Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

30 Days Creatives #20 Ke Pekalongan

Pekalongan
Banyak yang harus disyukuri dari kehidupan ini, termasuk bisa mengunjungi daerah yang jauh dari tempat tinggal kita. Karena dengan begitu, kita bisa tahu diri sendiri, bisa tahu budaya orang lain dan merasakan banyak hal dalam sebuah perjalanan.

Jadi kali ini aku mau cerita tentang perjalanan aku kemarin ke Pekalongan. Pekalongan adalah salah satu daerah di Jawa Tengah. Daerah Pekalongan yang aku kungjungi kemarin berada di daerah Kota Pekalongan.

Transportasi Bandung-Pekalongan

Dari Bandung aku berangkat ke Pekalongan dari stasiun Bandung. Karena hanya dari stasiun Bandunglah yang ada rute ke Pekalongannya, sementara stasiun Kiara Condong tidak punya jalur ke sana.  Aku naik kereta Ciremai Ekonomi dengan harga tiket Rp. 130.000.

Baru pertama kali sebenarnya aku naik kereta dari stasiun Bandung, biasanya naik dari Kiara Condong. Dan stasiun Bandung memang lebih luas dan lebih ramai dari Stasiun Kiara Condong. Mulai dari tempat jajan makanan, seperti alfamart dan indomaret, ada beberapa di stasiun Bandung. Sementara di Stasiun Kiara Condong hanya ada Alfamart saja.

Aku baru tahu kalau dari stasiun Bandung, antara kereta Ekonomi, Bisnis dan Eksekutif berada dalam satu kereta. Hanya saja berbeda gerbong dan kursinya saja. Tetapi aku agak kaget waktu naik kereta Ciremai, karena kursi kereta Ekonomi Ciremai ternyata sangat nyaman. Dengan posisi duduk 2,2. Biasanya kan kereta ekonomi tempat duduknya 2,3. Awalnya sempat ragu kalau-kalau aku duduk di gerbong yang salah, tapi pas liat ke belakang. Dan banyak juga orang yang mau masuk ke gerbong ekonomi sedikit terkecoh dan nyebut gerbong itu sebagai gerbong bisnis. Padahal pas aku cek di atas pintu, di sana jelas tertulis ekonomi. Dan aku mulai lega. Cukup memuaskan lah untuk keberangkatan pertama ke Pekalongan.

Kereta ekonomi ciremai
Tempat duduk kereta ekonomi Ciremai
Sampai di Pekalongan

Perjalanan Bandung-Pekalongan sekitar 6Jam. Aku sampai di sana sekitar pukul 1 siang. Dan langsung nyari tempat makan. Banyak tempat makan di dekat stasiun dengan harga yang sangat terjangkau. Tepat di samping stasiun juga ada rumah makan dengan tempat yang sangat nyaman, dengan harga yang pasti. Jadi, kalo kalian dateng ke Pekalongan dan masih asing dengan tempatnya, makan di tempat itu lebih nyaman. Menu yang disajikan juga beragam, mulai dari soto hingga seafood, dengan beragam minuman yang cukup menarik.

Dan saat pulang aku gak mau kelewatan minuman khas Pekalongan, yaitu wedang Uwuh. Wedang ini rasanya memang seperti jamu-jamuan. Karena di dalamnya dicampur rempah-rempah, seperti jahe, sirih, cengkeh dan kayu yang kalau di seduh warnanya jadi merah (aku gak tau namany). Rasanya bikin badan jadi seger. Karena salah satu khasiat dari wedang Uwuh emang ngilangin capek dan pegal-pegal. Wajib dicoba deh kalo dateng ke Pekalongan.
Wedang uwuh

Pantai Dekat IAIN Pekalongan

Kota Pekalongan sangat panas, tapi suasana lingkungannya sangat adem. Mungkin karena tempat yang aku kunjungi termasuk pinggiran kota dan dekat dengan pantai. Untuk itu, aku gak mau ngelewatin kesempatan untuk mengunjungi salah satu pantai di Pekalongan yang dekat dengan IAIN Pekalonga. Gak tahu sih nama asli pantai itu apa.

Letak pantai tersebut gak begitu jauh dari IAIN Pekalongan, aku jalan kaki dari tempatku menginap bersama mahasiswa Pekalongan sana. Jarak jalan kaki memang cukup jauh, tapi kalau jalannya ngambil sore, enak banget sambil nikmatin kota Pekalongan di sore hari.

Sepanjang perjalanan aku ngerasa Pekalongan sama dengan daerah Pare, Kediri. Tempat jalannya sangat nyaman untuk para pejalan kaki. Polusi dari kendaraan juga tidak sepengap Bandung. Jalanan masih tidak terlalu ramai oleh kendaraan, hanya beberapa mobil dan motor yang melintas, sehingga jalan kaki menjadi sangat nyaman.

Sepanjang jalan ke Pantai, banyak pohon bakau yang ditanam di tepi pantai. Menjadikan suasana seram sekaligus romantis menjadi satu. Tetapi nampaknya daerah tanaman bakaunya bukan tempat wisata karena tempatnya lumayan rindang dan sepertinya agak membahayakan.

Sesampainya di pantai ada beberapa orang yang memancing, ada juga yang memandangi laut sambil melamun. Tapi tidak ada yang berenang. Karena ombak di sana cukup tinggi. Namun, menikmati senja di samping pantai memang sesuatu banget. Apalagi jika menikmatinya sambil minum kopi dan bercerita dengan teman. Pasti bakal lebih asik dan romantis.
IAIN Pekalongan

Museum Batik Pekalongan

Meskipun Pekalogan siang hari panasnya luar biasa, tapi aku gak mau ngelewatin satu hari terkhir di Pekalongan tanpa mengunjungi tempat wisata yang ada di sana. Karena Museum Batik letaknya gak jauh dari tempat aku menginap, cukup naek Gojek dengan harga Rp.4000 aku sampai di tempat itu tanpa lama-lama.

Datang ke museum itu sendirian, dan dengan percaya diri aku masuk aja karena penasaran. Dan harga tiketnya pun sangat terjangkau, yaitu Rp. 5000. Dengan harga tiket segitu, kita udah bisa masuk ke museum dan dapat pemandunya juga yang bakal ngejelasin sejarah dan filosofi dari setiap batik yang di pajang di museum tersebut. Dan yang palinng menarik, kita bisa langsung belajar membatik setelah di ajak tur ruangan pameran museum.

Koleksi batik yang ada di museum pekalongan berasal dari berbagai daerah. Kain-kain batik cantik di pajang dengan sangat rapih. Selain itu, di pajang juga alat-alat yang biasanya dipakai untuk membatik, seperti lilin, pewarna kain alami, dan kain. Di pajang juga pakaian khas pengantin serta pakaian sehari-hari yang merupakan ciri khas daerah Jawa.
Museum Batik Pekalongan


Yang menarik juga dari museum batik Pekalongan adalah cara mengawetkan bahan-bahan membatik bukan dengan bahan kimia. Tetapi dengan bahan-bahan alami yang disimpan dalam sebuah wadah seperti piring dekat dengan alat-alat tersebut.

Jawa, selalu memiliki sisi filosofis di dalam setiap karya seni yang mereka buat. Tentang kemanusiaan, tentang kehormatan, dan tentang tata krama dalam kehidupan manusia. Begitupun dengan batik, tidak goresan batik yang tidak memiliki makna. Semuanya memiliki nilai seni yang tinggi dan bermakna sangat dalam bagi budayanya.

Dengan begitu aku jadi berfikir, apa yang aku punya dalam budayaku? Apa aku sudah tahu banyak? Kenapa hal yang dekat dengan diri sendiri malah terlupakan, sementara budaya yang jauh lebih menarik. Mungkin benar saat orang berkata `jarak membuatmu lebih dekat`. Dengan mengenali budaya-budaya lain, aku jadi tau budaya aku yang tidak aku tahu itu dari segi apa. Dan apa yang harus dan tidak harus aku banggakan.

Setelah itu aku juga nyoba membuat batik dan ternyata gak semudah ngeliatin atau ngegambar pake pensil di atas kain. hoho..

Dan terakhir, minuman khas dari Pekalongan adalah dawet beras yang aku dapetin dari pedagang kaki lima di depan museum. Rasanya lumayan aneh sih, tapi lumayan deh ada rasa Pekalongan di sana. hehe..
Minuman Khas Pekalongan

See you on the next writing.. Love this journey so much.. so much much love for my god..
Read more

30 Days Creatives #19 Refund Tiket Kereta di Stasiun Kiara Condong

Stasiun Kiara Condong
Source : Serba Bandung
Jadi, karena bingung mau cerita apa, sekarang aku mau sedikit berbagi tentang Refund tiket kereta api di Stasiun Kiara Condong Bandung.

Jadi kenapa aku refund tiket kereta api tersebut? Begini ceritanya:
Aku kan ikutan tes CPNS gitu di Kemenag. Nah, setelah lulus pemberkasan, aku udah dapet jadwal buat tes CAT. Kebetulan tempat aku tes dan tempat aku apply CPNS sama-sama di Purwokerto waktu itu. Karena takut kehabisan tiket, gak lama setelah pengumuman, langsung deh aku pesen tiket kereta pake traveloka. 

Gak lama kemudian, beberapa jam, gak sampe satu hari setelah pemesanan ternyata ada pengumuman lagi perubahan jadwal dari Kemenag. Dan aku gak mau buru-buru balikin tiket waktu itu, karena Kemenag bilang kalau tes dan pengumuman tempatnya akan segera diumumkan kembali dalam waktu yang gak lama. Maka, aku putusin buat gak buru-buru refund itu tiket.

Dan ternyata, CPNS tahun 2017 ini agak ngeselin. Karena nunggu jadwal baru ternyata lumayan lama. Maka, terpaksa aku harus refund tiket sehari sebelum pemberangkatan. Takutnya kalau pas di hari H berangkat, aku telat dan gak bisa balik lagi tuh duit buat beli tiket.

Aku biasa beli tiket di Traveloka, karena gampang dan banyak pilihan gitu. Dan biasanya dapet poin dan banyak juga voucher yang bisa digunakan buat ngirit bayar tiket. Biasanya aku bayar di Alfamart terdekat, walaupun harus bayar biaya dll, aku tetep lebih senang beli di Traveloka.

Alhasil, aku harus refund tuh tiket ke Stasiun. Tapi ternyata refund tiket ke stasiun di Kiara Condong gak sesusah yang aku bayangin. Gampang banget, dan kayaknya si abangnya udah ngerti, karena mungkin banyak juga yang balikin tiket waktu itu. Bisa jadi, ceritanya sama kaya aku.

Gak mikir lama, aku langsung dateng ke Stasiun Kiara Condong waktu itu. Karena gak tahu harus ke mana dulu, aku langsung tanya aja ke bagian informasi/call center atau apa istilahnya lupa. Pokoknya dia ada di ruang depan yang ruangannya pake kaca semua. Datenglah aku ke sana dengan wajah bingung dan langsung nanya ke si mas-mas yang ada di sana.

Tanpa nanya kenapa dan bagaimana, si mas tersebut langsung ngasih aku kertas yang harus diisi di sana. Kalo gak salah aku harus ngisi nomor KTP dan alamat lengkap. Waktu itu aku belum cetak itu tiket di tempat nyetaknya.  Setelah itu aku langsung suruh antri di loket 1. Dan di informasi loket 1 tertara tulisan `Pengembalian Tiket`.

Gak lama setelah ngantri, giliran aku. Petugasnya langsung minta KTP dan kertas yang tadi aku isi yang dikasih sama call center di depan. Dalam data pengembalian, ternyata aku ngisinya cash. Aku kira kalo ngisinya cash bisa langsung dapet di sana. Dan ternyata harus nunggu beberapa hari sampe duitnya cair. Kalo udah cair, kita harus dateng lagi ke stasiun, dan aku males. Jadinya aku ganti sama nomor rekening. Biar kalo udah cair, duitnya bisa langsung masuk ke rekening.

Udah deh, abis itu aku pulang dengan keadaaan kecewa karena duit yang balik cuma seratus ribu dari total pembayaran segala macamnya sekitar 160ribuan. Waktu itu aku kembaliin dua tiket yang bareng aku beli buat temen juga. Potongannya sebenarnya cuma 25%, tapi karena pas di traveloka ada pembayaran lain, dan di Alfamart juga sama, jadi keitungnya lumayan gede.

Oke sekian ceritanya, semoga bermanfaat buat yang mau balikin tiket kereta ke stasiun.
Read more

30 Days Creatives #14 Ke Kota Sate Maranggi


Jadi kemaren tanggal 11 September aku dateng ke undangan temen di Purwakarta. Aku selama tinggal di Bandung belum pernah menginjak kota yang bernama Purwakarta. Sering banget denger nama kota tersebut, tapi gak pernah nyoba untuk berangkat ke sana. Dan kali ini aku dapet kesempatan buat pergi ke sana. Dengan kantong yang kosong, dan tekad yang kuat, aku dan temen berhasil ke sana dengan selamat haha.

Jadi aku mau kasih tau rute yang waktu kemarin aku pake sama temen aku, Ucu. Baik aku, maupun Ucu belum pernah ada yang ke sana. Jadi kita cuma pake petunjuk dari si Manten itu. Dan tujuan kita kemarin itu, ke kampung sebelum ke Wanayasa.

Jadi waktu itu kita naik dari Cileunyi pake bis ekonomi Garut - Bekasi. Pastikan ekonomi ya gaes, karena tarifnya bakal dibedain entar ke Purwakarta sama ke Bekasi. Kalian tau sendiri kan kalo pake bisnis, entar harganya di samain sama yang ke tempat tujuan terjauh. Nah terus kalo kita harus nunggu di bagian pagar masuk. Kan kalo di Cileunyi itu di arah tol ada pagar pembatas buat bis lewat. Nah pagar batas tersebut biasa dilewatin bis-bis ekonomi. Jadi pastikan buat nunggu di sana, biar bisnya gak kelewat.

Terus kita nanti harus turun di Sadang. Ongkos dari Bandung ke Sadang Rp. 22.000. Setelah itu kita naek angkot 01 ke Pasar Rebo dan tarifnya kalo gak salah cuma Rp.4000. Dan pas naek angkot aku takjub banget sama kota yang ada di Jawa Barat ini. Kotanya asri dan banyak pernak-pernik seperti lampion di atas jalan. Kayanya kalau malem, lampion itu dinyalain. Dan jadilah kota dengan cahaya lampion, dan pastinya indah banget. Terus kita juga ngelewatin air mancur terbesar se Asia Tenggara. Namanya air mancur Sribaduga. Tadinya kita mau mampir dulu ke sana, tetapi, karena aku kira kita bakal balik ke arah yang sama, jadi mending ke tempat tujuan dulu. Dan ternyata, kita pulang ke arah berlawanan, jadi sayang banget deh dilewatin. Terus katanya air mancur ini kalo malem minggu selalu dibuka dengan gratis, dan ada pertunjukan air mancur warna-warni gitu pake desain lampu kaya di luar negeri sana. Keren banget gak sih..

src : Suara Ekonomi
Setelah sampe di Pasar Rebo, kita naek ankot ke Wanayasa yang warnanya kuning. Arahnya cukup jauh, kita sampe bayar Rp.10.000 buat sampe ke sana. Dan setelah pulang dari kondangan itu, aku mampir dulu ke tempat jualan makanan ringan. Dan ternyata ada makanan kesukaan aku, makanan khas Purwarkarta namanya Simping. Simping itu rasanya asin, dan pake kencur. Jadi rasa kencurnya kuat banget. Buat temen ngopi atau ngeteh enak banget deh. Cobain.
males take foto sendiri, jadi ngambil dari Merah Putih.
Karena dateng ke kota jauh, kita gak mau ngelewatin kesempatan buat mampir di tempat wisatanya. Kebetulan ada tempat wisata yang dekat dari tempat yang kita kunjungin. Tempat tersebut namanya Situ Wanayasa. Ke situ Wanayasa kita naek angkot yang kuning tadi yang ke Wanayasa. Terus tanpa harus tanya kita entar bakal liat situ yang luas dengan penataan tempat wisata yang sempurna. Di sana banyak tempat makan dan tempat kumpul keluarga. Ada kafe yang nyaman banget, terus jalan di samping situ, enak banget buat di pake jalan sore, baik sepedahan atau jalan kaki. Dan di tengah-tengah situ tersebut ada satu makam yang dikeramatkan, katanya sih makam itu kadang suka di Ziarahi sama orang-orang yang datang ke sana.

src : Merah Putih

Kita gak naik wahana apa-apa di sana. Kayanya kalo hari libur kita bisa naek rakit ngelilingin situ. Tapi aku cuma nikmatin suasanya dan jalan ngelilingin situ. Hingga akhirnya kita nemuin tempat makan sate yang enak. Namanya sate bah Ocid. Sate bah Ocid ini tempatnya ada di sekitar situ. Di tempat paling ujung dari pintu masuk, di samping restoran-restoran gede. Dan sate bah Ocid ini luar biasa mantepnya. Sate maranggi buatan bah Ocid, katanya diolah dengan sate lokal. Dan dengan proses direbus dulu, jadi semua dagingnya tidak alot.
Kita disajiin tiga buah nasi timbel, mau dihabisin atau engga terserah. Dan satu tusuk harga sate bah Ocid, cuma Rp. 1500. Dan rasanya maknyus banget. Kita dikasih tiga macem sambel, sambel kecap, sambel goang, sama sambel kacang. Dan rasa dari semu sambel tersebut bikin seger dan mantep banget di pasangin sama tuh sate sapi. Luar biasa deh nikmatin keindahan danau sambil nikmatin sate marangginya khas Purwakarta. Karena kekenyangan pulang dari kondangan, kita cuma ngabisin satu timbel nasi sama 15 tusuk sate, dan harganya cuma Rp. 25.000 saja.
Nah, setelah dari Situ Wanayasa, kita pulang ke arah yang berlawanan dari kita berangkat. Kita pulang ke arah Subang. Dari Situ Wanayasa kita naek angkot ke daerah Cagak di Subang. Terus dari sana ada mobil elf jurusan Subang - Bandung sampe stasiun Ledeng. Udah deh nyampe Bandung dengan capek. Hehe

Jadi, kalo kalian ke Purwakarta, jangan lupain dua makanan khasnya. Simping sama sate Maranggi. Dan sate ini terkenal banget gaes di mana-mana. Bahkan di dinasnya aja sate maranggi dijadiin Go Internasional sama pemerintahnya. Keren baget gak sih.

Oke segitu aja tulisan hari ini, see you in the next trip and next journey gaes. Selamat pagi. Have a morning coffee.
Read more

30 Days Creatives #13 - Kereta Yogya ke Banjar Jam Siang

Jadi kali ini aku mau sharing bagaimana pulang dari Yogya ke Banjar untuk jam siang. Karena kalo diliat di jadwal pemberangkatan kereta dari Lempuyangan ke Banjar, kalian gak bakal nemu kereta yang siang. Adanya cuma kereta subuh sama malem. Jadi dateng ke Banjarnya entar bakal malem semua. Itu sih waktu aku kemarin cek-cek di Traveloka.

Jadi, kalo kalian mau pulang dari Yogyakarta dan mau nyampenya siang di stasiun Banjar, kalian harus naek kereta Prameks (Prambanan Ekspress). Buat naek Prameks mudah banget kok, kalian tinggal searching aja dulu di Google waktu pemberangkatan kereta Prameks. Nah, untuk beli karcisnya, kalian bisa langsung dateng ke loket di stasiun Lempuyangan. Dan langsung dateng ke bagian loket di sana. Di bagian loket itu ada waktu pemberangkatan kereta Prameks, dan kemana aja tujuannya. Harganya terjangkau banget, cuma Rp. 8000 dari Lempuyangan ke Kutoardjo.

Dan nanti kalian gak usah bingung dimana harus nyari kerete itu kalo udah masuk. Karena kereta tersebut tepat waktu dan di depannya ada tulisan PRAMEKS gede banget. Terus kursinya biasanya di tiket kita gak dapet tempat duduk. Tetapi sebenernya banyak tempat duduk yang bisa kita pilih sesuka hati. Intinya di kereta Prameks aturannya kaya di bis kota biasa, siapa cepat dia dapat. Dan kebetulan waktu itu aku dapet kereta yang kursinya kosong banget. Awalnya ragu harus duduk di mana, tapi pas liat orang-orang yang masuk mereka duduk di mana aja tanpa liat nomor kursi atau apa. Jadi kita bebas deh mau duduk di mana aja. Keretanya bersih dan nyaman banget deh pokoknya.

Jadi sebelumnya kita udah harus pesen tiket kereta Kutoardjo-Banjar. Dan harganya lebih murah kalo dihitung-hitung. Harga kereta Kutoardjo-Banjar itu sekitar Rp. 65ribuan. Dan kereta tersebut berakhir di stasiun Kiara Condong Bandung. Jadi cocok lah buat kalian yang juga mau ke Bandung dengan waktu yang menuju sore. 

Selamat jalan-jalan, have a nice trip. A go back savely and don`t forget to take a cup of coffee on the train. :)
Read more

30 Days Creatives #12 - Gembira Loka + SunMor + Jalan Kaki dan Makanan Murah di Yogya

Jadi ini malam terakhir aku di Yogya. Waktu tuh berasa nyerepet banget, udah kaya angkot ajah. Dua hari itu aku bener-bener habisin buat jalan-jalan. Nelusurin kota Yogya berdua dengan temenku. Dan kali ini jalan-jalannya bener-bener dinikmatin banget. Kita gak nargetin buat pergi-pergi kemana-mana, atau tempat mana yang harus ktia tuju dalam satu waktu. Yang kita cari cuma kenyamanan dan chillin time ajah.

Kali ini jalan-jalanku bener-bener berasa jalan-jalan dan menikmati setiap jengkal waktu. Aku juga gak banyak foto-foto atau nyari spot foto bagus buat di upload di Instagram. Kali ini aku kaya kalo nemu ya syukur, kalo enggak juga gak apa-apa. Yang penting kita bisa nikmatin tempat tersebut dengan hati damai tanpa harus buru-buru ke satu tempat dan ke tempat lainnya.

Makanya tiga hari tersebut, aku sama temenku cuma dateng ke tempat-tempat yang emang bisa kita kunjungi sambil jalan kaki. Tempat-tempat yang bisa aku kunjungin sambil ngobrol dan makan gorengan setelah lelah jalan. Dan akhirnya kesampean.

Gembira Loka

Hari ke dua di Yogya, aku ngabisin waktu buat jalan-jalan di kebun binatang. Nama kebun binatang di Yogya ini Gembira Loka. Sebelumnya sempat ragu, ngapain harus ke kebun binatang. Kan bau, kan kotor dan lain sebagainya. Tapi, aku tahu itu cuma hayalan aku. Karena aku belom pernah seumur hidupku ke kebun binatang. lolol. 

Kebun binatang Gembira Loka luas banget. Aku ngabisin waktu di tempat tersebut seharian dan ngelilingin seluruh tempatnya. Aku hampir gak berhenti keliling dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore. Kita cuma berhenti buat minum dan beli gorengan. Diselingi dengan cerita-cerita dan ngliat pertunjukan. Sisanya kita banyak jalan kaki dan liatin binatang-binatang.

Tetapi, dateng ke tempat kaya gitu sebaiknya kalian bawa minuman sama makanan deh. Soalnya harga makanan di dalem kebun binatang selangit. Fruit Tea aja Rp. 12.000, dan gehu ajah 2000 satu potong. Kan gile tuh. Jadi, lebih baik kalian siapin minuman dan makanan sebelum berangkat. Kalian beli lah dulu dari swalayan, dan bisa kalian makan di taman-taman kebun tersebut. Banyak spot yang bisa kalian gunakan buat nyantei dulu sejenak, pohon-pohon rindangnya juga nyejukin banget. Jadi cocok banget deh buat kumpul-kumpul keluarga atau sama temen-temen kalian.

Oh iya dan tiket masuk Gembira Loka waktu Agustus 2017 bulan ini Rp.30.000. Kata temen aku sih itu harga week end. Tapi jujur aku puas banget dengan harga segitu bisa keliling ke seluruh kebun binatang yang ditata dengan rapi dan dipoles dengan indah. Penataan tamannya sangat cozy banget, jadi betah lama-lama di tempat tersebut. Dan untuk kalian yang bawa bayi juga bawa kereta dorong buat bayi gak bakal kesusahan, karena jalannya sudah diatur sedemikian rupa biar bisa dilaluin siapa aja. Termasuk orang yang harus pake kursi roda.

SunMor

The Next Day aku dateng ke Sunmor, Sunday Morning atau pasar tumpah di UGM. Jadi setiap hari minggu di Yogya juga ada pasar tumpah, tempatnya di UGM. Gak tahu deh kalo di tempat lain di mana. Bedanya pasar tumpah di UGM sama di Bandung, kalo menurut aku sih lebih tertib ya. Jadi tempatnya kaya di jalan gitu. Para pedagan tertib banget bikin lapak di bahu jalan, atau di trotoar. Satu bagian lagi di bagian tengahnya jalan. Dan satu lagi di trotoar sebrang. Jadi pembeli tidak semrawut karena saling berlawanan arah.

Sama seperti yang lain, jualan yang di jajakan adalah makanan, pakaian dan barang lain. Dengan harga yang miring banget. Kalian di sini masih bisa nemuin tas kosmetik yang harganya Rp.10.000 dan barang dengan harga miring lainnya. 

Jajanan-jajan sederhana mulai dari telur gulung, telur bulat, sosis, hingga jajanan modern seperti zupa sup juga tersedia. Apalagi di sini kalian bisa nemui es gabus, jajanan anak tahun `90an dengan harga Rp.5000 ajah. Dan rasanya maknyus banget.
Terus kalo kalian cape dan pengen makanin jajanan kalian dulu sebentar. Kalian bisa masuk ke taman mesjid UGM. Tamannya adem banget, enak buat istirahat setelah jalan-jalan seharian di pasar tumpah tersebut. Pokoknya kalian rasain deh, beli es cincau sambil makan telur gulung di bawah pohon rindang taman mesjid UGM. Rasanya beuh, gak ada duanya dengan cozy nya.

Jalan Kaki

Jadi aku bilang ke teman aku kalau kali ini aku pengennya jalan-jalan itu yang jalan kaki banget. Dan ternyata bener, temen aku ngajak jalan kaki. Mulai dari di kebun binatang Gembira Loka kita jalan kaki nyusurin semua tempat di sana. Kita gak lewatin satupun. Pokoknya semua yang ada di peta kita telusurin. Dan memang manfaat yang aku rasain waktu jalan kaki itu, aku ngerasa bisa nikmatin apa yang ada di sekitar aku. Aku bisa nemuin pohon rindang yang daunnya berwarna kekuningan dan jatuh di atas kepalaku. Kemudian angin yang berhembus ngasih hawa yang sejuk setelah lelah berjalan. Itu tuh kerasa banget nikmatnya.
Terus menuju Sunmor UGM kita juga jalan kaki banget. Dari kampus UIN Sunan Kalijaga, menuju UGM kita jalan kaki. Dan setelah di cek di aplikasi Gojek, ternyata jaraknya hampir 3.1 KM. Kan lumayan bikin gempor kaki tuh.Tapi sumpah aku gak ngeluh, aku malah seneng bisa jalan kaki di sekitaran Yogya.

Jajanan Murah

Pulang dari Sunmor aku diajakin jajan di SS (Spesial Sambel). Jaraknya gak begitu jauh dari UNY. Jadi di tempat tersebut kalian bisa makan dengan pilihan sambel yang bermacam-macam. Kaya sambel ati, sambel tahu, sambel bawang goreng, pokoknya banyak banget pilihannya. Dan untuk lauknya, juga beragam mulai dari ikan, seafood, ayam dan telor juga ada. Dan untuk nasinya kalian bisa nambah lagi kalo kurang, dan yang pasti gratis loh.

Dan aku pesen ikan lele bakar yang tertera harganya cuma Rp.7000 satu porsi. Dan kalian tahu satu porsinya itu berapa ikan? Dua, sodara-sodara. Ikan lelenya itu gede pula. Bisa kalian bandingin lah gedenya sama yang biasa di jual-jual di pecel lele pinggir jalan Bandung. Dan itu kenyang banget. Sedangkan untuk sambelnya aku pesen sambel ati. Dan pedesnya luar biasa.

Jadi mereka kaya ngasih tahu level pedasnya gitu dengan kata-kata unik. Kaya `perhatian` atau gimana gitu di setiap menu sambelnya. Jadi itu buat ngasih tahu ukuran pedasnya. Dan aku kaget banget waktu liat harga di billnya. Harganya murah banget dengan porsi yang bikin puas deh pokoknya. 
Dan lagi, kalian jangan heran dengan harga-harga makanan yang murah-murah banget di Yogya. Aku aja kaget waktu temen aku beli lauk di samping kampus. Dia bisa beli sayur kangkung dengan harga Rp.2000 dan banyak. Dan jangan lewatin angkringan yah kalo ke Yogya, harga nasi kucingnya gak kaya di Jakarta, cuma Rp.2000 di sini mah. 

Oke jadi, segitu aja cerita Yogya aku. Aku mau pulang kampung, dan gak tahu aku bakal bisa nulis atau enggak. Soalnya kalo di rumah banyak banget godaannya. Semoga bisa deh ya. Dan aku tetep bisa produktif selama tiga puluh hari. Selamat malam. Have a nice day. And have a cup of coffee today :)
Read more

30 Days Creatives #11 - Tidak Ada Kota Semerindu Yogya


Aku udah sampai di Yogya dan udah jalan-jalan sore ke Malioboro. As I expected Yogya gak pernah berubah. Bahkan ia lebih ramah kali ini. :)

Waktu aku nunggu Gojek untuk pulang ke kosan, aku sempet kepikiran kenapa aku suka Yogya. Aku fikir, kota nyaman ini begitu rapih dan menyejukan karena orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang Yogya dan orang-orang yang ada di Yogya harus malu dengan keanggunan kota ini. Ketika mereka masuk ke kota ini, mereka mau tidak mau harus mengikuti aturan yang ada di kota ini. Tapi Yogya tidak memerintah, Yogya menunjukannya dengan kesahajaannya sendiri. Sehingga ketika orang lain melihatnya, dia akan bilan `oh betapa malunya aku ketika aku buang sampah sembarangan di sini. Oh betapa tidak pantasnya aku ketika aku tidak tertib di sini`.

Ya, aku akan berkata seperti itu ketika aku datang ke kota ini. Selalu. Aku sempat gak tega liat sampah yang berserakan dekat tong sampah. Karena lingkungan di daerah sekitar Malioboro saja sudah cukup bersih, sehingga untuk buang sampah sembarangan harusnya malu.

Tetapi sayangnya, di daerah Taman Pintar masih saja ada yang buang sampah sembarangan. Nyimpan gelas plastik bekas es di atas pagar. Apa kalian gak malu coy kota seindah itu kalian kotorin?

Mungkin ada kota yang tatanannya tidak jauh berbeda dengan Yogya. Yang mana, kalian bisa duduk santai di samping jalan sambil menikmati kopi panas. Kalian juga bisa berfoto ria dengan teman dengan beberapa hiasan taman yang indah. Tetapi, kalian gak bakal bisa nemuin orang-orang yang isinya seperti di Yogya. Mereka yang pakaiannya sederhana namun kualitas isi kepalanya yang high quality.


Kendaraan Umum

Dateng ke Yogya kalian gak usah khawatir dengan kendaraan umum. Kalian gak bakal kesusahan kalo dateng ke kota ini. Karena gojek sekarang udah di mana-mana, dan tarif gojek di Yogya katanya sih paling murah. Kalian bisa dapet tumpangan gojek yang nyaman dari Malioboro ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hanya dengan harga tujuh ribu, harga Gopay. Dan kalaupun harga biasa cuma sepuluh ribu. Murah banget kan? Padahal jarak dari Malioboro ke UIN Yogya lumayan jauh loh.

Selain Gojek, kalian juga bisa naik trans Yogya dengan tarif cuma tiga ribu lima ratus rupiah jauh dekat, dan jangan takut tersesat. Karena setiap shelter ada mba-mba baik yang bisa kasih tahu kalian harus naik kemana dan turun di mana untuk pergi ke suatu tempat. Enak banget dah kalo kalian mau main ke Yogya.

Cukup deh tulisan hari ini. Aku masih kecewa dan kurang mood karena jagoanku di Show Me The Money 6 kalah. Junoflo :( 
Read more

30 Days Creatives #9 - Siap ke Yogya Lagi

Gak tahu udah berapa kali menyambangi kota ini, tapi tetep aja mau balik lagi.

Yogya bagiku adalah kota yang sangat indah yang dipenuhi dengan nuansa budaya yang kental. Mulai dari suara orang Jawanya  saat berbicara, gaya bangunannya, udaranya, dan segala hal tentang Yogya aku sangat tertarik.

Pulang pergi Yogya naik kereta entah udah berapa kali. Baik itu untuk cuma liburan ataupun untuk keperluan organisasi bareng temen-temen. Apakah ada kota di luar sana yang seindah Yogya? Aku sering banget ngarep tinggal di sini, meskipun aku belum banyak usaha dan belum terlalu berani untuk melakukannya. Maka dari itu, sekarang setelah lulus ini aku nyobain untuk berangkat sendiri ke sana. Ya, dan benar-benar sendiri.

Waktu ke Yogya kemarin emang sempet aku berangkat sendiri dari Kiara Condong ke Yogya, tapi temenku nunggu di stasiun Banjar. Waktu itu kita mau liburan bareng. Dan sekarang sih bener-bener sendiri.

Waktu Tiba Beda

Seingat aku dulu sewaktu ke Yogya aku bisa ngabisin waktu sampai 12 Jam di kereta. Itu udah aku kalkulasiin setiap pergi ke sana. Tapi kok sekarang cuma 8 Jam ya? Apa aku yang salah perhitungan waktu? Jadi sekarang aku berangkat dari Kiara Condong itu pukul 06.30 terus datang ke Lempuyangan jam 03.00 pagi. 

Dan gak ada waktu lain sekarang selain jam tersebut untuk kereta ekonomi Kahuripan. Karena kalo naik Pasundan aku harus berangkat jam lima subuh dan bingung berangkat dari sini naik apa. Bukan gak ada kendaraan dari Bandung ke sana, angkot di Bandung beroprasi 24 jam. Tapi ya, kalian tahu sendiri betapa gak amannya cewek kalo berangkat sendirian malem-malem. Dan aku gak pernah berani berangkat sendirian malem-malem. Dan kalo dikalkulassin, dari Cibiru ke Kiara Condong butuh waktu kira-kira 20 menitan. Aku harus berangkat dari sini pukul 4 subuh, karena harus nuker tiket dulu dan lain-lain.

Tujuan ke Yogya Kali Ini

Kali ini tujuanku pergi ke Yogya untuk ketemu temen lamaku. Waktu aku sering ke Yogya, biasanya kita sering kontekan di sana, ketemu dan sebentar banget. Dan sekarang aku nyempetin waktu untuk ketemu di sana. Dia temen kampungku memang, tapi belum pernah punya waktu bareng untuk jalan-jalan atau sekedar ngopi di angkringan bareng.

Di Yoyga, aku pengennya tuh duduk santai sambil ngopi dan liatin orang jalan. Menikmati kopi di pagi hari sambil dengerin petuah dari orang sana ataupun cerita kakek-kakek tentang indahnya kota Yogya zaman dahulu. Atau berdiskusi ringan dengan anak-anak Yogya yang kritis.

Aku sebenernya bukan orang yang suka jalan-jalan untuk liburan. Seperti dateng ke suatu tempat cuma untuk ngambil foto selfie dan di pajang di sosial media. Terus bela-belain ngambil spot selfie yang bagus cuma untuk bergaya layaknya seorang foto model. Aku bukan tipe orang seperti itu. Dan bisa dibilang aku orang yang ngebosenin, perempuan tua yang terjebak dalam tubuh anak muda.

Bagiku, liburan adalah waktu buat nenangin fikiran dari rutinitas biar gak bosen. Bercerita dengan orang-orang, dengerin cerita orang-orang, karena aku bukan orang yang pandai bercerita, jadi aku lebih seneng dengerin orang cerita, sambil ngopi-ngopi santai. Sehingga rumah biasanya menjadi tempat ternyaman untukku menghabiskan liburan. 

Dan daripada jalan-jalan ke Mall belanja barang-barang mahal yang nantinya rusak juga, atau beli makanan di mall dengan brand yang udah go international, aku lebih suka jajan di angkringan makan nasi kucing dengan sambel dan ikan teri. Wuih mantepnya luar biasa. Atau makan nasi pecel di Malioboro pagi-pagi juga enak banget sambil liatin yang jalan-jalan di pagi hari.

Belum pernah kan nongkrong di Malioboro pagi-pagi sebelum toko-tokonya buka? Asik deh pokoknya. Kita bisa jalan-jalan di sana dengan area yang masih kosong. Biasanya pagi-pagi masih banyak yang belum siapin lapak, jadi banyak yang dagang-dagang pecel nangkring jualan di sana. Ah pokoknya suasana edun pisan nyamannya.

Sehingga untuk keberangkatan ke Yoyga sekarang aku gak minta ditemenin jalan kemana-mana ke temenku itu. Aku cuma mau nikmatin angkringan dan ngobrol-ngobrol aja tentang rencana ke depan kita setelah kuliah. Aku harap Yogya bisa nyambut aku dengan ramah lagi kali ini. Dengan cerita yang berbeda dan nuansa yang gak bisa aku dapetin di kota Bandung.

Oke itu aja dulu deh, semoga aku bisa dapet cerita di Yogya yang lebih menarik. Bismillah deh. Have a nice a day, have a cup of coffee today. :)
Read more

30 Days Creatives #3 - Jalan-jalan ke Sumedang (Bakso Kelapa, Air Panas, Paralayang dan Gunung)

So yesterday i had a handfull of happiness. Thank you for my two friends who invite me to join with your trip. Love you so much.

Oke, jadi kemaren itu dari hari kamis aku dan kedua temenku (Mba dan Ade) jalan ke Sumedang buat maen ke rumah temennya Mba sewaktu kuliah S1. Dia tinggal di rumah yang cozy banget, sewaktu makan di tempatnya, kita di ajakin buat makan di ruang belakang. Dimana ruangan tersebut langsung menghadap ke ruang terbuka, di depannya ada empang dan di sisi lain ada pemandangan sawah yang sejuk banget. I am forget to take picture of that.

Tahu Sumedang yang Beda


Dan yang mengesankan lagi rumah Mey (temen Mba) itu kita disuguhi makanan khas Sumedang. Yaitu tahu Sumedang. Yap, tahu sumedang yang Mey suguhin ke kita agak berbeda dengan tahu Sumedang yang biasa aku lihat di tempat-tempat lain. Biasanya kan kalo di tempat lain tahu Sumedang itu dalemnya kosong, tapi ini kayak tahu asal Ciamis, ada isinya gitu. Dan rasanya... mantep bangettt.. Apalagi waktu itu tahu Sumedang disajikan dalam keadaan masih panas baru digoreng. It feels like you just finding of foods after stoping to eat for a month. lol.



Curug 

Tempat jalan-jalan di perkampungan tidak pernah lepas dari yang namanya curug atau bahasa Indonesianya, air terjun. Curug atau air terjun sangat umum di tempat-tempat yang agak tinggi seperti di pedesaan. Dan air terjun yang kita kunjungi dijaga oleh masyarakat sekitar. Karena berfungsi sebagai pengalir air di seluruh kampung tersebut.

Sebelum kita naik ke atas bukitnya untuk melihat curug utama, ada tempat untuk membeli tiket. Harga tiketnya cuma Rp. 3000. Di tempat tiket tersebut banyak tempat yang nyaman untuk berteduh atau menyeduh kopi sambil makan pop mie. Katanya, di tempat tersebut juga ada tempat menyewa hamock. Tahu kan hamock? Itu loh kain mirip ayunan yang diikat di dua pohon terus kita kayak duduk santai gitu atau tiduran mirip kepompong. 

Curug yang kita tuju lumayan jauh untuk jalan kaki bagi pemula. Tetapi bagi yang biasa jalan kaki, jarak tempuhnya tidak terlalu jauh dan ringan, sebagaimana yang saya rasakan. Dan here it is... setelah kita sampai di curug..

Biasanya kan ya, di curug itu airnya dingin banget sampai-sampai kita menggigil gitu. Tapi disini enggak. Karena mungkin air terjunnya tidak terlalu tinggi, jadi cipratan airnya gak bikin udara terlalu dingin. Pas banget kalau mau ngadem tapi gak mau menggigil.

Pemandian Cipanas


Pulang dari curug, kita langsung cus ke pemandian air hangat di Cipanas. Awalnya kita mau mandi di kolam renang air panas di Sumedang yang cukup rame (katanya) karena ada kolam renang dan tempatnya juga sudah tertata sebagai tempat pariwisata. Tetapi sayangnya sore itu kita gak bisa mandi di sana. Why? karena pas sore sebelum magrib itu di sana penuh dengan laki-laki yang sedang mandi. Dan... almost naked. Kita gak jadi mandi di sana, karena terlalu ngeri.

Ternyata tempat itu memang enak buat liburan. Di sana disediakan juga penginapan bagi orang-orang yang ingin menginap, dan yang paling penting dan great banget dari tempat itu, dibuka 24 jam. Uwow banget gak sih. Kalo kita nginep di sana, kita bisa kapan aja nyebur ke kolam pemandian air panas.

Dan lagi, kalau gak mau mandi berbarengan di tempat umum. Disediain tempat kaya kamar mandi berbentuk bathtub. Harganya Rp. 20.000 per kamar. Tetapi lagi nih, gak disediain air dingin buat meminimalisir panasnya. Jadi, kalau mau ditambah air dingin, tunggu aja sampe air jadi dingin atau tiupin lol.

Akhirnya kita gak jadi mandi di tempat tersebut, because that condition. Dan memilih pemandian air panas yang katanya kurang laku. Dan memang sewaktu kita datang ke sana, air mandi tersebut sepi banget. Kaya ada beberapa penjaga aja, kamar buat mandinya juga gak terlalu banyak. Di tempat itu kaya kita disediain kamar mandi besar dengan bak ukuran besar yang bisa digunakan sekeluarga buat berendam. Disediain juga air dingin biar gak terlalu panas. 

Kampung Toga


And the next day, perjalanan di lanjutkan ke kampung Toga. Kampung toga ini adalah kampung yang berada di perbukitan tempat main paralayang. Tempatnya nyaman banget dan memang didesain untuk tempat wisata. Dan view yang di dapat dari tempat tersebut amazing banget. 

Sebenernya kita datang ke sini buat liat yang main paralayang, dan ikut main. Tetapi sayangnya para pemainnya sedang ikutan lomba. Jadi kita cuma bisa foto-foto dan temen aku nyobain driving ATV, yang harganya Rp. 25.000 per putaran.


Disediain juga tempat kaya kafe gitu yang langsung menghadap ke tempat terbuka. Bikin kafenya adem banget dan cozy. Desainnya sangat natural, semua bahannya pake kayu gitu. Nice place for you and your friends deh.

Gunung Kunci

The next is Gunung Kunci. Yap, tempat wisata gunung Kunci ini terkenal dengan keindahan viewnya. Biasanya tempat ini bagus dijadiin buat preweding photoshoot. Di tempat ini juga ada tempat bersejarah berupa benteng Jepang yang dipakai buat penjara zaman dahulu. Dan karena tempatnya sudah disulap menjadi tempat wisata, benteng tersebut menjadi sangat menarik dan sangat ikonik. Kita bisa masuk ke dalam benteng tersebut, tempatnya sangat gelap tapi tidak terlalu panjang untuk di lalui. 

Tiket pengunjung untuk masuk ke gunung kunci hanya Rp. 3000. Kita bisa sewa hamock juga yang harganya Rp. 10.000 dengan tanpa batasan waktu. 


Situs gua Jepang

Pintu masuk gua Jepang

Bakso Kelapa

And the last scene is Bakso Kelapa. Dan ini yang paling spesial di akhir perjalanan kita tiga hari itu. Sepulang dari Gunung Kunci, kita kelaperan dan kepalaku sedikit pusing karena perjalanan yang cukup jauh. Dan mikir kalo makan yang pedes-pedes biasanya bikin pusing cepet ilang. Akhirnya Mey ngajak kita buat makan bakso Kelapa.

Dari namanya aja udah ketebak gimana bakso ini bakal disajikan. Yap, bakso kelapa disajikan dalam cangkang kelapa beserta isinya yang setengah matang atau masih berupa dawegan. Sebelum aku campurin garem gitu, bakso kelapa ini rasanya kaya sup iga. Dan katanya, airnya ini 100% air kelapa. Dan air kelapanya ini ngaruh banget buat bikin rasa gurih pengganti mecin. Keren banget kan.

Aku kira rasa bakso kelapa ini bakalan aneh. Karena dalam fikiran aku, kelapa itu manis dan bakso itu asin. Kalau dicampur apa dirasa. Tetapi ajaibnya, rasa yang dihasilkan dari bakso kelapa ini nikmat banget. Dan lebih enak dibanding dengan bakso biasa yang pake mie. Rasa manis dari buah kelapa itu sendiri berubah menjadi gurih yang pas dengan rasa asin bakso. Pokoknya gak bisa digambarin dengan kata-kata deh nikmatnya.

Ok, this my 3rd day. I hope you guys have a great days, and see you on the next writing. Have a morning stories everyone..


Read more

Jalan-Jalan Ke Cililin

Sudah enam tahun lebih tinggal di Bandung, tapi baru pertama berkunjung ke Cililin. Yang ada dalam bayangan saya, Cililin selayaknya sebuah desa dengan sawah-sawah, kebun-kebun dan jalan yang tidak ramai. Serta mobil yang masih jarang. Tapi ternyata
Read more

Cara Termanis Liat Moonlight di Pangandaran

Kata Mas Rangga, traveling sama jalan-jalan itu beda. Kalau traveling, kita tidak tahu kemana kita akan berkunjung sedangkan liburan
Read more

Jalan-jalan ke Wanaraja, Garut

[caption id="attachment_583" align="alignnone" width="300"]SAMSUNG CAMERA PICTURES Self camera[/caption]

Januari 2016 kemarin, saya dapat kesempatan berkunjung ke rumah teman di Garut. Tepatnya daerah Wanaraja. Saya sering ke Garut, tapi hanya lewat saja kalau pulang ke Ciamis. Tapi kali ini benar-benar mengijakan kaki di tanah Garut dan menghirup udaranya langsung. Untuk niat liburan, ini memang pertama kalinya datang ke Garut.
Read more

Kembali ke Jakarta

[caption id="" align="alignnone" width="480"] image source : www.youtube.com[/caption]

Selalu mendapatkan kesan yang sangat menggembirakan setelah jalan menuju Cikini bersama teman-teman. Ada dimensi yang luar biasa hebatnya, muncul kedalam pikiran yang sedang merindukan sesuatu, yang entah apa sesuatu itu.

Kemarin sore saya dan teman-teman berangkat ke TIM (Taman Ismail Marzuki) di Cikini dengan keadaan hujan deras menunggu bis Garut/Tasik – Lebak Bulus. Kami menunggu di bawah hujan dengan kilat yang menyambar-nyambar di langit. Tapi, ada rasa bahagia saat kembali bisa merasakan aroma hujan. Aroma yang mengantar untuk melakukan suatu hal yang menyenangkan. Saya pun menikmatinya, meskipun saya kasian melihat teman-teman yang baru pertama kali kesana harus diguyur hujan deras. Tapi mereka laki-laki dan juga aktifis, saya rasa tidak masalah.
Read more

Cigalontang

Mana bisa aku melepas cinta sedalam ini



image source : http://terselubung.in/[/caption]

Pada hari senin 21 April 2015, seorang Perempuan dan teman-temannya berniat mengunjungi temannya di Cigalontang. Setelah beberapa bulan meninggalkan teman-teman sebayanya, rindunya diakhiri dengan hadiah perjalanan kecil. Ia amat yakin, seyakin ia pada Tuhan yang sering ia temui lima kali sehari atau lebih singkat dari itu, pada perjalanan kali itu akan menjadi perjalanan yang mengesankan. Seperti sebelum-sebelumnya.

Cigalontang adalah daerah yang berada di Tasikmalaya.
Read more

Next Destination

Untuk selanjutnya, semoga nasib bisa membawaku kepadamu.
Read more

Komunitas Lima Gunung

Malam itu, bulan Juni tanggal 16 tahun yang sama saya dan teman-teman pergi ke acara bulanan Kenduri Cinta. Tema yang diangkat saat itu adalah "Bayang-bayang Para Ksatria". Malam itu sekaligus merayakan acara ulang tahun Kenduri Cinta. 

Sebelum pukul 20.00, di Taman Ismail Marzuki (TIM) sudah terlihat orang-orang yang hadir. Kami seperti biasa mampir di depan panggung Kenduri Cinta, mengganjal perut dengan nasi kucing, gorengan dan sate jeroan.

Pukul delapan lebih acara sudah dibuka dengan membaca alquran bersama, dan pemaparan tema oleh beberapa orang di depan. Yang sangat menarik malam itu adalah kehadiran komunitas Lima Gunung.

Mas Tanto Mendut, yang membawa Komunitas Lima Gunung malam itu duduk di depan, dan memimpin penampilan 53 orang perwakilan Lima Gunung. Perbincangan diawali dengan definisi Ksatria yang diangkat menjadi tema malam itu, dengan kesimpulan dari dalang yang merupakan anggota Lima Gunung, bahwa ksatria adalah ia yang konsisten pada tugasnya. Hal ini tidak lain diangkat dari realita yang terjadi pada pemilihan presiden saat itu dan seperti sebuah sindiran pada mereka yang mencalonkan diri menjadi presiden. Dan tarian Tembang Gunung mengawali penampilan Lima Gunung. 

Tembang Gunung dibawakan oleh beberapa orang perempuan, lelaki dan anak-anak. Diawali oleh kawih Jawa yang entah apa arti dan judulnya saya gagal faham. Tapi disana saya sedikit mengerti nyanyian tersebut berupa wejangan. Kemudian tarian disambung dengan datangnya empat orang pria dewasa, dengan dandanan gagah ksatria. Badan kekar, pandangan tajam dan tidak pernah membungkukan badan. Kumis tebal yang menunjukkan wibawa yang agung. Serta tarian yang menggambarkan berani dan siap melawan. Sungguh pemandangan menakjubkan yang sering saya tunggu-tunggu. Dan tarian diakhiri dengan tembang ayo maju, maju terus pantang mundur, maju sampai penghabisan.

Gambar dari web lima gunung


Yang ketiga, berjudul warok anak dan hiphop. Mas Tanto berujar, bahwa mereka dipengaruhi Los Angeles, Frank Sinatra, Institute Kesenian Jakarta, pidato-pidato yang kurang kultural dari tim sukses, intinya mereka sangat terbuka pada pengaruh-pengaruh, terutama khazanah Jawa yang rumit. Tarian itu dibawakan oleh delapan orang bocah berpipi kembung yang membawakan warok dan satu orang anak muda berkacamata hitam yang menari hiphop  dengan tubuh yang amat lentur. Paduan tarian tradisional dan modern menjadi sajian yang sangat meriah malam itu, suara musik yang bersemangat membawa suasana fikiran menjadi gegap gempita. Di tengah-tengah tarian warok ada adegan teatrikal antara dua bocah yang paling kecil. Mereka seolah sedang bertengkar, saling beradu kepala dan saling menantang dengan gagah. Katanya ini diibaratkan sebuah keberanian saat melawan dan berhadapan dengan musuh.
Gambar dari web lima gunung

Selanjutnya puisi yang dibawakan oleh Atikah seorang anak muda dari desa yang senang berpuisi, dan Mba Tias yang merupakan direktur utama Borobudur dan Candi Prambanan. Dilanjutkan dengan tarian yang berjudul kipas nego yang dibawakan oleh ibu-ibu dari Lima Gunung.

Komunitas Lima Gunung terdiri dari paguyuban warga dusun yang tinggal di daerah yang dikelilingi lima gunung di Magelang. Yaitu Merbabu, Merapi, Sumbing, Andong dan Menoreh. Orisinalitas Indonesia mereka bawa dari desa, dengan ketulusan dan cinta mereka terhadap kebudayaan yang memiliki pesan yang sangat tinggi terhadap kehidupan. Selain itu, seperti yang dipaparkan mas Tanto bahwa Lima Gunung menciptakan budaya yang tidak dilakukan oleh orang-orang kota yang disebut modern. Misalnya, kamar mandi di rumah mereka lebih bersih daripada TIM atau UIN Jakarta, serta meraka adalah orang yang selalu tepat waktu dimanapun, tanpa ada yang membawa jam.

Read more

Mengejar matahari pagi pangandaran


Tepatnya selasa tanggal 9 januari 2012 saya dan teman-teman perbandingan agama meluruskan badan setelah lama berbungkuk-bungkuk di bangku kelas, mendengar dan melihat para dosen yang selalu dengan hati datang ke kelas. Kalau kemarin perjalanan setelah UAS itu ke Pangalengan, lain halnya dengan liburan UAS kali ini, kami menghabiskan waktu di Pantai Pangandaran.
Penyerbuan kerumah kawan yang rumahnya dekat menuju pantaipun tak kami lewatkan. Makanan minuman sudah tersaji seolah senang menyambut kami.

Tak ingin melewatkan cantiknya matahari yang baru bangun tidur, kami memutuskan untuk berangkat lebih pagi. Pukul 4 dinihari kamipun berangkat menuju pantai dengan sebuah mobil elf mini yang dibebani 14 orang. Sepanjang perjalanan hati bergumam berharap-harap cemas dan memanjatkan doa semoga sang surya tak dulu bangun. Nafas yang turun naik dan hati yang penasaran ingin segera sampai. Nafas-nafasyang menunjukan kegelisahan akhirnya terjawab dengan datangnya kami ke lokasi pukul 05.30 dan awan yang murung sehingga matahari enggan berseri.


Walaupun demikian, tak ingin kami lewatkan pagi dipantai dengan senda gurau dan narsis ria yang selalu kami bawa kemanapun. Sebelumnya kami sejenak menahan untuk meneruskan menjamah pantai yang merona, karena ingat kalau kami belum shalat subuh. saya dan seorang teman pergi untuk mencari kamar mandi dan mushola. Tempat yang kami kunjungi itu tampak seperti tumpukan sampah dan tempat berkembang biaknya hewan yang tak kusukai, bau yang tidak enak tetap kami terobos karena takut kehilangan waktu shalat subuh. ditambah lagi dengan penjaga kamar mandi yang menyeramkan seperti di film-film horror.
Menuruti permintaan perut yang tak bisa dikompromi lebih tepatnya ingin segera melahap hidangan yang sedari tadi kami terlantarkan, dan dibiarkan duduk dibawah karena tak ada kursi kosong lagi. Sopir membawa kami ke tempat yang katanya nyaman untuk makan. Sepanjang perjalanan menuju tempat makan, pemandangan pantai memanjakan mata yang biasanya melihat jejeran tulisan bulat lengkung dan jangkung. Selain pantai, banyak saung imut yang diberi nama dengan nama wanita-wanita. Saung itu Nampak penuh dengan rahasia, karena mirip kamar yang dibiarkan tertutup padahal pemandangan pantai indah didepan mata. Kami sampai disuatu tempat yang disana bertengger dengan anggun saung kecil. Didepan saung itu ada sebuah kapal terbang yang terlantar dan diabadikan oleh penduduk, kapal yang konon katanya terbawa saat sunami pangandaran tempo lalu.

Puas menyantap hidangan dari tuan rumah, kami lanjutkan perjalanan ketempat yang katanya biasa dipakai untuk berenang. Setelah sampai dan tawar menawar harga perahu berangkatlah perahu menuju pantai pasir putih. Kenapa pasir putih? Yang saya lihat sendiri sih pantai itu pasirnya berwarna putih.
Pasir putih menjadi inti perjalanan kami. Disana kami bermanja-manja dengan ombak duduk dipantai dengan pasir yang merekat seperti bulu-bulu boneka. Laut yang terus menggoyang-goyangkan air menumpahkan ke sisi pantai menggoda kami yang enggan menjamah tengah laut. Angin pun terasa seperti belaian seorang dewi, membelai lembut membawa aroma alam yang sangat bersahabat.

Pecah tawa tak juga reda, ombak yang datang seperti kakek memanjakan cucu yang sudah lama tidak bertemu. Kakek yang sangat kuat dan cucu yang lemah, sehingga mentari yang semakin terik tak terasa menyengat kulit yang terasa semakin gelap.
Menjelang senja, kami pun berkemas dan say goodbye pada laut dan ombak yang mulai mengacuhkan kami. Guyuran hujan menemani perjalanan pulang dan tubuh yang seolah memaksa cepat-cepat ingin berbaring, dan mata yang memaksa terpejam dan dipaksa dibuka sehingga membuat wajah-wajah yang gembira tadi menjadi layu.
Read more

Kutub Pangalengan dengan keseksian alamnya

pangalengan adalah salah satu tempat di daerah Bandung, kalo gak salah mah bandung barat. yang masih memiliki keindahan alam yang terus terjaga. dan termasuk daerah pegunungan yang sangat asri berbeda dengan kota-kotanya yang penuh polusi
            Pemberangkatan yang janjinya jam 09.00 ternyata ngaret abis,sampai jam 12. Ckckc… setelah itu kita berangkat. Dateng ke pangalengan sudah mulai mencium bau aroma dingin yang padahal matahari sangat terik, namun aroma dingin itu sudah mulai Nampak. Wadoowh siap-siap dah menghadapi dingin kutub pangalengan.



Situ Cileunca
            Sorenya tanpa isitahat lama-lama kita langsung tancap ke Situ Cileunca, dari rumah temenku yang entah daerah apa, perjalanan menuju Situ Cileunca cukup dilewati dengan berjalan kaki. Entah berapa KM, tahu-tahu kaki udah bengkak, namun semua itu tak terasa dengan suguhan alam yang elok.
Suasana kaki mulai tak bersahabat, namun di tengah perjalanan itu, kita sudah mulai melihat siluet situ cileunca, walaupun kaki sudah tak bersahabat namun sewaktu melihat situ dari kejauhan semua peluh hancur dah,,,. Sampai di Situ, mata melotot memandang keangguanan Situ Cileunca, indaah banget.

           Curug (air terjun) Dewa
Paginya setelah melewati dingin malam yang sangat extrim, perjalanan dilanjutkan kesuatu tempat di pagi itu, tanpa dimulai dengan sarapan hanya segelas susu murni mengantar perjalanan pagi itu. sama temenku yang punya pangalengan,,, maksudnya orang pangalengan ntu, kita dibawa menyusuri hutan, namun perlu tahu hutan disana gak kayak di Ciamis, Hutan disana banyak ditumbuhi sayur-sayuran, dan padang rumput. Indah banget,, namun keindahannya terhapus dengan lelahnya kita berjalan entah berapa puluh kilometer. Tanya sama pemandu, katanya sebentar lagi, namun,,, weiiik sebentarnya itu kayaknya 5 KM.. ckckc.
Sampai di PLTA cisangkuy, kita sempat istirahat sambil foto-foto pastinya, sebelum diusir sama petugas..hehe. perjalanan dilanjutkan dah. Sampailah kita di suatu tempat, dengan perjalan yang sangat melelahkan, penuh perjuangan ternyata kita menuju Curug, namun huffft sampai disana Curugnya lagi kekeringan …hiks… tapi ada satu lagi curug penolong kita, namanya Curug Dewa, yang letaknya didalam atau dibelakang curug tadi. Dan…. Hmmm aroma alam semakin membuat dahaga. Indah banget…. Dengan air yang amat sangat dingin.
Pulangnya kita gak ke jalan setapak tadi, tapi sekarangmah lewat jalan gede, namun jarang ada yang lewat selain petani kayaknya. Diperjalan itupun pokoknya keindahannya gak ada habisnya dah, sepanjang perjalanan sayur-sayuran bertengger, pohon-pohon penghasil pertanian juga nangkring dengan gagahnya. Cckckkc kaya banget pokoknya. Iri sama pangalengan…

Pemandian Air Panas Cibolang
Kita melanjutkan perjalan ke Cibolang, dengan menyewa mobil colt. Kita berangkat ke Cibolang sore itu, dan gak nyesel pokoknya perjalan dengan mobil Colt, coz karena dengan mobil entu, kita bisa menikmati keindahan kebun Teh yang amaaaaat luas, dan konon katanya kebun teh disana teh bekas syutingnya film My Heart Acha sama Irwansyah, inget gak? Paradisooo banget… indaaah.
Dengan merogoh kocek tiket masuk yang kurang dari 10.000 kayaknya,Sampailah kita di Pemandian air panas Cibolang kita disuguhi berbagai macam pemandian, ada pemandian terapi ikan, pemandian air hangat dll. Dengan tak sabar kita nyemplung dah ke kolam, dannn hmmm gila panas banget, setelah berendam beberapa lama, kita naik karena airnyapun mulai surut mungkin karena udah sore. Dan jangan heran deh, namanya juga pemandian air hangat, WCnya pun sama angetnya, kalo buat nyeduh kopi mah lumayan deh.
Kalo difikir-fikir air dipangalengan gak ada yang normal, yang dingin ya dingiiin banget, yang panas, panasnya gak bikin anget,,alias terlalu panas.
Nah buat yang lagi nyari tempat liburan atau tempat Camping, kayaknya itu pangalengan bisa jadi pilihan, selain murah meriah panorama alam yang disuguhkannya pun gak ngebosenin.


Makanan Khas Pangalengan
nah, kalo ngomong-ngomong liburan kesuatu daerah kayaknya gak lengkap deh kalo gak nyicipin yang namanya makanan khas, dan salah satunya dipangalengan ada juga makanan khas orang sana. pertama susu sapi murni, selain tanaman sayurannya yang banyak, pangalengan juga penghasil susu sapi. selain itu ada juga makanan olahan dari susu itu sendiri, kaya permen karamel, kripik susu dll.

Malam Terakhir di Pangalengan L
Sampailah kita di malam terakhir, sedih sangat, kehangatan, canda tawa harus sirna gitu ajah. tapi malam terakhir gak kita lewatin kayak malam sebelumnya, malam terakhir diakhiri dengan prosesi bakar jagung depan rumah. Dengan taburan bintang yang seolah menemani malam terakhir kita di Pengalengan. Serta prosesi bakar jagung yang sangat melelahkan, karena perjuangan ngebakar berjam-jam gak seimbang dengan  memakannya yang gak butuh waktu 5 menit.
Setelah prosesi bakar-bakar kita juga gak mau ngelewatin waktu gitu aja, diakhiri lagi dengan permainan sederhana namun menguji kujujuran dan persahabatan. Ya, itulah permainan kejujuran. Dengan sebuah gasolin kita memainkan acara dengan hati degdegan karena pertanyaan-pertanyaan aneh pasti muncul. Dan memang ternyata pertanyaan-pertanyaan gokil, seru, kritikan, pokoknya semua hal yang pastinya bikin penasaran malam itu ditanyakan dengan tanpa canggung, dan pastinya melegakan. Hmmm indah pokoknya, semua unek-unek yang selama ini terpendam satu demi satu terbongkar, ya, namun tak indah yang namanya sahabat jika tak ada buka-bukaan diantara kita J love you sob…
Tanks to :
Siti Rohmah – yang udah bersedia rumahnya diacak-acak, dan nganterin ke tempat-tempat yang indah
Iera – yang selalu ceria dan nemenin foto-foto
Fu’ah – yang udah bikin ketawa dengan bajunya, dan ejekan-ejekan yang bikin tahu siapa aku…
Teh Siti Nurhasanah – anak fisika yang udah bersedia bergabung dengan anak perbandingan agama
Ari – yang selalu bikin kehangatan dan sakit perut karena ketawa dan ejekannya.
Busro – yang juga selalu bikin ketawa.
Opi – atas kritikan-kritikan yang membangun, dan senantiasa bersabar sama cewek-cewek yang dandannya lama.
Khaerudin – yang udah perhatian dan mengerti sama cewek-cewek
Fazil – yang udah rela telat ke Imigrasi demi ke pangalengan bareng kita…
Read more

bandung VS jogja (Jogja Part II)


nah,,, disambung lagi nih cerita di jogjanya... sampai di Stasiun lempuyangan, kota Jogja mulai tercium, mulai dari keluar stasiun, bahasa orang-orang yang menawarkan jasa sepeda motor berkerumun tepat di jalan keluar stasiun mendok jawa banget. banyak kendaraan berjajar di sana, mungkin itu tempat parkir, ah tapi sudahlah tak perlu pusing-pusing. nah, langsung deh kita menuju tempat peristirahatan. tempat peristirahatan pertama disimpen di kostannya anak Jogja, secara disana kita bergabung dengan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. setelah itu tak ada aktifitas, akhirnya tanpa ada kesepakatan semua yang lelah dengan godaan kereta api tertidur pulas di sebuah kamar sempit, dengan satu kasur kecil, dan sebagian tidur di teras merah yang kusam. semuanya sudah bersih termasuk badan, tapi setelah mandipun suasana Jogja tak seadem Bandung, sungguh panas, dengan keadaan perut keroncongan pergilah kita ke rumah makan yang letaknya tak terlalu jauh dari Kostan. dari menu makanan yang disajikan, tahu gak ada yang namanya " Tante rebus goreng" sama " intel rebus goreng", wah kanibal banget ya tante-tante digoreng kayak gitu. eh tapi tunggu dulu teman, ternyata setelah ditebak dan ditanya-tanya sama mas-masnya, itu sebuah singkatan dari mie "tanpa telor rebus/goreng", terus yang "intel" entu, "indomie telur". wah wah wah kreatif banget ya tu mas-mas yang dagang. untung gak aslinya tu tante-tante di goreng. udah ah,,,

perjalanan dilanjutkan lagi ke Candi mendut. perjalanan dilakukan bersama anak UIN Jogja, suasana Jogja yang begitu kental dengan bangunan-bangunan rumahnyapun sudah menunjukan kota Jogja, kota yang mengagumkan buatku, penuh kesederhanaan, anggun, bersih, layaknya ibu-ibu yang mendok menggendong jamu, klasik banget. sepanjang perjalanan ke Mendut, sawah-sawah berjemur dengan kehangantan mentari yang menyelimuti. aaah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata teman. indah pokonya... rumah-rumah mulai dilewati, patung-patung khas borobudur mulai berjejeran di sela-sela rumah, dari yang ukurannya besar sampai yang terkecil. semua ada, begitupun dengan kawasan daerah yang terkena merapi. sungguh mengkhawatirkan. 
candi berukuran besar dengan bentuk seperti kotak yang diatasnya ada piramid, mulai nampak. hiasan balai tempat melaksanakan upacara waisak sudah siap di depan candi, bahkan patung Dewa yang berwarna kuning, yang tak ku tahu namanya apa sudah bertengger disana. 
Suasana di Mendut saat itu sangat ramai, kata kakak kelasmah sebelumnya gak ramai kayak gini kalau waisak, tapi sekarangmah lain. 
Siangnya kita siap-siap mengikuti jalannya acara waisak. Para biksu dan biksuni sudah khusu duduk bersila diatas panggung, serta ratusan jemaat di sisi-sisi panggung. Para biksu dan biksuni bergiliran melakukan do’a, dari setiap jemaat. Do’a yang mereka bawakan semuanya berbeda-beda, mungkin kalau di islam sendiri, mereka berbeda madzhab, dan sepertinya mereka harus dicontoh, dari berbagai madzhab itu mereka tetap bisa bersatu, dan berdoa bersama. 
Setelah doa selesai digelar, di lanjutkan dengan arak-arakan ke candi Borobudur yang merupakan tempat inti acara Waisak tersebut. Arak-arakan di hiasi dengan berbagai ornament serta orang-orang yang bergulat di bidang Hindu, seperti sun go kong, dan teman-temannya. Ada juga berbagai kesenian seperti Reog Ponorogo, barongsai, dan kuda lumping.
Wajah-wajah para jemaat itu, tak tampak seperti orang jogja, mata mereka yang sipit sepertinya orang Taiwan atau sejenisnya lah. Sampai di Borobudur, setelah menempuh perjalanan 5 KM. pukul 14 acara do’a dilakukan lagi, namun do’a di sini berbeda dengan yang di mendut tadi, do’a yang dilakukan di Borobudur dilakukan di setiap jemaah, jadi satu jemaat mempunya tenda khusus tersendiri untuk melakukan doanya masing-masing. 
Menjelang detik-detik waisak. Pada malam hari sekitar setelah maghrib, ritual dilakukan tepat di depan candi Borobudur. Semua Jemaat bercampur lagi, ketika berdoa mereka menghadap Borobudur, patung Dewa dan berbagai hasil bumi dipajang di depan mereka. Setelah berdo’a, mereka berkeliling Borobudur sebanyak 3x, entah apa tujuannya saya juga masih belum tahu. Prosesipun seleai dilakukan, diakhiri dengan pelepasan 1000 lampion ke angkasa, yang konon katanya dilakukan dengan membuat suatu harapan, lampion-lampion besar mulai bergelayutan di langit gelap, senandung lagu Taiwan yang entah judulnya apa, terdengar mendayu-dayu menambah keromantisan suasana Jogja malam itu, di depan Borobudur yang megah dengan kepalanya yang disorot lampu, menambah keanggunan sang Batu gagah perkasa itu
Jika dilihat dengan mata telanjang, kota Jogja adalah kota yang sangat bersih, namun itu yang kulihat dari kasat mata kawan, tapi semoga memang benar, berbeda dengan Bandung yang suasana di jalannya selalu penuh dengan sampah, kalo di Sana mah serasa malu lah kalo mau buang sampah sembarangan. hmmmm hebat banget ya..
Hmmm itulah keuntungan Jurusan yang ku ambil saat ini, Beragam agama, namun tetap satu jua. Perbandingan Agama.
Read more