Keturunan Pemalas

“Rizki manusia Tuhan yang mengatur.” 
Aku selalu memegang perkataan yang aku dapatkan dari Ua Haji Dikin ini. Kata-kata yang aku dapatkan ketika aku masuk sekolah diniah dulu. Tapi, rasanya kata ini yang membuat hidupku sekarang menjadi berantakan. Aku selama ini salah mengartikan pesan ini dalam hidup. Aku berfikir, kalaupun aku tidak melakukan apa-apa, Tuhan tetap sayang kepadaku. Tapi aku tahu sekarang aku salah, aku harus melakukan suatu hal untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.

Tapi aku juga tidak menyalahkan pemahamanku sepenuhnya. Aku selalu yakin dengan takdir Tuhan. Aku yakin mungkin Tuhan menciptakan aku ketika Dia sedang malas. Atau mungkin aku reinkarnasi dari arwah yang dulu sering gagal dalam berusaha sehingga, ketika bereinkarnasi kembali, dia menjadi orang malas. Dan Dia menjadi aku yang sekarang.

“Kapan kamu akan kerja, orang lain mah sudah menikah. Punya anak, kamu masih saja malas-malasan kaya kerbau pak Ma’un.” Aku menundukan kepala, melihat semut-semut yang mirip rakyat sedang antri minta sembako.

“Kakak mah gak minta apa-apa, itu juga buat kamu sendiri nantinya. Kalau sukses juga buat kamu sendiri kan, bukan buat kakak. Kakak capek tau ngobrolin kamu terus kaya gini.”

Aku masih dengan kepala menunduk, dan dalam hati senyum-senyum saja. Mungkin kakakku klien investasinya sedang bermasalah. Atau mungkin dia sedang PMS saja. Sering ia melakukan itu, bahkan ketika suaminya berhenti kerja pun, sasarannya sering kepadaku.

“Bu, coba bawa si Neng ini ke Ua haji Jalal. Mungkin dia bisa ngobatin si Neng.”

“Nengnya mau gitu?” Ibuku bertanya dan menunggu reaksiku.

“Neng mah hayu-hayu aja. Tapi aneh aja Neng mah, kenapa kalo Ua haji bisa bikin orang bisa kerja, tapi dianya sendiri cuman pulang pergi ke pengajian.”

“Eh, husshy kamu gak boleh bilang kaya gitu. Ua haji mah orang suci, kewalat lho.” Seru kak Mala dengan bibir monyong dan telunjuk disimpan tepat di tengah-tengah bibir menyalanya. Seperti gunung yang ditimpa pohon besar.

“Hayu, atuh siap-siap. Eta rambutnya benerin, di kerudung atuh malu mau ketemu Ua haji. Masa rambut eta dibubuligir kitu.”

“Iya, ibuku sayaang.” Dengan manis aku menuruti perkataan ibu.



Sampai di rumah Ua haji Jalal, baunya menyerang hidung. Ada hio di pojok ruang tamu. Baunya sudah seperti di makam, bau tujuh rupa dan beberapa bau yang tidak jelas.

“Wah Neng, mau apa ke sini geulis?.” Ua haji muncul dari balik pintu berwarna putih. Dengan pakaian yang putih, serba putih sepertinya dia sedang iklan pemutih.

“Ini Ua Neng teh susah cari kerja, komodeui jodoh.” Ibuku menimpali dengan tangan memegang bahuku. Mungkin dia takut aku kabur.

Ua haji hanya mengangguk-angguk saja.

“Neng usia berapa tahun?”

“23 Ua,” Aku membuka mulut saat ditanya saja.

“Sudah berumur ya, belum nikah. Padahal Ua punya kambing yang belum kawin, mau? kekekeke” mata ua haji Jalal menipis karena menertawakanku.

Ibukupun demikian, bibirnya menjadi lebar menertawakanku. Dan aku yang ditertawakan, diam mematung.

“Engga, engga, becanda ua mah atuh Neng. Jangan dianggap becanda, eh. Gkgkgkg”

Ua haji kembali girang bersenang-senang dengan candaannya sendiri. Dan aku semakin ingin pulang mencincang-cincang mulut Ua haji Jalal.

Ia kemudian menyelesaikan candaannya, dan masuk ke kamar. Seperti ingin mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian ia melesat lagi sudah di tempat duduknya semula deng membawa segelas air jernih.

Batu akik yang berjejer di jari kirinya ia lepaskan semua. Mencelupkan satu persatu ke dalam gelas, volume gelas menjadi penuh dan batu akik yang besar pun menjadi gemuk di dalam gelas.

“Ini, minum.” Aku menelan ludah. Mungkin Ua haji sedang bercanda lagi.

“Ah, jangan bercanda Ua.”

“Ua sedang tidak bercanda Neng. Cepat minum ini.”

Dengan terpaksa aku meminum air dalam gelas itu. Batu akik yang dimasukan kedalam gelas itu mulai mengikuti arus air dari gelas. Aku mulai eneg karena aku tidak tahu sudah berapa lama batu akik ini ada di jari-jari besar dan tuanya Ua haji Jalal. Rasanya hambar-hambar, sedikit bau amis mungkin itu efek dari ruam-ruam tangannya ua Jalal.

Aku ingin segera pergi, dan membanting gelas itu. Tapi ku urungkan demi menghormati ua Jalal, dan tentu saja demi ibuku tersayang.

Lalu Uwa Jalal memberiku secarik kertas bertuliskan aksara Sunda yang sama sekali aku tidak faham apa maknanya.

“Bawa ini, simpan di dompet. Tapi jangan sampai di bawa ke kamar mandi, nanti dia marah. Dan menggagalkan mantranya.”

Aku terkekeh dalam hati, mungkin si ua menyimpan semacam tuyul atau apalah di dalamnya dan semasa dia menjadi manusia dia tidak suka mandi.

“Selama pantangan itu tidak dilakukan, Neng bakal gampang nyari kerja. Dan satu hal lagi, hilangin deh rasa malasnya. Rasa malas yang akut itu coba sedikit demi sedikit di hilangin. Sudah ngalengkah mah ga bakal males lagi. coba deh, selangkah saja Neng mulai, pintu-pintu bakal banyak yang terbuka lebar. Dan satu lagi, jangan terlalu banyak maksiat”

Nah, itu. Aku percaya kata-kata Ua Jalal yang itu saja. Yang lainnya nanti dulu. Aku yakin orang-orang datang kesini dan banyak datang kesini bukan karena batu akik yang dicelupkan ke air. Tapi kata-kata ua jalal yang memberi motivasi seperti Mario Teguh.

Aku fikirkan juga perkataan ua jalal “jangan terlalu banyak maksiat.” Apa maksudnya dia berkata seperti itu. Aku banyak dosa memang iya, tapi kenapa dia menekankan pada maksiat. Aku kan bukan pelacur.

Aku pulang dengan ibu, dan dunia baru muncul di kepala. Bahkan ibuku menegurku karena tidak menemani dia ngobrol. Fikiranku melayang-layang, apa yang sudah aku lakukan selama ini sebenarnya. Sehingga aku susah mencari apapun dan rasa malas yang tidak tanggung-tanggung.

“Bu, memangnya kita punya keturunan malas. Aku kira ibu, bapak, kalian itu pekerja keras.”

Ibu diam sejenak, dan memelankan langkah kakinya. Dia mulai bercerita asal usul keluarganya. Dan sampai kepada cerita tentang Nenekku. Nenek Sadran.

Nenek sadran adalah keturunan orang kaya yang menikah dengan kakekku. Dia adalah anak bungsu yang manja, keinginannya selalu dituruti kedua orang tuanya. Sampai kemudian dia jatuh cinta kepada Kakek, dan kakekku pun jatuh cinta kepada nenekku yang cantik pada masanya.

Awal pertama nenekku sangat rajin dan menjadi istri yang didamba suami. Menimba air, menjahit, bangun pagi. Tapi tidak lama setelah itu, dua bulan berlalu. Kebiasaan nenek yang asli datang lagi. Dia bangun lebih siang daripada kakek yang harus pergi ke sawah. Dan berbagai hal yang tidak pernah disangka-sangka datang dari nenek. Terutama sifat pemalasnya yang tidak ada bandingannya.

“Begitu ceritanya Neng.”

Ah, aku tidak heran kenapa aku menjadi pemalas seperti ini. Ternyata aku keturunan nenekku yang malas.

“Lalu bu, aku harus bagaimana?”

Ibu diam sejenak, dan menghela nafas dalam-dalam.

“Sebenanya kakekmu dulu mewasiatkan pada ibu, kalau saja sifat nenek turun ke anak cucunya. Dia Cuma mengatakan satu hal pada ibu, sayangi dia bagaimanapun malasnya dia. Dan kakek bilang, lawan saja rasa malas itu. keluarkan terus, sampai tidak tersisa lagi malasmu itu.”

Dan semenjak hari itu, aku mulai memaksakan diriku sendiri untuk tidak menjadi pemalas. Aku bertekad untuk membuang sial seluruh keturunanku, dan tidak menjadi penyebab rasa malas yang ditimbulkan dari keturunan.
Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel