30 Days Creatives #5 - Mengisi Kemerdekaan

Jadi hari ini aku nulisnya malam hari, karena tadi pagi gak enak badan dan puyeng liat laptop. But I am well now.

Oke, jadi hari ini aku mau ngebahas tentang tujuh belasan besok. Iya, maksudku hari kemerdekaan negaraku, Indonesia. Yang dideklarasikan pada 17 agustus 1945 oleh para pejuang-pejuang, baik yang dihargai ataupun yang tidak dihargai sama sekali.

Sudah beberapa tahun semenjak kuliah S1 tahun 2010 aku tidak lagi ikutan upacara. Bukan karena apa-apa, tapi memang aku gak tahu apakah di sekitar kampusku ada upacara atau tidak. Biasanya memang di daerah sekitaran kosan ada ramai-ramai seperti memasang umbul-umbul, pagar dicat dengan warna baru, atau hiasan di tas gang-gang berupa kertas warna-warni mirip di film India. Pokoknya warga di sekitar aku biasanya sangat antusias dengan kedatangan hari kemerdekaan ini.

Aku antusias gak? Tentu saja aku juga antusias. Tapi karena memang aku biasanya tidak ada kesempatan untuk merayakan hari tersebut. Secara kalau tinggal di daerah orang rasanya beda, tidak terlalu bisa menyatu dengan masyarakat sekitar. Jadi, sayang aku selama tinggal di Bandung belum bisa merasakan meriahnya 17-an, seperti di kampungku dulu sewaktu aku SD hingga SMK.

Tetapi meskipun begitu, 17-an tetaplah hari yang sakral. Hari yang merupakan batu loncatan di mana aku bisa seperti sekarang. Bisa dengan bebas menikmati sekolah, bisa dengan bebas mendapatkan hak-hak yang dulu memang terampas secara biadab. Hari dimana segala hal sudah menjadi Indonesia dan bukan milih `mereka`.

Meskipun aku gak pernah merayakan hari kemerdekaan, atau dalam tanda kutip ikut upacara. Tetapi aku tahu cara mengisi kemerdekaan, meskipun bentuknya tidaklah sebesar para pejuang terdahulu. Karena jika pejuang zaman dahulu berani mati melawan penjajah, aku bisa melakukan hal lain di era yang mana kemerdekaan sudah dalam genggaman, dan rakyat Indonesia harus menjadi pengisi kemerdekaan tersebut.

Meskipun memang bagi sebagian orang kata `merdeka` menjadi sebuah tanda tanya ketika mereka merasa terjajah di negara mereka sendiri. Serperi misalnya warga Tionghoa yang terakhir aku temui saat penelitian, mereka merasakan kebebasan tidak selama warga Indonesia asli. Mereka harus merasakan ditindas di negara Indonesia. Meskipun status mereka sudah menjadi penduduk Indonesia, tetapi sayangnya hak-hak mereka dirampas, dengan tidak boleh ini itu oleh negara. But, yeah, itu juga debatable.

Tidak Buang Sampah Sembarangan

Bagiku, mengisi kemerdekaan adalah dengan tidak buang sampah sembarangan. Ini seperti pelajaran anak SD tetapi ternyata banyak yang lulusan S2 juga tidak sadar dengan membuang sampah pada tempatnya. Dengan alasan tidak ada tempat sampah, malu memasukan sampah ke dalam tas, dan bla bla bla lain yang tidak masuk di akal. 

Sebenarnya dengan membuang satu sampah ajah ke sungai misalkan, secara tidak langsung kita sudah menyumbang kerusakan lingkungan kita. Kita gak pernah tahu kalau kita yang membuang sampah diikuti orang lain, dengan jumlah yang tidak sedikit. Sehingga, ketika banjir, bukan selalu pemerintah yang harusnya disalahkan. Tetapi diri sendiri. Tanyakan pada diri sendiri, apakah kita tidak ikut membuang sampai dan menyebabkan kekacauan lingkungan tersebut. Apakah kita sudah benar-benar menjaga lingkungan sendiri dengan baik?

Dan, ketika terjadi bencana-bencana seperti banjir. Apakah kita sudah merasa merdeka dari diri sendiri yang sudah mentaati aturan yang tidak tertulis bahwa membuang sampah, berbuat sesuatu yang tidak pantas itu akan mengakibatkan diri sendiri terpenjara dalam kekhawatiran.

Hidup Bertoleransi

Ternyata setelah sekian lama belajar di Religious Studies, hidup bertoleransi itu tidaklah mudah. Karena aku kuliah di Religious Studies, buatku menghargai agama lain sudah menjadi hal yang harus dan lumrah. Tetapi, ternyata di luar sana masih banyak yang menganggap orang yang beragama tidak sama dengan mereka, adalah sebuah ancaman. Bahkan, yang berbeda madzhab saja sudah dianggap tidak sama sehingga mereka tidak ingin bekerjasama bahkan saling tanya satu sama lain. Hingga yang paling ekstrim adalah aksi terorisme yang belakangan ini terjadi dan mengatasnamakan agama Islam untuk menghancurkan orang kafir. 

Hidup bertoleransi bisa diterapkan di sektor yang paling kecil, seperti keluarga. Sehingga, ketika keluarga sendiri sudah bisa bertoleransi, maka kehidupan sosial mereka juga bisa bertoleransi. Jangan tanyakan lebih jauh arti toleransi yang ada di perkuliahan, rasakan saja arti toleransi yang dipahami terlebih dahulu.

Kedua cara tersebut adalah caraku mengisi kemerdekaan. Meskipun masih banyak hal, tetapi kedua hal tersebut dalam kepalaku saat ini adalah hal yang sangat penting. Dan sedang aku upayakan untuk selalu dilakukan. Dirgahayu Indonesiaku, semoga kau selalu dipimpin oleh orang-orang yang adil dan bijaksana, semoga rakyatmu selalu ada dalam lindungan Tuhan.

Sekian tulisan malam ini. Have a morning coffee story today. Tapi magh ku kambuh jadi gak bisa minum kopi, bye. lol
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel