Memoar Koesalah Soebagyo Toer dan Soesilo Toer

Buku ini mengatakan kepada kita bahwa betapa berharganya Pram sebagai milik bangsa Indonesia. Keterlibatannya dalam dunia menulis ditularkan kepada adik-adiknya dengan didikan seorang kakak

Koesalah menuliskan dalam buku ini tentang perjalanannya bersama Pram. Dan kebanyakan ia menulis tentang hubungannya dengan Pram dan cara Pram mendidiknya dari mulai ia kecil.


Hubungan Pram dengan Koesalah memang terkesan jauh. Terlihat saat Koesalah dikunjungi Pram saat pulang dari Jakarta, ia tidak begitu gembira seperti seharusnya seorang adik. Bahkan terkesan biasa saja.

Pendidikan yang diberikan Pram kepada adik-adiknya mulai pertama mereka diajak ke Jakarta untuk sekolah adalah penanaman kedisiplinan. Diman kemandirian terus di tanamkan dalam diri adik-adiknya. Mereka harus belajar dan setiap harus belajar pelajaran yang akan diajarkan disekolah untuk besok. Meskipun adik-adiknya tidak begitu kerasan, tapi lama-lama mereka merasakan manfaatnya. Mereka pun diajari untuk mengarang. Pram memberikan apresiasi kepada adiknya untuk menulis dalam buletin yang dia urus. Sehingga ketika mendapatkan upah, adiknya merasa sangat senang sekaligus bangga tulisannya bisa diterbitkan dan dibaca orang banyak.

Banyak percakapan yang biasa saja tapi tertangkap menjadi hal lucu, misalnya ketika Pram pulang dari Pameran buku terjemahan yang diselenggarakan OPI (Organisasi Penerjemah Indonesia). Waktu itu mereka pulang bersama dan Koesalah yang tidak begitu pandai naik Harley Davison disuruh membonceng Pram pulang bersama.

“Kau naik apa, Liek?” tanya mas Pram.

          “Belum tahu; naik becak barangkali.”

          “Aku bawa motor; sama-sama kita. Kau di depan.”

Walhasil malam itu (sekitar pukul 22.00) saya mengendarai Harley Davidson 500 cc itu. untunglah Jakarta waktu itu elum seramai sekarang, dan lagi sudah malam, jadi jalanan agak sepi. Walau demikian saya tetap harus hati-hati, karena penguasaan saya atas motor itu belum mantap benar. Samasekali tidak salah komentar Mas Pram di belakang saya waktu itu:

“Kok motor ini minggir melulu!”

Banyak perkataan Pram singkat-singkat seperti ini dan menonjolkan hal yang malah terkesan lucu. Jadi setelah agak tegang membaca beberapa bagiannya, akan sedikit tercairkan dengan percakapan-percakapan macam begini.

Dari buku ini pun saya menemukan alasan kenapa Pram ditangkap, Koesalah menceritakan bahwa saat Pram berada di Cekoslowakia ia mendapat pengalaman yang tidak mengenakan. Dalam sebuah ceramah di hadapan mahasiswa di Praha ia telah mengucapkan sesuatu yang negatif tentang militer Indonesia, dan itu oleh salah seorang mahasiswa – yang kemudian ternyata informan atau intel militer – dianggap menyinggung militer dan perlu dilaporkan ke Jakarta.

Di buku Pram yang sebelumnya saya baca yang merupakan catatan seperti Nyanyi Sunyi seorang bisu atau Menggelinding tidak saya temukan penyebab ia ditangkap setelah pulang dari luar negeri. Atau mungkin saya memang melewatkannya. Jadi, membaca buku ini adalah pelengkap dari bacaan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu.

Sekian saja dulu tulisannya, semoga suatu hari bisa menuliskannya dengan lebih lengkap.



Load disqus comments

2 komentar

Iklan Bawah Artikel