Showing posts with label Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Kuliah. Show all posts

Why I Choose Tridharma's Tionghoa to My Research?

Actually, my theses was never taken from my passion. For the first time I wrote my theses about FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), I never felt that the good idea as long as I am writing it. I was dissaponted that I can't write my masterpice theses from my passion. At that time, my feeling told me that I can't reach what I keen on.

For the first time, I challenge my self to write about artist reasearch. I am interesting in art, that's why I choose it. In my opinion, artist is someone who have been huge different from others. They can see the rain from different view, when others see rain was fallen by science evidence, they could see that rain is hurt, love, missed, etc. So I think, God was creating them as flower which can breath and human that beyond the reality. That's why I love music, theater, poems, painting, etc.

That's not mean that I had done my reasearch with regret so I didn't doing my best. That's no no. I was doing my best for my research, althought that's not make me satisfied, but I love the process when I was doing that Theses.

For now, I am doing research again for final task at post graduate. I choose about Chinese community's religion, Tridharma. I think, not anybody knows about that religion. Someone must be knowing Tridharma is kind of university. But
Read more

Kuliah di Religious Studies itu Rasanya...

Sudah satu tahun saya melewati kuliah S2 di Religious Studies (jarang-jarang nih curhat masalah beginian). Dan kemarin baru saja selesai mengurusi registrasi ulang semester tiga. Gak kerasa, sudah akan menginjak tiga semester di sini. Rasanya baru kemarin ngurusin registrasi dan kuliah Pra-Pasca. Saya kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan rasanya sudah jadi sahabat lama yang kenal gak kenal sama universitas sendiri.

Setahun yang lalu, saya memutuskan mengambil jurusan Religious Studies. Setelah sebelumnya saya galau sendiri karena ingin hijrah dari Bandung ke kota gudeg, Yogyakarta. Tapi karena beberapa bujukan orang-orang untuk tetap stay di Bandung dan lanjut kuliah di sini, saya memtusukan tetap tinggal di Bandung dengan mengambil jurusan Religous Studies. Selain itu, saya tidak yakin dengan jurusan yang akan saya ambil di Yogya. Meskipun ngebet banget tinggal di sana, dan menghirup siang malam selama beberapa tahun di kota manis itu.

Yang belum tahu tentang Religious Studies nih saya sedikit kasih uraiannya tentang jurusan yang katanya sih cuma ada di UIN Bandung S2-nya. Di luar negeri banyak yang memberikan konsentrasi jurusan Religious Studies. Kalau di tempat lain ada yang mirip-mirip kaya di UIN Yogya, ada Agama dan Managemen Konflik, di UIN Syarif Hidayatullah juga ada tapi saya lupa apa namanya. Religious Studies hanya ada di UIN Sunan Gunung Jati Bandung, dan jangan heran kalau jurusan ini tidak banyak peminatnya. Jadi kalau kuliah di jurusan ini, kita tidak akan menemukan mahasiswa lebih dari dua puluh di kelasnya. Entah mungkin karena orientasi ke depannya tidak menguntungkan dalam dunia kerja.

Tetapi banyak hal yang saya rasakan secara pribadi ketika kuliah di jurusan yang berkonsentrasi pada penelitian agama-agama ini. Salah satunya adalah efek psikologis ketika berhadapan dengan orang yang beragama lain. Karena religous studies sudah memberikan saya gambaran yang berbeda dan pengertian yang berbeda tentang agama, saya jadi memiliki pandangan yang berbeda pula terhadap teman-teman dari agama lain. Dulu, saya termasuk orang yang anti terhadap agama lain, saya adalah orang yang tidak ingin bekerjasama lebih jauh dengan mereka. Dahulu, dalam pandangan saya mereka adalah orang-orang yang akan masuk ke dalam neraka saya. Begitulah dulu saya memandang mereka, apalagi untuk bekerjasama lebih jauh sangat tidak memungkinkan. Hal ini tidak lain karena pendidikan agama yang saya dapatkan, dan kultur di daerah saya yang memang homogen.

Setelah kuliah di jurusan ini saya menjadi paham bagaimana manusia bisa memegang agama yang berbeda, tapi perilaku mereka akan sama. Kita memiliki kecenderungan untuk pasrah kepada Tuhan, dan menempatkan diri sebagai makhluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Sebagai mahluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan, kita melakukan hal-hal yang membuat Tuhan senang dan menjadi hamba yang sangat taat mejauhi larangan-larangan Tuhan. Idealnya seperti itu. Seluruh manusia memiliki kecenderungan demikian.

Masalah perbedaan agama, adalah masalah sejarah yang sangat panjang. Saya percaya kepada Nabi Muhammad, karena saya membaca sejarah agama saya bahwa beliau adalah Nabi yang harus saya ikuti dan saya imani. Begitupun dengan agama lain, mereka percaya nabi-nabi mereka karena memiliki sejarah yang amat panjang dan rumit tentang kenabian mereka. Kita memiliki sejarah panjang tentang agama yang kita yakini, jadi untuk memaksakan kepercayaan kita pada kepercayaan orang lain bukanlah sesuatu yang mudah. Yang benar di kepala kita, belum tentu benar di kepala orang lain. Yang benar di budaya kita belum tentu benar di budaya orang lain.

Hal ini secara tidak langsung memengaruhi cara saya bertindak dan berfikir dalam kehidupan sehari-hari. Saya menjadi orang yang lebih toleran kepada pendapat orang lain. Sedikit demi sedikit saya mulai memberi pemahaman pada diri saya sendiri bahwa orang lain yang memiliki sifat tertentu, yang meskipun saya tidak menyukainya adalah orang yang memiliki sejarah yang lain dengan hidup saya. Jadi saya tidak bisa memandang dirinya sebagaimana saya memandang diri saya sendiri. Karena sejarah yang kita miliki sangatlah bebeda. Sejarah yang saya maksud di sini bukan berarti sejarah masa silam sebelum masehi atau apapun itu. Tetapi, sejarah yang membentuk kepribadian kita, seperti latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

Dari Religius Studies saya belajar bagaimana mencintai perbedaan dan bagaimana mencintai sesama manusia dengan tidak memandang apa suku dan agamanya. Tapi karena kita semua adalah mahluk Tuhan yang harus saling mengenal dan saling memberi pengetahuan. Damai adalah sesuatu yang sulit didapatkan kecuali kita bisa saling memahami dan mengerti sejarah masing-masing kehidupan.

Tulisan ini saya buat karena sebentar lagi adalah World Interfaith Religious. Semoga kita bisa lebih saling memahami dan saling menyayangi dalam perbedaan semua mahluk di dunia. Tidak hanya manusia, tetapi hewan dan tumbuhan dan segala bentuk ciptaan Tuhan. Salam damai.
Read more

Belajar dari SuperWriter

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti kegiatan pelatihan penulisan, SuperWriter I dan II. Waktu itu ada teman yang mengajak saya mengikuti kelas menulis online di Watsapp. Saya awalnya ragu,  dari beberapa penulisan online yang saya ikuti, jarang ada yang konsisten di pengurusnya sendiri. Mereka kadang
Read more

Serunya ikutan Living Values Education

[caption id="attachment_547" align="alignnone" width="552"]Living Values Education Program at Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Living Values Education Program at Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung[/caption]

Siapakah yang memberimu nilai sehingga seperti sekarang ini? Ayah? Ibu? Kakak? Atau orang lain? Semua orang yang kita temui memiliki nilai dalam dirinya. Begitu halnya dengan kita sendiri, kita sebenarnya memiliki nilai. Tergantung dari nilai apa yang sedang kita aktifkan.

Saya sedang menanamkan nilai keberanian sebenarnya dalam diri saya. Meskipun itu sangat sulit dilakukan. Tapi saya mencobanya sedikit demi sedikit, dan selalu berusaha agar setiap harinya saya bisa mewujudkan keberanian itu
Read more

Menulislah! Atau masuk NU


image source: www.futureofsocialnetwork.com
Pagi di Cibiru yang cukup cerah, pagi itu, tepat pukul delapan saya mendapatkan kembali hal-hal yang sempat akan terkubur. Mulai tertindih hal-hal yang bakal melupakan yang namanya menulis. Tapi, syukurlah Tuhan masih menyadarkan saya untuk tetap menulis. Ah, bahkan jari tangan saya mulai terasa kakunya.
Read more

INTELEKTUALITAS DI BAWAH POHON RINDANG

]
image source : uinsgd.ac.id

Di kampus saya ada istilah DPR, Dibawah Pohon Rindang. Beringin besar yang sangat rindang dengan daun dan akar yang merambat menjulur ke bawah. Entah sudah berapa lama pohon itu menjadi saksi orang-orang yang belajar di kampusku. Selain itu, ini semacam fasilitas alam, pohon rindang itu selalu menjadi
Read more

Membaca Religious Studies Tidak Semenarik Membaca Berita Sastra



Segurat kegelisahan di pagi hari ketika saya membaca salah satu website yang banyak memberitakan tentang sastra. Dimana sastra seringkali dituliskan dengan sangat menarik dan tidak kaku. Tidak menyalahkan atau menghakimi, tidak menjelek-jelekkan tidak juga merasa disini yang benar disana yang salah. Mereka sangat humanis dan sangat menentramkan. Barangkali itulah entitas dari seni.
Read more