image source : www.youtube.com[/caption]Selalu mendapatkan kesan yang sangat menggembirakan setelah jalan menuju Cikini bersama teman-teman. Ada dimensi yang luar biasa hebatnya, muncul kedalam pikiran yang sedang merindukan sesuatu, yang entah apa sesuatu itu.
Kemarin sore saya dan teman-teman berangkat ke TIM (Taman Ismail Marzuki) di Cikini dengan keadaan hujan deras menunggu bis Garut/Tasik – Lebak Bulus. Kami menunggu di bawah hujan dengan kilat yang menyambar-nyambar di langit. Tapi, ada rasa bahagia saat kembali bisa merasakan aroma hujan. Aroma yang mengantar untuk melakukan suatu hal yang menyenangkan. Saya pun menikmatinya, meskipun saya kasian melihat teman-teman yang baru pertama kali kesana harus diguyur hujan deras. Tapi mereka laki-laki dan juga aktifis, saya rasa tidak masalah.
Saya mendapatkan tempat duduk dengan nyaman, begitu juga semua teman-teman rombongan saya. Hujan semakin menderas, dan jalanan macet karena hari sudah semakin sore, orang-orang yang bekerja mulai pulang ke rumahnya. Bis berangkat sekitar pukul 5 sore, dan kami sampai di Lebak Bulus sekitar jam 10 malam. Dan lagi, Kopaja 20 yang menuju Cikini hanya nangkring saja tidak ada penariknya, dua Kopaja hanya diam saja di pinggir jalan seseorang mengatakan kalau kopaja jam segini sudah tidak ‘narik’ penumpang.
Kami pun kebingungan, karena kali pertamanya kami datang begitu terlambat. Biasanya kami sampai waktu magrib atau tidak lebih dari jam tujuh. Tapi syukur malam itu kami diberitahu kalau ada Kopaja AC yang menuju Gondangdia.
Acara pun sudah di mulai dan pembicara inti pun sudah mulai, sementara kami masih sibuk melahap nasi kucing. Karena perjalanan yang sangat melelahkan, membuat perut kami tidak bisa dipuasakan lagi. Jam sebelas malam kami tiba di Cikini, dan area sudah sesak orang. Kami tidak kebagian tempat duduk di tengah, dan terpaksa duduk di pinggir hanya mendengarkan suaranya saja. Tamu yang datang selain pembicara inti malam itu adalah Dik Doang, Beben Jazz, Inna Kamarie, Pak Yok Koeswoyo (bassis dan vokalis Koes Ploes, dan Mas Ilok (Pengusaha Indonesia di Korea Selatan).
Dari mereka saya menemukan nilai semangat untuk selalu berkarya tentunya. Bagaimana tidak, dengan 90 album lebih pak Yok dengan Koes Ploes bersaudara sudah menciptakan lebih dari 800an lagu. Saya sedikit syok mendengarnya, seperti yang di katakan Mas Beben Jazz mereka sudah mengalahkan The Beatles yang hanya menciptakan 300an lagu. Disini ada nilai-nilai yang bisa kita ambil, selain semangat dan selalu berkarya, mereka juga memiliki jiwa konsisten dan fokus. Selalu itu yang saya temukan dari orang-orang yang tetap bekarya.
Di Cikini saya banyak menemukan orang-orang inspiratif. Mereka memiliki semangat yang tinggi. Bukan hanya dari orang-orang besar itu, tapi dari salah satu temannya teman saya, saya juga menemukan nilai darinya. Orang yang pagi itu saya temui adalah orang yang ceria, bebas, apa adanya dan senang sekali bercerita. Dia menarik, dan ternyata dia adalah gitaris Mas Beben Jazz.
Dan sekali lagi saya percaya bahwa semangat itu menular. Semangat itu berkobar-kobar dalam diri yang sudah memilikinya, kemudian akan menghangatkan orang yang ada disekitarnya. Maka memang benar kiranya ketika dulu sewaktu saya ngaji kiai saya mengatakan kalau memilih teman itu harus hati-hati. Karaktermu tidak akan jauh berbeda dengan karakter lima orang dari teman dekatmu.
Selain itu, dari perjalanan tersebut saya banyak belajar. Bahwa negara saya, Indonesia, adalah negara yang penuh dengan orang-orang kreatif dan inspiratif. Melangkahkan kaki sedikit saja dari rumah atau kosan, akan menemukan banyak orang-orang yang memiliki gagasan yang cemerlang dan inovatif.
Di Indonesia banyak sekali perkumpulan orang-orang kreatif seperti ini. Tidak saja di Jakarta, di Bandung sangat banyak sekali komunitas kreatif yang bisa memberi kita inspirasi untuk terus memiliki pikiran positif dan mendapatkannya dari mereka. Karena saya sekali lagi ingin mengatakan bahwa insiprasi, semangat, dan hal-hal positif lainnya itu menular.
Saya datang dari desa, dan saya yakin teman-teman saya di desa tidak bisa menemukan hal-hal seperti ini di desanya. Banyak sekali hal menarik teman-teman untuk ditemukan di kota. Bukan hanya fashion yang membuat orang tergiur dengan tampilan luar, tapi di kota kita akan banyak menemukan inspirasi baru. Kita juga bisa mengetahui kemurnian kita ketika kita beranjak ke kota. Itu yang saya rasakan.
Jadi bergabung dengan orang-orang seperti itu akan mengikis sedikit demi sedikit sikap pesimis. Rasa-rasanya saya mulai memiliki resolusi untuk tahun 2016 nanti. Sprea love and positif thingking.
0 komentar