Perihal Mempertahankan Bahasa



Saya sedikit iri dengan bahasa Inggris yang mendunia. Mereka tidak harus menjaga dan menyuruh anak-anak mereka untuk menjaga bahasa mereka, karena bahasa mereka telah dijaga oleh manusia sedunia. Bahasa mereka menjadi bahasa internasional. Mereka memiliki susunan gramatikal yang terjaga hampir di seluruh sudut dunia. Mereka tidak usah pusing-pusing memikirkan bahasa mereka akan punah kelak. Karena dengan banyak orang yang mempelajarinya, usia bahasa mereka tentu saja akan lebih panjang daripada usia bahasa-bahasa lain di dunia.

Saya yakin tidak akan ada yang namanya pembajakan bahasa Inggris, karena mereka semua tahu bahwa bahasa Inggris adalah copyright nya orang-orang Benua Amerika.


Lantas bagaimana dengan nasib bahasa nasional kita sendiri. Kadangkala guru bahasa Inggris saya lebih paham conjuntion di bahasa Inggris daripada kata depan yang asli dalam bahasa Indonesia. Adakah keprihatinan yang sama bagi orang-orang Benua Amerika?

Dan sudah tidak mengherankan lagi bahasa daerah yang mulai terpinggirkan dengan bahasa nasional. Orang sunda sudah jarang yang mau mempertahankan bahasa sunda. Hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang sadar untuk mempertahankan dan melestarikannya. Sehingga, di Jawa Barat ada peraturan yang mewajibkan seluruh pegawai menggunakan bahasa sunda pada hari-hari tertentu. Ini mengindikasikan bahwa bahasa tersebut sudah tidak menjadi pakaian lagi. Terutama di daerah yang bisa disebut daerah perkotaan. Anak-anak muda lebih percaya diri memakai bahasa nasional daripada bahasa ibu. Dan bagaimana dengan nasib bahasa yang seperti ini, mungkinkah akan tinggal menjadi sejarah?

Tapi membincangkan bahasa Inggris yang menjadi bahasa dunia, usut punya usut mereka juga tidak tahu grammar. Ya, kita saja orang Indonesia yang harus tahu seluk beluk asal kata, mana yang verb, mana yang adjective dan itu sungguh membuat pusing bagi orang Indonesia yang seyogyanya memakai bahasa one for all. Ya, kita tahu sendiri dalam bahasa Inggris kata kerja tergantung waktu kapan kita mengerjakannya. Kalau mengerjakannya kemarin, otomatis kita pakai bentuk lampau. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada perubahan kata kerja tersebut. Dan lebih rumit ketika harus menulis dalam bahasa Inggris, dimana kata dalam bahasa Inggris sangat beragam pasangannya. Tapi, saya yakin tidak semua orang native itu tahu tentang gramatical bahasa mereka dan hanya orang-orang yang mempelajarinya dan ekspert di bidangnya. Tapi, lihat saja orang Indonesia begitu banyak yang bisa menaklukan sulitnya bahasa tersebut. Pengajar-pengajar bahasa Inggris justru bukan native tapi orang Indonesia sendiri. Amazing

Tapi ketika saya dengar bahasa Jawa dipelajari di salah satu Universitas di Belanda. Saya merasa bangga sekaligus miris. Bangga karena dengan orang lain mempelajari budaya bangsa sendiri, berarti kebudayaan bangsa kita amat sangat besar. Indonesia dijajah bukan karena dia bangsa yang kecil dan tidak berperadaban. Indonesia dijajah karena ia negara yang kaya dan berperadaban tinggi.

Namun miris ketika banyak referensi buku bahasa Jawa yang disimpan di perpustakaan universitas tersebut. Sebab setahu saya, pengetahuan teman-teman di sekitar saya, baik itu Sunda maupun Jawa sangat kurang. Saya pun begitu. Tapi saya yakin semangat anak muda tidak akan pernah luntur untuk mempertahanakan bahasa nenek moyang kita. Dan akan menemukan banyak ide di tengah karut marut permasalahan lainnya.

Negara yang aman dan tentram saya kira hanya akan menghasilkan manusia-manusia yang stagnan, tapi manusia yang lahir dari keterpurukan akan menjadi manusia-manusia yang kreatif. Dengan adanya peraturan menggunakan bahasa daerah pada hari-hari tertentu mengindikasikan bahwa anak-anak bangsa mulai sadar akan pentingnya mempertahankan bahasa. Mereka tidak ingin kembali dijajah oleh bahasa internasional untuk melupakan bahasa ibu.



Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel