Bagi mak Saroh, dunia semacam tempat mendulang emas. Yang ia tahu hanya bekerja, bahagia baginya sudah tidak ada lagi. Memberi, adalah penenang jiwa yang sebenar-benarnya. Dunia bukan tempat hura-hura, bukan tempat membuang waktu untuk bersenang-senang. Baginya bersenang-senang adalah kegiatan menghabiskan masa hidup dengan sia-sia. Seperti kepulan asap pada api yang menyala, lalu hilang entah kemana. Karena ia ingin terlahir menjadi manusia yang lebih baik, bahkan dalam nasib yang baik dan bisa memberikan senyuman kepada siapa saja.
Ia hanya bersantai pada sore hari di jalan Braga. Hari minggu untuk pergi ke Vihara, dan waktu lain ia harus bekerja. Tidak ada hal yang bisa membuatnya bahagia selain bekerja.
Hidup mak Saroh seolah dirancang hanya untuk bekerja, perusahaannya sudah berkembang baik. Mendirikan berbagai macam kebutuhan manusia mulai dari makanan sampai kosmetik. Dan berkat kerja tekunnya ia bisa mendirikan perusahaannya di berbagai penjuru negeri. Ia dikenal baik hati kepada karyawannya bahkan memberikan fasilitas yang nyaman untuk mereka. Sebab itu, perusahaannya terus berkembang karena loyalitas para pekerjanya. Tapi, meskipun dikenal baik hati, mak Saroh tidak pernah terlihat tersenyum.
Mak Saroh memiliki wajah yang manis, bibirnya selalu bergincu merah dengan alis yang lancip di atas matanya, seperti cerulit yang tajam. Usianya 40 tahun, meskipun begitu ia nampak sangat muda, ia pun ingin karyawannya memanggilnya dengan sebutan mak Saroh. Karena ia yakin nama adalah doa, doa yang akan mengantarkannya sehingga ia menjadi tua. Tidak mati muda.
Setiap hari ia selalu datang ke kantor, memeriksa perusahaan dan mengunjungi para karyawan. Ia tidak pernah memakai baju kantor, dengan jas atau sepatu heels seperti perempuan kaya lainnya. Ia selalu memakai kaos ketat dan sepatu Nike seperti anak muda, kecuali saat ada rapat dengan perusahaan lain.
***
“Kamu sudah take off? Aku tunggu di depan New Majestic ya.” Saroh menelepon Dahlan yang sedang dalam perjalanan pulang kuliah dari Malaysia.
“Aku sudah di Tol, sebentar lagi sampai. Oke tunggu disana, ya. Bye”
Saroh menunggu Dahlan sembari makan roti di depan Gedung New Majestic di Braga. Dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik, sebab kekasihnya yang sudah dua tahun kuliah di Malaysia akan pulang dan menemuinya. Dahlan adalah orang yang sudah enam tahun menjadi kekasihnya. Dahlan tidak bisa menggantikan siapapun. Setiap harinya Dahlan selalu memberikan suatu hal yang berbeda kepada Saroh. Bahkan, pertengkaran mereka akan selalu menyajikan ujung yang manis. Kemudian, Dahlan berjanji kepada Saroh akan menikahi Saroh yang berusia 25 tahun.
Bagi Saroh, Dahlan adalah sosok manusia yang sesungguhnya. Ia adalah anak yang pandai dan juga bertanggung jawab. Baginya Dahlan adalah sahabat, pacar, sekaligus pengganti ayahnya. Ia selalu merasa menjadi manusia paling beruntung dipertemukan dengan Dahlan.
Sudah dua roti ia habiskan, tetapi Dahlan tidak muncul juga. Tidak ada SMS ataupun telepon darinya. Ia bahkan tidak bisa menghubunginya, teleponnya mati.
Saroh mulai gelisah, dia mondar-mandir dari tempat duduknya.
“Si akangnya belum datang neng?” tanya pedagang roti itu yang sedari tadi memerhatikan pelanggannya.
“Belum mang, kok lama banget yah. Padahal kan deket dari tol kesini.”
“Macet mungkin neng,”
“Engga kok mang, tuh disana juga gak macet. Lagian ini juga bukan jam pulang kantor.”
“Eh, iya sih. Temen amang juga udah kesini yang tadi lewat tol itu.”
“Eh kayaknya itu deh, mang. Dia udah dateng.”
Dahlan turun dari mobil silver, dia tersenyum. Begitupun Saroh, ia seolah ingin merangkul Dahlan sebab rindunya yang sudah lama membeku. Pipinya yang merah merekah dengan kegembiraan yang tidak bisa ia gambarkan. Tapi kemudian, pintu belakang mobil perlahan terbuka. Dahlan pun menyambut pintu itu, dan keluar seorang anak kecil dan mulai Dahlan gendong. Lantas mengikuti seseorang dengan baju hitam, yang terlihat hanya matanya. Entah lelaki atau perempuan, Saroh tidak tahu pasti. Tapi ia lihat dari sorot matanya, bahwa ia seorang perempuan. Juga terlihat dari sorot matanya, perempuan itu sedang tersenyum kepadanya.
Saroh mendadak menarik senyumannya, ia terpaku di tempatnya berdiri. Dahlan pun menghampiri Saroh dengan tegang dan senyum yang benar-benar hanya dari bibir. Tidak merekah, bahkan menunjukan nuansa malu yang sangat besar.
“Ini anakku, Sar. Dan ini, Zafirah istriku.”
Dengan bibir yang bergetar Dahlan, berkata kepada Saroh. Perempuan itu mengulurkan tangan kepada Saroh, dan Saroh pun menyambut dengan senyuman dangkal. Ia bahkan menarik tangannya dengan segera dari genggaman perempuan itu.
Saroh menguatkan dadanya. Sebenarnya ia ingin berlari, tapi baginya perempuan tidak boleh selemah itu. Ia sudah pernah ditinggal pergi dan paling menyakitkan. Ia yakin ini tidak lebih menyakitkan dari ditinggalkan ayahnya. Ia hanya butuh sedikit istirahat, kemudian kembali bekerja. Maka semuanya akan menghilang seperti asap.
Ia pulang dengan dada yang sangat sesak. Ia bahkan tidak mengeluarkan air mata. Saroh berjalan menyusuri jalan braga, tidak pulang dengan angkot atau kendaraan umum lain. Ia menatap lukisan-lukisan disampingnya. Banyak gambar yang berwarna-warni dan gelap. Disitu juga ia melihat dunia kecil kehidupan. Ada lukisan seorang petani menangis, ada anak busung lapar, ada pemimpin gendut yang hobinya makan uang dan masih banyak lagi lukisan yang membuat ia sadar banyak hal. Ia cepat sadar, bahwa sakitnya hanya setitik debu dari sakit orang-orang di lukisan itu.
Ia kemudian melihat anak kecil sedang tidur di emperan gedung, yang teduh dari matahari. Ia duduk disana, dan melihati si anak itu. badannya kumal dan sandalnya sudah mulai menghitam. Ada bekas sambungan ditalinya, sepertinya sandal itu pernah putus dan pemilik menyambunya lagi dengan tali rapia.
Anak itu terkejut dan bangun mendapati perempuan muda disampingnya.
“Ada apa teh, mau buka tokonya?”
“Engga, mau duduk aja disini.”
“Oh, saya pindah atuh ya?”
“Engga, ga usah. Duduk saja disini dengan saya.”
Saroh mengajak anak itu bercerita, ia menumpahkan sesaknya kepada anak lelaki itu. Saroh bercerita hal yang tadi ia alami. Anak itupun mendengarkan dengan seksama cerita Saroh. Mereka saling bertukar cerita seperti sahabat lama yang sudah lama tidak dipertemukan, dan mataharipun mulai meredup. Akan segera menutup hari, tidak terasa mata Saroh membasah. Bukan karena Dahlan, atau hal yang ia alami hari ini. Tapi disampingnya duduk seorang anak kecil yang selalu tersenyum meskipun dia tidak punya apa-apa. Bahkan ia mendapatkan pelajaran dari anak itu bahwa, dengan tidak punya apa-apa dia menjadi orang yang paling sangat bahagia. Tapi meskipun begitu, mulai hari itu Saroh tidak menemukan senyumannya.
*
Duduk santai di Kursi yang berada sepanjang jalan Braga menjadi kebiasaan perempuan itu. Tidak jarang orang-orang yang lewat depan Mak Saroh menyapanya karena ia sering muncul di majalah Bussiness sebab usahanya yang sangat maju. Mak Saroh sangat terkenal, meskipun begitu waktu santainya hanya sore hari di jalan Braga. Tidak jarang mereka menemani Mak Saroh duduk di kursi itu. Tidak jarang juga anak-anak gelandangan bermain dengan Saroh.
Mereka tahu, meskipun mak Saroh tidak pernah tersenyum. Ketika dihampiri, ia akan menyambut dengan hangat. Meskipun tidak tersenyum, mak Saroh dengan gincu merahnya selalu tampak cantik dan hangat bagi yang mendekatinya.
Mak Saroh benar-benar ingin kembali tersenyum. Tapi ia benar-benar tidak bisa. Dadanya tidak bisa memberinya ruang untuk tersenyum. Bahkan kepalanya membeku saat ia berusaha tersenyum. Dan urat-urat sarafnya sangat kaku.
Setiap hari, ia selalu meminta kepada orang-orang yang ditemuinya agar mereka mendoakan mak Saroh. Ia pun tidak melewatkan segala macam peribadatan dalam agamanya. Setiap hari minggu ia datang ke Vihara Lembang. Mengikuti ibadat pagi bersama para biksu untuk melakukan semedi disana. Ia pun selalu meminta kepada anak-anak jalanan agar mereka mendoakan dirinya.
“Ajari Emak Tersenyum, doakan Emak agar bisa tersenyum lagi.”
Mekarmulya, 17 Juni 2015
0 komentar