Kenapa Setidaknya Harus Pakai Batik Saat Hari Batik?

[caption id="" align="alignnone" width="580"] image source : kfk.kompas.com[/caption]

Mungkin sebagian teman-teman ada yang juga bertanya-tanya seperti saya. Kenapa sih harus pakai batik sebagai tanda kita menghormati hari batik nasional? Bukankah tanpa kita pakai batik pun kita tetap menghormati hari itu sebagai hari batik? Bukankah tanpa kita memakai batik pun hari batik tidak akan dibatalkan dan diganti dengan hari ulang tahun saya? Dan apa juga fungsinya batik sehingga harus diberikan kepadanya hari spesial?


Peringatan batik yang setahun sekali waktunya sama kaya idul fitri atau idul adha, tapi esensinya beda tentu saja. Jika idul fitri dan idul adha kaitannya sama habluminallah kalau batik itu kaitannya sama habluminannas. Sebegitu singkat ya, penjelasan saya. Sudah? Belum..

Batik memiliki perjalanan panjang untuk diakui sebagai produk Indonesia. Ia adalah harta benda nenek moyang kita. Dalam batik juga ada identitas bangsa, karena dengan batik yang sudah diamini sebagai harta benda Indonesia, orang Indonesia bisa dikenal dengan batiknya.

Dalam batik ada sebuah konsepsi berupa ide, sikap, penilaian, formulasi dan abstraksi dari Indonesia itu sendiri. Ketika kamu pakai batik, orang bakal tahu ada sejarah yang kamu bawa-bawa disana. Ada tangan-tangan yang kamu hargai juga disana, ada ide-ide yang kamu junjung, dan tentu saja ada penghormatan dan rasa senang menggunakan corak pakaian khas pebatik Indonesia. Selain tentu saja orang-orang akan mengingat kejamnya Soeharto, atau cakepnya Soekarno.

Perempuan jawa zaman dulu menjadikan keterampilan membatik sebagai pekerjaan ekslusif bagi perempuan. Dahulu juga pakaian batik hanya dipakai oleh orang-orang keraton Jogja dan Solo. Sejarawan Indonesia percaya bahwa batik berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Canting juga diyakini sudah ditemukan pada abad ke-12 di Kediri-Jawa Timur. Bagi yang percaya saja.

Ketika memakai batik, konsep-konsep Indonesia juga tergambar disana. Indonesia yang bhineka tunggal ika, juga yang tidak tunggal ika-nya. Citra diri bangsa ada dalam sehelai batik yang dibuat oleh tangan-tangan kasar para pebatik.

Jika zionisme menggunakan mata satu sebagai simbol kekuasaan mereka. Maka batik juga harus menjadi simbol kekuatan Indonesia. Daripada digunjing sebagai orang yang memakai simbol mata satu dan diharam-haramkan oleh satu pihak, lebih baik memakai batik untuk simbol yang lebih humanis dan nasionalis. Meskipun cerita Indonesianya ada yang  manis, dan ada juga yang miris.

Om Geertz bilang, bahwa simbol itu selalu memberikan motivasi. Motivasi adalah kecenderungan dimana terdapat kemampuan untuk melakukan tindakan tertentu atau berperasaan tertentu. Begitupun dengan memakai batik, karena eratnya batik dengan citra Indonesia. Atau kalaupun kamu tidak senang dengan sebutan Indonesia, misalnya Nusantara gitu setidaknya kamu hormatilah dan sebarkanlah karya-karya ibu-ibu di desa yang membuat batik itu. Meskipun sekarang pembuat batik sudah menyebar di seluruh kalangan tua ataupun muda. Tapi kalau kamu ngerasa citra Indonesia tidak baik-baik amat, ya pakailah demi tangan-tangan kasar pembuat batik itu.

Perasaan yang akan muncul ketika kamu bertemu orang yang memakai batik di negara orang misalnya, kamu pasti akan langsung ngeuh dengan orang itu. Barangkali kamu bisa langsung bertanya atau bercakap-cakap dengan dia, dan kamu punya teman baru. Atau kamu akan langsung ngeuh dan merasa sakit ketika Malaysia ternyata mengklaim batik sebagai warisan budayanya.

Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel