Cigalontang

Mana bisa aku melepas cinta sedalam ini



image source : http://terselubung.in/[/caption]

Pada hari senin 21 April 2015, seorang Perempuan dan teman-temannya berniat mengunjungi temannya di Cigalontang. Setelah beberapa bulan meninggalkan teman-teman sebayanya, rindunya diakhiri dengan hadiah perjalanan kecil. Ia amat yakin, seyakin ia pada Tuhan yang sering ia temui lima kali sehari atau lebih singkat dari itu, pada perjalanan kali itu akan menjadi perjalanan yang mengesankan. Seperti sebelum-sebelumnya.

Cigalontang adalah daerah yang berada di Tasikmalaya.
Jarak tempuh dari Bandung menuju Cigalontang, tertempuh sekitar 3 jam perjalanan. Ia bisa ditempuh melalui jalur darat saja, mobil atau motor misalnya. Kereta api? Mungkin saja, karena daerah Tasik kalau saya tidak salah juga ada stasiun kereta api.

Pemandangan alam desa adalah pemandangan yang biasa bagi si Perempuan. Tapi pada hari itu, ia merasa aneh, entah kenapa Garut menyajikan pemandangan desa yang lain dari landscape desa yang sering ia lihat. Pemandangan yang dilihat matanya mengalirkan hal yang beda kedalam kepalanya, ia berfikir Garut seperti sebuah istana bagi gadis-gadis desa yang cantik dan baik hati. Ramah pada sungai dan sawah-sawah di sekelilingnya. Sehingga, sawah dan sungai menjadi begitu indah dan lembut di pandang mata. Begitupun pohon-pohon yang melindungi kebutuhan mereka, perkasa dan baunya segar menyegarkan kepalanya.

Dalam sebuah mobil berwarna silver yang kursinya diposisikan untuk enam orang, si Perempuan dan si Teman Lama bercerita dengan santai. Menyelami cerita yang dulu sering dibuka dengan secangkir kopi. Sedangkan yang lain fokus pada pikirannya masing-masing, ada juga yang menguping cerita si Perempuan dan si Teman Lama. Sehingga terkadang si Perempuan melemparkan pembicaraan pada mereka karena si Perempuan tahu bahwa ia tidak hanya duduk berdua. Dan teman si Perempuan hanya menjawab dengan jawaban yang singkat-singkat.

Perjalanan mereka sangat lama seolah tidak akan pernah menemukan ujung, tapi itu yang diharapkan si perempuan. Si Perempuan menjadikan saat itu adalah perbincangan yang Tuhan buat untuknya dan si teman lama, juga cara Tuhan untuk mencairkan rindunya. Seperti meminum kopi dengan ditemani gerimis, menjadi hangat dan romantis.

Mereka menumpahkan kerinduan masing-masing. Tanpa kata rindu, mereka saling memeluk rindu masing-masing di dada yang mereka tumpahkan menjadi pembicaraan yang tiada berujung.

Teman-temannya yang lain diam, seolah mengerti apa yang dirasakan si perempuan. Kadangkala, teman-teman si Perempuan yang lain menjadikan si Perempuan bahan bercandaan. Membuatkan bumbu perjalanan yang renyah bagi si perempuan. Dan yang membawa mobil hanya senyum-senyum saja sambil memutar-mutar setir dan sibuk memerhatikan jalan.

Wajah-wajah penumpang yang menunjukan rasa kebosanan mulai tampak dari tatapan mata, dan gerak tubuh yang tidak teratur. Karena yang dituju tidak tahu pasti jaraknya. Ada yang terlihat mulai kesal dalam lamunannya, pembicaraannya, dan lagu yang diputarpun terasa mulai mengganggu telinga mereka. Sehingga ada yang tertidur, ada yang memandang hujan, ada juga yang hanya memandangi jalan. Hanya si Pembawa Mobil saja yang yang masih dalam posisi yang sama. Dan si Perempuan, sedang berada dalam lamunannya bersenyum dalam hati dengan cupid-cupid yang mengelilingi kepalanya.

Harap-harap cemas mulai datang di kepala masing-masing penghuni mobil. Mereka ada yang sudah tidak sabar, ada yang masih melamun, ada juga yang sudah yakin bahwa mereka akan sampai dengan segera.

Mobil berhenti di depan rumah bercat hitam putih, dengan halaman yang penuh dengan tanaman hijau, dan disampingnya tumbuh pohon singkong. Ternyata yang dituju tidak ada di depan rumah, yang pernah datang hanya menerka-nerka dan mengingat-ingat tepat rumahnya dimana.

Menjelang beberapa menit, orang yang dituju merekahkan senyum, begitupun yang mengunjungi, semuanya tersenyum puas. Dan tentu saja rindu mencair sebab yang dinanti dan yang menanti akhirnya bertemu, dan penantian pun berbuah senyuman yang ranum.

Di rumah, makanan dan teh berdatangan ke meja. Perut benar-benar tahu bertamu dalam keadaan jauh, mereka berteriak meminta diisi. Dan toples menjadi bulan-bulanan yang mengunjungi, sehingga tidak berapa lama mereka berjejer di meja, volume mereka sudah berubah seketika. Tapi karena itu, si Tuan rumah menjadi bahagia.

Lalu pembicaraan benar-benar menjadi panjang melebar. Diantaranya adalah hal yang mereka perbincangkan di jalan, disampaikan pula kepada si Tuan Rumah. Cerita sampai pula kepada tuyul yang dikebiri, atau permainan masa kanak-kanak yang menyenangkan. Kemudian pembicaraan pun menjadi satu-satunya hal yang menarik saat itu, sampai pantat pun  berakar.

Lalu si Tuan Rumah mengajak jalan-jalan yang Mengunjungi, ke sebuah daerah yang menyediakan makanan yang lebih beraneka ragam. Dia menawarkan yang Mengunjungi susu murni,  yang Mengunjungi pun tidak menolak penawaran si Tuan Rumah. Yang Mengunjungi menyeruputnya sedikit demi sedikit agar lebih lama menemani perbincangan mereka.

Ponsel pintar mengabadikan moment itu dalam foto yang tidak jelas warnanya. Dalam dada si Perempuan terbersit bahwa dalam potret tersebut ia pernah merasakan kebahagiaan dengan si Teman Lama dan teman-temannya yang barangkali tidak bisa ia temukan lagi dimanapun. Dan si Teman Yang Lain mengatakan bahwa potret tersebut untuk mengikuti perkembangan zaman anak muda zaman sekarang. Mereka berpotret ria bersama dengan gaya yang disebut selfie.

Setelah itu, mereka pulang ke arah yang sama hanya saja posisinya yang yang berbeda. Jika tadi ke sebelah kanan, maka ketika pulang harus mengambil arah jalan kiri agar tepat ke tempat yang sama kembali. Sampai di rumah si Perempuan sudah merasa kantuk berat dan memutuskan tidur lebih cepat daripada teman-teman lelakinya.

Saat pagi, si Perempuan menjadi yang pertama bangun diantara mereka. tidak lama si Tuan Rumah pun bangun dan berbincang dengan si Perempuan.  Perbincangan mereka pun sampai pada pertanyaan penasaran si Tuan Rumah kepada si Perempuan tentang si Teman Lama. Si perempuan pun terdiam. Dalam kepalanya ia tahu bahwa pertemuan dan pertemannannya dengan si Teman Lama bukan untuk apa-apa selain menjadi sahabat yang Tuhan pertemukan untuk berdialog. Untuk mengeja hujan, alam, manusia dan semesta serta menjadikan si Perempuan memiliki cinta yang tidak pernah luruh dan semakin memekat. Sehingga si Perempuan pun menjawab, “rasanya masih sama, sebab pertemuan tidak bisa mengelabui rasa apapun. aku sangat bahagia sepertinya rindu sudah mulai balas dendam”. Si Tuan Rumah tahu betul bagaimana perasaan si Perempuan kepada si Teman Lama. Namun si Perempuan begitu pandai bersembunyi. Bersembunyi dalam wajahnya yang selalu tampak datar-datar saja. Ia pandai memamah sakit menjadi rasa yang netral-netral saja.

Teman-teman si Perempuan pun terbangun. Mereka kembali bercerita yang panjang melebar. Sepertinya waktu benar-benar rindu keberadaan mereka. Sepertinya Seseorang sedang rindu pertemuan manusia-manusia yang sudah lama tidak berceloteh itu. Sepertinya itu adalah pertemuan yang di rancang Tuhan agar Ia bisa ikut minum kopi bersama manusia-manusia menyenangkan itu.

Langsung saja pada cerita pulang yang diiringin hujan gerimis, dengan mata masih terbayang keceriaan karena si Tuan Rumah telah menerima kunjungan. Gedung bioskop pun menjadi dessert perjalanan mereka.

Di gedung bioskop si perempuan duduk di samping si Teman Lama. Perasaannya menjadi tidak menentu. Si Perempuan mendadak gugup dan tidak bisa mengendalikan perasaan. Kemudian, cerita yang ia lihat di layar hanya gambar-gambar hidup yang tidak bersuara. Sebab di kepalanya nyaring suara bising hatinya sendiri.

“Aku tidak bisa memaksa orang lain mencintaiku”. Hanya kata-kata itu yang si Perempuan ingat saat menonton film tersebut. Ia mengingatnya dan menuliskannya di kepala, disambungkan dengan ceritanya dengan si Teman Lama. Ia yakin itu pesan dari Tuhan yang dititipkan lewat Paul Walker, ya si Perempuan yakin akan hal itu.

Si Perempuan pun kembali ke kamar dengan menuliskan perjalanannya di sebuah buku hariannya yang tebal.



Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel