Cara Termanis Liat Moonlight di Pangandaran

Kata Mas Rangga, traveling sama jalan-jalan itu beda. Kalau traveling, kita tidak tahu kemana kita akan berkunjung sedangkan liburan
, kita sudah membuat list kemana-kemana saja tempat yang akan dikunjungi saat bepergian. Menantang mana hayo traveling sama jalan-jalan? Ditambah lagi, kalau jalan-jalan biasanya nyari spot-spot cantik untuk selfie bukan menikmati dan mengeksplore. Beda sama traveling, traveling itu lebih ke cara nikmatin alam sama tempat yang kita kunjungi. Tapi pada akhirnya tergantung minat juga sih.

Bagi sebagian orang, traveling harus mengumpulkan dana dulu sebelum berangkat. Menyisikan uang gajian untuk keperluan traveling. Rasa-rasanya hal yang wajib untuk traveling adalah uang. Tidak apa-apa tidak bawa bekal, pakaian atau tas gede. Asal bawa uang. Nah loh, gimana kalau belum bisa dapet gajian dan punya uang jajan pas-pasan untuk sebulan makan. Biasanya mahasiswa sering banget kejadian kayak gini. Uang cuma pas buat makan seminggu, itu juga cuma beli kerupuk sama kecap sama gorengan. Gigit jari deh jadinya melihat teman-teman yang pada liburan, kita cuma bengong doang, gigit jari di kosan.

Jangan patah arang deh, pepatah bilang banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan juga buat traveling meskipun dompet tipis. Kuncinya perbanyak teman dan kenalan di luar kota. Kalau nikahan mereka pasti ngundang kita, dan usahakan kita datang. Makanya, kalau kuliah kita cuma kupu-kupu (kuliah pulang) agak sulit untuk dapat kesempatan kayak gini.

Menghadiri undangan teman yang rumahnya di luar kota. Ini beneran efektif ketika pengen banget jalan-jalan tapi dompet tipis. Cukup sewa mobil dengan beberapa teman, ajak deh yang banyak biar patungannya makin dikit. Sewa mobil selama 24 jam ada yang harganya Rp. 400.000. Mobil biasanya muat buat sembilan orang plus sopir. Perkirakan bensin maksimal Rp.200.000 deh, kita bisa ngeluarin uang buat transport Cuma Rp.67.000an untuk sehari semalam. Kalau dua hari tinggal dikalkulasiin aja deh.

Pengalaman ini kejadian beberapa hari yang lalu. Ada dua teman menikah di hari yang berurutan. Yang satu hari Jumat, satunya lagi hari Sabtu. Otomatis dong kita keteteran sama ongkos yang pasti membengkak. Niatnya di satu hariin aja, tapi merasa tidak enak karena keduanya teman kelas dan kita dekat sudah seperti keluarga. Maka, kami putar otak dan berinisiatif untuk mengisi kekosongan waktu dengan pergi ke Pantai. Dan untungnya mereka berada di kota yang sama dan hampir tetanggaan.

Tidak ada bekal apapun selain air putih yang kita bawa dari Bandung ke Ciamis. Karena merasa mereka sudah dekat seperti keluarga sendiri, maka kami berinisiatif untuk pergi ke pengantin yang menikah esok hari untuk memberi kita bekal saat di Pangandaran. Yap, saat-saat mepet seperti ini hilangin deh rasa malu. Biar perut tetap terisi dan bisa menikmati traveling.

Karena lokasi teman-teman yang menikah di daerah sekitar Ciamis. Maka pantai yang memungkinkan dikunjungi adalah Pantai Pangandaran. Awalnya ngerasa pantai ini tidak terlalu asik untuk dikunjungi. Karena terlalu familiar dan pasti banyak orang di sana.

Tidak seperti yang diduga sebelumnya, pantai Pangandaran hari Jumat itu ternyata tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang yang sedang menikmati pantai untuk foto-foto dan bermain dengan ombak. Jadilah pantai itu berasa milik kami yang datang ke sana.

[caption id="attachment_591" align="alignnone" width="443"]SAMSUNG CAMERA PICTURES Pantainya lagi sepi...[/caption]

Tempat yang tepat untuk menikmati pantai Pangandaran adalah warung-warung pinggir pantai. Jumat itu warung-warungnya pun sepi pengunjung. Jadilah pantai dan warungnya berasa kita sewa. Kursi dan panti serta payungnya adalah hadiah teristimewa di Pangandaran. Selain itu, kopi juga bisa jadi pelengkap menikmati deburan ombak di depan mata.

Tempat terbaik di pangandaran salah satunya adalah warung itu. Mungkin waktu liburan kita tidak bisa menikmati duduk di warung karena penuh oleh pengunjung. Dengan memilih waktu yang tepat, pantai bisa kita nikmati dengan duduk di kursi itu dan menjadi tempat terbaik saat berkunjung ke sana.

Waktu yang paling melankolis di pantai adalah malam hari. Malam-malam kita bisa menikmati odong-odong (sepeda isi empat orang) untuk putar-putar di jalan Pangandaran. Harganya murah kok Cuma Rp. 50.000 selama satu jam. Setelah itu, menikmati pantai malah hari juga adalah hal yang manis. Udara malamnya tidak dingin malam itu, panas juga tidak, jadi menikmati makan malam sambil menghadap laut itu sensasinya beda. Kalau di kota kita harus yoga untuk menenangkan pikiran, kalau di pantai tinggal duduk di pantai mendengarkan deburan ombak, semua masalah, tugas kuliah, hutang, berasa beres deh semuanya.

Saat duduk melihat deburan ombak di laut sambil ngobrol dengan teman. Tiba-tiba nyadar kalau kita sedang memunggungi bulan. Temanku duluan sadar, aku buru-buru membalikan badan dan menyapa bulan. Ia seperti menggantung di awan dan ikut memandang ombak bersama kita. Setelah air laut mulai mendekati tempat duduk kita, kita pindah tempat duduk ke kursi warung yang dibuka untuk kita.

Karena merasa bulan terlalu indah untuk kita punggungi saja, temanku mengajak pindah ke pantai Timur untuk melihat bulan. Dan ternyata bulan di pantai timur berubah menjadi lebih cantik. Ia seperti sedang merenung di atas laut dan cahayanya memantul di air laut. Terlihat seperti lukisan-lukisan yang dipajang di pinggir jalan Braga. Tapi ini lebih nyata dengan suara deburan ombak yang besar.

Pantai Timur juga sepi malam itu, ditambah ombak di Pantai Timur cukup besar. Tapi bulan membuat kita betah berlama-lama. Cahayanya tidak redup-redup, sampai kita lelah sendiri melihatnya. Tapi memang luar biasa indah ciptaan Tuhan.

Setelah itu, saya bisa menyimpulkan keindahan di pantai Pangandaran adalah bulan seperempat di Pantai Timur. Just it, and how about you?

[caption id="" align="alignnone" width="555"] Kira-kira kaya gini fotonya, cuman malam itu bulannya seperempat aja. di comot dari google, soalnya kameranya pada mati kehabisan baterai.[/caption]
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel