Ulasan Buku : Gadis Pantai

image source : hembusananginlembut.wordpress.com[/caption]


Judul : Gadis Pantai

Penerbit : Lentera Dipantara

Halaman : 207

Cetakan ke 7 - 2011

Gadis Pantai, bukan anak Reggea. Gadis Pantai adalah ia yang harus menelan keganasan kekuasaan, kepicikan berfikir,dan kekerdilan aksara vandalisme Angkatan Darat. Saksi sejarah negara yang tidak usah terulang kembali.


Gadis Pantai adalah roman yang tidak selesai,  diceritakan bahwa sebenarnya roman ini merupakan trilogi. Dan Gadis Pantai sekarang ini ada karena Universitas Nasional Australi (ANU) mendokumentasikannya lewat Savitri P. Scherer seorang mahasiswa yang mengambil tesis di seputar proses kepengarangan Pram.

Gadis Pantai adalah anak kampung yang cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar. Selalu ceria membantu bapaknya dan emaknya di kampung. Menjahit jala, membantu emak menumbuk jagung dan pekerjaan berat lainnya. Tapi tidak ada masalah, ia senang mengerjakannya. Hingga nasib membawanya menjadi seorang gundik pembesar menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “kebutuhan seks” pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.

Dari seseorang yang memiliki kebebasan melakukan segala hal, dan hanya tunduk pada perintah ibu bapak, Gadis Pantai menjadi seorang perempuan yang harus memerintah dan tunduk kepada orang yang memiliki kekuasaan dan menjadikannya istri percobaan. Menjadi perempuan kota yang tidak memiliki apa-apa kecuali menjaga setiap milik lelaki. Lain dengan di kampungnya dimana suami-istri bisa makan bersama, duduk, minum,  dan bicara bersama-sama.

Meskipun setiap hari di kampunnya menjahit layar dan jala, ia tidak pernah merasa miskin. Tapi di tempat priyayi sebagai istri Bendoro dia tidak merasakan kekayaan yang sebenarnya. Gadis pantai telah kehilangan keceriaan yang ditimbulkan oleh kerjasama dengan semua orang, dengan keluarganya, dimana ia dulu selalu membantu ayahnya meletakkan jala setelah pulang, membantu mereka untuk menjahit layar dan jala, serta membantu ibunya menumbuk jagung. Di tempat yang dia tinggali sekarang tidak ada kerjasama, yang ada hanya pengabdian dan perintah.  Begitupun tawa dan senyum dipenjarakan karena tidak pantas melayani senyuman orang biasa.

Gadis Pantai terpisah dari emaknya secara jarak ataupun kedudukan. Gadis Pantai telah menjadi priyayi dan Emak orang biasa sehingga dia tidak layak tidur dengan emaknya, meskipun dia meminta. Tapi peraturan priyayi mengatakannya tidak pantas seorang priyayi tidur dengan orang biasa, meskipun ibunya sendiri.

Gadis Pantai menjadi perempuan utama, laksana gunung, tidak terungkit oleh apapun. Kecuali oleh suaminya yang dipanggil Bendoro, dan Bendoro sendiri lebih tidak terungkit kecuali oleh Gusti Allah sendiri dan akhirnya, oleh wanita. Gadis Pantai heran kenapa semua orang takut kepada Bendoro yang langsing, langsat, pucat dan halus. Hinga ia tahu dari pelayannya menceritakan kepada Gadis Pantai tentang pewayangan. “Raksasa selamanya dikalahkan oleh satria yang kurus-kurus, gepeng dan layu. Gergaji cakil yang gesit penuh api sekali tersenggol jari kelingking satria, dia rubuh takkan bangun lagi. dan satria itu hampir tidak beranjak dari tempatnya, sedang si cakil berputar melompat berjungkir balik meledek. Menurutnya wayang adalah nenek moyang mereka.” mungkin begitulah nenek moyang mereka mendidik

Tapi Gadis Pantai tidak pernah melihat wayang di kampungnya. Sebab, kakek tua di kampungnya pernah mengusir orang kota yang membawa wayang kesana. Dengan pikiran bahwa mereka membawa omong-kosong, membuali orang-orang dengan kehebatan selembar kulit kerbau yang dipahati dan dilukisi warna-warni. Dan wayang tidaklah akan lebih berkuasa dari laut. Pikir kakek itu. Karena laut adalah nenek moyang mereka, segalanya bersumber di laut. Tidak ada yang lebih berkuasa dari laut. Nenek moyang mereka juga tidak bakal ada kalau laut tidak ada.

Mulanya perkawinan itu memberi prestise bagi Gadis Pantai dan kampung halamannya. Dia dipandang telah naik derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Saat pulang kampung Gadis Pantai tidak merasakan aroma yang dulu ada. Posisinya sebagai Bendoro Putri, telah membuat orang-orang kampung menyinarkan pandangan tidakwajar padanya, kesopanan yang dibuat-buat, ketakutan yang menjengkelkan. Dan orang tua yang jauh terhadapnya, sehingga ia merasa menjadi batu karang tunggal, tak ada satupun berhubungan dengan dirinya, kecuali laut yang kesepian.

Setelah dua tahun tinggal di gedung tahulah dia, yang orang kampung punya cuma kemiskinan, kehinaan, dan ketakutan terutama pada orang kota. Di kampung tepung udang dibayar sebenggol, padahal mestinya empat sen. Dan Mardinah, orang kota yang sering mengatakan Gadis Pantai orang kampung mesti tahu bahwa segalanya telah lenyap bagi orang kampung, orang kampung Cuma bisa bermimpi dan tidak ada yang bisa hilang lagi.

Mutiara dan emas dipandang sebagai pembawa bencana oleh orang-orang kampung nelayan. Para nelayan tahu betul mutiara memang sangat berharga dan bisa didapatkan di laut, tapi tenaga mereka tidak akan dihargai. Dan nelayan tidak akan pernah memakai mutiara, mereka hanya menyelam dan mengaduk lautnya. Dan mutiara hanya akan dipakai oleh orang-orang pilihan untuk meninggikan derajatnya, orang kampung menganggapnya sebagai sebuah bencana.

Prestise yang didapatkan Gadis Pantai tidak berlangsung lama. Setelah dia mengandung dan melahirkan anak perempuan, Gadis Pantai dibuang dan meninggalkan anaknya di rumah Bendoro tanpa mendapatkan hak sebagai ibu. Gugatan pun tidak Bendoro dengarkan, dia mengusir Gadis Pantai seolah ia bukan manusia lagi, tapi sepah yang bisa Bendoro buang begitu saja.

Pram selalu membawa percakapan yang menarik dalam setiap novelnya. Begitu pula dalam novel ini. Disini kita bisa melihat percakapan yang berbobot antara mereka semua. Seperti antara Pelayan dan Gadis Pantai yang seringkali membicarakan hal-hal tentang perbandingan kehidupan Gadis Pantai dan kehidupan di rumah priyayi. Serta percakapan Gadis Pantai dan Mardinah - orang kota yang pandai baca dan menulis serta keturunan orang pandai - tentang pandangan orang kota tentang orang-orang kampung yang sangat memilukan.

Novel ini hanya 270 halaman. Dan sungguh sangat nangung ceritanya, saya berharap bisa mendapatkan cerita dan konflik-konflik batin selanjutnya dari si Gadis Pantai. Tapi memang nyatanya tidak akan pernah bisa ditemukan lagi. Sayang sekali memang.



Load disqus comments

2 komentar

Iklan Bawah Artikel