Sesederhana apapun kehidupan, rasanya kita harus memaksimalkan apa yang kita miliki dan bisa kita lakukan. Bukan malah menyesali karena orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik dari diri sendiri. Sebenarnya Tuhan memberikan porsi masing-masing terhadap kehidupan manusia. So, nikmatin saja hidup yang sedang kita miliki dan maksimalkan dengan sebaik-baiknya. Jangan banyak mengeluh dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi kehidupan yang lebih baik.
Saya pernah baca, entah dimana saya lupa lagi sumbernya, tapi ada yang bilang kalau kebiasaan malas-malasan itu menurun kepada anak kita nanti. Jadi, kalau si ibu malas,
insya allah si anak juga akan memiliki gen malas dari sang ibu. Di sana saya merasa ngeri sendiri. Saya sudah memutuskan untuk memutus mata rantai tersebut dengan menjadi lebih produktif setiap harinya.
Beberapa minggu yang lalu saya resign dari pekerjaan, jadi di waktu liburan kuliah ini banyak waktu kosong. Yang sangat rentan sekali dengan malas-malasan. Tapi anehnya, saat memiliki banyak waktu senggang, saya merasa lebih banyak mendapatkan ide-ide positif. Salah satunya adalah mengatur jadwal harian saya.
Ya, hari libur dan menganggur adalah hari dimana kita tidak punya jadwal apapun. Selain mungkin menghibur diri sendiri dengan menonton televisi ataupun bermain sosial media, dan berbagai hal tidak penting lainnya. What a waste time, we just have once chance to live.
Saya tidak ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang hidup seperti itu. Jadi saya harus bisa memaksimalkan setiap detik yang saya miliki. Mengatur jadwal harian adalah hal yang saya lakukan saat ini.
Mengatur waktu semacam ini adalah salah satu usaha agar kita bisa hidup lebih produktif. Hal ini saya lakukan karena saya merasa belum bisa meraih apa yang saya cita-citakan. Menjadi penulis. Ya, salah satunya itu.
Menjadi penulis adalah hal yang perlu banyak sekali latihan. Bahkan mas Eka Kurniawan, mengatakan bahwa kalau ingin menjadi penulis provesional setidaknya kita harus pernah menulis selama sepuluh ribu jam.
Memang sulit untuk tetap konsisten menulis. Tetapi kata-kata sulit itu yang membuat kita akan malas dan tidak melakukan apapun. Saya selalu mendapatkan pengajaran dari setiap workshop penulisan, kalau kiat menulis adalah menulis. Bukan mengendapkannya di dalam benak kemudian dimakan waktu setelah itu hilang seperti asap.
Sudah beberapa hari saya mengatur jadwal untuk keseharian saya, ada beberapa yang masih sulit karena kebiasaan saya mengulur-ulur waktu. Tapi semuanya harus dibiasakan dan dinikmati alurnya.
Ini adalah yang dinamakan proses, tidak ada sesuatu apapun yang instan. Jadi mau jadi apapun kita, untuk mencapai sesuatu ikutilah proses dengan konsisten.
0 komentar