Bangsa Belanda adalah bangsa pedagang yang kemudian menjadi penguasa yang berdaulat demi mengamankan sektor ekonomi dan perdagangannya. Selanjutnya mereka mengekspansi berbagai macam sektor di Hindia Belanda seperti sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Dimulai dari Pesisir Utara Jawa yang akhirnya meluas ke seluruh Pulau Jawa dan Nusantara.
Terjadilah pencampuran dua budaya yang berbeda. Sejak abad ke-18 proses westernisasi pun menyentuh lingkungan kota kabupaten sampai awal abad ke-20 muncul golongan sosial baru sebagai pendukung kuat kebudayaan campuran (Belanda-Jawa) di daerah jajahan Hindia Belanda. Proses hegemoni kekuasaan Belanda menembus kekuasaan tingkat desa. Modernisasi dalam berbagai lini mengubah tatanan masyarakat Jawa hingga tingkat desa.
Masyarakat kolonial di Hindia Belanda telah mengalami modernisasi karena tumbuh dengan perkembangan sistem produksi dan teknologi. Pengaruh mereka sangat kuat, sehingga membentuk golongan-golongan dalam masyarakat yaitu golongan pamongpraja bangsa Belanda, golongan pegawai Indonesia baru, golongan pengusaha partikelir Eropa, golongan akademisi Indonesia (sarjana hukum, insinyur, dokter, guru, ahli pertanian, dan ilmu lainnya), golongan menengah Indonesia yaitu para pengusaha Indonesia yang memiliki usaha di bidang perniagaan dan kerajinan, dan terakhir adalah golongan orang kaya baru. Dengan demikian munculah gaya hidup dan cara berpikir yang terpusat pada golongan-golongan tersebut sebagai cara berfikir dan gaya hidup yang tepat.[1]
Cara berpakaian adalah salah satu gaya hidup yang banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa. Kaum Indis perempuan, --istilah untuk golongan yang telah disebutkan diatas – menggunakan sarung dan kebaya yang juga dipakai oleh para perempuan Eropa sehari-sehari di rumah. Sedangkan pria mengenakan sarung dan baju takwo atau pakaian tidur (piyama) motif batik. Hanya acara resmi mereka menggunakan pakaian Eropa.[2]
Cara berpakaian menjadi pertanda status sosial. Peradaban Eropa yang dibawa oleh Belanda memengaruhi masyarakat sampai ke desa. Dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan celana panjang dan kemeja, sedangkan dalam upacara berpakaian lengkap, dengan jas dan dasi. Dasi sendiri diambil dari bahasa Belanda yaitu dasje. Dasi hanya mereka yang tinggal di perkotaan saja yang memakainya. Itupun jika mereka termasuk kedalam kalangan kelas atas. Atau orang-orang yang berpendidikan tinggi.
Dasi nampaknya direpresentasikan sebagai gaya berfikir modern dalam segi berpenampilan. Soekarno, selalu berpakaian resmi dengan dasi yang terlipat rapi di dadanya. Begitupun dengan Mas Marco Kartodikromo pendiri Indlandsche Journalistenbon adalah orang yang selalu berpakaian stylish dengan jas dan dasi. Dan dia sangat menganjurkan cara berpikir dan bersikap ala barat.
Hal ini adalah salah satu bukti bahwa pengaruh peradaban Eropa yang datang ke Hindia Belanda hingga ia menjadi Indonesia begitu kuat. Dan orang pribumi sendiri begitu senang dengan hal-hal yang baru. Bagaimana mungkin benda sekecil dasi bisa menjadikan manusia merasa menjadi manusia modern dan mendaulat dirinya menjadi manusia modern, jika bukan karena percampuran budaya Eropa dan Hindia Belanda yang kemudian menghasilkan budaya Indis. Mereka berhasil memengaruhi pemikiran manusia Indonesia, tapi begitu juga sebaliknya. Orang Indonesia juga memengaruhi orang-orang Eropa.
Intinya begini, Indonesia itu gak bakal dijajah kalau dia bukan bangsa yang kaya dan berperadaban tinggi. Percampuran budaya pasti akan ada, itu menjadi hal yang pasti ketika pertemuan manusia terjadi. Tidak hanya dalam lingkup satu orang dengan satu orang tapi juga satu kelompok dengan kelompok lainnya, satu bangsa dengan bangsa lainnya.
Mengetahui dasar suatu hal itu perlu. Makanya, jika suatu hari pria dianjurkan memakai dasi ke suatu acara atau ke kantor. Pastikan tahu apa sabab musabab harus memakai dasi. Jika memang mereka mengatakan memakai dasi karena tanda manusia modern. Maka, bisa dipastikan, setelah tidak memakai dasi ia menjadi tidak modern. hehehe wassalam..
[1] Djoko Soekiman, Budaya Indis (Dari Zaman Kompeni Sampai Revolusi), Depok: Komunitas Bambu, 2011, hlm. 11-14
[2] Ibid.,
0 komentar