Membicarakan Warisan

Ada yang namanya sejarah, sejarah adalah semacam kenangan, pengalaman, yang memberitahu kita asal muasal, suatu hal, atau jangan lupa sebut juga suatu kesalahan yang tidak boleh terulang di masa mendatang. Ya, sejarah jika kita lupakan atau tidak kita ketahui akan menyebabkan kita mengulang luka lama. Dan satu pesan yang sering orang tua kita bilang, jangan sampai tersandung di batu yang sama. Sebuah nasehat yang akan sangat meluas sekali dibahasakan. Kita bisa menggunakan peribahasa itu dalam segala lini.

Dan saya merasa generasi tahun-tahun lalu telah memberikan sejarah yang sangat berharga. Sejarah tentang perjuangan melawan penjajahan, tentang perjuangan mendapatkan kemerdekaan menikmati alam di negara sendiri. Tentang pemuda yang berani melawan kesalahan-kesalahan birokrat. Tentang perjuangan yang tidak pernah berhenti, dan semangat yang terus membara. Atau sebuah perjuangan dari sastrawan yang tetap menulis saat dia menjadi tahanan politik tanpa sebuah kesalahan.

Pilihan rasa setiap generasi bergeser sehingga sejarah yang terciptapun berubah. Tapi rasanya untuk perjuangan tetap sama, hanya objeknya saja yang berbeda. Dan cara perjuangan yang berbeda. Generasi di abad 19 ini akan banyak di pengaruhi oleh teknologi, tersaji segala hal dengan mudah dan instan. Zaman dulu, hanya mie instan dan makanan kaleng yang instan. Tapi untuk hari ini mendapatkan beasiswa saja tinggal nongkrong di warnet dan dapatlah informasi yang dibutuhkan. Begitupun buku, begitupun artikel-artikel akan sangat banyak anak muda yang malas membaca karena nantinya dia akan dengan mudah mencari apapun yang dia butuh. Adanya sebuah degradasi kesabaran di era ini. Dimana lebih memilih membeli karcis online daripada harus sabar mengantri di loket kereta api. Ini baik, tapi disisi lain hal ini juga – seperti yang telah saya singgung mengurangi degradasi kesabaran manusia. Jadinya akan sulit menemukan kembali pengarang yang biasanya mendapatkan inspirasi menulis dari pengalaman dia saat mengantri karcis di loket yang berjejalan dan melihat muka manusia-manusia yang sedang mengantre.

Tapi dalam setiap generasi akan selalu ada yang menonjol dan berbeda dari kebanyakan di generasinya. Seperti parapenulis yang saya senangi, mereka bisa menulis dengan baik di zaman ini. Tulisan-tulisan Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, Acep Zamzam, Godi Suwarna, dll  di zaman ini mereka membuat tulisan yang dirindukan sehingga karya mereka menjadi best-seller di toko buku atau menjadi karya yang ditunggu-tunggu di kalangan tertentu. Ini berarti selera angkatan lalu masih menjadi primadona, atau mungkin si penggemar adalah mereka yang berada di angkatan lalu. Mereka termasuk golongan penyambung antara generasi sebelum kita dan generasi hari ini. Jadi sekiranya mereka harus bisa menjadi jembatan penghubung harapan generasi kemarin dan hari ini. Sehingga tidak ada missing-link antar generasi.

Sebagai generasi muda, saya sendiri masih sangsi terhadap apa yang saya dapatkan. Memang harusnya begitu, sehingga hasilnya saya sendiri masih butuh wejangan dari para generasi sebelum kita. Kita masih butuh bimbingan tentang keinginan para tetua terhadap generasi kita sehingga cita-cita kita bisa sejurus. Tidak tumpang tindih atau bahkan membelok jauh.

Di zaman ini semua serba tekhnologi, dimanapun akan kamu lihat orang-orang dengan handphone canggih di tangannya. Interaksi dengan sesama manusia menjadi tidak begitu terperhatikan. Malah kita akan lebih akrab dengan robot itu daripada manusia di samping kita. Begitupun saya, saya menjadi lebih berani bertukar kata dengan seseorang lewat ponsel daripada bertatap muka langsung. Kegiatan rutinan orang lain bisa kita cek di sebuah time-line facebook atau sosial media lainnya. Itulah perkembangan dunia hari ini.

Akan dua warisan yang di ciptakan oleh generasi teknologi ini. Yaitu generasi yang hanya menerima saja, dan generasi yang terus berjuang untuk membuat segalanya menjadi serba instan, sehingga interaksi dengan manusia tidak akan sulit dan di sisi lain sangat mengurangi esensi silaturahmi yang sebenarnya. Yang mana kita bisa tahu seberapa tulus orang tersebut. Orang bilang yang tidak bisa berbohong adalah mata, dari mata kita bisa tahu emosi orang ketika bertatapan langsung dengannya. Akan berbeda ketika percakapan dilakukan via telepon atau media sosial lainnya. Dan generasi tua bisa mengambil inspirasi tulisan mereka dari generasi ini. Karena mereka menyaksikan perpindahan antar generasi dengan sangat kentara.

Kalau saja bisa, saya  ingin menceritakan ini kepada seseorang di zaman lalu. Menceritakan sebuah perkembangan negara yang mereka perjuangkan dulu. Negara yang mereka kritik selalu, berubahnya menjadi demikian. Saya kadang berfikir ingin minum kopi dan berbincang dengan Pram, Soe Hok Gie, Gus Dur, Ahmad Wahib, Emha, manusia-manusia yang memiliki perhatian khusus kepada negara ini. Dan saya sendiri sebagai manusia yang hidup di zaman ini tidak bisa menjadi manusia seperti mereka.

Dan satu hal yang ingin saya tanyakan kepada mereka, “adakah kita menjadi anak yang hilang?”. Anak yang memasuki satu dunia yang lain dari dunia kita sendiri, menjadi anak yang hilang dan salah asuhan tidak mengikuti keinginan orang tua tetapi hanya melahirkan kekecewaan. Mungkin mereka akan menjewerku atau memperlintir hidungku, ataupun mencubitku karena memang iya seperti itu.

Ya, seperti yang kita lihat saat ini, kemarin kita telah memilih presiden baru yang telah lama di idam-idamkan oleh separuh  rakyat Indonesia. Dan ternyata hari ini dengan tidak menyenangkan dilihat kasat mata ia telah mengangkat calon ketua polri yang telah menjadi tersangka korupsi. Pemerintahan macam apa yang bisa dibangun oleh koruptor. Atau mungkin budayanya sudah seperti itu dari zaman dulu? Saya sering belajar dari banyak orang bahwa sekalinya dia berbohong maka selamanya dia akan menjadi pembohong. Pelajaran moral yang tidak saya dapatkan di keluarga, tapi dilingkungan. Misalnya dalam hal pasangan, ia yang sudah berbohong untuk pertama kalinya, yang kedua kalinya dia tidak akan menjadi manusia yang dipercaya. Hubungan percintaan itu tidak jauh beda dengan hubungan negara dan pemerintahnya. Kekasih pemerintah adalah negara, seharusnya. Mereka memiliki anak-anak yang bernama rakyat. Kalau saja pemerintah atasan saja sudah tidak bisa memegang kedisiplinan dalam kebaikan, lantas mau berpedoman kemana lagi masyarakat – anak-anak mereka. Saya lantas berfikir, mungkinkah karena beliau mirip Obama jadi harapan mereka pun menganggap kemampuan beliau ini mirip Obama.

Sebenarnya saya kadang berada di ambang kebingunan. Tentang apa yang seyogyanya harus saya lakukan sebagai manusia yang menempuh menjadi individu yang sekolah, yang ternyata tidak membuat saya dan teman-teman menginjakan kaki di tempat dimana kita seharusnya menginjak. Tetap saja, hal yang paling utama yang kita harus temukan terlebih dahulu adalah materi yang ternyata tidak ada sebuah jaminan bagi kita untuk mendapatkannya setelah menempuh pendidikan begitu lamanya. Ya, kita mungkin memang individu yang tidak begitu kreatif, yang meninggalkan kreatifitas ketika dihadapkan dengan dunia pendidikan yang kita tempuh selama empat tahun. Tapi kita sendiri seperti kehilangan arah untuk kemana kita akan berlari dan berjalan.

Lalu untuk menghadapi perdagangan bebas yang katanya akan di mulai sekitar bulan Juli mendatang. Dimana kita bisa menjadi pekerja di negeri orang dan bangsa lain juga bisa menjadi supir di negeri kita. Apakah benar kita sudah siap. Bangsa yang memiliki pengalaman telah menjadi budak dan penghambaan kepada negara lain yang terlalu. Kita memiliki sejarah tentang penduduk pribumi yang pada masa dulu tidak dianggap sebagai manusia. Sekarang mungkin memang bukan zamannya dan sudah tertinggal, tapi tentang pengalaman itu akan banyak sisa-sisa yang masih harus disamaratakan ketiadaannya. Sebagian dari kita ada yang tidak percaya diri dengan kemampuannya sehingga ketika melihat orang luar negeri merasa mereka menjadi orang paling kecil dan segala urusan diserahkan saja kepada mereka yang ia anggap lebih hebat. Itu adalah kelemahan terkecil yang mungkin saja bisa menjangkit ke seluruh lini. Apakah kita sudah belajar dari sejarah?

Saya rasa sebagian dari rakyat tidak siap untuk hal ini, karena masyarakat Indonesia bukan hanya orang Jakarta. di kampungku masih banyak orang yang hanya mengandalkan sawah dan ladang untuk melanjutkan hidupnya. Kemudian mereka membiayai anak-anak mereka untuk sekolah tinggi dan kemudian anak mereka harus berhenti karena menikah di usia muda dan menjadi ibu rumah tangga. Begitu siklus kehidupan selanjutnya berulang. Jika perdagangan bebas adalah tentang pertukaran buruh, lalu bagaimana nasib buruh di negeri kita. Bisa jadi ranah kerja mereka menjadi tersingkir di rumah sendiri. Tapi pembicaraan ini bukan pembicaraan yang bisa di bawa ke warung kopi kemudian berubah menjadi surat yang gagal ditandatangani.

Andai saja ada sebuah perjanjian antara orang tua dan generasi mendatang, tentang mau dibawa kemana negeri ini. Apa yang lantas harus dilakukan generasi berikutnya. Tidak hanya tercantum dalam undang-undang yang tidak asyik diperbincangkan di warung kopi. Dan selalu berdasi serta berkarpet merah. Sehingga, orang-orang bawah macam kita bisa paham posisi dan peran kita masing-masing. Serta dijamin kehidupan sebagai warga negara, yang tidak lagi harus memikirkan betapa sulitnya berkreasi untuk mencari uang dan melupakan satu sisi kewajiban sebagai manusia berkebangsaan.



Kediri, 25 Januari 2015
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel