghargaan. Tetapi di balik itu semua ada proses kreatif yang terus ia lakukan. Dan dia sendiri bilang `gak ada yang namanya bakat` semua yang ia miliki pure dari hasil kerja keras dia latihan.

Sekian tulisan kali ini. Semacam refleksi lagi sih. Semoga bisa bermanfaat untuk siapapun yang mampir baca tulisan ini. Have a nice day, have a cup of coffee today :). Let`s see what happen in Yogya tommorow. Wish me luck ^_^

Read more

30 Days Creatives #5 - Mengisi Kemerdekaan

Jadi hari ini aku nulisnya malam hari, karena tadi pagi gak enak badan dan puyeng liat laptop. But I am well now.

Oke, jadi hari ini aku mau ngebahas tentang tujuh belasan besok. Iya, maksudku hari kemerdekaan negaraku, Indonesia. Yang dideklarasikan pada 17 agustus 1945 oleh para pejuang-pejuang, baik yang dihargai ataupun yang tidak dihargai sama sekali.

Sudah beberapa tahun semenjak kuliah S1 tahun 2010 aku tidak lagi ikutan upacara. Bukan karena apa-apa, tapi memang aku gak tahu apakah di sekitar kampusku ada upacara atau tidak. Biasanya memang di daerah sekitaran kosan ada ramai-ramai seperti memasang umbul-umbul, pagar dicat dengan warna baru, atau hiasan di tas gang-gang berupa kertas warna-warni mirip di film India. Pokoknya warga di sekitar aku biasanya sangat antusias dengan kedatangan hari kemerdekaan ini.

Aku antusias gak? Tentu saja aku juga antusias. Tapi karena memang aku biasanya tidak ada kesempatan untuk merayakan hari tersebut. Secara kalau tinggal di daerah orang rasanya beda, tidak terlalu bisa menyatu dengan masyarakat sekitar. Jadi, sayang aku selama tinggal di Bandung belum bisa merasakan meriahnya 17-an, seperti di kampungku dulu sewaktu aku SD hingga SMK.

Tetapi meskipun begitu, 17-an tetaplah hari yang sakral. Hari yang merupakan batu loncatan di mana aku bisa seperti sekarang. Bisa dengan bebas menikmati sekolah, bisa dengan bebas mendapatkan hak-hak yang dulu memang terampas secara biadab. Hari dimana segala hal sudah menjadi Indonesia dan bukan milih `mereka`.

Meskipun aku gak pernah merayakan hari kemerdekaan, atau dalam tanda kutip ikut upacara. Tetapi aku tahu cara mengisi kemerdekaan, meskipun bentuknya tidaklah sebesar para pejuang terdahulu. Karena jika pejuang zaman dahulu berani mati melawan penjajah, aku bisa melakukan hal lain di era yang mana kemerdekaan sudah dalam genggaman, dan rakyat Indonesia harus menjadi pengisi kemerdekaan tersebut.

Meskipun memang bagi sebagian orang kata `merdeka` menjadi sebuah tanda tanya ketika mereka merasa terjajah di negara mereka sendiri. Serperi misalnya warga Tionghoa yang terakhir aku temui saat penelitian, mereka merasakan kebebasan tidak selama warga Indonesia asli. Mereka harus merasakan ditindas di negara Indonesia. Meskipun status mereka sudah menjadi penduduk Indonesia, tetapi sayangnya hak-hak mereka dirampas, dengan tidak boleh ini itu oleh negara. But, yeah, itu juga debatable.

Tidak Buang Sampah Sembarangan

Bagiku, mengisi kemerdekaan adalah dengan tidak buang sampah sembarangan. Ini seperti pelajaran anak SD tetapi ternyata banyak yang lulusan S2 juga tidak sadar dengan membuang sampah pada tempatnya. Dengan alasan tidak ada tempat sampah, malu memasukan sampah ke dalam tas, dan bla bla bla lain yang tidak masuk di akal. 

Sebenarnya dengan membuang satu sampah ajah ke sungai misalkan, secara tidak langsung kita sudah menyumbang kerusakan lingkungan kita. Kita gak pernah tahu kalau kita yang membuang sampah diikuti orang lain, dengan jumlah yang tidak sedikit. Sehingga, ketika banjir, bukan selalu pemerintah yang harusnya disalahkan. Tetapi diri sendiri. Tanyakan pada diri sendiri, apakah kita tidak ikut membuang sampai dan menyebabkan kekacauan lingkungan tersebut. Apakah kita sudah benar-benar menjaga lingkungan sendiri dengan baik?

Dan, ketika terjadi bencana-bencana seperti banjir. Apakah kita sudah merasa merdeka dari diri sendiri yang sudah mentaati aturan yang tidak tertulis bahwa membuang sampah, berbuat sesuatu yang tidak pantas itu akan mengakibatkan diri sendiri terpenjara dalam kekhawatiran.

Hidup Bertoleransi

Ternyata setelah sekian lama belajar di Religious Studies, hidup bertoleransi itu tidaklah mudah. Karena aku kuliah di Religious Studies, buatku menghargai agama lain sudah menjadi hal yang harus dan lumrah. Tetapi, ternyata di luar sana masih banyak yang menganggap orang yang beragama tidak sama dengan mereka, adalah sebuah ancaman. Bahkan, yang berbeda madzhab saja sudah dianggap tidak sama sehingga mereka tidak ingin bekerjasama bahkan saling tanya satu sama lain. Hingga yang paling ekstrim adalah aksi terorisme yang belakangan ini terjadi dan mengatasnamakan agama Islam untuk menghancurkan orang kafir. 

Hidup bertoleransi bisa diterapkan di sektor yang paling kecil, seperti keluarga. Sehingga, ketika keluarga sendiri sudah bisa bertoleransi, maka kehidupan sosial mereka juga bisa bertoleransi. Jangan tanyakan lebih jauh arti toleransi yang ada di perkuliahan, rasakan saja arti toleransi yang dipahami terlebih dahulu.

Kedua cara tersebut adalah caraku mengisi kemerdekaan. Meskipun masih banyak hal, tetapi kedua hal tersebut dalam kepalaku saat ini adalah hal yang sangat penting. Dan sedang aku upayakan untuk selalu dilakukan. Dirgahayu Indonesiaku, semoga kau selalu dipimpin oleh orang-orang yang adil dan bijaksana, semoga rakyatmu selalu ada dalam lindungan Tuhan.

Sekian tulisan malam ini. Have a morning coffee story today. Tapi magh ku kambuh jadi gak bisa minum kopi, bye. lol
Read more

What Thechnology Used For?

It has been long time that I am not writting here. Am I bussy? I think rather than busy I am becoming lazy. Yes, lazy comes to me as soon as my friends left me to do their own activity after graduate from university. I am continuing my study now to post graduate, if I have to compare my spirit with past, it's huge different. Near-daily I ask to my self, what happen? And the answer always same that I need more friends.

img_20170210_151544

Recently, I relized that nobody can live alone. In the robot era (technologi era) everybody become more and more lonely. They need some space to face to face with others because there are huge different between happines by technology and human. Sometime we need technology because we want to do something like arrogant to other, something like "hey dude, I have new iPhone, whats up with your phone? ha ha". I think it's better than we have technology to be alienating to others.

On the caffe, not only bowed head to smartphone but also we need a cup of coffee with bulshit story, nothing can do it but friends. In this beautiful earth, it is to huge to be enjoyed by self. We need more friends to write great story in our whole life.

This writing is to bring me to mind that friends is amazing things in our life. Although sometime we need to be alone, but friends is someone who always call us to mind that the word is beautiful.
Read more

Belajar dari Pelarangan Burkini (Bikini, Yes ! Burkini, No!)

Bikini, Yes! Burkini, No. Mungkin itu yang sedang Eropa inginkan saat ini. Memang terdengar agak ganjil di telinga saya ketika orang Eropa melarang pemakaian Burkini di pantai. Dan lebih menganjurkan memakai bikini. Sangat menggelikan kalau hal seperti ini didengar di Indonesia. Karena di Indonesia, bagi kebanyakan orang, kelas bawah khususnya pemakaian bikini ada dalam tatanan moral yang kurang sopan.

Burkini, adalah hal baru di telinga saya. Sebelumnya tidak
Read more

Manage Your Time

Bisa dibilang saya paling susah memanage waktu, banyak tugas yang molor dan tidak tepat waktu. Dan saya rasa saya tidak bisa melanjutkannya lebih lama lagi. Bisa dibilang, hal seperti itu semacam penyakit yang terus saja dipelihara. Yang artinya, saya juga membiarkan saya menjadi orang yang berpenyakit semacam itu. Membiarkan diri menjadi budak nafsu sendiri.

Sesederhana apapun kehidupan, rasanya kita harus memaksimalkan apa yang kita miliki dan bisa kita lakukan. Bukan malah menyesali karena orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik dari diri sendiri. Sebenarnya Tuhan memberikan porsi masing-masing terhadap kehidupan manusia. So, nikmatin saja hidup yang sedang kita miliki dan maksimalkan dengan sebaik-baiknya. Jangan banyak mengeluh dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi kehidupan yang lebih baik.

Saya pernah baca, entah dimana saya lupa lagi sumbernya, tapi ada yang bilang kalau kebiasaan malas-malasan itu menurun kepada anak kita nanti. Jadi, kalau si ibu malas,
Read more

Cara Membentuk Karakter Anak : Belajar dari Song Triplets

[caption id="" align="alignnone" width="1280"] image source : debeacham.com[/caption]

Saya memang orang yang jarang jalan-jalan, tapi bukan berarti saya tidak mau jalan-jalan. Malahan, bisa dibilang obsesi saya saat ini adalah jalan-jalan ke seluruh penjuru kota dan dunia. Tapi itu masih belum bisa tereksekusi, dan bukan berarti saya tidak merasa saya sedang jalan-jalan atau traveling. Traveling bisa dilakukan dimana saja, asal jiwa kita jiwa traveling. Maka, hasilnya akan menjadi sebuah traveling yang sangat menyenangkan. (Ngabubungah diri sendiri aja sih sebenernya hehe).

Setiap pagi saya sering sibuk menata kamar kos, agar saya selalu semangat setiap pagi dan mandi juga pagi. Karena berdasarkan pengalaman, mandi pagi ternyata membuat badan terasa lebih segar dan semangat untuk melakukan banyak hal. Maka, sebelum shalat subuh saya selalu memaksakan diri untuk mandi terlebih dahulu, meskipun udara Bandung sedang dingin-dingingnnya. Tapi semangat saya untuk mandi tidak akan luruh, karena dengan mandi saya berarti menjemput semangat. Manse!

Perjalanan saya yang sangat menyenangkan adalah bertemu dengan tiga orang kembar dari Korea. Nama mereka sangat nasionalis sekali, Dae Han, Min Guk, dan Man Se. Tahu artinya apa?
Read more

I Am a Mosleem, and I Am a Peace-Loving

[caption id="" align="alignnone" width="502"] image source : sorotnews.com[/caption]

Many kinds of human in the world. But, the potential of human life are same. They are having bad and good potential. To be good or bad human is our choice, it’s depend on our culture, family background, region, ideology, etc.

I was born as a mosleem, and i try to be good mosleem, to pray in time, to do my obligation, and to love nature and human.

From Islam I learnt about how to love human life, whoever and wherever. My religion says that Islam is a humanity religion. It’s not only about rite but also about vertical and horizontal (to human and god). I never learnt about war in Islam. On the contrary i learnt about love and peace.

I am so sad to learnt about war in the name of Islam in the world. I am not understand how can it be, and I feel disappointed to them. Why they are always using the name of religion to get what they want?

I am studying at Religious Studies major in my university. And so many cases about religion are occur. And I get conclusion that war in the name of religion isn't from the dogma but for the benefit of self or particular organization.

So let’s not blame a particular religion. None of these are teaching about crime. Let’s have mutual life with others. Love you.. :*
Read more

Senang BoyBand Korea? Ambil Nilai Positifnya

image source : bigbangupdates.com[/caption]

Tahun-tahun belakangan sampai tahun ini Boyband Korea Selatan masih memikat hati sebagian orang Indonesia, termasuk saya. Sentuhan baru yang diberikan boyband Korea Selatan menjadi penyegar dahaga permusikan dan selain itu tentu saja penyejuk mata.

Banyak orang yang rela merogoh kocek jutaan rupiah demi menyaksikan performance boyband favorit mereka. Seperti yang terjadi saat konser BigBang di Jakarta waktu itu. Kalau punya uang sih saya juga mau.

Namun hati-hati, jangan sampai terjebak kepada ketidak sadaran nilai yang kita bisa ambil dari keberadaan mereka. Sebagai manusia yang hidup, kita jangan hanya saja memikirkan bagaimana mereka akan ngetop dan mengalahkan artis-artis lain. Lalu menjadi fans fanatik, yang kemudian membentuk anti fans pada grup-grup lain. Sehingga terjadi kebencian kepada yang lain, dengan cara-cara anarkis dan tidak elegan.
Read more

Kenapa Setidaknya Harus Pakai Batik Saat Hari Batik?

[caption id="" align="alignnone" width="580"] image source : kfk.kompas.com[/caption]

Mungkin sebagian teman-teman ada yang juga bertanya-tanya seperti saya. Kenapa sih harus pakai batik sebagai tanda kita menghormati hari batik nasional? Bukankah tanpa kita pakai batik pun kita tetap menghormati hari itu sebagai hari batik? Bukankah tanpa kita memakai batik pun hari batik tidak akan dibatalkan dan diganti dengan hari ulang tahun saya? Dan apa juga fungsinya batik sehingga harus diberikan kepadanya hari spesial?
Read more

Dasi dan Ciri Modern

Hari ini ingin memposting suatu hal yang berbau sejarah. Bahasanya bakalan agak kaku. Karena ini proposal tesis yang tidak jadi proposal. Makanya saya tulis saja menjadi postingan hari senin yang menggembirakan ini.

Bangsa Belanda adalah bangsa pedagang yang kemudian menjadi penguasa yang berdaulat demi mengamankan sektor ekonomi dan perdagangannya. Selanjutnya mereka mengekspansi berbagai macam sektor di Hindia Belanda seperti sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Dimulai dari Pesisir Utara Jawa yang akhirnya meluas ke seluruh Pulau Jawa dan Nusantara.
Read more

Membumikan Musik Jazz


Hari ini saya ingin menulis tentang musik. Tepatnya nimbrungin artikel-artikel musik dari ahli dan penikmatnya. Ini terjadi karena suatu sore yang cerah di desa Mekarmulya. Saya diajak untuk selalu merenung di samping jendela, dengan godaan sinar matahari yang dari tadi sudah mulai muncul di jendela. Ada daun pisang yang menari-nari, pohon lainya juga begitu sedangkan matahari sedang mengawasi.

Ini tentang improvisasi yang selalu disebut-sebut oleh musisi Jazz, Bang Beben. Saya ingin mencurahkan sebuah pemahaman dari segala perkataannya tentang
Read more

Perihal Mempertahankan Bahasa



Saya sedikit iri dengan bahasa Inggris yang mendunia. Mereka tidak harus menjaga dan menyuruh anak-anak mereka untuk menjaga bahasa mereka, karena bahasa mereka telah dijaga oleh manusia sedunia. Bahasa mereka menjadi bahasa internasional. Mereka memiliki susunan gramatikal yang terjaga hampir di seluruh sudut dunia. Mereka tidak usah pusing-pusing memikirkan bahasa mereka akan punah kelak. Karena dengan banyak orang yang mempelajarinya, usia bahasa mereka tentu saja akan lebih panjang daripada usia bahasa-bahasa lain di dunia.

Saya yakin tidak akan ada yang namanya pembajakan bahasa Inggris, karena mereka semua tahu bahwa bahasa Inggris adalah copyright nya orang-orang Benua Amerika.
Read more

Membicarakan Warisan

Ada yang namanya sejarah, sejarah adalah semacam kenangan, pengalaman, yang memberitahu kita asal muasal, suatu hal, atau jangan lupa sebut juga suatu kesalahan yang tidak boleh terulang di masa mendatang. Ya, sejarah jika kita lupakan atau tidak kita ketahui akan menyebabkan kita mengulang luka lama. Dan satu pesan yang sering orang tua kita bilang, jangan sampai tersandung di batu yang sama. Sebuah nasehat yang akan sangat meluas sekali dibahasakan. Kita bisa menggunakan peribahasa itu dalam segala lini.

Dan saya merasa generasi tahun-tahun lalu telah memberikan sejarah yang sangat berharga. Sejarah tentang perjuangan melawan penjajahan, tentang perjuangan mendapatkan kemerdekaan menikmati alam di negara sendiri. Tentang pemuda yang berani melawan kesalahan-kesalahan birokrat. Tentang perjuangan yang tidak pernah berhenti, dan semangat yang terus membara. Atau sebuah perjuangan dari sastrawan yang tetap menulis saat dia menjadi tahanan politik tanpa sebuah kesalahan.

Pilihan rasa setiap generasi bergeser sehingga sejarah yang terciptapun berubah. Tapi rasanya untuk perjuangan tetap sama, hanya objeknya saja yang berbeda. Dan cara perjuangan yang berbeda. Generasi di abad 19 ini akan banyak di pengaruhi oleh teknologi, tersaji segala hal dengan mudah dan instan. Zaman dulu, hanya mie instan dan makanan kaleng yang instan. Tapi untuk hari ini mendapatkan beasiswa saja tinggal nongkrong di warnet dan dapatlah informasi yang dibutuhkan. Begitupun buku, begitupun artikel-artikel akan sangat banyak anak muda yang malas membaca karena nantinya dia akan dengan mudah mencari apapun yang dia butuh. Adanya sebuah degradasi kesabaran di era ini. Dimana lebih memilih membeli karcis online daripada harus sabar mengantri di loket kereta api. Ini baik, tapi disisi lain hal ini juga – seperti yang telah saya singgung mengurangi degradasi kesabaran manusia. Jadinya akan sulit menemukan kembali pengarang yang biasanya mendapatkan inspirasi menulis dari pengalaman dia saat mengantri karcis di loket yang berjejalan dan melihat muka manusia-manusia yang sedang mengantre.

Tapi dalam setiap generasi akan selalu ada yang menonjol dan berbeda dari kebanyakan di generasinya. Seperti parapenulis yang saya senangi, mereka bisa menulis dengan baik di zaman ini. Tulisan-tulisan Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, Acep Zamzam, Godi Suwarna, dll  di zaman ini mereka membuat tulisan yang dirindukan sehingga karya mereka menjadi best-seller di toko buku atau menjadi karya yang ditunggu-tunggu di kalangan tertentu. Ini berarti selera angkatan lalu masih menjadi primadona, atau mungkin si penggemar adalah mereka yang berada di angkatan lalu. Mereka termasuk golongan penyambung antara generasi sebelum kita dan generasi hari ini. Jadi sekiranya mereka harus bisa menjadi jembatan penghubung harapan generasi kemarin dan hari ini. Sehingga tidak ada missing-link antar generasi.

Sebagai generasi muda, saya sendiri masih sangsi terhadap apa yang saya dapatkan. Memang harusnya begitu, sehingga hasilnya saya sendiri masih butuh wejangan dari para generasi sebelum kita. Kita masih butuh bimbingan tentang keinginan para tetua terhadap generasi kita sehingga cita-cita kita bisa sejurus. Tidak tumpang tindih atau bahkan membelok jauh.

Di zaman ini semua serba tekhnologi, dimanapun akan kamu lihat orang-orang dengan handphone canggih di tangannya. Interaksi dengan sesama manusia menjadi tidak begitu terperhatikan. Malah kita akan lebih akrab dengan robot itu daripada manusia di samping kita. Begitupun saya, saya menjadi lebih berani bertukar kata dengan seseorang lewat ponsel daripada bertatap muka langsung. Kegiatan rutinan orang lain bisa kita cek di sebuah time-line facebook atau sosial media lainnya. Itulah perkembangan dunia hari ini.

Akan dua warisan yang di ciptakan oleh generasi teknologi ini. Yaitu generasi yang hanya menerima saja, dan generasi yang terus berjuang untuk membuat segalanya menjadi serba instan, sehingga interaksi dengan manusia tidak akan sulit dan di sisi lain sangat mengurangi esensi silaturahmi yang sebenarnya. Yang mana kita bisa tahu seberapa tulus orang tersebut. Orang bilang yang tidak bisa berbohong adalah mata, dari mata kita bisa tahu emosi orang ketika bertatapan langsung dengannya. Akan berbeda ketika percakapan dilakukan via telepon atau media sosial lainnya. Dan generasi tua bisa mengambil inspirasi tulisan mereka dari generasi ini. Karena mereka menyaksikan perpindahan antar generasi dengan sangat kentara.

Kalau saja bisa, saya  ingin menceritakan ini kepada seseorang di zaman lalu. Menceritakan sebuah perkembangan negara yang mereka perjuangkan dulu. Negara yang mereka kritik selalu, berubahnya menjadi demikian. Saya kadang berfikir ingin minum kopi dan berbincang dengan Pram, Soe Hok Gie, Gus Dur, Ahmad Wahib, Emha, manusia-manusia yang memiliki perhatian khusus kepada negara ini. Dan saya sendiri sebagai manusia yang hidup di zaman ini tidak bisa menjadi manusia seperti mereka.

Dan satu hal yang ingin saya tanyakan kepada mereka, “adakah kita menjadi anak yang hilang?”. Anak yang memasuki satu dunia yang lain dari dunia kita sendiri, menjadi anak yang hilang dan salah asuhan tidak mengikuti keinginan orang tua tetapi hanya melahirkan kekecewaan. Mungkin mereka akan menjewerku atau memperlintir hidungku, ataupun mencubitku karena memang iya seperti itu.

Ya, seperti yang kita lihat saat ini, kemarin kita telah memilih presiden baru yang telah lama di idam-idamkan oleh separuh  rakyat Indonesia. Dan ternyata hari ini dengan tidak menyenangkan dilihat kasat mata ia telah mengangkat calon ketua polri yang telah menjadi tersangka korupsi. Pemerintahan macam apa yang bisa dibangun oleh koruptor. Atau mungkin budayanya sudah seperti itu dari zaman dulu? Saya sering belajar dari banyak orang bahwa sekalinya dia berbohong maka selamanya dia akan menjadi pembohong. Pelajaran moral yang tidak saya dapatkan di keluarga, tapi dilingkungan. Misalnya dalam hal pasangan, ia yang sudah berbohong untuk pertama kalinya, yang kedua kalinya dia tidak akan menjadi manusia yang dipercaya. Hubungan percintaan itu tidak jauh beda dengan hubungan negara dan pemerintahnya. Kekasih pemerintah adalah negara, seharusnya. Mereka memiliki anak-anak yang bernama rakyat. Kalau saja pemerintah atasan saja sudah tidak bisa memegang kedisiplinan dalam kebaikan, lantas mau berpedoman kemana lagi masyarakat – anak-anak mereka. Saya lantas berfikir, mungkinkah karena beliau mirip Obama jadi harapan mereka pun menganggap kemampuan beliau ini mirip Obama.

Sebenarnya saya kadang berada di ambang kebingunan. Tentang apa yang seyogyanya harus saya lakukan sebagai manusia yang menempuh menjadi individu yang sekolah, yang ternyata tidak membuat saya dan teman-teman menginjakan kaki di tempat dimana kita seharusnya menginjak. Tetap saja, hal yang paling utama yang kita harus temukan terlebih dahulu adalah materi yang ternyata tidak ada sebuah jaminan bagi kita untuk mendapatkannya setelah menempuh pendidikan begitu lamanya. Ya, kita mungkin memang individu yang tidak begitu kreatif, yang meninggalkan kreatifitas ketika dihadapkan dengan dunia pendidikan yang kita tempuh selama empat tahun. Tapi kita sendiri seperti kehilangan arah untuk kemana kita akan berlari dan berjalan.

Lalu untuk menghadapi perdagangan bebas yang katanya akan di mulai sekitar bulan Juli mendatang. Dimana kita bisa menjadi pekerja di negeri orang dan bangsa lain juga bisa menjadi supir di negeri kita. Apakah benar kita sudah siap. Bangsa yang memiliki pengalaman telah menjadi budak dan penghambaan kepada negara lain yang terlalu. Kita memiliki sejarah tentang penduduk pribumi yang pada masa dulu tidak dianggap sebagai manusia. Sekarang mungkin memang bukan zamannya dan sudah tertinggal, tapi tentang pengalaman itu akan banyak sisa-sisa yang masih harus disamaratakan ketiadaannya. Sebagian dari kita ada yang tidak percaya diri dengan kemampuannya sehingga ketika melihat orang luar negeri merasa mereka menjadi orang paling kecil dan segala urusan diserahkan saja kepada mereka yang ia anggap lebih hebat. Itu adalah kelemahan terkecil yang mungkin saja bisa menjangkit ke seluruh lini. Apakah kita sudah belajar dari sejarah?

Saya rasa sebagian dari rakyat tidak siap untuk hal ini, karena masyarakat Indonesia bukan hanya orang Jakarta. di kampungku masih banyak orang yang hanya mengandalkan sawah dan ladang untuk melanjutkan hidupnya. Kemudian mereka membiayai anak-anak mereka untuk sekolah tinggi dan kemudian anak mereka harus berhenti karena menikah di usia muda dan menjadi ibu rumah tangga. Begitu siklus kehidupan selanjutnya berulang. Jika perdagangan bebas adalah tentang pertukaran buruh, lalu bagaimana nasib buruh di negeri kita. Bisa jadi ranah kerja mereka menjadi tersingkir di rumah sendiri. Tapi pembicaraan ini bukan pembicaraan yang bisa di bawa ke warung kopi kemudian berubah menjadi surat yang gagal ditandatangani.

Andai saja ada sebuah perjanjian antara orang tua dan generasi mendatang, tentang mau dibawa kemana negeri ini. Apa yang lantas harus dilakukan generasi berikutnya. Tidak hanya tercantum dalam undang-undang yang tidak asyik diperbincangkan di warung kopi. Dan selalu berdasi serta berkarpet merah. Sehingga, orang-orang bawah macam kita bisa paham posisi dan peran kita masing-masing. Serta dijamin kehidupan sebagai warga negara, yang tidak lagi harus memikirkan betapa sulitnya berkreasi untuk mencari uang dan melupakan satu sisi kewajiban sebagai manusia berkebangsaan.



Kediri, 25 Januari 2015
Read more

Tentang Jazz Tentang Hidup



“Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya”. Sebuah kutipan lagu Jazz yang baru-baru ini aku dengar dari penyanyi Jazz Raras Ocvi, berjudul Surat Cinta. Mestinya ini kata pertama yang mewakili prosesku menulis. Tapi, pernah aku dapat wejangan, entah dari siapa aku lupa bahwa kalau kita menulis tulislah dari kebingunan kita. Ya, begitu ternyata lebih baik. Setelah kita  mulai menuliskan kebingungan, dan dengan kebiasaan menulis serta menumpahkan apa yang kita  rasa, nanti kita  bisa edit sendiri tulisanmu.

Iya, akhir-akhir ini aku sedang menikmati lagu berbau Jazz. Tapi pengetahuanku tentang Jazz tidak sebanyak Ahmad Dhani. Atau seperti yang Eka Kurniawan katakan, ketika menyenangi suatu hal, sekiranya elok untuk kita mengetahui segala seluk beluk dari apa yang kita suka. Seperti petani, mereka harus tahu musim, harus tahu perkakas, dan cara untuk bertanam yang benar. Tapi aku belum sejauh itu. Jadi hanya sebatas yang aku bisa rasakan dan pernah aku tahu. Dan iya, kita harus belajar dan tahu itu.

Lagipula aku sepakat dengan yang dikatakan maestro Jazz Indonesia, Beben Jazz. Kita harus tahu segala macam jenis musik, untuk apa? Untuk pengetahuan. Telinga harus dibiasakan dengan berbagai macam jenis musik. Meskipun tidak suka bukan berarti kita tidak mendengarkan, tapi bersikap terbuka terhadap musik apapun. Seperti penyikapan hidup kan?. Ya, inilah yang selalu Beben Jazz tekankan. Ia selalu membumikan musik, menggambarkan sebuah kehidupan. Ya, memang harusnya ilmu pengetahuan itu dibumikan bukan hanya menjadi kepentingan ilmu pengetahuan itu.

Pernyataan yang hampir sama dengan yang dikemukakan oleh F. Scott Fitzgerald, ketika Jazz dinyatakan untuk menjabarkan suatu sikap dan tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya. Seno Gumira Ajidarma dalam tulisannya menjelasan perkataan Fitzgerald bahwa "tidak usah menjadi ahli musik untuk menyukai Jazz. Sehingga, tidak penting Jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya, rasa yang ditularkannya, emosi yang diteriakkannya, jeritan yang dilengkingkannya, dan raungan gemuruh yang memuntahkan kepahitan".
Bersama waktu, suara-suara setiap instrument itu mengalir bagai mengikuti suatu garis penunjuk, namun mereka tidak betul-betuk selalu mengikuti garis itu, kadang-kadang mereka berbelok entah kemana, menghilang lantas kembali lagi, atau memang mengikuti garis itu, tapi sambil meloncat-loncat, menari, jungkir balik- semuanya secara imprivisatoris dan tidak saling merusak. Bila tiba saatnya satu instrument ditonjolkan, dimana sang musisi mendemonstrasikan kepiawaian individualnya, yang lain secara otomatis tahu diri untuk tidak mengacaunya. Suara-suara itu saling sahut-menyahut. Seringkali suara itu seolah-olah begitu kacau, tapi bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang memainkan ketertiban, bermain main dengan keharusan, serta bercanda dengan peraturan musical. Suara-suara sengaja dibelokkan, dipelesetkan, bahkan di jungkir balikkan. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan para musisi yang sudah beres urusanya dengan ketertiban, tapi yang merasa segenap kaidah musical tak cukup menyalurkan kebutuhannya untuk bicara lewat instrumennya. Mereka tidak ingin memainkan sebuah lagu, mereka ingin mengungkapkan kata hatinya,tapi bahkan bahasa kata tak pernah cukup mewakili kata hatinya itu,maka betapa terampilnya mereka yang mampu menyampaikan kata hati itu lewat suara instrumennya.Seringkali begitu menyentuh suara-suar itu, begitu rinci menggambarkan setiap inci kata hati.Kita mendengar rasa, dalam bahasa suara. - Seno Gumira Ajidarma

Berasal dari kesenanganku ikut ke Cikini, tepatnya datang ke Taman Ismail Marzuki. Disana mas Beben dan istrinya Inna Kamarie tampil dalam sebuah acara. Mereka sering membawakan satu atau beberapa nomer Jazz. Dan pertama aku dengar, musik ini tersangkut di ingatan, damai, dan terasa lebih easy listening. Inna Kamarie seringkali tampil dengan grup Jazznya, Inna Kamari Jasm Project. Dan mas Bebennya sendiri seringkali mengiringi mbak Inna bernyanyi atau teman Jazz lainnya. Yang membuat penonton iri, especially me (lol).

Nomor Jazz Inna Kamarie yang sering aku putar di ponsel berjudul Dindi. Dindi aslinya diciptakan oleh Antonio Carlos Jobim, dan coba dengar lagu aslinya. Bagiku sendiri lagu aslinya tidak begitu easy listening mungkin karena lagunya jadul juga. Tapi setelah dinyanyikan oleh Mba Inna, pesannya lebih sampai.

Penyanyi Jazz lain yang sering aku dengarkan adalah Raras Ocvi and Friends. Yang aku tahu mereka juga berada dibawah bimbingan pengajaran Mas Beben juga. Suara Raras yang Jazzy selalu membuat lagu-lagu yang dibawakannya beraroma manis.

Komunitas Jazz Kemayoran yang didirikan oleh Beben Jazz menjadi tempat mereka berkumpul untuk membicarakan musik Jazz. Mereka rutin mengadakan pertemuan untuk belajar tentang Jazz, mulai dari sejarah, filosofi, penerapan hidup di masyarakat, dan menghapus pameo yang berkembang di masyarakat bahwa Jazz hanya untuk kalangan tertentu saja. Dan sekarang, hampir 100 grup Jazz terbentuk dari Komunitas Jazz Kemayoran.

Temanku yang pernah datang ke acara itu, mengatakan kalau disana tidak hanya orang yang pandai bermain alat musik atau penyanyi-penyanyi Jazznya saja. Tapi ditempat itu banyak orang yang tidak bisa apapun datang kesana hanya untuk belajar Jazz. Mulai dari anak muda sampai tua, dari berbagai kalangan.
Read more

Sentimeter Indonesia

Pare, sebuah kampung di Tegalrejo ini menjadi sayap kebangkitan kota Kediri. Menjadi tempat mengunduh ilmu bahasa. Kedatanganku kedua kalinya kesini menjadi perjumpaan yang tidak biasa lagi.

Kereta yang mengantarku ke Kediri seperti perjumpaan dengan kawan lama. Bahagia meski kembali canggung. Kemudian ia menjadi tempat tidur paling nyaman saat perjalanan. Lalu tepat di arah aku melihat ke kanan, aku melihat seorang lelaki berkulit coklat tua duduk disana. Dengan pakaian hitam, dari wajahnya aku bisa menebak kalau ia orang Jawa, maksudku dengan bahasa Jawa pula. Kemudian, suasana Jawa mulai tercium dari pemuda itu.

Dua belas jam kurang lebih, telah berlalu, perjalanan sudah sampai di statsiun Lempuyangan. Stasiun yang sering aku temui, bercerita dan kurindukan. Kotanya selalu memanggilku, selalu memberiku sebuah imajinasi untuk segera menyambanginya sekedar berjalan kaki di senja hari atau menikmati terik mentarinya. Ya, Jogja bagiku tidak hanya sekedar cantik, tapi anggun dan bersahaja.

Datang ke gerbong satu, tempat dimana aku duduk dua orang berkacamata. Kulit sawo matang dan hidung yang bagus. Bibir yang sama besar tapi tipis, serta berjaket merah dengan kaos di dalamnya. Aku yakin dia seorang mahasiswa, dan ternyata benar, setelah temanku sempat berbincang dengannya. Ia duduk di bangku yang sama denganku. Tepat berada di depan kursi ku duduk. Sampai aku tidak tahu harus membuang pandangan kemana, karena disampingku jendela, maka ku putuskan berpura-pura melihat jendela di sebelahku. Padahal raut muka pria itu lebih menarik.

Setelah dia duduk aku tahu ada yang tidak beres dengan kepalaku. Khayalanku kembali liar setelah melihat pemuda itu. Seluruh alam bawah sadarku bangkit menerka-nerka ingin dan memintaku untuk tidak tinggal diam. Untuk sekedar bertanya, berdiskusi atau membicarakan hal yang ia sukai. Aku yakin ia bukan lelaki yang sering aku kenal. Ia pembaca buku, ia mencitai buku dan perempuan yang ia suka adalah perempuan yang anggun dan berpenampilan bersahaja. Serta terlihat solehah, berkacamata pula. Fikiranku kembali meracau, aku melihat jendela dan memikirkan hal yang jauh dari kemugkinan. Aku berfikir untuk bisa berjalan berdua dengannya bersepeda santai menyusuri kota Kediri. Sebab kebetulan dia pun pergi ke Pare. Namun, kemudian aku mengingat bentuk tubuhku, caraku berpakaian, caraku bersosialisasi dan akupun mengurungkan untuk melanjutkan imajinasi liarku. Dan aku putuskan tidur saja sebelum akhirnya aku harus pindah tempat duduk.

Perjalanan kereta api adalah perjalanan yang paling berkesan. Tahui saja, Kereta Api itu seperti raja di perjalanan. Ia menyingkirkan orang yang lewat di jalan untuk Ia berjalan di rel. Ya, sebab ia raja kendaraan. Dan untuk orang kampung sepertiku itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Meskipun untuk kesekian puluh kalinya aku naik kereta. Tapi kesannya selalu saja berbeda di setiap kesempatan. Dengan kereta api kita diajak kembali ke alam. Menyapa alam dari sudut pandang masing-masing yang melihat pemandangannya. Dan itu hanya bisa kau dapat dengan hati yang tenang, dengan fikiran yang jernih. Maka, aku yakin senyummu akan melebar saat kau melihat sawah-sawah yang terbentang luas. Hutan-hutan yang seharusnya lebih rimbun, dan kebun-kebun yang bersahabat dengan petani.

Kemudian Cleaning Servis Perjalanan mulai membersihkan kereta. Mereka menyusuri tiap gerbong memunguti sampah yang berserakan. Ia adalah seorang bapak yang usianya mungkin sudah 40-an dan seorang lelaki yang usianya sekitar 28-an. Mereka kompak memunguti sampah. Hingga kemudian aku mendengar suara si bapak yang berumur 40-an itu berbicara, dan memerhatikan koperku yang ada di bawah menghalangi jalan. Si bapak bilang “nanti saya bereskan ya mbak kopernya”. Dengan wajah datar namun penuh tanggung jawab dan rasa sayang. Demikian kesan yang aku dapat. Si bapak itu kemudian menggeser ransel yang ada di atas dan menempatkan koperku disana. “terimakasih ya pak” kata temanku. “Iya, sama-sama” sambutnya masih dengan wajah yang datar namun terdengar sopan dari logat Jawanya. Ah, sungguh.

Lalu stasiun demi stasiun kereta menurunkan penumpang. Stasiun Madiun, Stasiun Barok, stasiun Balapan, ahhh asyik sekali melihatnya. Yang di dalam, seperti keluarga yang harus singgah di tempat-tempat yang mereka tuju. Tapi ada perasaan lega, dan ingin tersenyum saja.

Kemudian, aku turun di stasiun kediri. Membawa koper dan mengikuti orang-orang melewati pintu yang sama. Sampai disana, sumringah yang ada. Perjalanan yang sangat menggembirakan. Lalu, kita disambut oleh para lelaki yang berseragam kuning, sponsor dari salah satu kartu perdana. Mereka tahu bahwa kami menuju ke Pare dan menawarkan jasa becak untuk sampai ke tempat mobil yang menuju ke desa Pare. Mereka menawarkan Jasa sebesar Rp. 20.000 untuk satu becak. Aku setuju saja untuk membayar mereka sebesar itu, dan sebenarnya sama sekali tidak ingin menawar kembali. Sebab, dari raut muka mereka aku melihat lelahnya mencari uang. Legamnya kulit mereka yang harus mengakrabi matahari membuatku enggan untuk menawar lebih rendah daripada harga itu. lalu, kami putuskan untuk naik becak, meskipun temanku sempat enggan naik becak, sebab menurut informasi yang ia dapat harganya cukup mahal.

Perjalanan becak mengajaku menelusuri Kota Kediri meskipun sedikit, tapi lagi-lagi nuansa Jawa membuat tubuhku memberikan respon positif untuk selalu menikmati perjalanan, dan segala hal yang ada disana. Terik matahari tidak canggung ku nikmati, sebab bagian dari Jawa adalah terik matahari.

Lalu becak menurunkan kami di tempat lewatnya kendaraan umum menuju ke Pare. Ada tukang becak juga disana. Dan mereka bertanya kepada kami hendak kemana. Entahlah, yang selalu ku rasa dari logat Jawa adalah bahasa dan logat mereka yang selalu anggun dan bersahaja. Lalu, mereka pun membantu kami memberhentikan setiap kendaraan umum yang lewat yang memang tujuannya ke Pare.

Sedikit informasi, di daerah Kediri memang kalau untuk pendatang akan sulit menemukan kendaraan seperti di kota-kota besar, semisal Bandung yang memiliki banyak kendaraan umum seperti angkot. Tapi di Kediri, kita tidak akan menemukan kendaraan semacam itu, kendaraan umum yang dipakai lebih mirip kendaraan pribadi dan sebagian kendaraan tidak ada tertera nama tujuan mobil tersebut. Maka, jika tidak dibantu oleh tukang becak entah bagaimana aku mendapatkan kendaraan menuju ke Pare.

Kemudian, aku perhatikan supir yang membawa kendaraan ini. Ia berambut ikal dengan sedikit di kepang ke belakang. Rautnya garang, tapi tutur bahasanya masih saja aku suka, aku anggap bersahaja. Seperti itulah aku melihat orang Jawa hari ini.

Beberapa orang kutemui disini, Pare kota kecil nan anggun. Kebunnya masih asli, begitupun rumahnya, hanya sebagian rumah yang berukuran raksasa dan yang lainnya masih mempertahankan kesederhanaan desa. Begitupun warung-warung makan. Banyak warung makan sederhana dengan menu-menu kental jawa, bumbu yang tidak begitu asin dan pecel. Fast food juga ada, tapi lidah dan hatiku lebih akrab dengan makanan asli mereka.

Banyak orang berharga yang aku temui kembali disini. Pertemuan dengan orang-orang disini bukan tidak berarti, tetapi pasti akan ada yang paling berkesan dan  ada juga yang berkesan biasa saja.

Orang kedua setelah orang-orang yang kutemui di perjalanan itu adalah lelaki bertubuh tinggi besar, jika orang lain berdiri disampingnya, orang itu akan terlihat sangat pendek, apalagi yang memang asalnya pendek (hehe..) ia berkacamata, dan berkening lebar. Ya, nampak seperti orang-orang pintar kebanyakan. Dan aku tidak salah menilai, ternyata dia bukan orang bodoh.

Berasal dari sebuah kota dekat Kediri, bernama Tulungagung. Dia sarjana bahasa Inggris dari STKIP PGRI Tulungagung. Agak heran melihat anak ini, aku tidak pernah melihatnya malas, mengeluh, atau murung. Keadaannya selalu bersemangat, meskipun kadangkala dia mengantuk. Tapi, dalam keadaan sadar dia selalu menunjukkan kesan semangat dimataku. Dan dia selalu mengharga waktu, aku tidak pernah mendapati dia datang telat, kalaupun sudah melewati jam masuk, sudah di pastikan di tidak masuk.

Dan suatu hari aku pernah berbincang sedikit dengan lelaki berusia 23 tahun ini, dia membawaku berbincang tentang keadaan anak muda zaman sekarang, tentang cabe-cabeandan perkembangan zaman. Beberapa kali berbincang dengannya isinya bukan hal biasa, menurutku. Tapi selalu ada kesan perjuangan, kritik sosial dan “mahasiswa” itu ada pada dirinya.

Selain itu, yang aku heran dia juga selalu cerita. Padahal orang-orang disekitarnya adalah anak-anak yang baru keluar dari SMA. Aku saja tidak begitu kerasan bersama mereka. Tapi cara dia menghadapi anak-anak itu lain, aku beranggapan mungkin karena dia adalah figur guru. Tapi ternyata bukan hanya itu, dia beranggapan untuk menjadi manusia besar, kita harus bisa masuk ke berbagai kalangan. Dan itu, aku nilai dia  berhasil. Sebab, aku sendiri tidak mampu seperti itu.

Ya, akan selalu ada seseorang yang berharga di balik orang seperti itu, begitupun dia. Dari ceritanya, Ibu adalah inspirasi tertinggi baginya. Segalanya bagi dia.

Dan orang selanjutnya yang aku temui disini, baru-baru ini adalah lelaki berbadan gemuk berumur 28 tahun berasal dari Jogjakarta. Kita sempat berbincang di sebuah angkirangan dekat kosan. Dari pembicaraannya dia orang yang banyak pengalaman. Ya, dia pernah menjadi reporter sebuah surat kabar dan sekarang dia adalah penulis di salah satu website besar indonesia. Tapi, sempat dia bilang, “jangan anggap aku orang keren, itu bukan keinginan aku, itu karena kepepet. Jangan ditiru” ungkap dia siang itu.

Dia pun pernah kuliah selama dua tahun, tapi tidak pernah selesai. Dia bilang “Saya hanya kuliah sampai saya tahu 5W+1H, setelah itu saya tidak lanjutkan kuliah lagi” aku tanyakan pada dia kenapa. Dia hanya bilang bahwa dia kuliah hanya ikut-ikutan saja. Dan  jurusan yang diambil pun asal. Dia ambil fakultas Komunikasi dengan konsentrasi periklanan.

“Kuliah memang bukanlah tempat kita menggantungkan pekerjaan, tapi kuliah untuk mendapatkan ijazah. Sebab, bukti nyata bagi orang tua adalah ijazah. Dia akan merasa telah berhasil menjadi orang tua ketika mereka telah kita berikan bukti ijazah. Mereka akan senang ketika kita mendapatkan ijazah kita. Soal nanti dapat kerja atau tidak itu masalah lain.” Ungkapnya dengan nada nampak menyesal. Karena dia harus ditinggal bapaknya beberapa waktu setelah dia memutuskan berhenti kuliah.

Ia pun bercerita tentang didikan bapaknya yang mebuat aku sendiri terheran-heran dengan orang tua yang berani seperti itu. Dia bilang, ayahnya sering menampar jika adiknya yang duduk di bangku sekolah dasar nyanyi-nyanyi lagu-lagu galau zaman sekarang. Dan ayahnya lebih senang jika anaknya mengumpat saja jika dia merasa sedih ataupun kesal. Tapi, itu harus dilakukan di rumah, tidak di tempat lain.

Cara pendidikan ayahnya memang unik. Ayahnya tidak pernah melarang dia merokok, tapi dia berpesan untuk merokok di rumah saja. Tidak di tempat lain, dan jika ketahuan merokok di luar rumah, maka kembali ke rumah tubuh tidak akan selamat. Pasti akan ada yang kena dampar.

Dia sadar, merokok di rumah itu tidak asyik. Karena keasyikan merokok itu adalah ketika bersembunyi dari orang tua dan merokok disuatu tempat yang tersembunyi dari orang tua. Itulah asyiknya merokok.

Aturan paling ekstrim di keluarganya yaitu, ayahnya membolehkannya minum dan masih sama, tempatnya hanya di rumah. Sebab, dia sendiri pernah ketahuan minum oleh ayahnya bersama temannya. Dan akhirnya ayahnya berani membelikannya minuman asal dia minum di rumah dan tidak diketahui ibunya. Dan lagi-lagi itu tidak membuatnya ingin minum, karena baginya itu tidak asyik.

Selanjutnya pesan-pesan ayahnya untuk dia dan adik-adiknya adalah dia boleh melakukan hal apapun di luar, asalkan bertanggungjawab, tidak berbohong, dan tidak menyakiti manusia manapun. Begitupun saat adiknya yang SMP harus melalui masa SMPnya dengan tawuran. Ayahnya tidak bergeming melarang, pesannya hanya satu, jika berantem dan pulang dengan babak belur. Jangan anggap mereka musuh, lalui dengan rasa gembira dan pulanglah dengan tersenyum. Dan ya, adiknya pernah pulang dengan keadaan babak belur dan bibirnya tidak sedikitpun terlihat dendam tapi tetap tersenyum.

Hingga, kelakuan paling parah membawa adiknya ke penjara. Dan saat itu juga adiknya tidak tawuran lagi, sebabnya sepele. Karena ketika ayahnya menjenguk, ia tidak marah atau mengumpati dia. Dia hanya bilang “Hebat kamu bisa sampai masuk penjara, kamu tetap anak ayah, asal kamu tidak nyolong” ungkap ayahnya dengan senyuman. Dan itulah yang membuat adiknya tidak kuat melihat raut wajah ayahnya.

Ia datang ke Pare dibiayai oleh bosnya untuk belajar bahasa. Tidak sama seperti mahasiswa bahasa Inggris yang aku katakan tadi, semangat lelaki yang berasal dari Jogja difokuskan pada pekerjaannya, dan dia bilang dia tidak kuat mengikuti pelajaran. Dia pun berujar bahwa semua yang diberikan dan diulangankan itu belum selesai disitu saja. Masih ada dunia nyata yang harus dihadapi. Sehingga dia lebih sering bolos kelas untuk bekerja daripada masuk untuk mendengarkan guru menjelaskan.

Tapi dia tetap bertanggung jawab menjadi ketua kelas, dia tetap memberikan wejangan kepada anak-anak kelasnya dan memberikan tanggungjawabnya sebagai ketua kelas. Seperti mengakomodir keinginan anak-anak kelasnya saat akan liburan, atau untuk sekedar menjenguk anak kelasnya yang sakit. Dia datang, meskipun pada waktu mata pelajaran dia tidak datang.

To be continued...
Read more

Media Merubah Arah Gengsi

Aku sering menonton sinetron si Doel, yang dibuat tahun '90-an. Kemarin-kemarin di tayangkan ulan oleh RCTI, dan gambarnya ternyata masih bagus. Termasuk ceritanya, ia sangat kontras dengan cerita sinetron saat ini. Kesederhanaan dalamkehidupan keluarga Doel memang tampak sekali. Sosok budaya betawi tergambar jelas. Dan bagiku, sinetron yang satu ini masih sangat menarik daripada sinetron tahun 2014 ini. Sebab jelas, selain menunjukan konflik dari setiap individu, atribut syuting dapat pula memberika pengetahuan yang luas.

Stasiun televisi hari ini kadangkala memberikan contoh budaya baru yang kurang bisa dicerna olehku. Perempuan dengan dandanan cantik, namun saat menyanyi ia tidak menunjukkan kemampuannya sebagai penyanyi, lebih percaya diri dengan lipsinc. Tidak kutemukan lagi perempuan yang tangkas dengan kegagahan dan sisi cantiknya. Konon kabarnya, itu demi meninggikan rating. Dan rating itu urusannya dengan kapasitas tingginya perusahaan, bukan lagi berbicara adab dan pendidikan yang harusnya media miliki.

Kemudian perempuan kebanyakan lebih senang menampilkan sosok cantiknya, karena laki-laki hari ini lebih banyak melihat daripada berfikir. Begitupun perempuan, begitupun aku. Dan aku tidak pernah tahu kapan ini akan berakhir, siapa yang bisa merubah hal ini.

Sebagai perempuan berumur 22 tahun aku sangat butuh dengan tontonan yang mendidik. Buka hanya berita pembunuhan disana sini. Aku juga ingin tahu pertunjukan seni budaya seperti apa, apalagi untuk orang-orang desa yang akses untuk kesana seringkali tidak memungkinkan. 

Katanya sastra Indonesia mulai merosot. Kemana media mainstream berperan? Katanya teater Indonesia bagus, kemana saja media mainstream mengarahkan pemikiran? 
Read more

Pernikahan Beda Agama, Lantas Kenapa?

Pernikahan beda agama adalah permasalahan yang tidak kunjung usai diperbincangkan, sedangkan pasangan pernikahan beda agama juga tidak bisa ditiadakan. Pernikahan lintas agama, adalah hal yang menjadi pembahasan yang belum menemukan titik yang pasti. Negara pun menyerahkan hal tersebut kepada agama, sehingga tidak sedikit pasangan pernikahan lintas agama yang melangsungkan pernikahannya dengan dilanda banyak permasalahan yang cukup kuat dari pihak eksternal. Meskipun begitu, pernikahan beda agama di Indonesia oleh sebagian dari mereka dianggap tidak boleh dilakukan, karena beberapa hal yang sangat mendesak yang berasal dari rujukan kitab suci yang mereka pahami.
Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwanya pada tahun 2005 mengenai pernikahan lintas agama, merujuk pada Q.S An-Nisa ayat 3: 
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Serta QS. Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Selain dua surat al-Quran tersebut, MUI juga merujuk pada beberapa surat dalam al-Quran diantaranya : at-Tahrim ayat 6, an-Nisa ayat 25, al-Maidah ayat 5, al-Baqarah ayat 221, dan al-Mumtahanah ayat 10. Dan ditetapkan bahwa pernikahan beda agama dan pernikahan laki-laki dengan perempuan ahl kitab adalah haram.
            Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta akhir November 1989 dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah beda agama itu tidak sah. Begitu pula ormas Islam terbesar kedua di Indonesia Muhammadiyah. Muhammadiyah juga memfatwakan haram bagi pernikahan beda agama yang didasarkan pada Q.S al-Baqarah ayat 221.

Namun, dalam realitasnya pernikahan lintas agama tetap saja terjadi. Di Indonesia saja, pasangan pernikahan beda agama pada tahun 2011 sudah mencapai 299 pasangan, sedangkan pada tahun 2004 mencapai 1.109 pasangan[1]. Seperti yang terjadi pada pasangan mentalist yang sering di sorot di media massa adalah Deddy Corbuzier dan pasangannya Kalina. Mereka menikah dengan perbedaan agama, yang akhirnya harus bercerai dengan alasan perbedaan agama yang mereka yakini.  Hal ini ternyata berpengaruh besar terhadap keberlangsungan pernikahan mereka. Ada kesadaran yang muncul dari pasangan ini bahwa perbedaan agama yang mereka miliki akan memberatkan anak mereka.[2]
Lain halnya dengan Ahmad Nurcholis[3], pelaku pernikahan lintas agama, yang melangsungkan pernikahannya pada bulan Juni 2003. Pernikahan  dilakukan dengan dua cara, yaitu secara Islam, di sahkan di Universitas Paramadina. Dan di pihak Istri dengan cara pernikahan Konghucu di Li Cheng MATAKIN. Sampai saat ini Ahmad Nurcholis sudah dikaruniai dua putera.
Bisa disimpulkan bahwa pernikahan lintas agama ini memang memiliki dua tantangan yang cukup signifikan. Yang pertama, tantangan berasal dari komitmen yang nanti bisa dibangun oleh pelaku, dan tentangan kedua yaitu muncul dari pasangan tersebut, atau kita sebut saja faktor eksternal.
Sebagai pelaku pernikahan lintas agama, Nurcholis memberikan pertanyaan terkait pernikahan ini. Yaitu, sejauh mana kesiapan pelaku pernikahan. Dan kedua, bagaimana komitmen yang akan dibangun oleh suami istri tersebut terhadap anak-anaknya kelak.
Dari faktor eksternal, permasalahan yang kerap kali muncul dari pelaksanaan pernikahan lintas agama, kurang lebih ada 5 permasalahan yang ditemukan.[4](1) aspek keagamaan. Terkait hal ini lembaga keagamaan jarang yang memberikan ruang terhadap pernikahan lintas agama. Hal ini merupakan hambatan utama yang akan dihadapi oleh pelaku pernikahan lintas agama. Pandangan-pandangan haram yang didapatkan dari kitab suci seringkali dijadikan rujukan utama. QS. al-Baqarah ayat 221:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
(2) Lembaga keagamaan. Pernikahan berkaitan erat dengan lembaga keagamaan. Sebagaimana pandangan agama terhadap pernikahan lintas agama, mereka bahkan menafsirkan bahwa hari ini ahli kitab sudah tidak ada lagi, yang hari ini diakui sebagai ahli kitab adalah mereka yang sesat. Pandangan lembaga keagamaan ini, seharusnya tidak terjadi di negara kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.
 (3) Orangtua dan keluarga, juga merupakan tantangan tersendiri. Keluarga yang tidak paham akan keagamaan, biasanya mereka menyerahkan seluruh persoalan kepada agamawan.
(4) Oknum penyelenggara negara (RT, RW, Catatan Sipil). Dalam beberapa pasal tentang pernikahan, tidak ada pelarangan negara terhadap pernikahan lintas agama. telah disebutkan dalam Undang-undang, asalkan sesuai hukum agama masing-masing.[5] Namun yang terjadi di KUA ternyata belum bisa mencatat pernikahan lintas agama. Padahal, keputusan MA No. 1040 tahun 1986/189 telah ditetapkan bahwa perbedaan agama tidak ada halangan untuk melakukan pernikahan. MA memerintahkan terhadap pemerintah Departemen Dalam Negeri untuk mencatat mereka yang menikah beda agama ;dan
(5) Masyarakat, dalam tantangan sosial kemasyarakatan, hal yang memang akan didapatkan oleh pasangan pernikahan beda agama ini adalah mereka akan mendapatkan perlakuan yang terkadang mengalienasikan keberadaannya. Dan secara psikologis ini dapat mengganggu.
Seluruh permasalahan ini lebih dominan dari pihak luar yang memproses pernikahan lintas agama. Pada aspek keagamaan, yang muncul adalah klaim kitab suci yang mengharamkan pernikahan beda agama, yang pada akhirnya menjadi sebuah budaya yang ditentang dari berbagai pihak. Berawal dari pandangan terhadap kitab suci yang ditafsirkan hanya dari satu sisi. Dari keterlarangan tersebut, dan dari adanya pembelaan dan klaim kebenaran yang dianut.
Ada ayat yang sering dilupakan oleh para agamawan, menangani penikahan ini. Yaitu Q.S al-Maidah ayat:5  

“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.”
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terjadi perubahan yang signifikan terutama dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Aspek-aspeknya menjadi sorotan oleh masyarakat dunia. Perkawinan merupakan hak asasi yang paling mendasar yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun termasuk negara. Sebaliknya negara memiliki kewajiban melindung hak-hak tiap warga negaranya. Penyikapan terhadap HAM juga kurang populer di kalangan petugas pencatatan sipil pernikahan, termasuk agamawan. Pada UUD HAM tahun 1999, dinyatakan bahwa negara menjamin hak-hak sipil termasuk pernikahan beda agama.
Peraturan perkawinan campuran/regeling op de gemengde huwelijken, Staatsblad 1898 nomor 158 (GHR), beberapa ketentuan[6]tentang perkawinan beda agama selanjutnya dijelaskan oleh Muhibuddin bahwa pasal-pasal tersebut menandakan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk tidak melakukan pernikahan.
Kemudian landasan UUD No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1), pasal 8 huruf f dan pasal 57 pasal 2 ayat (1) berbunyi: Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.
Sedangkan pasal 8 huruf f berbunyi: mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.
Dari sinilah muncul pemahaman yang berbeda tentang pernikahan lintas agama. Namun, kita juga bisa melihat hukum tersebut dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 49 huruf c dan pasal 44 yang menyatakan sebagai berikut.
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita karena keadaan tertentu:
a.Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;
b. Seorang wanita yang masih dalam masa iddah dengan pria lain;
c.Seorang wanita yang tidak beragama Islam.
Pasal 60 Kompilasi Hukum Islam menguatkan hal ini:
(1) Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
(2) Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon istri yang akan melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
Coppyright: by Iis Nurhayati  (Diulas dalam proposal Iis Nurhayati yang berjudul Perniakahan Beda Agama dalam Perspektif Komunitas LIntas Agama Jakatarub). 




[1] Sejak 2004-2011 ada 1190 Pernikahan Beda Agama, diakses dari  http://beritakbar.blogspot.com/ pada tanggal 26 Desember 2013 pukul 21.49 WIB
[2] Deddy-Kalina Akui Bercerai Karena Perbedaan Agama, diakses dari okezone.com, pada tanggal 04 Desember 2013, pukul 08.00 WIB.
[3] Aktifis ICRP (Interfaith Conference for Religious and Peace).
[4] Dikemukakan oleh Ahmad Nurcholis pada diskusi pernikahan lintas agama yang dilaksanakan oleh komunitas lintas agama JAKATARUB  pada 23 Januari 2010.
[5] Pasal 2 (1) Undang-undang No. 1/1974 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Hal ini berarti Undang-Undang menyerahkan kepada masing-masing agama untuk menentukan cara-cara dan syarat-syarat perlaksanaan perkawinan tersebut (di samping cara-cara dan syarat-syarat yang telah ditetapkan Negara).
[6] Pasal 1:
Pelangsungan perkawinan antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda, disebut perkawinan campuran.
Pasal 6 ayat (1):
Perkawinan campuran dilangsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali izin para calon mitrakawin yang selalu diisyaratkan.
Pasal 7 ayat (2):
Perbedaan agama, golongan penduduk atau asal-usul tidak dapat merupakan halangan perlangsungan pernikahan.
Read more