image source: www.futureofsocialnetwork.com
Pagi di Cibiru yang cukup cerah, pagi itu, tepat pukul delapan saya mendapatkan kembali hal-hal yang sempat akan terkubur. Mulai tertindih hal-hal yang bakal melupakan yang namanya menulis. Tapi, syukurlah Tuhan masih menyadarkan saya untuk tetap menulis. Ah, bahkan jari tangan saya mulai terasa kakunya.
Kembali saya dipertemukan dengan orang yang saya senangi, pak Bambang Q. Anes atau kita lebih senang menyebutnya pa BQ (baca: BeQi). Dia adalah dosen favorit saya, karena dia menulis. Ya, saya termasuk orang yang senang dengan orang-orang yang senang menulis. Karena saya yakin mereka memiliki keterampilan lain yang tidak dimiliki oleh orang lain yang hanya bisa menyampaikan pendapat secara oral saja.
Pagi itu, pak BQ menyampaikan materi tentang kepenulisan. Memang tujuan utamanya lebih ke penulisan ilmiah, tapi lebih dari satu jam saya rasa beliau menyampaikan materi dalam penulisan umum, bukan terfokus ke karya ilmiah saja.
Siapa yang mengajarkan menulis, pasti dia menyuruh menulis setiap hari. Karena pelajaran menulis, jika hanya teori seperti mengenalkan dingin pada orang yang tidak tahu seperti apa itu dingin. Pak BQ mengibaratkan menulis seperti berenang. Jika berenang tahu teorinya saja maka tidak akan tahu bagaimana cara menaklukan air. Dengan berenang meskipun banyak kekeliruan tapi dengan terus mencoba dan berlatih maka hasilnya akan berbeda.
Pak BQ mengutip perkataan Putu Wijaya bahwa tetaplah menulis meskipun jelek, keluarkan terus kejelekan itu sehingga hilanglah jeleknya menulis dalam dirimu. Begitulah memang menulis, tidak ada yang menulis langsung bagus. Tidak ada yang begitu menulis bisa diterbitkan di koran, kecuali menerbitkan sendiri di blog.
Saya sadari sendiri dalam menulis memang perlu konsistensi. Dengan konsisten menulis jam terbang dalam menulis akan membuat kita merasa ringan saat menulis hal apapun. Dan menulis di blog adalah salah satu cara kita tetap bertahan untuk menulis, meskipun tulisannya tidak bagus, tapi ada kepuasan tersendiri saat melihat deretan tulisan dari waktu ke waktu.
Hal yang seringkali ditemui oleh orang yang mengawali menulis adalah takut salah, takut berbeda dengan yang lain, takut ditertawakan, takut ini, takut itu. Takut adalah karena kita tidak pernah mecoba, seperti yang pernah saya dengan dari HRD tempat saya pernah bekerja, dia mengatakan bahwa takut hanya pada langkah pertama saja, selanjutnya takut itu akan hilang dengan sendirinya. Karena takut akan dibarengi dengan setumpuk keberanian di belakang. Maka, takut adalah pintu dari dirimu yang terkunci, bukalah, maka akan banyak jalan yang bisa kamu lihat dan kamu temukan disana.
Jika kamu tanya cara menulis kepada Pidi Baiq, dia pun akan mengatakan demikian. Kalau menulis ya menulis saja, jangan takut salah, karena tidak ada yang melihat. Dan dia bilang, ide itu diciptakan, bukan dicari. Jadi saat di depan komputer disanalah bahan tulisan itu kamu dapatkan.
Tulisan adalah sebuah karya, dengannya kamu bisa dikenang dan abadi. Kita tahu sebuah pepatah mengatakan, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati menurut saya dengan meninggalkan karya. Itulah kenapa kita harus menulis. Siapa yang akan mengenal Pramoedya Ananta Toer kalau dia tidak menulis. Siapa yang akan mengenal Nano Riantiarno kalau dia tidak menulis naskah dalam setiap drama yang ia pentaskan?
Maka, pagi itu pak BQ melontarkan sebuah anekdot “dunia ini cukup kejam, kalau kamu tidak menulis, maka kamu akan di lupakan. Kecuali kamu masuk NU, karena dengan masuk NU kalian bisa dikenang setidaknya setahun sekali ketika tahlilan”. :D
0 komentar