Segurat kegelisahan di pagi hari ketika saya membaca salah satu website yang banyak memberitakan tentang sastra. Dimana sastra seringkali dituliskan dengan sangat menarik dan tidak kaku. Tidak menyalahkan atau menghakimi, tidak menjelek-jelekkan tidak juga merasa disini yang benar disana yang salah. Mereka sangat humanis dan sangat menentramkan. Barangkali itulah entitas dari seni.
Namun agak sedih rasanya ketika melihat ke samping, dimana saya duduk bersama Religious Studies. Keilmuan yang saya geluti sendiri. Dimana, saya tidak menemukan kehangatan-kehangatan seperti itu. Kebanyakan tema religious studies sangat sensitif dan menyakitkan hati. Banyak yang merasa benar disini dan salah disana. Bagi saya itu sangat menyedihkan. Kenapa lantas ilmu yang sangat menarik ini menjadi begitu sangat menakutkan. Padahal, ketika kita melejitkan ilmu tersebut ke bumi semua itu bisa disajikan dengan lebih bersahabat dan tidak menyakiti.
Saya memang tidak tahu banyak tentang kajian Religious Studies sendiri, karena major saya yang pertama mungkin tidak seluas Religious Studies. Tapi disini saya pun tidak menemukan kedamaian itu ditengah perbincangan tentang kedamaian. Dan sastra malahan yang menyajikan itu.
Di website sering saya temukan berita tentang kegiatan sarkastis yang dilakukan oleh suatu kelompok keagamaan, atau tindakan pelecehan terhadap suatu kelompok agama. Itu sangat menyakitkan.
Memang terlalu memaksakan ketika ingin menyamakan posisi agama dengan sastra. Karena kompleksitas agama sendiri lebih-lebih daripada sastra, dan bisa jadi sastra itu merupakan hasil dari agama. Iya, seperti itu mungkin mudahnya.
Tapi kemudian saya sadar, bahwa kompleksitas agama menghasilkan banyak sisi. Satu sisi agama bisa menjadi inspirasi untuk sastra, satu sisi agama bisa menjadi penyebab konflik karena hal-hal yang terdapat di dalamnya, dan masih banyak sisi yang bisa dihasilkan oleh agama itu sendiri. Pada akhirnya, manusia beragama bisa menghasilkan sastra tergantung bagaimana ia membumikannya.
Bukannya tarian sufi juga merupakan arena seni yang berasal dari agama, puji-pujian anak-anak, dan kitab-kitab klasik yang mengandung sya’ir-sya’ir itu merupakan karya sastra klasik yang tidak bisa dinafikan. Kita bisa lihat dalam kitab klasik imrithi (saya sering menyebutnya demikian), atau kitab alfiyahi karangan Ibnu Malik. Mereka menciptakan ilmu itu menjadi bentuk sya’ir sehingga murid-muridnya lebih mudah untuk menghafal.
Sejarah manusia adalah sejarah tentang agama. Adam dan Hawa turun ke bumi karena kesalahannya terhadap Tuhan. Perjalanan manusia juga adalah perjalanan pencarian ketuhanan. Pengalaman-pengalaman yang menyentuh hati dan panca indra manusialah yang akhirnya membuat manusia menjadi melankolis dan menuliskannya dalam bentuk puisi atau sya’ir. Banyak juga yang menuliskannya menjadi cerita pendek agar sembari duduk minum kopi bisa membaca cerita hingga sampai pesannya secara singkat.
Dan saya lupa, bahwa segala kegiatan manusia di muka bumi ini adalah kegiatan religious. Religious adalah kata sifat dalam bahasa inggris yang berarti bersifat keagamaan. Dan agama menurut pengertian dari KBBI yaitu ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Jadi segala tingkah laku manusia adalah kegiatan religious. Maka tidak salah kiranya ketika sastra dikatakan sebagai bagian dari agama.
Tapi di lapangan banyak yang mengkotak-kotakan antara religious dan non religious. Seperti lagu, ada lagu yang katanya religious karena didalamnya banyak perkataan atau harapan-harapan terhadap keTuhanan. Padahal, religious itu dalam KBBI sendiri tidak hanya mencakup ketuhanan, melainkan pergaulan manusia dan saya tambahkan alam dan makhluk lain.
Sekian saja dulu tulisannya, karena akan semakin panjang dan berurat akar kesana kemari. Happy Monday.
0 komentar