Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Gadis Bernama Laila



“Perempuan yang aku nikahi itu ternyata setan. Matanya merah menyala, dan kornea matanya menyerupai api neraka yang seperti akan memakan manusia kapan saja dia mau.
Read more

Ajari Aku Tersenyum


Bagi mak Saroh, dunia semacam tempat mendulang emas. Yang ia tahu hanya bekerja, bahagia baginya sudah tidak ada lagi. Memberi, adalah penenang jiwa yang sebenar-benarnya. Dunia bukan tempat hura-hura, bukan tempat membuang waktu untuk bersenang-senang. Baginya bersenang-senang adalah kegiatan menghabiskan masa hidup dengan sia-sia. Seperti kepulan asap pada api yang menyala, lalu hilang entah kemana. Karena ia ingin terlahir menjadi manusia yang lebih baik, bahkan dalam nasib yang baik dan bisa memberikan senyuman kepada siapa saja.
Read more

Istriku Bermata Setan





Berita hilangnya  Laila di dalam pohon membut kampung Asem menjadi sepi ketika menjelang senja. Gadis dan anak-anak tidak dibiarkan oleh orang tuanya pergi saat waktu mulai beranjak senja. Mereka yakin, jika anak mereka akan menjadi seperti  Laila, dicintai sanekala dan dibawa ke tempat yang tidak bisa dilihat oleh manusia.

Kampung itu menjadi amat sangat angker saat senja, seperti tidak ada penghuni. Mereka sudah menghentikan aktifitas mereka saat senja. Dengan lampu penerang yang sangat minim di desa itu, mereka seperti sudah asing dengan malam. Mereka seperti bermusuhan dengan waktu yang namanya malam. Sebab, malam bisa membuat siapa saja hilang tidak terlihat mata. Malam akan membuat pandangan mereka terbatas. Sehingga mereka lebih betah tinggal di dalam rumah tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat di luar rumah.
Read more

Do You Feel Useful?


Ask a flower in the field: ‘Do you feel useful? After all, you do nothing but produce the same flowers over and over?’
And the flower will answer: ‘I am beautiful, and beauty is my reason for living.’

Ask the river: ‘Do you feel useful, given that all you do is to keep flowing in the same direction?’
And the river will answer: ‘I’m not trying to be useful, I’m trying to be a river.’

Nothing in this world is useless in the eyes of God. Not a leaf from a tree falls, not a hair from your head, not even an insect dies because it was of no use. Everything has a reason to exist.

Even you, the person asking the question. ‘I’m useless’ is the answer you give yourself.

Soon that answer will poison you and you will die while still alive, even though you still walk, eat, sleep and try to have a little fun whenever possible.

Don’t try to be useful. Try to be yourself: that is enough, and that makes all the difference.




By : Paulo Coelho - www.paulocoelho.com
Read more

Kucir



Sebut saja si Kucir, dia adalah perempuan muda yang hidupnya tidak kondusif. Kondisi Jomblo yang sudah meradang ini menjadikannya manusia yang tidak jelas kehidupannya. Bayangkan saja pagi-pagi buta dia sudah menyeduh mie goreng dimakan dengan nasi. Tadinya dia berniat menyeduh susu coklat kesukaannya tapi urung, karena dia punya kelas Syntax jam 7 pagi. Otaknya masih berjalan sedikit, jika dia juga minum susu betapa banyak karbohidrat yang dia minum, dan lemak susu bisa membuat dia mengantuk.
Dia tidak perduli sedikitpun tentang Ketua KPK Abraham Samad muncul fotonya mesra dengan Elvira Devinamira, Bambang Widjojanto ditetapkan menjadi tersangka, ditangkap, dan diborgol oleh Bareskrim Polri atas kasus pilkada Kotawaringin Barat, Adnan Pandu Pradja dilaporkan seorang pengacara atas penyerobotan kepemilikan perusahaan, dan berita politik lainnya. Dia sama sekali tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya hedset yang dia selalu bawa kemanapun dia pergi. “Biar gak kesepian” katanya.
Kegalauannya ditambah lagi dengan keadaan kelas menulisnya, benar-benar dia merasa jadi manusia paling sial hari senin itu. Selain ia harus pergi ke kelas dengan jalan kaki karena ban spedanya bocor untuk yang kedua kalinya, dia pun harus mendapati tutor di kelas menulisnya seorang perempuan. Betapa beban ia tanggung sendiri.
Begitu berat hidup si Kucir tanpa teman-temannya yang selalu mengajaknya menjadi orang gila. Hidupnya seperti berjalan di rel kereta-keretaan untuk anak kecil. Pelan dan tidak asyik.
Sempat dia berfikir untuk keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki, kemudian mengacak-acak rambut jalan-jalan di pinggir jalan sebagaimana orang gila yang sebenarnya. Tapi, ternyata dia masih saja ragu untuk melakukannya, mengingat tutor gebetannya bisa saja lewat di jalan yang dia susuri. Sungguh sempit kehidupan si Kucir.
Hatinya semakin remuk ketika ketahuan bahwa Rangga dipertemukan kembali dengan Cinta setelah berpisah selama 12 tahun. Imajinasinya semakin menjadi, dia sering berdoa kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang dengan jalan seperti certia AADC, cerita FTV atau drama korea. Misalnya dia bertemu dengan seorang pria berkacamata bertubrukan kemudian mereka saling pandang dan jatuh cinta. Atau seperti di drama korea, mereka saling benci dulu kemudian saling cinta karena ada kesempatan untuk kerja kelompok bersama. Tapi Tuhan berencana lain untuk si Kucir.
Pergi kursus dia seringkali melewati jalan yang jaraknya jauh, padahal ada jalan yang bisa dia lewati dengan hanya satu menit juga sampai. Namun kesalnya aku, kadang dia mengajakku melewati jalan yang jaraknya 10 menit lebih jauh. Dan jangan heran, jika pulang dia akan mencari jalan yang 30 menit lebih jauh. Aku pernah bertanya kepadanya kenapa dia selalu mengajakku melewati jalan yang jauh untuk mencapai tempat kursus. Dia dengan wajah melas berucap “biarlah, aku terlalu kesepian, aku butuh tempat ramai biar semua orang tahu betapa sepinya aku di tempat ramai”. Dan aku bingung.
Sebagai perempuan yang jomblo, si Kucir tentu saja selalu merasa kesepian. Kopi, ya kopi adalah sosok yang selalu dia datangi, setelah aku. Mereka akrab, kadang si Kucir mengajak kopi ngobrol. Dia bilang kopi itu romantis, entahlah mana ada warna hitam yang romantis. Tapi, kurang ajarnya si Kucir bisa menghabiskan satu buku Pram dengan satu gelas kopi saja. Dan aku, harus menunggunya nongkrong di angkringan. Menyebalkan.
Read more

Jawaban Rindu


“Aku hanya ingin menjadi bagian dari hidupumu, Pras”
Dalam ruang yang tidak sadar aku menumpahkan kata itu kepada Prasetyo. Seketika tubuhku gemetar, tanganku sulit kukendalikan, mataku menatap ke segala arah yang mungkin bisa aku jangkau untuk membuang pandangan.
“Maksud kamu apa?”
“Aku ingin menjadi manusia yang tua bersamamu. Aku sampaikan itu lewat tulisan-tulisanku. Aku maksimalkan kemampuanku untuk itu, lalu bernegosiasi dengan Tuhan, dan mungkin Ia memberiku petunjuk untuk menulis. Maka itu yang aku lakukan, aku selalu berharap dalam setiap kata yang aku tuliskan itu sampai pada kamu.”
Berasal dari keberanian pertama yang aku keluarkan menegaskan seluruh gerak tubuhku, hingga sampai pada perkataan itu. Mataku seperti memerah, keberanian mulai mengakar meskipun sejenak sepertinya angin berhenti berembus.
Kursi yang aku duduki seperti ikut bergeming, kopi dan teh yang kami nikmati di senja itu seperti ikut terkejut mendengar ucapanku . Dudukku semakin tidak menentu. Kursi panjang yang kami duduki di taman itu pun seperti manusia ketiga yang mendengarkan ucapanku, malu.
Pras menatapku, aku yakin dia menatapku karena dari ujung mata aku melihat tangan kanannya bertumpu pada sandaran kursi. Dan posisi tubuhnya juga menghadapku. Aku merunduk sedari tadi, mencari-cari sesuatu yang bisa mendukungku, bertepuk tangan atas ke beranianku di atas rumput sana.
****
Jariku dengan lancar menari di atas keyboard laptop, kata-kata meluncur dengan luwes tanpa ada hambatan sedikitpun. Seperti tidak ada kata bosan padaku, seperti tidak akan ada kata lelah buatku menyanjung manusia itu. Dia aku umpamakan Jogjakarta, sebuah kota yang penuh kenangan dan cerita. Seperti itulah Pras, dengan segala hal ajaib yang ada di kepalanya, dan lakunya. Ah, ingin rasanya segera berkunjung ke kota itu, menjamah seluruh unsur dalam kepalanya.
Sialnya aku sangat tergoda, seperti penyair aku sampaikan rinduku pada orang itu. aku menulis puisi di koran-koran. Aku yakin manusia berkacamata seperti Pras akrab dengan dunia literasi. Sesekali aku samarkan namanya, tapi sering sama sekali tidak aku samarkan nama Prasetyo.
Kebiasaan menkhayalku aku dayagunakan untuk kembali berimajinasi dan mengharapkan suatu hal. Sebenarnya aku agak merengek pada Tuhan, sebenarnya kalau Ia mengerti maksudku. Seperti pengagum lainnya, aku pun berkhayal untuk berbicara selamanya dengan Pras, di sudut kafe atau kamar misalnya. Mauku, aku dan Pras tidak berhenti membicarakan suatu hal yang sangat menarik. Ah, aku tidak bisa mengabaikan hal ini menjadi mimpi.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan suatu hal yang berbau-bau resmi. Seperti pakaian, ia sering memakai baju batik yang dikepalaku tertancap label pakaian resmi. Aku sering diancam baju batiknya. Kerap aku disingkirkan oleh baju batiknya yang resmi itu. Ya, karena setiap aku melihatnya memakai batik aku merasa menjadi perempuan paling kumal. Aku selalu beranggapan perempuan kumal sepertiku sepertinya tidak elok bersanding dengan lelaki berbaju batik. Itu aku tahu, tapi ada yang tidak juga menyerah di kepalaku.
Juga seperti seorang kepala desa picik, aku ingin memilikinya dan menjadi bagian dari desanya yang elok. Sering aku memerhatikannya dengan tidak wajar. Melihat dari belakang, kupingnya aku perhatikan, atau ujung rambutnya. Dalam hati sering aku bergumam “Persilakan aku mencintaimu, tersenyum saja kau, sekarang itu cukup. Entah nanti, entah esok hari. Tapi aku yakin, haha iya aku masih memiliki keyakinan bahwa ini tidak akan menjadi hal tidak berarti semata. Aku perempuan hebat, aku tidak akan mati oleh rasa. Bahkan aku akan hidup lebih mantap dengan rasa ini. Mungkin hanya membawa ini menjadi tulisan atau benar-benar diam dikotamu. Sehingga aku dan kau menjadi kita.” Seperti perempuan yang telah mendapat mantra guna-guna, aku terus merapalnya dalam setiap tulisan atau yang aku lafalkan dalam fikiran saja.
Pernah suatu hari aku mengetik sebuah surat, dan hendak dikirimkan padanya. Tapi urung, karena keraguan lebih matang daripada rasa yakinnya sendiri. Selain itu, perempuan yang hidup di zaman modern ini masih saja memikirkan bahwa tidak eloknya perempuan yang mengatakan suka pada pria yang ia senangi.
“Pras, kau tahu perempuan sepertiku tidak pernah merasa puas. Aku penulis yang tidak pernah bisa meraba tanah. Aku belum juga bisa menginjak tanah. Aku bisa gila karena ini. Setiap hari aku selalu berharap ada seorang Mesiah yang mengajakku turun ke bumi lalu meminjamiku sandal dan aku berjalan di atas tanah dengan riang. Bernyanyi seperti Tasya anak kecil itu.
Betapa menyedihkannya jadi penulis yang tidak pernah menginjak tanah. Mungkin bagimu tidak, kau adalah orang bertangan malaikat. Sedangkan aku, orang-orang yang sering menguatkanku adalah orang-orang gila, tapi mereka membuatku tenang. Dan orang sepertimu Pras, adalah orang yang membuatku gila. Orang yang membuat hidupku tidak tenang. Kau mengusikku dengan tingkahmu yang tidak aku miliki.
Coba Pras, sapa aku sejenak saja pagi ini. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, aku pun adalah dunia, memiliki cakrawala yang mungkin saja belum kau lihat dari dunia yang kau temui sebelumnya.
Coba sapa aku, hingga akhirnya aku tahu apa yang akan terjadi denganku. Mungkinkah aku bisa menapak pada tanah, atau aku malah akan terbang lebih jauh. Apapun itu, bagiku tidak masalah. Asalkan aku sudah merasakannya dan aku bisa menuliskannya, Pras. Ketahui saja, hidupku untuk menulis. Jangan kau anggap remeh, sebab mungkin aku diturunkan Tuhan ke bumi untuk menuliskan segala cerita dan membuat buku harian yang begitu unik. Jangan kau heran dan menyesal nanti jika saja aku sudah menjadi penulis terkenal dan kau mengagumiku, serta menyesal tidak pernah menyapaku.”
***
Bip bip...  ponselku berbunyi. Segera pesan itu aku buka
“Tulisanmu ditunggu sampai akhir bulan ini Des,” ya Tuhan, SMS dari pak Seno. Penerbit yang sedang menunggu terbit buku ke duaku. Disamping rasa syukurku yang semakin mendalam aku semakin stress mendapati hal ini. Dan urusan dalam kepalaku belum juga selesai.
“saya usahakan pak, “ aku jawab dengan singkat saja. Memangnya penulis harus memaksakan diri. Ah, tidak bagiku. Aku butuh ruang untuk memaksimalkan tulisanku.
Buku pertama laku keras, usahaku menulis buku diari dari semester pertama kuliah tidak sia-sia. Kerja kerasku terbayar lunas, dan cita-citaku menjadi penulis novel terwujudkan. Catatan-catatan target pencapaian sudah hampir semua aku coreti. Kecuali yang berhubungan dengan manusia itu, Pras.

Tidak lain adalah karena dia, Prasetyo. Lelaki tinggi besar itu, yang sejak pertama aku menulis dialah satu-satunya inspirasi terbesar, pendorong aku menulis.
Sudah dua tahun aku tidak bertemu dengan dia, sejak farewell party memisahkan jarak kita. Aku tidak bisa setiap hari bertemu dengannya lagi. Kabar pun tidak aku dapatkan. Di facebook aku berteman dengan Pras, tapi aku sama sekali tidak berani menyapanya. Karena dia tidak bergeming di Facebook dan jarang menulis status atau memberikan komentar pada statusku.
****
Pagi di Tahun baru kembali, aku memberi semangat pada diri sendiri. Seperti kebiasaan, aku duduk di beranda rumah, menatap taman yang tidak begitu luas di depan rumah. Kopi menemani aktifitas pagiku, menulis.
Sialnya selalu ada saja hal yang membuat Pras berlalu lalang di ingatan. Aku tatap sejenak kopi disampingku. Ah, sial kenapa aku merasa disini begitu kosong. Dan Pras mondar-mandir di kepalaku. Rasanya tak lengkap karena manusia yang aku harapkan itu tidak juga datang. Maka aku biarkan lamunanku menerawang ke segala arah yang di mau.
Pagi ini rasanya aku sedang membujuk Tuhan untuk bisa minum kopi bersamaku, dan kita berbincang. Aku akan menunggu izinNya. Hati mendorong akal dan fikiran untuk mengirim pesan singkat pada Pras. Untuk bertanya apa yang dia fikirkan tentang tahun baru ini. Aku tahu dia akan punya jawaban yang mengasyikan. Aku sendiri akan dengan bangga bercerita kepada Pras bahwa tahun baruku aku habiskan di kamar dengan keberanian. Sebab, dengan caraku aku seperti menemani mereka yang tidak bisa merayakan tahun baru. Serta, aku selalu malu kepada Tuhan jika aku foya-foya  menikmati hal yang sejenak saja. Sebuah pergantian yang tidak merubah apapun selain menimbulkan banyak sampah, dan rumput-rumput yang rusak.
“Kalau kamu punya waktu, mari minta izin bersama kepada Tuhan untuk keluar sebentar. Kita bicara di angkringan” itu saja yang muncul dalam kepalaku, harapan kosong.
Setelah menikmati kopi aku putuskan untuk membeli koran, aku ingin melihat tulisanku yang katanya hari ini di muat di surat kabar harian. Selalu lagu Jazz menemani perjalanku di sepeda ontelku. Seberang jalan aku lihat orang berbaju hijau, tubuhnya tinggi besar dengan celana kain berwarna cream. Dia melihat ke arahku, dan aku memerhatikan dengan seksama tanpa bisa menebak siapa, karena mataku memang bermasalah ketika melihat orang dengan jarak jauh. Pandanganku jadi kabur.
“DESEMBER....” orang itu memanggilku dengan lambaian tangannya.
Aku memerhatikan lagi dengan seksama, dan membalasnya dengan sapaan biasa. Karena aku ragu.
“Hai...”
Lalu orang itu melihat kiri kanan, dan menghampiriku. Wajahnya mulai jelas, kacamatanya aku kenal, gerak tubuhnya aku kenal, Pras. Aku terpaku pada sepedaku, Ia berlari kecil menyeberang jalan menuju ke arahku. Pras sudah berada di sampingku mengulurkan tangannya kepadaku.
“Apa kabar? Lama gak ketemu, kemana aja?”
“A... aku baik-baik aja, kamu sendiri gimana?”
Senyum aku buat-buat, dari rasa keterkejutanku. Seperti tiba-tiba waktu berhenti mendengarkan denyut jantungku yang sangat kenccang. Mataku tidak berkedip menatap matanya yang tetap seperti dulu.
“Mau kemana? Kita ngobrol dulu yuk”
“Engga kemana-mana, aku Cuma beli koran.”
“Wah,, Wah,, mulai berlangganan koran nih. Kaya pejabat aja.. hahaha”
“Aku nulis, kata temanku tulisanku dimuat. Jadi aku beli hehe”
“Keren nih temen aku. Ayok jangan lama-lama berdiri dipinggir jalan, nanti ada yang nawar haha”
“Dasar...”
Candaannya tidak pernah luntur, sekalipun sudah dua tahun kita tidak bertemu. Tapi ia tidak menampakan kesungkanannya. Lain denganku, aku semakin canggung.
“Beli kopi yuk.. “ ajakku berharap lelaki seperti dia juga senang menikmati kopi.
“Emh,, aku berhenti minum kopi. Aku teh saja.”
Sedikit kecewa, tapi tak mengapa. Setelah memesan teh dan kopi kami duduk di taman samping warung itu. Seperti mimpi dan cerita di sinetron. Aku fikir ini gila, dan Tuhan, apa yang Dia rencanakan.
“Tempat ini masih sama ya, seperti dua tahun lalu. Kamu betah banget disini”
“Hheu iya, betah, tempat ini selalu memberi aku banyak inspirasi”
“Aku kangen sahabat-sahabat kita dulu, kemana ya mereka”
“Gak tahu mungkin sudah pada pulang, aku kan kurang akrab sama mereka. heu”
Aku ambil kopi panas di depanku, diatas meja bulat. Berharap mereka bisa menyela pembicaraanku, dan memberiku sedikit inspirasi untuk bertanya apa saja pada Pras. Meja di depanku menjadi sasaran empuk untuk aku jatuhi pandangan lekat. Ia berwarna putih, dan sudah agak pudar warnanya, tapi bentuknya kecil membuat dia terlihat unik.
Kadang, korban pandanganku juga adalah kebun jagung di sebrang jalan. Aku melihat mereka meliuk-liuk, dan seolah aku ancam mereka untuk memberi tahuku sedikit pertanyaan yang bisa aku ajukan pada Pras.
“Kamu masih sama aja, diam terus. Ngobrol dong.. gak kangen sama aku”
“Heu,, gimana kuliah disana? Apa yang bawa kamu kesini?”
“Ya gitu deh,”
“Gitu gimana? Singkat banget jawabnya. Ngeselin..”
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?”
Dadaku mulai berdetak kencang, sepertinya aku tahu pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh Pras.
“Ya,, silakan. Minta izin segala ni orang”
“hehe.. Sejak kapan nulis novel?”
Aku menggigit bibir, mataku bergerak kesana kemari. Bingung, jawaban apa yang mesti aku keluarkan.
“Udah lama...”
“Ohh... aku baca novel kamu. Aku gak nyangka kamu bisa nulis sebagus itu. Pras, siapa dia, kayaknya dalem banget kamu mengenalnya” matanya menajam dan mengarah ke mataku, barangkali dia mencari kejujuran disana.
“Heeu,, khayalan Pras, dia nyata tapi khayalan buatku. Sorry aku pake nama kamu, aku kira kamu gak bakalan baca buku aku. Aku juga gak nyangka bakal selaku itu, novel aku padahal biasa banget. Aku aja gak yakin”
“Dari hati, biasanya tulisan yang dari hati akan sampai ke hati juga”
“Kata siapa dari hati, dari komputer keless”
Pras hanya tersenyum saat aku lirik sebentar. Perbincangan berhenti, aku mulai bingung lagi. Kaki ku ayun-ayunkan mencari kesibukan lain. Pras menghadap ke arahku duduk dengan tangan dijulurkan diatas sandaran kursi. Dan caranya duduk membuatku kikuk.
“Kamu mau cerita?”
Dan, aku seperti perempuan yang sedang disorot diatas panggung. Dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatan. Pras seperti menikamkan pisau di jantungku.
Aku ceritakan seluruhnya kepada Pras.


“Desember,”
Aku mengangguk tanpa berani menatapnya.
“Sekali ini aku minta maaf, Des. Kalau saja aku tahu dari dulu, kalau saja kamu bilang itu dari dulu. Banyak kemungkinan yang bisa aku lakukan, tapi sekarang aku sudah punya Satria.”
“Satria?”
“Ya, anakku”
Bibirku kaku, tidak ada kata yang bisa aku keluarkan. Tapi tidak ada airmata yang jatuh, untung saja.  Aku malah merasa aku lebih tegar, dan menjadi pemenang di areal pertandingan itu. Dan aku tersenyum, mendapati Pras yang nampak menyesal.
“Tidak apa-apa, meskipun begitu aku berhasil mencairkan seluruh rasaku Pras. Sungguh tidak apa-apa”
Giliran Pras yang merunduk, mungkin menyesal dan aku yang berani menatap sekujur tubuhnya. Keberanian bermuara dari kejujuran dan kemampuanku untuk berhadapan dengan kenyataan yang pahit.
“Ini buatmu,”
Pras memberikan sebuah buku tulis dan pulpen. Dalam buku itu, ia membuat sketsa wajahku. Ia menulis bahwa ia kagum kepadaku, bahkan sangat kagum. Dan ia berkata
“Tetap jadi penulis, aku mengirimu cerita lagi. Mungkin ini jawaban rindumu, maaf barangkali bukan kabar baik yang bisa aku berikan.”
Aku hanya tersenyum puas. Ya, benar kata Pras, inilah jawaban rindu yang tidak pernah mencair itu. Jawaban itu hakku, dan yang berhak menjawab hanya Tuhan yang memiliki beribu rahasia.

Kediri, 8 Januari 2015
Read more

BERBINCANG DENGAN WARNA


Sebagai pencerita aku berhak menceritakan apapun yang aku mau. Termasuk aku akan membentuk sendiri jalan ceritaku. Sebab inilah hidupku. Pilihanku bukan hidup dalam hidupku yang nyata, aku hanyalah kamera pengintai. Aku tidak bisa menikmati kebahagiaan mereka. aku hanya bisa melihat, dan berkhayal tertawa bersama mereka. Ya, karena bagiku aku adalah hal yang harus selalu disembunyikan dari apapun diluar diriku.
Mereka bilang aku orang aneh. Mereka menjulukkiku si Hane, pelesetan dari aneh. Terserah mereka bilang apa, aku nikmati yang sedang aku jalani dan pilih dalam hidupku.
Pilihan mengandung resiko, ya aku tahu itu. dan sampai hari ini hidupku terasa begitu normal-normal saja, tak ada yang berubah. Berjalan sendiri dengan sandal kuning yang murahan. Diantara mereka yang berjejal dengan sepatu high heals yang menyusahkan. Cewek-cewek bercelana jeans ketat, make up yang menor layaknya orang yang pergi kondangan atau ibu-ibu arisan. Ah, gaya hidup bentukan dari modernisasi memang aneh.
Keadaan hidupku menjadi begitu terusik, saat aku harus masuk kuliah di kelas yang penuh dengan perempuan-perempuan yang kerjaannya hanya nongkrong saja, mereka bahkan tidak kenal bahkan bersentuhan dengan buku. Satu hal yang sering aku dengar dari percakapan mereka, “Eh gue pengen sepatu yang kayak gitu, lagi musim tuh”. Itu-itu saja setiap hari.
Sampai saat ini aku masih yakin bahwa peradaban yang maju adalah peradaban yang menjadikan buku sebagai pasangan hidupnya. Aku akan tua bersama karya, dan aku yakin orang-orang seperti itu hanyalah manusia yang tidak tahu caranya berterimakasih kepada orang tua, dan hanya menghabiskan uang ibunya saja.
Maka dari itu, aku lebih senang berjalan sendiri, memerhatikan sekitar kemudian menuliskannya. Atau menikmati musik sendiri di atas sepeda tuaku.
“Mas, kenapa diem aja sih?”
Perempuan berbibir merah merona, dengan farfum menyengat mendekatiku dan menyapaku. Aku tidak menjawab dan fokus pada buku bacaanku.
“Ya, ampun Mas, gitu banget sih”
Sambil berlalu mungkin dengan rasa malu dia meninggalkanku. Aku lebiih senang dengan cerita di buku bacaanku dari pada harus menanggapi perempuan tidak jelas itu.

***
Begitu jelas di telinga aku mendengar ibuku sedang menangis di kamar. Aku tahu apa yang ia tangisi, ia merindukan bapak. Aku hanya berlalu melewati kamarnya membiarkan dia menikmati kerinduannya. Dan aku tidak pernah bertanya, apapun tentang kerinduan itu. sampai nanti aku sendiri mengerti rasanya rindu itu seperti apa.
Sering ibu menangis begitu, setiap aku pulang kampung sekali atau dua kali kudapati ibu menangis seperti itu. tapi di dalam kamar, tak ia tunjukan kepadaku. Bahkan saat keluar dari kamar, wajahnya sudah tegar lagi. Matanya sudah bersinar lagi.
“Nak, tinggal di rumah dulu yah sebentar, ibu mau kerumah Bude dulu,” ucap ibuku sambil berlalu meninggalkanku di kamar. Tubuhnya yang semakin mengecil karena lelah, dan dahinya yang semakin banyak kerutan tersalip dikepala.
“iya bu, hati-hati” ucapku singkat.
Tidak berapa lama kemudian, ibu datang dengan beberapa kain putih untuk para jemaah haji. Aku ingat kalau itu adalah kain yang dibawa dari Bude, karena budeku mempunyai usaha travel haji.
“Apa itu bu,” tanyaku pada ibu, aku sedikit gembira, apa mungkin ibu akan pergi umrah. Mungkin saja dia menyembunyikannya dariku bahwa dia punya uang simpanan karena ibu rajin sekali menabung.
“Ini kain nak, ibu bantu-bantu Bude lumayan buat tambahan uang jajanmu” ucap ibu sambil menyunggingkan senyuman yang sepertinya ia paksakan untuk keluar.
Seketika mataku bergenang air, air mata yang belum pernah keluar dari mataku sebelumnya menetes tepat di pipiku. Aku terpaku dalam diam, menatap punggung ibu yang renta, dan tangan-tangan tua itu yang berusaha memasukan benang dan payet-payet diantara kain-kain putih. Betapa aku rasai tanganku sungguh tak berguna, kepalaku tak berguna, juga kakiku tidak berguna.
Aku lepas kacamata yang aku pakai, karena airmataku ternyata menggenang. Dan aku ingat, kacamata ini pun adalah pemberian ibu. Dari hasil menjual hasil rempah. Setiap pagi giat menumbuh kopi, kopi dari Budeku juga. Ia memberikan uangnya kepadaku untuk membeli kacamata, karena dia tahu mataku mulai bermasalah saat belajar.
Tubuhku yang tinggi besar sungguh terasa tak ada gunanya, hanya menemani ibu dengan peluh di kening, dan harus memutuskan keinginannya sendiri untuk menjadi apa yang dia inginkan. Barangkali, kalau aku tidak ada, ibu akan menjadi wanita karir di luar, karena aku tahu kemampuan ibu tidak kalah hebat dengan ketua PKK di kampungku. Tapi ibu tidak ingin sekalipun meninggalkan kami, anak-anaknya di tengah arus zaman yang tidak menentu, apalagi setelah ayah pulang. Ibu semakin mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tetap membuat kami tersenyum.
Sedangkan aku, statusku sekarang adalah mahasiswa. Aku masih bodoh, dan tidak bisa apa-apa. Tanganku saja masih di ragukan oleh orang-orang.
Entah berapa lama ibu mengerjakan pekerjaan itu, saat aku mengambil minuman malam-malam, ditemani dengan segelas kopi hitam kesukaannya, ibu masih mengerjakan pekerjaannya. Matanya tidak lelah, campursari menemani kerjanya di tengah malam.
Malam itu aku hampiri ibu, dan bercakap-cakap dengannya. Aku dekat dengan ibu, jadi aku ceritakan apapun yang aku temukan di kampus. Dan aku pun bercerita pada ibuku bahwa perempuan zaman sekarang tidak ada yang seperti ibu.
Tapi seperti biasanya, ibu menjawab persoalanku dengan tidak menyalahkan satu pihak. Ia selalu bersikap adil, baik dalam ucapan ataupun perbuatan.
“Kau ini, jangan terlalu kesal sama orang lain, nanti kamu cinta lho” canda ibu sambil tersenyum.
“Ah, ibu mana mungkin aku suka sama perempuan yang tidak seperti ibu”.
“gini lho nak, manusia Tuhan ciptakan dengan karakter yang berbeda-beda, zamannya juga beda. Kamu harusnya menjadi manusia yang bisa menyesuaikan zaman. mereka seperti itu karena mereka hidupnya di zaman sekarang. Mungkin kalau ibu hidup di zaman sekarang, ibu juga akan seperti mereka. Dan tugas kamu nak, sebagai orang yang Tuhan beri kesadaran. Dekatilah mereka, ajak mereka bicara, tanyakan apa yang mereka mau, kau sebagai orang yang tahu, berilah mereka tahu. Sesungguhnya orang yang memberi itu lebih baik daripada orang yang menerima, bukan? ah, kau anak kuliahan kau akan lebih tahu. Dan kalau kamu mau perempuan seperti ibu, kamu bakal dapat nenek-nenek” sambil terkekeh ibu menggodaku.
Setiap ibu berkata panjang lebar seperti itu, aku hanya bisa mendengarkan dan dalam hati aku iyakan. Mataku juga tidak pernah berkedip agar memastikan semua perkataan ibuku aku kutip dengan baik di dalam sanubari.
Sambil menasehatiku, tangan ibu dengan lihai memegang jarum dengan jemarinya yang mulai keriput dan terbakar sinar matahari. Ia tusukkan ke bagian bawah kain, dan diatasnya ia pertemukan dengan kancing, sehingga membentuk ikatan yang kuat.
“Bu, ibu mau aku jadi apa?” aku keluarkan pertanyaan itu yang sedari dulu aku fikirkan.
“Kamu ini, ada-ada saja, kenapa kok kamu bertanya seperti itu” sambil menyunggingkan senyum ibu menjawab pertanyaanku.
“He,, soalnya aku penasaran bu, kenapa ibu selalu bekerja buat anakmu ini yang sudah besar. Kok mau-maunya ibu membiayai aku dan adik-adik padahal belum tentu masa depan kami cerah lho bu”
“Nak, siapa yang bisa menjamin masa depan seseorang. Siapa yang tahu, ibu hanya berusaha memenuhi kewajiban ibu sebagai orang tua. Ibu hanya tandur nak, ibu sudah mengharamkan diri ibu untuk panen. Ibu hanya memaksimalkan anggota tubuh ibu, jari, tangan, kaki karena sudah Tuhan kasih”
Aku menundukan kepala, aku tahu ibu selalu memiliki jawaban yang membuatku harus merunduk. Mencari lagi diri sendiri.
Aku tahu, aku belum membebani diriku dengan kerja yang maksimal. Saat pelajaran aku masih sering mengantuk dan tidur. Bahkan aku tidak tahu pelajaran apa yang aku dapatkan hari ini. Tapi, kau tahu, meskipun ibu tidak pernah memberikan kata semangat, atau bualan kata semangat. Manusia desa sepertiku tidak suka bergombal-gombal mengatakan hal apa yang sering orang-orang kota lakukan.
Ibuku tidak begitu, aku bahkan tidak pernah mengatakan kata sayang kepada dia. Tapi ibu tahu aku sangat sayang. Aku juga tidak pernah mengucapkan selamat pada ibuku saat hari ibu tiba. Tidak seperti yang lain. Tapi, aku yakin ibu tahu, bahwa cinta aku kepada ia tidak hanya dengan ucapan selamat hari ibu. Bahkan aku tidak tahu hari ulang tahun ibu. Itu pun tidak masalah baginya.
Maka dari itu, hal yang menyemangatiku, orang kecil sepertiku adalah dari cara ibuku mengabdikan dirinya menjadi seorang ibu. Melakukan kewajibannya dengan sempurna sebagai seorang ibu.
****
Aku renungi kembali perkataan ibu, bahwa kita diciptakan berbeda-beda. Dengan keadaan dan zaman yang berbeda pula. Kelas yang aku rasa sempit karena kesalnya aku melihat kelakuan anak-anak kelas, mulai aku fikirkan matang-matang. Aku cari sampai ke akar, permasalahan kenapa aku sampai berfikir seperti demikian.
Akhirnya aku tahu, aku memenjarakan diri sendiri. Aku membuat neraka dari kepalaku sendiri. Melihat orang lain adalah musuh besar yang harus dihindari adalah salah besar. Justru hal yang aku yakin adalah penting adalah cara Tuhan menciptakan manusia. Kenapa mereka harus aku kenal adalah karena mereka adalah partnerku dalam hidup. Mereka adalah penyempurna kehidupanku.
Aku mencoba terbuka dengan mereka, perempuan-perempuan yang tidak enak di pandangan itu. Orang pertama yang aku kenal adalah Roma, dia anak yang paling update. Pakaiannya ketat sekali, dan kadang dadanya terlihat. Ia berperawakan Barby, dan aku akui di cantik.
Ia orang pertama yang aku ajak bicara. Aku ajak bicara dengan pembicaraan yang biasa-biasa saja. Dan dia memang atraktif, seperti yang ilmu komunikasi bicarakan, orang seperti ini adalah orang yang akan menarik si pembicara. Nada bicaranya lantang, matanya fokus melihatku setiap apa yang aku bicarakan. Dan dia pun merespon setiap apa yang aku bicarakan dengan gaya yang menarik.
“Apa yang kamu rasakan ketika berbicara tentang ibu?” aku memberikan dia pertanyaan seperti itu.
“Ibu, ibu adalah kata yang paling sulit buatku, sejujurnya. Sebab, aku tahu dia segalanya bagi aku. Speachless mas, aku gak bisa bicara soal ibuku” dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ternyata setelah aku bicara lebih jauh, Roma memiliki seorang ibu yang sudah tidak bisa melakukan apapun. Penyakit menahun yang dideritanya telah membuat saraf-saraf ibunya tidak berfungsi.
Aku ketahui lagi, bahwa Roma bekerja di sebuah butik. Ia berbakat dan pintar mendesain pakaian. Jadi dia bekerja disana, dan pekerjaan itu membentuknya menjadi perempuan seperti itu.
Tuhan, maafkan aku salah menilai orang. Memang benar yang ibuku katakan. Bukan hanya Roma yang aku ajak bicara, Meri, Andriani, dll. Mereka memiliki karakter yang berbeda. Dan ternyata mereka adalah anak-anak yang penuh semangat. Dan satu orang yang paling pendiam. Dia adalah Senja. Senja lain dengan yang lain. Dia tidak bertingkah seperti perempuan-perempuan lain di kelas. Dia diam, hanya tersenyum saja jika melihat hal-hal yang mungkin baginya menarik.
Dan aku dekati dia, aku bicara beberapa patah kata dengannya. Masih belum ia menampakkan aslinya. Aku heran dengan anak ini. Lelaki mana yang tidak penasaran dengan perempuan seperti dia, ia membuatku penasaran. Dan aku hanya melihatnya dari jauh. Ia nampak seperti pemurung. Tapi dari matanya tampak sinar lain, bercahaya.
Aku dekati ia hari demi hari. Senyumannya semakin hari semakin berkembang. Aku yakin dia sudah mulai tertarik padaku. Aku gali terus siapa dia, sampai pada akhirnya aku harus tahu bahwa dia adalah seorang penulis muda berbakat yang tidak tulisannya sudah diterjemahkan kedalam 5 bahasa. Sialan, anak ini. Bagaimana mungkin aku tidak tahu.
***
Benar kata ibuku, aku tidak akan pernah tahu dimensi setiap manusia tanpa aku melihat mereka dengan dekat. Terimakasih bu, terimakasih Tuhan.
KEDIRI, 29 DESEMBER 2014
Read more

PEREMPUAN YANG MEMENJARAKAN DIRI


Pertemuan dengan seseorang mengandung makna Tuhan. Mengandung lebih banyak makna Tuhan. Namanya Tyo, lelaki yang kutemui dua bulan yang lalu ditempat aku bekerja. Dia baru masuk, begitupun aku.
Tak ada kesan saat pertama berpapasan di ruangan itu, semua orang yang ditraining bermuka sama. Tidak ada yang menarik, mungkin juga karena aku tidak terlalu tertarik dengan pekerjaan itu karena tidak mendapatkan panggilan kerja lain.
Aku jenuh, bahkan kehilangan semangat mulai pertama kerja pun. Seluruh ruangan senyap padahal banyak orang riuh, apalagi anak-anak sekolah menengah yang baru lulus dan ikut training juga. Tingkah mereka aneh-aneh saja. Dan aku, lebih memilih membiarkan suasana itu dan menikmati apa yang aku rasa sendiri. Aku menjadi seorang individual, bekerja sendiri, dan mengutamakan perasaan sendiri.
Yang ada, dari hari kehari, perasaanku semakin kacau. Tidak juga aku mendapatkan kenyamanan berada di tempat itu. Seperti sebuah kesialan yang aku ciptakan sendiri, isi dalam kepalaku hanyalah umpatan-umpatan yang tidak juga memberi ruang pada keyakinan.
“Semangat”.. bisik seseorang ke telingaku.
Dalam lamunan aku terkaget. Dan mencari-cari darimana suara itu berasal. Aku menoleh ke kanan, Tyo mengepalkan tangan semangatnya kepadaku. Dan tidak lama, akupun mengerjakan kembali pekerjaanku, tanpa lupa membalasnya dengan senyuman. Senyuman? Ya aku kembali tersenyum setelah entah berapa lama aku tidak bergairah untuk tersenyum. Seperti orang yang dahaga, yang diberi segelas air putih.
Perhatianku menjadi terpusat kepada Tyo, bagaimana tidak. Raut wajahnya tidak pernah digambarkannya dengan perasaan kesal, sedih ataupun jengah. Wajahnya seperti matahari yang selalu terang. Matahari yang tak pernah bisa ditandingi awan, merekahkan bunga-bunga di sekelilingnya.
Dari hari ke hari semangatku mulai pulih, sebab aku ingat seseorang yang duduk di sampingku. Dia selalu bersemangat, aku berfikir mungkin Tuhan hanya menitipkan padanya satu rasa, semangat. Ia tidak pernah menoleh padaku sebelum pekerjaannya selesai. Dan setelah selesai bekerja sesekali dia mengajakku berbicara. Tapi aku tidak begitu percaya diri berbicara dengannya, sehingga jawaban yang keluar dari mulutku tidak meyakinkan dan aku rasa aku memang ragu mengatakan hal itu.
“Kuliah dimana?” sesekali dia menanyakan hal yang menurutku tidak penting-penting amat.
Atau dia mengajakku membahas suatu hal,
“Bagaimana pendapatmu tentang universitas yang membatasi buku rujukan skripsi hanya lima tahun terakhir?.” Ia bermuka serius setiap berhadapan denganku, tapi tidak dengan yang lain.
Aku anggap dia orang berbahaya, maksudku dia bukan orang biasa yang memiliki pemikiran yang sama dengan yang lainnya. Ia selalu tepat waktu, tidak pernah aku melihatnya terlambat, lain dengan teman-teman sekantor yang seringkali datang terlambat sampa setengah jam. Jika dia tidak datang sebelum waktu kerja berarti dia tidak masuk kerja. Tubuhnya yang tinggi besar mengalahkan orang-orang di sekitarnya, sehingga orang lain terlihat seperti manusia-manusia kerdil. Dengan kacamata tebal dan kening yang lebar memberi kesan bahwa dia orang cerdas.
Semakin hari keberadaannya menjadi hal yang wajib buatku. Tidak ada dia perasanku menjadi tidak tenang. Padahal dia tidak melakukan apapun padaku, bahkan menunjukkan suatu hal yang manis, tidak. Dia hanya menggodaku dengan kerja keras, cara dia menghargai waktu serta caranya menghargai orang disekelilingnya.
Pernah aku dapati dia menasihati seorang perempuan yang mungkin bertingkah terlalu kekanak-kanakan.
“Kamu itu yang serius, ada waktunya serius ada waktunya bercanda. Jangan keterlaluan, ingat ibumu di rumah berusaha keras agar kamu bisa tamat sekolah...” nasihatnya kepada Mira anak tamatan SMA yang memang selalu bertingkah berlebihan.
Orang itu ramah, tapi aku sendiri orang yang pasif. Aku tidak pernah berani memberi sapa dia terlebih dahulu. Karena setiap akan aku ucapkan satu hal, dalam kepalaku selalu ada ketakutan, aku takut salah. Ya, itu memang hal bodoh yang sulit sekali hilang di kepalaku.
Sampai pada siang itu, tepatnya 6 Maret ternyata dia ulang tahun. Aku tahu dia ulang tahun, tapi aku tidak mengucapkannya terlebih dahulu. Aku baru mengucapkan selamat setelah teman-temanku yang lainpun mengucapkan selamat. Senangnya aku bisa menjabat tangannya, ia menyalamiku dengan keras tanda kepercayaan diri. Aku berlalu dengan senyum dan duduk kembali di tempat kerjaku. Selanjutnya usianya yang sebenarnya aku tahu ketika menulis biodata para pekerja magang.
***
Usiaku menginjak 23 tahun, usia dimana perempuan menginjak kedewasaan. Bahkan fikirannyapun bukan lagi hanya mencari lelaki yang dia inginkan, tapi lelaki yang bisa hidup bersamanya sampai tua. Pekerjaan, naik jabatan, diterima kerja bukan hal utama ketika hal itu belum terwujudkan. Begitupun halnya aku, hal yang masih mengganggu kepalaku adalah satu hal itu. aku merindukan manusia yang akan mendampingiku segera datang.
“Kenapa melamun terus” Tyo menyapaku siang itu.
“Ga apa-apa” jawabku singkat karena terkejut, dengan tidak lupa mengukir senyuman sebisa mungkin berharap dia tahu bahwa aku benar-benar tertarik dan dia mengajakku berbicara  lebih lama.
Dia menghampiriku, menarik kursinya dan duduk di dekat kursiku.
“Kamu gak mau sodakoh perkataan? Gak karena istilah diam itu emas kan? Sodaqohlah, walaupun sedikit.” Ia menohokkan pertanyaan itu dengan muka tegasnya, sehingga raut mukaku kurasa langsung berubah.
“Enggak” jawabku singkat kembali.
“Kalau kamu tidak berkomunikas dengan orang lain, kamu akan sulit berkomunikasi dengan Tuhan.” Tegasnya.
Aku hanya diam terpaku, suasana sejenak berubah menjadi tidak menentu. Antara malu, dan merasa bodoh. Aku mulai ragu untuk menggerakkan badanku sendiri, apalagi untuk mengutarakan kata apa yang mesti aku ucapkan pada Tyo untuk melanjutkan perbincangan. Padahal aku benar-benar ingin berbincang dengannya. Tapi itu tidak terjadi, harapanku untuk berkata banyak dengannya hanya tinggal di hati saja, tidak aku ungkapkan. Dan dia berlalu, duduk di kursinya kembali. Dengan sesak dadaku, karena tak keluar kata yang hendak aku ucapkan.
Tapi aku tetap bersyukur, karena begitu semakin hari perasaanku semakin bergejolak menjadi sebuah kegelisahan. Dari itu aku bisa lebih banyak mengarang, tulisanku bisa aku tumbuhkan. Dan kebiasaanku menulis seperti didukung oleh semesta. Aku jadi ingat pesan ayah “penulis cerdas adalah ia yang bisa berkarya dalam hal apapun”.
***
Pernahkah kau merindukan sesosok manusia di malam hari saat kau terjaga untuk minum air putih atau buang air kecil? Aku sering, selama beberapa hari terakhir pikiranku diracuni lelaki bertubuh tinggi besar itu. Dia menyapaku setiap malam dalam khayalan. Dan rindu, hanya menguap tanpa ada yang tertangkap kata. Tanpa ada kata yang sampai pada si rindu.
Yang tidak terbatas waktu bukan saja Tuhan, tapi kurasa rasa pun begitu. Aku semakin menjadi mengaguminya. Yang terjadi denganku bukanlah keberanian untuk mengajak Tyo bicara, tapi malah kemunduran diri untuk tidak berbicara, menarik diri darinya. Sebab, ketakutan-ketakutan mulai berdatangan.
Semangatku datang ke tempat kerja, semata bukan karena pekerjaan. Tapi bagaimana cara mengajak Tyo bicara. Kata-kata yang sudah ku rangkai di kepala seketika beku saat berhadapan langsung dengan manusia itu.
“Apa kabar” sapanya pagi itu kepadaku.
“baik” jawabku singkat dengan senyuman yang semoga mantap untuk diberikan pada manusia seperti dia.
Aku tidak bisa menyapanya balik, tidak ada hal yang aku rasa pantas untuk aku tanyakan kepada seorang manusia tangguh, pemberani, dan yakin seperti Tyo. Dan pertanyaan itu, kembali tertahan sampai di hati. Dan lagi lagi tidak sampai ke bumi.
Bagiku setiap hari bukan usaha untuk lebih baik dalam bekerja. Aku hanya memiliki satu tujuan saja, yaitu bagaimana caranya agar aku bisa merayu hati dan fikiranku untuk keluar dari ketidaknyamanan ini. Untuk keluar dari penjara yang aku buat sendiri. Aku sangat kagum pada Tyo, maka dari itu hasratku untuk bisa lebih dekat dengan lelaki itu bisa terpenuhi. Bisa aku wujudkan.
Ah, mungkin orang akan menganggapku orang gila dan orang bodoh yang bercita-cita hanya secuil upil. Tapi bagi manusia sepertiku itu bukan hal mudah. Manusia yang tidak pernah bisa menyapaikan rasa apapun yang dimilikinya kepada orang yang membuat dia tertarik. Mungkin itu bukan hal sulit bagi orang lain, tapi bagiku itu seperti membalikan sebuah gunung. Penuh keraguan, penuh ketidakyakinan dan kepasrahan.
“Kemarin aku pulang, menjenguk ibu. Dia berdua bersama adik di rumah. Jujur saja, aku tidak kuat kalau aku berbicara tentang ibu. Dia pahlawanku, dan kemarin aku baru tahu kalau ibuku bekerja di budeku. Bantu-bantu, menempelkan kancing.” Jelas aku dengar cerita Tyo kepada Budiman yang tidak aku perhatikan dari awal apa yang mereka ceritakan. Aku dengar dia terisak.
Aku diam dan aku mendengar dia melanjutkan pembicaraannya.
“Itu kenapa aku berusaha bersemangat disini, aku tidak boleh ngantuk sedikitpun. Sebab, ibukupun di rumah bekerja tanpa mengenal waktu. Aku harap kau pun menghargai waktumu Man” cerita Tyo kepada Budiman.
Dan akupun begitu,setiap ku dengar cerita seseorang tentang ibu, aku langsung teringat ibuku dan tidak pernah bisa aku menahan airmata untuk manusia yang bernama Ibu.
Aku diam, sampai pembicaraan mereka pun selesai karena Bos datang memeriksa kami yang sedang bekerja. Dan aku tetap terpaku, merenungkan seluruh perkataannya.
Dari minggu ke minggu aku semakin jarang berkomunikasi dengannya, mungkin dia jengah menghadapiku. Atau mungkin dia mendapati aku yang tidak begitu tertarik di matanya. Ah, entahlah. Dan itu membuat nafasku semakin sesak. Padahal, aku selalu berusaha menarik dia kepadaku. Usahaku, diam di meja kerja dan melamun lagi. Itu usahaku agar dia mau menyapaku. Tapi luput, tak ada yang berhasil.
***
“Aku telah melakukan suatu hal konyol yang belum pernah aku lakukan sebelumnya kepada lelaki manapun, mas” ucapku lirih saat senja mulai mengucurkan warna merahnya di langit.
“Benarkah?” lelaki itu bertanya dengan menarik pandangannya ke arahku.
“Ya, “ jawabku dengan kepala yang kusandarkan pada bahunya yang kekar. bahu yang dulu hanya bisa kulihat dari balik meja kerjaku.
“Aku telah berhasil keluar dari penjara yang aku ciptakan sendiri. Ternyata memang bebas itu indah ya mas” ungkapku kepada lelaki berkacamata dengan perubahan rambut yang berubah warna menjadi putih.
“Ya, kita dipertemukan karena Tuhan menyuruhmu belajar. Aku pun begitu” ucapnya kepadaku dengan tatapan yakin yang sama seperti ia lakukan dulu.
Tyo, sekarang dia telah berada tepat disampingku. Senyumannya telah menjadi milikku setiap pagi. Tatapan keyakinannya juga telah ia berikan untukku. Bukan untuk yang lain. Dengan keluar dari zona nyamanku, memberinya sebuah senyuman setiap pagi dan mengantarnya dengan sapaan yang telah aku penjara selama beberapa lama.
“Selamat pagi” ucapku lirih pagi itu, dengan senyuman terbata yang aku miliki.
“Pagi” balasnya. Dengan senyuman jernih penuh pertanyaan dimatanya.
Kalimat pembuka dariku membuka seluruh jalan di depanku. Seperti sebuah pintu yang kembali aku temukan. Aku bisa berkomunikasi dengannya tanpa ada penghalang apapun. Aku memerdekakan diriku dari ketakutan yang selama ini menghalangiku untuk berkomunikasi dengannya. Aku mengalahkan keraguan, aku berusaha mengikuti kata hatiku yang didalamnya terdapat petunjuk dari Tuhan. Dan aku telah sampai pada hari tuaku, bersamanya.
KEDIRI, 29 DESEMBER 2014
Read more
"Yang Terhormat Gelandangan"
Read more

Tanpa Judul

Ah, terpaksa malam ini Dindi mengajakku bercerita. Ia malam ini datang dengan wajah yang murung. Entah ada apa, aku sama sekali tidak ingin tahu. Karena pasti ia sendiri yang akan menceritakannya.
Dan benar saja ia mulai kembali menyalakan kreteknya, dan bercerita kepadaku.
"Kemudian, aku bertemu dengan sebuah kebudayaan yang luar biasa mengherankan. orang-orang memiliki standar unik dalam kepalanya. Aku heran, benar-benar heran bagaimana bisa ada kebudayaan semacam itu. Di kampungmu itu, mereka yang sekolah sangat gila hormat. Ia pura-pura merunduk di depan warga kampungmu. Padahal, kau tahu? jauh di lubuk hatinya ia merendahkan kaummu. Menuduh mereka orang-orang yang bodoh dan tidak beradab. Beradab dengan penilaian yang ia ciptakan sendiri.
Yang merasa pekerjaannya di ruang bersih, tak mau berkotor tangan turun ke sawah membantu orang tua. Aku heran bahkan pada dirimu aku heran.
Aku juga heran sekali, kalau bisa kau jelaskan padaku kenapa. Ini, aku melihat media yang begitu dramatis. Sedih sekali aku melihatnya, banyak anak manusia yang cengeng. Mempertontonkan kesedihannya, bahkan media mengangkatnya menjadi headline news. 
Lalu, kau yang merantau, menanggalkan pakaian desamu. Merasa kota adalah tempat yang paling beradab. Kemudian desa jadi tampat showroom hasil yang dibawa dari kota. Dan itu bukan ilmu, tapi gaya berpakaianmu, cara berjalanmu, dan tingkah lakumu yang ga karuan. Ah, kau belum berhasil di kota apalagi di Desa.
Ah, sungguh sombong adalah hal yang paling merugikan manusia.
Selain itu, aku pun melihat perempuan memiliki pandangan kalau wajah putihnya itu, bibir merahnya itu, dan pinggul seksinya itu adalah hal yang paling utama. Lalu mereka semua menerapkan standar kehidupan, bahwa memiliki wajah cantik adalah kesempurnaan. Itu karena mereka, laki-laki yang lebih pandai melihat dari pada berfikir. 
Coba kau pikirkan itu hei, kamu"

Aku mendengarkan celotehan Dindi sampai tuntas, sebenarnya masih banyak cerita yang ia keluarkan. Tapi aku tidak bisa menyimak lebih banyak lagi. Dia memang seperti itu, Biarkan sajalah..
Read more

Tanpa judul 2

"Rasanya aku ingin seluruh waktu adalah malam, ia hadir dengan sunyi, selalu" ujarku sambil mengambil segelas kopi.

"Ah, kau ini, kau tak akan mengenal malam jika tak mengenal siang"

Tiba-tiba saja Dindi duduk disampingku, dengan asap yang keluar dari mulutnya, dari kretek yang dihisap dalam-dalam. Aku tak heran, sebab ia sering begitu, muncul tiba-tiba kemudian berbicara semaunya.

"Ingin rasanya setiap hari kepalaku sejuk, dan yang aku bicarakan tidak hanya gundah, tetapi segala hal yang indah" aku melanjutkan perbincanganku dengan diri sendiri. Ya, tepatnya dengan malam.

Dan kembali Dindi menimpali, " Ah, kau memang bodoh, dan sering menjahati diri sendiri. Bagaimana mungkin keindahan akan terasa tanpa kau merasakan keburukan".

Aku mengacuhkannya, sesekali memang ia harus diacuhkan. Kalau tidak ia akan mengajakku berbicara sampai pagi. Kemudian, aroma kopi seolah menyapaku. Ia benar-benar sedang menggodaku, sama seperti Dindi. Aromanya, iya aromanya sama seperti malam itu. Hanya saja rasanya yang berbeda, sebab tak ada Ia disini. Bagaimanapun takkan pernah bisa sama.

Tak usah mendengarkan musik, nyanyian malam itu memang sangat merdu. Hanya, kau bikin hatimu tenang dulu.
Read more

Tanpa Judul 3

"Tak mengapa tak dihargai pun, kita hidup tidak perlu harus dihargai. Asalkan kita bisa menghargai diri sendiri. Masalah dihargai orang lain itu bonus kehidupan.

Bagiku yang penting aku sudah melakukan hal yang semestinya aku lakukan. Jika mengharapkan penghargaan, aku kira itu semacam pamrih. Nada sumbang yang mesti hilang. Seperti senar gitar putus, yang mesti segera diganti."
Read more

Tanpa Judul 4

"Adalah cinta, buatku yang tak mesti dikatakan dengan lisan. Yang benar-benar tidak pernah ingin mengekang. Yang tidak pernah menunggu, yang tidak pernah mengeluh.

Ia amat bersahaja, sebab ia amat berharga. Ia adalah raja benak dan pikiran. Sebab, ia itu."
Read more

Rasus, lagi

Aku mulai kembali mengenang matamu. Saat kau berkedip, dan kau luruhkan kata-kata yang berusaha ku artikan bahwa kau tak pernah berharap menjadi lelakiku. Yang kemudian menjadi sebuah alasan buatku untuk semakin menghasrati berdua denganmu.

Malam itupun, kembali ku kenang. Saat kita menyeduh kopi, kemudian memperbincangkannya sampai larut malam. Dan aku masih ingat, betapa berat melepasmu untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Apa kau pernah sesekali mengenang itu?

Kemudian cinta bisa ku bahasakan. 

Read more

Rasus

Lelaki ini membawa beribu pepohonan hijau yang ia tanam di kepalaku. Kemudian tumbuh subur bersama waktu. Ia pun membawa hujan, juga surga, membawa cuaca, letusan gunung dan awan tebal. Kemudian pohon berdaun lebat dan buah juga kembang.

ya, kaupun tahu, kadang harus gugur daun itu. Tapi, kau mestinya juga tahu daun gugur di bulan kemarau itu bisa kau bahasakan seperti rasa. Cinta yang membekas, yang abadi pada pula dalam gugurnya.
Image by: Pidi Baiq

Read more

PEREMPUAN BEMATA BIRU


Nanin menginjakan kaki di rumput dengan gaun putihnya yang sangat anggun. Gigi putih bersih yang menghiasi senyum penuhnya menambah rona kecantikannya. Rambut yang dibalut kerudung dengan melati putih menghiasi kerudung, seperti taman bunga surga. Ah betapa cantiknya Nanin anaku.
Ia tatap semua tamu yang datang, disampingnya telah siap menjaga seorang lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Suami yang membawa pesan Tuhan, menjadi bagian dari masa depan anaku. Setiap tamu ia salami dengan senyum penuh, senyum gembira yang renyah. Keluar dari hati sanubari terdalam. Aku mengucurkan airmata, melihat anakku yang sudah tumbuh dewasa. Sudah ada yang berani meminta masa depannya. Menjalani kehidupan bersamanya, mencatat cerita bersamanya. Terharu, aku sungguh terharu.
Begitupun istriku yang sedari tadi tidak berhenti menahan airmata yang keluar, setelah sungkem anakku tadi. Entah berapa tisu yang berceceran di rumput hijau. Aku tak bisa menahan haru itu, sebab aku tahu ia pun bahagia. Sangat bahagia.
*
“lebih baik kau tidak menikah”  bentak Pak Hendro, dengan mata merah dan urat-urat kening yang menonjol. Aku tahu itu kemarah papa Ratna yang sudah memuncak. Aku hanya diam menundukkan kepala, menahan amarah agar tidak lebih menyulut api yang sedang menyala. Aku pun tidak berusaha memadamkan. Lebih banyak diam dan ketakutan merajai pikiran.
Ratna hanya menangis disampingku, ia pun sama sekali tidak bisa berkata lagi. Dadanya sesak, terdengar dari isaknya yang tidak juga reda. Hingga ia sama sekali tidak mampu mengeluarkan kata-kata karena isaknya yang semakin menyesakkan dadanya.
“apa tidak ada laki-laki lain selain Satria yang kau agung-agungkan ini? Atau papa memang tidak becus mendidikmu sampai-sampai kau berani menentang papamu ini, hah.” kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan papa Ratna sebelum ia berlalu dan membiarkan aku diam. Matanya basah, aku melihatnya saat ia berjalan kekamar dan menyeka airmatanya dengan sorbannya.
Kita hanya diam seolah menimbang semuanya. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak langsung pergi begitu saja.
“aku tahu apa yang harus aku lakukan” aku memegang tangan Ratna, yang sedari tadi memegang saputangan merah jambu.
“apa? Kamu mau menyerah?” Ratna langsung menuduhku, barangkali dia sudah tidak yakin kepadaku. Karena diamku.
“aku pulang dulu, aku harus merumuskan strategi baru. Aku tahu ini bukan waktunya untuk kita melanjutkan perjuangan restu papamu. Tapi ingat Ratna, aku sudah jatuh cinta padamu. Aku tidak akan kembali sebelum aku bisa mendapatkan mawarku. Ingar Ratna, aku bukan pendusta. Aku tidak akan ingkar pada Tuhan. Kalau memang harus ingkar, aku tidak akan ke gereja setiap minggu.”
Ratna tersenyum, aku tahu dia selalu yakin padaku. Karena aku juga banyak belajar ketulusan darinya. Ketulusan yang tidak pernah mengharapkan balasan. Mencintai yang tidak pernah menunggu balasan, itulah Ratna yang aku cintai selama ini.


Hubunganku dengan Ratna sudah hampir sepuluh tahun, selam itu hubungan kami tidak kami tunjukan kepada keluarga kami. Yang kami beritahukan hanya kami bersahabatan baik, dan keluarga kami tidak pernah menentang itu, termasuk Papa Ratna.
Dalam sepuluh tahun itu tidak ada konflik yang berarti, aku dan Ratna sudah saling memahami satu sama lain, saat aku harus ke gereja hari minggu, Ratna tidak pernah mengajakku jalan. Malah dia yang sering menyuruhku dan membangunkanku untuk pergi ke gereja. Sehingga selam sepuluh tahun itu, kalau memang tidak ada sakit aku selalu pergi ke gereja. Kadang Ratna pun ikut menemaniku ke gereja.
Begitupun saat Ratna harus Shalat, aku selalu mengingatkannya untuk sembahyang. Sampai-sampai aku tahu nama sembahyang yang dilakukan Ratna setiap harinya. Begitu indah cinta yang kami jalani selama ini. Aku yakin Tuhan melibatkan diri dalam cinta kami.
*
Tanpa Ratna malam ini bukan apa-apa. Bukan baju belangnya atau mata coklatnya. Tapi suara dan airmukanya yang serupa lampu-lampu kecil di pohon natal yang hijau. Tanpanya, celoteh malam ini akan biasa saja. Malam ini terpahat ukiran batik pada malamku. Ada senyuman yang selalu membuka pintu-pintu ketulusan, itu ada padanya. Aku merasakan malam, menyentuh kulitku dengan nada merdu, itu karena Ratna ada di sisiku. Gerak harmonis selalu keluar dari setiap lakunya, ketika aku bersamanya, suaranya indah sekali.
Seperti kata penyair Chairil Anwar, bahkan dengan cerminpun aku enggan berbagi seperti itulah malam ini cintaku pada Ratna. Aku tak ingin membagi cinta ini pada siapapun.
Dunia memandangku dengan sinis. Aku dan Ratna bahkan tak begitu akrab dengan tetangga rumah. Mereka selalu melihat kami hanya dengan sudut mata, tak pernah mereka menampakkan senyum sedetikpun pada kami. Aku sedikit bersedih, tapi tidak ketika aku sudah melihat mata ratna yang ikhlas dengan segala keadaan ini.
“pak, apa papa yakin Tuhan tidak akan marah kepada kita juga?” Ratna memotong kesejukanku menatap matanya.
“aku yakin, Tuhan sayang umatnya, siapapun. Percayalah, meskipun manusia membenci kita, tapi Tuhan pengasih”
Ratna tersenyum mendengar ucapanku, dari bibirnya tersirat syukur yang mendalam. 

Cibiru, 10 Juli 2014
Read more

FIRASAT

Prakkk....
Tiba-tiba gelas yang kupegang lepas dari genggaman. Air putih yang akan kuminum membasahi lantai. Pecahan kacanya bertebaran kemana saja mereka suka. Waktu seperti berhenti satu menit, dan jantungku berdetak sangat kencang saat itu. Kebiasaan yang mungkin tidak baik, tapi hanya sesaat jantungku kembali normal.
Meeoow...
Kucing peliharaankupun terkejut mendengar gelas yang jatuh itu. Aku mengambil pecahan kaca, kemudian ku buang ke tempat sampah. Dan ku bersihkan lantai yang basah itu. “Ada apa Rum?” Siti datang ke kamarku.
“Oh tidak, aku hanya menjatuhkan gelas”.
“Oh, kirain...” Siti berlalu meninggalkan kamarku.
“Eh ada salam dari Banyu tuh.. haha” Siti berteriak dan cekikikan sambil meninggalkan kamarku. Dia memang paling senang menggodaku dan mengataiku dengan Banyu. Bibirku tidak bisa biasa saja, ia spontan mengembang menjelma senyum. Dan ku yakin jika ku lihat wajahku dikaca, pipiku pun memerah.
Angin berembus masuk ke dalam kamarku, cahaya matahari sore ini memancar masuk melalui celah jendela yang sengaja ku buka. Awan begitu merah di luar, berwarna jingga seperti cat yang tertumpah pada awan. Merah cahayanya menyorot pada foto bapak yang ku simpan diatas lemari disamping gambarku dan ibu.
Aku mengambil cangkir di rak piring, cangkir kesayangaku bergambar kupu-kupu hitam. Aku isi cangkir dengan Kapal Api hitam, cipratan kecil air panas terasa di pori-poriku. Wangi kopi tercium hidung, hangat sampai kedada. Kuaduk tiga puluh tiga kali seperti yang selalu diajarkan bapak. Bahwa tiga puluh tiga kali itu simbol dzikir kepada Tuhan.  Sampai sekarang hal itu menjadi kebiasaanku, dan aku tidak bisa menikmati kopi yang diaduk kurang dari hitungan itu, harus selalu tiga puluh tiga.
Udara sore yang begitu sejuk, lain dari biasanya. Sore di kosanku biasanya panas, tapi hari ini begitu sejuk. Aku putar lagu The Beatles sambil kuminum kopi menghadap keluar jendela menikmati suasana senja. Kau tahu apa yang paling membahagiakan dalam hidup ini? Bukan uang atau harta, tapi menikmati kopi dengan iringan musik. Ah, begitu sederhana dan nikmat sekali.
Kupu-kupu berwarna kuning menghampiri gelas kopiku. Ia hinggap sebentar kemudian pergi lagi. Seperti mengucapkan selamat sore kepadaku. Senja di kota Bandung memang indah. Tapi belum ada yang mengalahkan indahnya senja di kampung halamanku. Disana aku tidak hanya dihampiri kupu-kupu, tapi aku ditemani nyanyian burung yang sedang terbang bebas, tidak di dalam sangkar seperti di sini.
Sembari menikmati kopi dan musik, aku teringat sahabatku, Banyu. Aku pegang ponselku, dan ku ketik SMS, “Indah sekali senjanya”. Selesai ku ketik tiga kata itu, tapi ku hapus lagi. Ku ketik lagi SMS “lagi dimana?”. Aku tekan tulisan sending message dengan ragu. Dan tidak jadi kukirim SMS itu. Lalu kusimpan kembali ponselku.
Yesterday, all my troubles seemed so far away.... ponselku berbunyi. Kuraih ponsel yang kusimpan di sebelah gelas kopiku. Aku tersenyum, seketika pikiranku memberitahu bahwa itu Banyu. Tapi ternyata bukan, “My Sister” nama itu tertera di layar ponselku. Kakakku Sinta, meneleponku. Aku agak heran, tumben sekali orang ini meneleponku, bahkan menanyakan kabarkupun ia tak pernah.
“halo, assalamualaikum, ada apa kak?” aku berbicara padanya terlebih dahulu sebelum ia bicara.
“Pulang yah,” ucap Kak Sinta dengan nada rendah.
“kenapa kak?”
“Bapak sakit lagi. Kamu nanti dijemput kak Nano”
Dadaku langsung sakit, seperti ada yang mencubitnya. Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Cahaya remang mulai terasa disebelah utara, matahari mulai turun. Air mata menggenang, dan tumpah dengan segera.
Yang ada dalam kepalaku hanya wajah bapak, senyumnya dan giginya yang putih. Serta pecinya yang selalu digunakan saat ia hendak pergi ke mesjid. Aku mulai mengambil tas dan mencari baju yang akan kubawa, yang kupegang tidak terasa kasar atau lembutnya. Kepalaku sudah dipenuhi dengan bayangan yang tak pernah ingin aku pikirkan. Wajah bapak, senyum bapak, dan rasa sakit yang bapak derita.
Pandanganpun terhalang airmata yang terus menerus menggenang dan jatuh, seperti hujan. Dan wajah bapak menghantam-hantam seperti petir. Kadang terang kadang tidak terlihat. Dan tanah merah yang kulihat, menyayat dan menciptakan genang baru.
Kak Nano datang menjemputku. Ia hanya diam dan mengajakku segera masuk kedalam mobil. Aku duduk di samping kak Nano yang menyetir. “udah jangan nangis, bapak gak papa kok. Bapak hanya sakit seperti biasa.” Tapi benar-benar kali ini perasaanku lain dari biasanya. Dadaku begitu sesak, begitu dalam sesak itu, dan tak ada kata yang keluar dari mulutku, hanya air mata yang terus menggenang dan tumpah.

“Kamu pulangnya besok saja, bapak masih kangen sama kamu”. Kata bapak kepadaku sebelum aku kembali ke Bandung.
“Tapi pak, besok aku ada mata kuliah, jadi harus kuliah. Dosennya agak galak pak, hehe” seperti biasa aku bercanda kepada bapak. Bercerita sampai larut malam. Kopi selalu menjadi teman kami bercerita di depan rumah. Diteras yang sengaja bapak buat untukku belajar dan menyepi. Tempat itupun menjadi tempat dimana aku bercerita segala hal pada bapak.
“Kamu kuliah yang bener, pesan bapak Cuma satu, jangan pernah sakiti orang lain. Itu saja.”
“Siap pak, “ jawabku.
Kami bercerita sampai larut malam, tapi tak pernah ada satu hal pun yang tidak aku ceritakan pada bapak tentang segala hal yang kualami ditempatku merantau. Termasuk ketika aku suka pada seseorang. Bapak berpesan padaku, “kalo kamu suka cinta sama dia, cintai dia dengan tulus. Cintai dia seperti udara yang kosong, jangan berharap apapun. Tapi cintailah ia, cintai saja itu cukup. Selebihnya dari Tuhan.”
“Dan satu lagi, kalau bapak dijemput pulang. Kamu jangan terlalu sedih, bapak kembali pada Sang Pemilik yang sesungguhnya. Dan nanti kita akan bertemu dan berkumpul lagi disana.”
“Maksud bapak?” sambil kuseruput kopi kutanya balik kepada bapak.
“iya, kan bapak sudah tua, tidak mungkin menemani kamu seratus tahun lagi. Bapak tidak sudah capek nak.”

Aku kembali terjaga dari ingatanku pada hari itu. Hujan mulai turun mengiringi perjalananku pulang. Aku lihat di luar seorang anak perempuan berkuncir digandeng seorang bapak tua satu payung. Mereka berjalan berdua dibawah hujan, gigi gadis kecil yang tidak rata itu terlihat jelas, dari tawanya yang lebar, mereka sedang bercanda dibawah hujan. Air mataku menggenang dan tumpah kembali, teringat bapak.
Beberapa meter lagi aku menuju rumah, air mataku semakin membanjir. Dan tubuhku lemas tidak karuan. Sampai pintu rumah aku melihat banyak sandal dan beberapa perabotan rumah di simpan di luar, tidak seperti kemarin saat aku pulang. Dari jendela aku melihat kerumunan orang melingkar, aku segera masuk kedalam rumah. Segera  tasku diambil pamanku, dan aku dirangkul ibu disebelah bapak yang terbaring kaku berselimut kain putih. Dada mulai terasa perih seperti dimasuki benda yang sangat tajam. Aku memeluk bapak yang berbaring, dan kuciumi matanya yang sudah tidak berkedip itu. Seketika, semuanya menjadi hitam.

Cibiru, 26 Maret 2014
Read more

LANANG

Damai menjadi cita-cita manusia seribu tahun yang lalu, kini damai itu menjadi diri manusia. Mereka semua damai, dan cinta menjamah diri mereka. Semua tersenyum, tak ada yang menangis.

****
            
3013 November,
Lanang duduk di beranda rumah, angin yang berembus lembut. Begitupun ia melihat awan yang cerah dan damai. Simfoni Bethoven mengalun dari laptop Lanang. Menelusup dalam sanubarinya seperti cinta tak akan pernah pergi selamanya. Menyeruak ke dalam lamunan. Dan Tuhanpun sedang tersenyum bersamanya, bersama malaikat berbaju putih yang menari-nari di beranda rumah.

Minggu :
Di beranda rumah, lanang memikirkan kopi yang akan menemani sorenya lebih hangat.

"Lanang, ibu buatkan kopi untukmu". Sejenak ibunya membawa segelas kopi dan menyimpannya di meja.
"Iya bu, terimakasih". Dengan tangan yang segera mengambil gelas hitam yang masih hangat. Senyumpun menghias pipinya yang putih.

Senin:
Lanang berjalan seorang diri dari kampus, ia ingin Amba datang menemani langkahnya.

"Hai Lanang, aku ikut jalan kaki yah". Sapa Amba dari belakang lelaki berbaju putih itu.
Lanang pun tersenyum.

Selasa:
Lanang duduk membaca novel di bawah pohon  Apel depan kelas. Suara angin yang anggun, selalu ia dengar. Nyanyian merpati menjadi pengiring santainya di bawah pohon apel itu. Tak terlewat juga, apel-apel yang jatuh selalu mengisi perutnya setiap ia atau temannya berada disana. Ada Tuhan kembali disana, dan malaikat yang sedang menari-nari.

Rabu:
Lanang kembali mengambil Laptopnya, ia membuka situs berita.
"peristiwa penting terjadi di 2013, pemuda-pemuda menggerakkan perdamaian.
"berita macam apa ini, memangnya pernah ada zaman seperti ini, hahaha"

Kamis:
Lanang berjalan menyusuri jalan kota. Setiap orang saling menyapa dengan senyuman yang tak lepas dari muka-muka mereka yang cerah. Cinta telah merasuk kesetiap penjuru hati mereka.
Malaikat menari-nari, dan Tuhanpun tersenyum.

Jumat:
Damai....

Sabtu:
"kakek bosan nak, bosan" suara kakek di telepon terasa aneh di pikiran Lanang. Bosan, kata yang baru ia kenal.
"Kek, bosan itu apa?"
"Sampai-sampai kalian tak kenal rasa bosan? Keterlaluan." suara kakek Lanang meninggi.
"Apa maksud kakek aku tak paham?"
"Sudah lama tak ku cium air mata duka, ah sudah lama Nak,.". Dan telepon pun ditutup.

***

Damai, tak ada janji yang tak ditepati. Tak ada kecewa, tak ada selembar daun yang dikhianati. Tak ada manusia yang tertindas tak ada cinta yang tak terbalas. Tak ada doa yang tak terwujud, tak ada dendam.

"Tuhan aku ingin perang." do'a lanang.
Dan hujanpun turun.

Read more

APA ITU JAKARTAKU?



“Jakarta sedang banjir. Dan hatiku biasa-biasa saja, degup jantungku normal-normal saja, tuh Pak.” Ujar Bu Darmin sambil membawa sepiring goreng singkong untuk suaminya. Kebayanya yang berwarna hijau muda mencetak tubuhnya yang gempal.
 “Hus, mereka juga kan manusia bu. Sama-sama orang Indonesia, saudara kita juga” timpal pak Darmin menyeruput kopi hitamnya, dengan tangan yang renta dan urat-urat yang menonjol.
“Orang-orang disana itu, yang hidupanya enak itu sedang kebanjiran dan mereka diliput oleh media merengek-rengek meminta bantuan dan menyalahkan berbagai pihak. Padahal siapa juga yang membuang sampah sembarangan, to Pak.” Bu Darmin mengambil satu goreng singkong dan memasukan ke mulutnya dengan segera.
“Dan Jakarta banjir, itu pun urusan mereka. Orang bilang penyebabnya adalah ketidak becusan pemerintah dalam menjalankan amanah. mungkin memang begitu. Aku memang mungkin tak begitu pilu, sebab, desa kita juga tidaklah senyaman seperti apa yang dilihat. Jalan yang tak pernah tersentuh perbaikan, entah berapa zaman tak juga mendapat sentuhan hasil pembayaran pajak. Tak pernah juga di eskpose semacam selebriti. Yang mereka tahu, desa kita ini lugu pak, jadi tak usah memiliki kenyamanan yang memanjakan.” Semangat bu Darmin, hingga tangannyapun ikut menunjuk-nunjuk yang ia maksudkan mereka.
“Tapi ibu nyaman tho bu? Coba kalau jalan di desa kita ini mulus seperti Jakarta, mungkin disini juga bisa banjir seperti di Jakarta. Mereka orang-orang pintar yang tinggal di Jakarta pun tidak bisa menangani, apalagi kita yang orang desa bu.” Pa Darmin menyeruput kembali kopi hitamnya. Kali ini ia mengambil satu buah singkong goreng yang istrinya simpan tepat di sebelah gelas kopi pak Darmin
Pak Darmin terdiam, asik menikmati rokok yang selalu setia istrinya sediakan setiap pagi sebelum ia pergi ke kebun.
“Orang kecil itu bu, lebih kreatif. Selalu mempunyai ide-ide dan ketahanan mental yang lebih. Ia kalaupun mereka kalah dengan kekuatan besar, mereka tidak akan menyerah melawan nasib buruk. Belum tentu orang-orang di sana kuat seperti kita tho bu. Setiap hari kita bisa makan hanya sepiring nasi dengan garam, dan selanjutnya pergi kembali bekerja di ladang. Dan kita tidak diberikan kesempatan untuk mengeluh oleh Yang Maha Kuasa.”
“Tak mengapa jalan ke rumah kita tidak pernah diperbaiki. Itu mencirikan bahwa kita adalah orang desa yang kuat. Jangan kita menggugurkan semangat, apalagi rasa cinta kepada sesama manusia. Seharusnya bu, kita mengingatkan mereka. kita ini masih diberi kesadaran oleh Allah untuk bisa menjaga lingkungan, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam. Kita seharusnya orang desa ini yang mengingatkan mereka, bu. Dunia selalu membuat orang lupa.” Pak Darmin menjelaskan pada istrinya yang dari tadi misuh-misuh saja.
“he’em”, bu Darmin menanggapi perkataan suaminya dengan singkat. Ia berfikir memang benar juga apa yang dikatakan suaminya.
***
Bu Darmin terdiam menerawang ke halaman depan rumahnya dengan tatapan kosong. Kota Jakarta adalah kota yang membuat bu Darmin sakit bukan kepalang. Pada saat itu rumahnya yang berada di salah satu komplek mesti direlakan dihancurkan untuk sebuah pembangunan industri.
“ibu harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Tanah ini kami beli dengan harga satu juta” ucap Satiman salah satu petugas yang datang ke rumah bu Darmin di Jakarta.
“subhanallah pak, sudah 10 tahun saya tinggal di sini. Ini tempat kelahiran anak-anak saya, saya sudah nyaman berada di sini, bapak dengan seenaknya saja membeli harga tanah kelahiran saya seenak bapak.” sambil menangis bu Darmin marah kepada orang yang berseragam yang katanya petugas itu.
“Tapi ini juga demi kesejahteraan masyarakat bu, perusahaan kami memiliki visi yang sangat bijaksana yaitu mensejahterakan masyarakat dan berlandaskan kemanusiaan yang adil dan beradab seperti tercantum dalam pancasila.!”
Bu Darmin hanya menangis karena ia memang tidak paham. Ini persoalan kemanusiaan katanya, tapi bu Darmin sama sekali tidak mengerti kenapa harus rumahnya dan rumah para tetangganya yang dijadikan lahan. Kenapa tidak lahan lain yang memang tidak ada manusianya.
Kemudian pak Darmin datang dengan wajah lelah sehabis bekerja.
“Ada apa ini bu?” wajah pak Darmin nampak heran melihat orang berseragam dan bu Darmin yang menangis. Dan salah satu petugas yang datang itu menjelaskan kembali perihal kedatangan mereka kepada pak Darmin.
“Subhanallah, ya sudah bu, kita tidak usah tinggal di kota ini lagi. Kita punya desa, punya kampung halaman yang menusianya lebih manusiawi daripada disini. Mari kita besok pulang ke Cilacap” jelas pak Darmin dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kekesalah yang amat mendalam.
“Nah, begitu dong pak, begini kan lebih enak. Ini demi kesejahteraan rakyat juga pak”. Dengan senyum puas petugas memberikan uang yang sudah dijanjikan itu kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut dengan hentakan sepatu hitam yang begitu keras menusuk jantung pak Darmin dan Bu Darmin.

Sebulan berlalu, rumah mereka sudah rata dengan tanah. Dan berdiri sebuah pabrik yang megah dengan ketinggian mencapai langit. Begitu cepat pembangunan itu.



Bandung, 5 September 2014
Read more