Hujan Bulan Juni ‘Sapardi’ dalam Novel
Puisi adalah medium, medium bisa berarti dukun. Dalam ilmu yang dipelajarinya, orang pandai di zaman lampau yang dianggap mampu menghubungkan yang masih hidup dengan yang sudah mati. Ia percaya, bahwa manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertemu muka. Bahkan dari jarak yang sangat jauh sekali pun. Dia percaya pada teori yang menjelaskan bahwa inti dari kehidupan adalah komunikasi dan komunikasi itu inti dari kehidupan. Dan bahwa puisi itu komunikasi, dan bahwa komunikasi itu shaman. Dan bahwa shaman itu medium. Dan oleh karenanya puisi itu medium.
Bulan Juni termasuk bulan kemarau. Ini tidak masalah baginya, karena bagi Sarwono
ini adalah masalah komunikasi. Ia yakin bahwa seandainya dukun zadul memang benar memiliki kekuatan, maka puisi yang ditulisnya itu jelas melampaui kekuatan segenap dukun yang pernah, masih, dan akan ada di mana saja di dunia ini. Deretan aksara itu sangat tangkas menghubungkannya dengan seorang perempuan nun jauh di negeri Miyamoto Musashi, Pingkan.
Itulah pemaparan singkat dari novel Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono. Meskipun novel ini hanya 130 halaman, tapi saya hampir gagal memahami isi dari novel ini. Sebelumnya saya belum pernah membaca novel lain dari Sapardi, karena yang saya tahu dari Sapardi adalah puisinya.
Dan memang ketika membaca novel karyanya ini, Sapardi tidak lepas dari puisi. Pada bab terakhir dia menuliskan puisinya yang berjudul Tiga Sajak Kecil untuk Pingkan. Dan sarwono nanti akan berbicara tentang Surat Takdir, dan saya kira Surat Takdir yang dikatakan Sarwono itu adalah sajak kecil ini.
Tiga Sajak Kecil
/1/
Bayang-bayang hanya berhak setia
Menyusur partitur ginjal
Suaranya angin tumbang
Agar bisa perpisah
Tubuh ke tanah
Jiwa ke angkasa
Bayang-bayang ke sebermula
Suaramu lorong kosong
Sepanjang kenanganku
Sepi itu, air mata itu
Diammu ruang lapang
Seluas angan-anganku
Luka itu, muara itu
/ii/
Di jantungku
Sayup terdengar
Debarmu hening
Di langit-langit
Tempurung kepalaku
Terbit silau
Cahayamu
Dalam intiku
Kau terbenam
/iii/
Kita tak akan pernah bertemu:
Aku alam dirimu
Tiadakah pilihan lain
Kecuali di situ?
Kau terpencil dalam diriku
Iya, Surat Takdir yang diberikan Sarwono semacam medium yang memanggil Pingkan agar datang ke Solo tempat dimana Sarwono dirawat. Dimana ketika itu, Pingkan seperti seorang Ronin yang akan ditinggalkan tuannya. Mengembara sendiri tanpa tuan. Sarwono pun sangat merindukan Pingkan, ketika mengerjakan tugas fakultas pun dia tidak bisa sekali pun melupakan Pingkan. “Tidak Sar, kamu tidak cengeng” adalah kata yang seringkali diucapkan Pingkan kepada Sarwono ketika dia mulai lelah. Setelah Pingkan di Jepang, kata-kata sudah menjadi dirinya sendiri, saking rindunya. Seperti mantra yang sudah diucapkan beratus-ratus kali oleh seorang pendeta Budhis.
Sapardi banyak menyelipkan puisi-puisinya dalam novel ini. Sepertinya novel ini memang warisan dari puisi Hujan Bulan Juni. Menurut saya kerinduan yang disembunyikan Hujan Bulan Juni adalah kerinduan Pingkan. Dan pohon berbunga itu adalah Sarwono. Saya berpendapat begitu karena justru yang tabah itu bukan Sarwono, tapi Pingkan. Pingkan tidak banyak mengutarakan kata cinta, tapi dia tahu ketika Sarwono sakit, dia digambarkan sebagai ronin yang kehilangan tuannya. Karena itu dari awal sudah ada cerita yang bersangkut paut, ketika Sarwono mengatakan bahwa “Pingkan akan menjadi ronin” dalam benaknya dengan cara pengungkapan yang tentu saja berisi candaan.
Meskipun seolah-olah ketika membaca cerita cinta mereka, hanya Sarwono lah yang merindukan Pingkan. Tapi ternyata hubungan mereka tidak sedangkal itu. Pingkan tidak bisa begitu saja diibaratkan perempuan yang mencintai lelaki dengan asal-asalan.
Kemudian di belakang buku itu ada catatan yang dibentuk payung. “bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susu-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin.”
Saya terbawa emosi ketika membaca tulisan belakang novel ini. Saya ukur saja ini sebuah keberhasilan yang dituangkan penulis. Dari sini saya membaca bahwa perjalanan kedua orang itu bukanlah perjalanan biasa. Mereka adalah manusia yang sudah membuat semacam keterikatan masing-masing yang tidak harus mereka lepaskan. Tidak ada orang yang berharap sebuah keterikatan bisa tumbang. Tentu saja, siapa yang ingin ketika menikah mereka ada harapan ingin bercerai saat melakukan ijab pernikahan. Tidak mungkin.
Tapi lagi-lagi takdir selalu ada diantara manusia. Hadirnya ronin karena harus ada sebab yang sudah seharusnya diterima. Benang-benang yang sudah menjadi saputangan dengan takdir bisa saja langsung menjadi benang yang kembali terurai.
Jujur saja, bagi saya sulit sekali menguraikan benang merah dari novel ini. Jadi sedikit sekali yang bisa saya tuliskan kali ini.
Tapi buku ini menarik, sampulnya saja seperti yang sudah kehujanan. Padahal itu sampul asli kok gak kehujanan. :D
Selamat malam, selamat menulis dan tetap berkarya J
2 komentar