“Aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya”. Sebuah kutipan lagu Jazz yang baru-baru ini aku dengar dari penyanyi Jazz Raras Ocvi, berjudul Surat Cinta. Mestinya ini kata pertama yang mewakili prosesku menulis. Tapi, pernah aku dapat wejangan, entah dari siapa aku lupa bahwa kalau kita menulis tulislah dari kebingunan kita. Ya, begitu ternyata lebih baik. Setelah kita mulai menuliskan kebingungan, dan dengan kebiasaan menulis serta menumpahkan apa yang kita rasa, nanti kita bisa edit sendiri tulisanmu.
Iya, akhir-akhir ini aku sedang menikmati lagu berbau Jazz. Tapi pengetahuanku tentang Jazz tidak sebanyak Ahmad Dhani. Atau seperti yang Eka Kurniawan katakan, ketika menyenangi suatu hal, sekiranya elok untuk kita mengetahui segala seluk beluk dari apa yang kita suka. Seperti petani, mereka harus tahu musim, harus tahu perkakas, dan cara untuk bertanam yang benar. Tapi aku belum sejauh itu. Jadi hanya sebatas yang aku bisa rasakan dan pernah aku tahu. Dan iya, kita harus belajar dan tahu itu.
Lagipula aku sepakat dengan yang dikatakan maestro Jazz Indonesia, Beben Jazz. Kita harus tahu segala macam jenis musik, untuk apa? Untuk pengetahuan. Telinga harus dibiasakan dengan berbagai macam jenis musik. Meskipun tidak suka bukan berarti kita tidak mendengarkan, tapi bersikap terbuka terhadap musik apapun. Seperti penyikapan hidup kan?. Ya, inilah yang selalu Beben Jazz tekankan. Ia selalu membumikan musik, menggambarkan sebuah kehidupan. Ya, memang harusnya ilmu pengetahuan itu dibumikan bukan hanya menjadi kepentingan ilmu pengetahuan itu.
Pernyataan yang hampir sama dengan yang dikemukakan oleh F. Scott Fitzgerald, ketika Jazz dinyatakan untuk menjabarkan suatu sikap dan tidak usah tahu musiknya untuk memahami rasanya. Seno Gumira Ajidarma dalam tulisannya menjelasan perkataan Fitzgerald bahwa "tidak usah menjadi ahli musik untuk menyukai Jazz. Sehingga, tidak penting Jazz itu apa, yang penting kita dengar saja musiknya, rasa yang ditularkannya, emosi yang diteriakkannya, jeritan yang dilengkingkannya, dan raungan gemuruh yang memuntahkan kepahitan".
Bersama waktu, suara-suara setiap instrument itu mengalir bagai mengikuti suatu garis penunjuk, namun mereka tidak betul-betuk selalu mengikuti garis itu, kadang-kadang mereka berbelok entah kemana, menghilang lantas kembali lagi, atau memang mengikuti garis itu, tapi sambil meloncat-loncat, menari, jungkir balik- semuanya secara imprivisatoris dan tidak saling merusak. Bila tiba saatnya satu instrument ditonjolkan, dimana sang musisi mendemonstrasikan kepiawaian individualnya, yang lain secara otomatis tahu diri untuk tidak mengacaunya. Suara-suara itu saling sahut-menyahut. Seringkali suara itu seolah-olah begitu kacau, tapi bukan karena lepas kendali, melainkan karena mereka memang memainkan ketertiban, bermain main dengan keharusan, serta bercanda dengan peraturan musical. Suara-suara sengaja dibelokkan, dipelesetkan, bahkan di jungkir balikkan. Tentu saja permainan dengan kekacauan ini hanya bisa dilakukan para musisi yang sudah beres urusanya dengan ketertiban, tapi yang merasa segenap kaidah musical tak cukup menyalurkan kebutuhannya untuk bicara lewat instrumennya. Mereka tidak ingin memainkan sebuah lagu, mereka ingin mengungkapkan kata hatinya,tapi bahkan bahasa kata tak pernah cukup mewakili kata hatinya itu,maka betapa terampilnya mereka yang mampu menyampaikan kata hati itu lewat suara instrumennya.Seringkali begitu menyentuh suara-suar itu, begitu rinci menggambarkan setiap inci kata hati.Kita mendengar rasa, dalam bahasa suara. - Seno Gumira Ajidarma
Berasal dari kesenanganku ikut ke Cikini, tepatnya datang ke Taman Ismail Marzuki. Disana mas Beben dan istrinya Inna Kamarie tampil dalam sebuah acara. Mereka sering membawakan satu atau beberapa nomer Jazz. Dan pertama aku dengar, musik ini tersangkut di ingatan, damai, dan terasa lebih easy listening. Inna Kamarie seringkali tampil dengan grup Jazznya, Inna Kamari Jasm Project. Dan mas Bebennya sendiri seringkali mengiringi mbak Inna bernyanyi atau teman Jazz lainnya. Yang membuat penonton iri, especially me (lol).
Nomor Jazz Inna Kamarie yang sering aku putar di ponsel berjudul Dindi. Dindi aslinya diciptakan oleh Antonio Carlos Jobim, dan coba dengar lagu aslinya. Bagiku sendiri lagu aslinya tidak begitu easy listening mungkin karena lagunya jadul juga. Tapi setelah dinyanyikan oleh Mba Inna, pesannya lebih sampai.
Penyanyi Jazz lain yang sering aku dengarkan adalah Raras Ocvi and Friends. Yang aku tahu mereka juga berada dibawah bimbingan pengajaran Mas Beben juga. Suara Raras yang Jazzy selalu membuat lagu-lagu yang dibawakannya beraroma manis.
Komunitas Jazz Kemayoran yang didirikan oleh Beben Jazz menjadi tempat mereka berkumpul untuk membicarakan musik Jazz. Mereka rutin mengadakan pertemuan untuk belajar tentang Jazz, mulai dari sejarah, filosofi, penerapan hidup di masyarakat, dan menghapus pameo yang berkembang di masyarakat bahwa Jazz hanya untuk kalangan tertentu saja. Dan sekarang, hampir 100 grup Jazz terbentuk dari Komunitas Jazz Kemayoran.
Temanku yang pernah datang ke acara itu, mengatakan kalau disana tidak hanya orang yang pandai bermain alat musik atau penyanyi-penyanyi Jazznya saja. Tapi ditempat itu banyak orang yang tidak bisa apapun datang kesana hanya untuk belajar Jazz. Mulai dari anak muda sampai tua, dari berbagai kalangan.
0 komentar