Showing posts with label 30 Days Creatives. Show all posts
Showing posts with label 30 Days Creatives. Show all posts

30 Days Creatives #27 Belajar Tidak Menyalahkan orang Lain

Benar-benar sudah lama ya, apa kabar?

Hari ini aku mau menulis saja, tentang hal-hal yang akhir-akhir ini benar-benar sangat mengganggu fikiran. Sebuah perasaan dimana mungkin aku sedang beradaptasi di sebuah tempat yang rasanya masih baru, meskipun sudah lama.


Aku berada di lingkungan baru, dimana aku harus menyesuaikan diri kembali dengan keadaan-keadaan, dengan lingkungan dimana semuanya sudah berbeda. Aku juga harus kembali menggali diri sendiri dan memposisikan lagi diri. Dimana aku harus benar-benar menyesuaikan budayaku dengan budaya mereka. Dimana, aku akan terpengaruhi dan aku akan mempengaruhi. Dimana, kebiasaan yang sudah aku rubah di tempat lama, mungkin akan kutemukan lagi di tempat baru dan harus kembali aku hadang. Melelahkan? Memang iya.

Bagiku, tempat baru bukan tempat yang mudah untuk dihadapi. Dan iya, sekarangpun begitu. Aku harus menemukan hal lama yang sudah aku hindari di tempat baru. Hal lama itu, adalah 'Menyalahkan Orang Lain'. Ya, hal itu merupakan hal lama yang sudah bisa ku atasi di tempatku dulu. Tetapi, kini datang lagi di tempat baruku. Ini benar-benar sangat melelahkan melihat orang lain harus menyalahkan yang lain saat mereka melakukan sesuatu hal yang salah karena ingin membela diri sendiri.

Aku ingat betul dulu kenapa aku memutuskan untuk berhenti berlaku menyalahkan orang lain ketika ada sesuatu hal yang terjadi. Seperti misalnya begini : "aku melakukan kesalahan kepada atasan, dan kesalahan tersebut terjadi karena teman mengatakan harus begini. Dan aku mengikuti perkataan temanku harus begini. Jadi, saat aku disalahkan atasan atas kerjaku itu, aku bilang pada atasanku kalau itu salahnya temanku yang memberitahu hal seperti itu." Nah, aku sudah putuskan untuk menghentikan hal tersebut, menyalahkan orang lain atas keputusan yang aku ambil. Meskipun mungkin sesekali tanpa sadar aku melakukannya, tetapi aku sudah berhenti untuk hal seperti itu untuk membela diri sendiri.

Keputusan ini aku buat ketika, dulu aku punya teman yang selalu melakukan hal itu. Maksudnya, menyalahkan orang lain ketika ada sebuah kesalahan yang mengikutsertakan dia. Aku selalu memerhatikan orang tersebut, dan rasanya tidak enak ketika aku melihat dia terus menerus melakukan itu. Aku memutuskan untuk tidak menegur dia, tetapi aku sendiri yang berusaha untuk tidak menjadi seperti dia. Karena melihatnya saja sudah tidak menyenangkan dan menjadi bagian dari orang yang dia salahkan tentu saja hal yang menyakitkan. Makanya, aku putuskan untuk tidak menjadi seperti dia.

Atau kasusnya seperti ini : Misalnya kita pergi ke sebuah tempat pilihanku, dan aku berangkat bersama teman tersebut, tetapi tempatnya ternyata tidak asyik. Dan temanku lantas bilang kepadaku "Ah, kamu sih pilih tempat ini, coba tadi kesana." Hal seperti itu juga merupakan hal yang benar-benar harus dihindari dalam sebuah hubungan dengan manusia.

Dan sedihnya, sekarang aku menemukan kembali lingkungan dimana orang-orang saling menyalahkan. Mereka membela diri sendiri dengan membawa-bawa nama orang lain ketika mereka salah, dan ended up orang lain yang salah, bukan introspeksi malah introspeksi diri.

Aku tidak tahu kenapa seperti itu, mungkin karena dulunya orang tua mereka sering menyalahkan katak ketika anak mereka terjatuh saat masih belajar berjalan.
Read more

30 Days Creatives #25 Pendidikan dari Bapak

Bapak adalah orang yang tidak bisa digantikan orang lain. Bukan dalam artian karena dia adalah bapakku sendiri. Tetapi, bapak memiliki jiwa yang berbeda dengan orang lain. Bapak adalah orang yang berani mengatakan tidak, jika ia tidak setuju. Dan berani mengatakan jangan, ketika ada hal-hal yang tidak ia senangi.

Begitupun dalam mengajarkan kami di rumah, bapak sangat strick dengan segala hal yang sifatnya tidak berguna. Seperti misalnya, bapak tidak pernah mengizinkan kami di rumah untuk nonton televisi sebelum shalat Isya. Pokoknya, tidak boleh nonton TV dari waktu Magrib ke Isya. Dan kami tidak pernah berani menyentuh remot untuk menghidupkan televisi.

Karena jarak dari rumah ke masjid hanya beberapa langkah, kami harus ke masjid setiap shalat magrib dan isya. Dan itu wajib, tidak ada kata tidak. Kemudian setelah magrib harus ngaji. Dan bapak adalah guru ngaji pertamaku. Dan karena dekat dengan masjid, bapak tidak pernah shalat di rumah. Ia selalu pergi ke masjid untuk mengimami shalat, ataupun munfarid.


Bapak sangat ketat dalam hal-hal ibadah. Kami juga tidak boleh menunda-nunda shalat. Pokoknya setelah adzan harus segera ke air mengambil wudhu. Kalau tidak, bapak akan menatap kami dengan tatapan yang serem, dan bikin kami ciut. Segeralah kami pergi ke air, untuk mengambil wudhu.
Tetapi, ternyata pengajaran itu sampai sekarang sangat melekat. Aku setiap ingin menonton TV setelah salat magrib, sebelum Isya, merasa bersalah dan merasa ada hal yang salah yang aku lakukan. Apalagi untuk masalah shalat tepat waktu, aku sampai sekarang selalu mempertahankan untuk solat tepat waktu. Karena selalu merasa bersalah ketika menunda shalat.

Pendidikan dari bapak dulu tidak pernah aku sadari sampai sejauh ini menemaniku. Dulu aku selalu kesal karena bapak yang terlalu strick pada anak-anaknya. Tetapi, aku sekarang tahu kenapa orang tua berlaku seperti itu. Karena memang pendidikan usia dini adalah hal yang paling penting diterapkan kepada anak-anak. Dan akan mempengaruhinya sampai ia beranjak dewasa.

Sehingga, ketika orang tua berfikir bahwa anak-anak mereka nakal. Shalat selalu ditunda-tunda dan bahkan tidak melakukannya. Seharusnya mereka berintrospeksi, sudahkan pendidikan di rumah benar?

Aku yakin itulah sebabnya pendidikan itu sangat penting bagi orang tua. Bapakku memang bukan lulusan universitas. Dia hanya lulusan SD. Tetapi dia belajar agama dengan serius. Dia mempelajari setiap hal dari kehidupannya. Jadi, maksudku berpendidikan bukan hanya pendidikan formal. Tetapi, bagaimana mereka bisa mengambil setiap hikmah dan pelajaran dari orang-orang sekitar dan peristiwa yang mereka temukan.

Aku menemukan bapak seperti itu. Dia bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi bisa membuatku melakukan hal-hal yang positif sampai sekarang aku dewasa. Yang ternyata, tidak banyak orang tua yang memiliki cara mendidik anak, seperti halnya bapakku.

Pendidikan orang tua adalah pendidikan yang utama bagi anak-anak. Hal ini membuat aku selalu berfikir keras untuk menentukan pasangan hidup. Di usiaku yang sudah tidak muda, aku tidak ingin buru-buru Karena usiaku. Dalam pandanganku, berumah tangga bukan hanya menjalin asmara dan meruntuhkan segala pandangan orang lain tentang perempuan yang sudah berumur dan belum menikah.

Karena bagiku, rumah merupakan tempat dimana anak-anak akan tumbuh dan berjalan di muka bumi mengemban amanah-amanah. Dari situ peran orang tua sangatlah penting. Jika pasanganku tidak bisa mendukungku untuk mendidik anak-anak, aku tidak akan bisa mengajarkannya sendirian. Karena ketidaksinergian dalam rumah tangga adalah kehancuran. Bukannya begitu?
Read more

30 Days Creatives #24 Buat Apa Aku Nulis?



Blog yang aku buat sebenernya udah lama, sekitar SMK tahun 2010-an aku udah mulai bikin blog. Cuma tulisan-tulisannya masih seputaran pelajaran di kelas atau hal-hal yang aku tahu aja. Beberapa memang ada curhatan. 

Terus aku juga nulis diary sewaktu SD. Aku gak nyaring apapun di diari itu, hingga akhirnya aku harus membakarnya karena takut ketahuan orang-orang (he-he). Aku bikin diari juga udah beberapa buku. Diari yang zamannya dulu itu yang ukurannya segi empat, kecil banget dan gambarnya lucu-lucu. Aku rutin nulis diari sejak saat itu.

Waktu SMK bacaanku adalah Novel ayat-ayat Cinta karya Kang Abik, yang waktu itu jadi novel yang sangat aku banggain dan pengen banget beli semua serinya. Seperti Ketika Cinta Bertasbih, dan yang lainnya. Selanjutnya, aku lebih kepincut dengan tulisan-tulisan Andrea Hirata dari Novel Laskar Pelangi. Kata-katanya yang luar biasa bikin aku bersemangat buat nulis. Terus gaya tulisannya juga lebih santai. Sampai sekarang aku masih menikmati karya-karya Andrea, terakhir aku baca novelnya yang berjudul entah Ayah entah Sirkus.

Hingga, sewaktu kuliah aku ternyata punya ketertarikan sendiri akan menulis. Aku ikutan beberapa komunitas menulis. Dan membuat ketertarikan aku sama nulis dan baca sangat tinggi waktu itu. Aku mulai rutin nulis di blog dan bikin diari dengan buku tebal-tebal. Sampai sekarang aku punya buku tebal untuk menulis dan belum habis.

Buku yang menurut aku sangat sastra pertama yang aku temukan waktu kuliah S1 semester pertama entah kedua, adalah bukunya Emha Ainun Nadjib, judulnya aku lupa. Mulai dari sana aku tertarik juga dengan karya-karya Emha Ainun Nadjib. Juga sewaktu di Bandung sering ikut kendurian di Kenduri Cinta dan di Bandung, Jamparing Asih.

Setelah itu, aku mulai juga suka dengan karya Pramoedya Ananta Toer karena Gus Dur merekomendasikan penulis favoritnya di salah satu bukunya. Aku mulai baca buku Pram yang tetralogy Bumi Manusia, yang menurutku sebagai sebuah novel, ia adalah novel sejarah yang tidak ada tandingannya. Karena itu aku juga jadi makin suka sama novel-novel sejarah, dan setiap ada karya Pram, aku usahakan beli.

Selanjutnya yang melekat di ingatan juga adalah karnya Eka Kurniawan. Dia tidak kalah keren dibandingkan dengan Pram. Karya-karyanya lebih nyastra, dengan alur cerita mundurnya yang sangat khas dan tidak mudah ditebak. Aku jug abaca beberapa novel Nano Riantiarno, yang ceritanya aku suka sekali, seperti salah satu judulnya Cermin Bening.

Tulisan-tulisanku juga mulai berubah. Ketika ikutan komunitas sastra di kampus, aku kenal beberapa orang penulis kampus yang suka bikin puisi atau tulisan lain. Dan mereka sangat inspiratif. Salah seorang yang aku ingat kata-katanya dan aku terapkan dalam tulisanku ketika dia bilang kita harus bisa melihat hal-hal kecil di sekitar untuk bisa menulis. Dari sana aku mulai senang memperhatikan hal-hal kecil dan aku jadikan tulisan. Dan memang dengan memerhatikan hal-hal kecil, tulisanku menjadi lebih hidup.

Sampai ke diari-diari aku menulis hal-hal detil seperti itu. Ceritanya memang ceritaku sehari-hari, perasaan-perasaanku yang bergejolak setiap hari dan hal-hal yang aku rasa sangat menarik setiap hari.
Tetapi, ternyata semakin kesini semangatku untuk menulis mulai perlahan memudar. Dan biasanya ketika semangat nulis lagi setelah baca novel. Mungkin hal ini penyebabnya karena aku jauh dari lingkungan orang-orang yang sudah kusebutkan tadi. Orang-orang yang memberikut motivasi untuk selalu berkarya. 

Dan yang luar biasanya, ketika sekarang aku baca-baca lagi tulisan yang dulu-dulu. Ada perasaan bangga dan bahagia kalau ternyata aku pernah punya perasaan seperti itu. Kalau ternyata aku pernah punya pemikiran yang begitu dan begini. Aku gak inget perasaan aku waktu itu, di hari ini. Tetapi, ketika aku baca lagi, semuanya indah. Mungkin itulah kenapa kita harus pandai-pandai menulis dan merekamkan jejak dengan tulisan.

Mungkin banyak orang yang merasa kalau foto adalah cerita abadi yang bisa menghantarkan tulisan, tapi bagiku tulisan lebih kuat. Karena ia mengandung banyak perasaan yang tidak terungkapkan melalui foto-foto atau hal lainnya. Tulisan adalah kenangan akan perasaan-perasaan yang sudah lapuk. Kenangan akan mimpi-mimpi yang tidak juga mewujud jadi.
Read more

30 Days Creatives #23 Menjadi Guru


`Tidak ingin menjadi guru` 

adalah kalimat yang sering kali aku ucapkan dulu sewaktu masih kuliah. Aku tidak ingin memilih berprofesi menjadi guru, karena kalau jadi guru aku harus bisa ngobrol panjang dengan anak-anak sekolah. Aku juga akan menjadi seorang yang stuck dengan satu hal tanpa bisa mengeksplore hal lain. Kira-kira begitulah  hal yang ada dalam fikiranku waktu itu. Aku sebisa mungkin harus menghindari profesi guru.

Tetapi, banyak hal yang kita tidak inginkan ternyata mewujud nyata. Dan sekarang, sudah beberapa bulan aku menjalani profesi sebagai guru di salah satu sekolah. Setiap hari dengan jadwal tertentu aku harus datang ke kelas dan menyapa anak didikku. Sebelumnya, malam hari atau beberapa hari sebelum mengajar aku harus menyiapkan materi terlebih dahulu. Agar bisa tampil maksimal di depan anak didikku.

Setiap hari sebelum berangkat sekolah aku dihinggapi rasa gugup, dengan beratus pertanyaan muncul di kepala. 

Bisakah aku tampil baik hari ini? 

Bisakah anak didikku paham materi yang aku berikan? 

Akankah mereka memberikan respon positif?

Beratus pertanyaan yang muncul di kepala terkadang juga menjadikan aku ciut untuk datang ke sekolah menghadapi mereka. Tetapi karena memang kewajiban dan tanggung jawab, aku tetap memberanikan diri untuk datang ke sekolah pagi-pagi. Membawa beberapa buku dan catatan yang sudah aku siapkan untuk dibawa ke kelas.

Saat di kelas, rasa gugupku hilang dengan sendirinya. Siapa lagi kalau bukan Tuhan yang menggerakan fikiran dan hatiku untuk bisa tenang. Aku seharusnya selalu bersyukur dengan hal tersebut.

Kemudian, aku banyak menyadari hal yang membuat guruku senang sewaktu di kelas. TIdak lain adalah respon dari siswaku. Baik itu senyuman, memperhatikan dengan seksama, menanggapi pertanyaanku, atau bertanya hal-hal yang mereka tidak pahami. Hal-hal seperti itu adalah hal yang membuatku merasa terus bersemangat di depan kelas saat pelajaran, dan bisa tersenyum saat keluar dari kelas.

Semudah itu kah membahagiakan seorang guru? Aku tidak akan pernah tahu, kalau aku tidak jadi guru saat ini.

Kemudian rasa bersalah dan sedih terjadi saat aku harus menghadapi anak didikku yang mulai ngantuk dan lelah, entah karena jam pelajaran terlalu banyak ataupun karena siang hari memang waktu yang tepat untuk menguap dan memejamkan mata sejenak. Rasa sedih, kesal, tiba-tiba bercampur menjadi rasa tidak percaya diri saat mengajar mereka. Aku yang memang bukan dari jurusan pendidikan, atau dari jurusan yang menangani tentang psikologi anak, tidak mudah menghadapi hal tersebut. Sehingga membuatku menjadi agak down dan fikiranku mulai tidak teratur. Yang akhirnya membuatku selalu merasa bersalah dan merasa selalu kurang maksimal saat keluar dari kelas. 

Ada rasa bangga ketika mereka memanggilku dengan sebutan Ibu. Atau saat mereka menyapa dan senyum kepadaku di luar kelas. Apakah ini sebabnya banyak orang yang ingin menjadi guru? Batinku.

Tulisan ini bukan refleksi hari guru atau hal lainnya. Hanya sebuah cerita sederhana dari seorang perempuan yang tiba-tiba sudah beranjak dewasa. Ketika kemarin masih terasa anak SMA, bermain dengan teman sebaya dan pergi kesana kemari tanpa ada beban. Ah, betapa cepat bumi ini berputar.

Read more

30 Days Creatives #22 Nikmati Pagi dengan Bersyukur


Aku sering lupa, bahwa setiap pagi adalah berkah yang tidak harus aku biarkan pergi begitu saja. Aroma pagi, adalah aroma yang sangat dirindukan orang-orang. Sejuknya embun, yang lewat ke hidung adalah sebuah nikmat yang tak terbatas.

Mandi di pagi hari, adalah rutinitas yang luar biasa menyegarkan. Setelah olah raga kecil, badan yang lelah setelah bangun tidur, dengan ribuan mimpi-mimpi tidur yang abu-abu dan membuat fikiran penuh dengan sesuatu yang hambar. Mengguyur badan dengan air akan membuat badan benar-benar seperti berada dalam dunia yang tidak pernah terjamah oleh kesedihan. Kesegaran yang Tuhan cipatakan lewat cipratan-cipratan air adalah kenikmatan sejati yang harus selalu disyukuri.

Senyum, adalah sebuah syukur yang tidak terucap. Tuhan akan tahu. Menyambut pagi dengan senyum adalah syukur tak terucap yang benar-benar Tuhan pahami.

 Kemudian, sarapan sederhana yang dibuat dengan hati yang damai, adalah manifestasi dari cinta Tuhan yang amat besar. Selamat pagi, semoga pagi kita senantiasa selalu damai dan menyegarkan. Mwah <3
Read more

30 Days Creatives #21 Pray For Surabaya



Hari minggu, 13 Mei 2018 beberapa hari lagi sebelum puasa, orang Indonesia kembali mendapati kabar duka. Kabar tersebut aku dapatkan tadi pagi dari status social media teman-teman sosmed. Hastagnya #PrayForSurabaya. Aku tidak tahu kalau hal inilah yang terjadi, aku kira bencana alam kembali datang. Tetapi bukan bencana alam, tetapi bencana kemanusiaan.

Aku mulai penasaran dan mencari informasi yang lebih rinci tentang hastag tersebut. Dan ternyata, pengeboman gereja kembali terjadi di kota Surabaya. Pertama aku merasa sakit hati sekaligus duka yang sangat mendalam di hati. Terlebih, ada beban akademis yang aku miliki terkait perdamaian agama-agama.

Bagaimana bisa orang-orang dengan mudahnya mengambil nyawa orang lain hanya karena ingin masuk surga? Bagaimana bisa dengan satu ayat saja mereka berani mengambil nyawa orang lain hanya karena dijanjikan surga untuknya. Doktrin egois macam apa yang membuat mereka memberanikan diri untuk serta merta menundukan kemanusiaannya hanya untuk mendapatkan surga? Dengan mudahnya, mencari satu ayat agar bisa menjadi alibi kekerasan dan kekejaman tersebut. 

Hari minggu, adalah hari sembahyangnya umat Kristiani. Semasa mahasiswa, aku pun sering berkunjung ke teman-teman di beberapa gereja di Bandung untuk studi lapangan. Dan saat aku datang ke gereja, betapa damai, seperti halnya masjid. Karena gereja adalah tempat dimana orang-orang biasa berkomunikasi dengan Tuhan, menyampaikan keluh kesah mereka kepada Tuhan.

Sehingga, ketika mendengar kabar bahwa pada hari minggu, dimana orang-orang yang di gereja sedang bersembahyang kepada Tuhannya. Sedang bersilaturahmi, menyampaikan pujian, meminta pertolongan kepada Tuhan, mendoakan kedamaian Indonesia, ada dari mereka yang serta merta mengganggu kekhidmatan silaturahmi hamba dengan Tuhannya. Aku hanya bertanya-tanya, sedang apa sebenarnya mereka?

Dalam Islam, menganggu orang yang sedang shalat adalah perbuatan dosa. Sekalipun ia hanya lewat di depan orang yang sedang shalat. Denda hukuman dari Tuhan adalah dilaknat malaikat selama empat puluh hari. Begitu yang aku dapatkan dari guruku, sewaktu mesantren.

Dari hal sederhana seperti itu, jika kita bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan. Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk mengganggu orang yang sedang sembahyang. Karena orang yang sedang bersembahyang adalah orang yang sedang bertemu dengan Tuhan. Cara manusia berkomunikasi dengan Tuhannya adalah dengan sembahyang. Lantas, jika manusia berani-beraninya mengganggu komunikasi manusia dengan Tuhannya apakah Tuhan gembira? Apakah Tuhan rela membuka pintu surga-Nya untuk orang seperti itu?

Dan orang yang bersembahyang, adalah orang yang Tuhan sayangi. Siapapun orang tersebut, apapun agamanya, jika orang tersebut memanggil Tuhan dalam kesehariannya, mereka adalah orang-orang yang beriman. Meskipun kita tahu kita berbeda dalam masalah pemahaman, tetapi semua agama akan mengatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang tidak pernah offline dengan Tuhannya. Dan Tuhan,akan melaknat orang-orang yang mengganggu keakraban, keromantisan hamba dengan Tuhannya.

Mayoritas orang Indonesia mengaku beragama, tetapi orang yang paham agama tidak sebanyak penganutnya. Mereka yang  pemahaman agamanya dangkal, mudah sekali mendapatkan doktrin dari luar. Artinya, mereka yang bodoh dan dangkal pemikirannyalah yang melahirkan kekerasan dan kekejaman.

Dengan begitu, banyak tugas yang masih harus kita kerjakan sebagai umat beragama, Apapun profesi yang kita ampu sekarang, pastikan untuk tahu agama kita dengan benar. Pastikan anak-anak, anak didik, teman-teman dan keluarga kita tidak terpengaruh dengan faham-faham radikal yang bisa memecah belah bangsa.

Para aktifis, para guru,  ulama, dan pemerintah, kita masih memiliki tugas yang sulit berkaitan dengan hal ini. Jadi, mari kita maksimalkan peran kita masing-masing di negara kita.

Sebagai pengajar, sebagai orang tua, tentu kita harus selalu mewaspadai pemahaman agama dari anak-anak agar tidak terjerumus kedalam faham radikal. Jangan sampai kekeluargaan kita dengan orang-orang Kristen, Budha, Hindu, dan agama lainnya rusak hanya karena orang-orang bodoh yang mengajarkan kekerasan kepada generasi muda dan ingin menghancurkan NKRI. Mari kita kerjakan PR masing-masing, mari kita lebih siaga dan memaksimalkan peran yang sedang kita ampu untuk menjaga negara kita.
Read more

30 Days Creatives #20 Ke Pekalongan

Pekalongan
Banyak yang harus disyukuri dari kehidupan ini, termasuk bisa mengunjungi daerah yang jauh dari tempat tinggal kita. Karena dengan begitu, kita bisa tahu diri sendiri, bisa tahu budaya orang lain dan merasakan banyak hal dalam sebuah perjalanan.

Jadi kali ini aku mau cerita tentang perjalanan aku kemarin ke Pekalongan. Pekalongan adalah salah satu daerah di Jawa Tengah. Daerah Pekalongan yang aku kungjungi kemarin berada di daerah Kota Pekalongan.

Transportasi Bandung-Pekalongan

Dari Bandung aku berangkat ke Pekalongan dari stasiun Bandung. Karena hanya dari stasiun Bandunglah yang ada rute ke Pekalongannya, sementara stasiun Kiara Condong tidak punya jalur ke sana.  Aku naik kereta Ciremai Ekonomi dengan harga tiket Rp. 130.000.

Baru pertama kali sebenarnya aku naik kereta dari stasiun Bandung, biasanya naik dari Kiara Condong. Dan stasiun Bandung memang lebih luas dan lebih ramai dari Stasiun Kiara Condong. Mulai dari tempat jajan makanan, seperti alfamart dan indomaret, ada beberapa di stasiun Bandung. Sementara di Stasiun Kiara Condong hanya ada Alfamart saja.

Aku baru tahu kalau dari stasiun Bandung, antara kereta Ekonomi, Bisnis dan Eksekutif berada dalam satu kereta. Hanya saja berbeda gerbong dan kursinya saja. Tetapi aku agak kaget waktu naik kereta Ciremai, karena kursi kereta Ekonomi Ciremai ternyata sangat nyaman. Dengan posisi duduk 2,2. Biasanya kan kereta ekonomi tempat duduknya 2,3. Awalnya sempat ragu kalau-kalau aku duduk di gerbong yang salah, tapi pas liat ke belakang. Dan banyak juga orang yang mau masuk ke gerbong ekonomi sedikit terkecoh dan nyebut gerbong itu sebagai gerbong bisnis. Padahal pas aku cek di atas pintu, di sana jelas tertulis ekonomi. Dan aku mulai lega. Cukup memuaskan lah untuk keberangkatan pertama ke Pekalongan.

Kereta ekonomi ciremai
Tempat duduk kereta ekonomi Ciremai
Sampai di Pekalongan

Perjalanan Bandung-Pekalongan sekitar 6Jam. Aku sampai di sana sekitar pukul 1 siang. Dan langsung nyari tempat makan. Banyak tempat makan di dekat stasiun dengan harga yang sangat terjangkau. Tepat di samping stasiun juga ada rumah makan dengan tempat yang sangat nyaman, dengan harga yang pasti. Jadi, kalo kalian dateng ke Pekalongan dan masih asing dengan tempatnya, makan di tempat itu lebih nyaman. Menu yang disajikan juga beragam, mulai dari soto hingga seafood, dengan beragam minuman yang cukup menarik.

Dan saat pulang aku gak mau kelewatan minuman khas Pekalongan, yaitu wedang Uwuh. Wedang ini rasanya memang seperti jamu-jamuan. Karena di dalamnya dicampur rempah-rempah, seperti jahe, sirih, cengkeh dan kayu yang kalau di seduh warnanya jadi merah (aku gak tau namany). Rasanya bikin badan jadi seger. Karena salah satu khasiat dari wedang Uwuh emang ngilangin capek dan pegal-pegal. Wajib dicoba deh kalo dateng ke Pekalongan.
Wedang uwuh

Pantai Dekat IAIN Pekalongan

Kota Pekalongan sangat panas, tapi suasana lingkungannya sangat adem. Mungkin karena tempat yang aku kunjungi termasuk pinggiran kota dan dekat dengan pantai. Untuk itu, aku gak mau ngelewatin kesempatan untuk mengunjungi salah satu pantai di Pekalongan yang dekat dengan IAIN Pekalonga. Gak tahu sih nama asli pantai itu apa.

Letak pantai tersebut gak begitu jauh dari IAIN Pekalongan, aku jalan kaki dari tempatku menginap bersama mahasiswa Pekalongan sana. Jarak jalan kaki memang cukup jauh, tapi kalau jalannya ngambil sore, enak banget sambil nikmatin kota Pekalongan di sore hari.

Sepanjang perjalanan aku ngerasa Pekalongan sama dengan daerah Pare, Kediri. Tempat jalannya sangat nyaman untuk para pejalan kaki. Polusi dari kendaraan juga tidak sepengap Bandung. Jalanan masih tidak terlalu ramai oleh kendaraan, hanya beberapa mobil dan motor yang melintas, sehingga jalan kaki menjadi sangat nyaman.

Sepanjang jalan ke Pantai, banyak pohon bakau yang ditanam di tepi pantai. Menjadikan suasana seram sekaligus romantis menjadi satu. Tetapi nampaknya daerah tanaman bakaunya bukan tempat wisata karena tempatnya lumayan rindang dan sepertinya agak membahayakan.

Sesampainya di pantai ada beberapa orang yang memancing, ada juga yang memandangi laut sambil melamun. Tapi tidak ada yang berenang. Karena ombak di sana cukup tinggi. Namun, menikmati senja di samping pantai memang sesuatu banget. Apalagi jika menikmatinya sambil minum kopi dan bercerita dengan teman. Pasti bakal lebih asik dan romantis.
IAIN Pekalongan

Museum Batik Pekalongan

Meskipun Pekalogan siang hari panasnya luar biasa, tapi aku gak mau ngelewatin satu hari terkhir di Pekalongan tanpa mengunjungi tempat wisata yang ada di sana. Karena Museum Batik letaknya gak jauh dari tempat aku menginap, cukup naek Gojek dengan harga Rp.4000 aku sampai di tempat itu tanpa lama-lama.

Datang ke museum itu sendirian, dan dengan percaya diri aku masuk aja karena penasaran. Dan harga tiketnya pun sangat terjangkau, yaitu Rp. 5000. Dengan harga tiket segitu, kita udah bisa masuk ke museum dan dapat pemandunya juga yang bakal ngejelasin sejarah dan filosofi dari setiap batik yang di pajang di museum tersebut. Dan yang palinng menarik, kita bisa langsung belajar membatik setelah di ajak tur ruangan pameran museum.

Koleksi batik yang ada di museum pekalongan berasal dari berbagai daerah. Kain-kain batik cantik di pajang dengan sangat rapih. Selain itu, di pajang juga alat-alat yang biasanya dipakai untuk membatik, seperti lilin, pewarna kain alami, dan kain. Di pajang juga pakaian khas pengantin serta pakaian sehari-hari yang merupakan ciri khas daerah Jawa.
Museum Batik Pekalongan


Yang menarik juga dari museum batik Pekalongan adalah cara mengawetkan bahan-bahan membatik bukan dengan bahan kimia. Tetapi dengan bahan-bahan alami yang disimpan dalam sebuah wadah seperti piring dekat dengan alat-alat tersebut.

Jawa, selalu memiliki sisi filosofis di dalam setiap karya seni yang mereka buat. Tentang kemanusiaan, tentang kehormatan, dan tentang tata krama dalam kehidupan manusia. Begitupun dengan batik, tidak goresan batik yang tidak memiliki makna. Semuanya memiliki nilai seni yang tinggi dan bermakna sangat dalam bagi budayanya.

Dengan begitu aku jadi berfikir, apa yang aku punya dalam budayaku? Apa aku sudah tahu banyak? Kenapa hal yang dekat dengan diri sendiri malah terlupakan, sementara budaya yang jauh lebih menarik. Mungkin benar saat orang berkata `jarak membuatmu lebih dekat`. Dengan mengenali budaya-budaya lain, aku jadi tau budaya aku yang tidak aku tahu itu dari segi apa. Dan apa yang harus dan tidak harus aku banggakan.

Setelah itu aku juga nyoba membuat batik dan ternyata gak semudah ngeliatin atau ngegambar pake pensil di atas kain. hoho..

Dan terakhir, minuman khas dari Pekalongan adalah dawet beras yang aku dapetin dari pedagang kaki lima di depan museum. Rasanya lumayan aneh sih, tapi lumayan deh ada rasa Pekalongan di sana. hehe..
Minuman Khas Pekalongan

See you on the next writing.. Love this journey so much.. so much much love for my god..
Read more