Belajar dari Guru Isa



Akhir-akhir ini saya menyibukkan diri memegang buku Jalan Tak Ada Ujung karya dari Mochtar Lubis. Bukan memegang buku asli, atau membacanya dengan sengaja. Hanya saja, kebetulan harus membacanya dan mengetiknya.

Novel ini mengambil setting di Jakarta tahun 1946. Berarti setahun setelah Proklamasi kemerdekaan negara di bacakan. Dan negara telah merdeka. Tapi ternyata pemberontakan dan penyerangan terhadap warga masih terjadi. Saya pernah baca sejarah tentang ini, tapi bodohnya saya luput untuk menceritakan kembali karena lupa dan buku tersebut tidak ada di tempat saya sekarang.



Pemuda masih berapi-api melawan penjajah yang sejatinya belum hilang. Seperti peristiwa yang terjadi pada siang itu, dimana serdadu-serdadu NICA menyerang setiap penduduk yang berusaha lari padahal hanya untuk mengambil keluarga Indo di tempat itu yang merasa terancam tinggal disana dan minta dipindahkan ke Bataliyon Sepuluh, serdadu itu pun datang untuk melindungi mereka.

Saya setuju dengan Guru Isa, kenapa hanya untuk mengamankan satu keluarga harus menyerang warga lain di sekitar. Entah berupa sikap tidak menerima kekalahan atau apa, saya tidak paham.

Hazil dan kawan-kawan pemuda bersatu untuk memberontak para penjajah dengan senjata berupa bambu runcing dan sebuah pistol milik Hazil. Menarik ketika berbicara tentang pistol ini bagi saya sendiri, karena teman-teman Hazil merasa cemburu dan bangga melihat pistol yang dibawa oleh Hazil. Pistol ini juga dibawa-bawa dalam cerita awalnya. Pemuda yang bernama Hazil ini digambarkan dengan pistolnya. Saya merasa ini sangat menonjol sekali, entah kenapa harus pistol, bukan bambu runcing yang di tonjolkan oleh penulis. Selain itu, dari perkumpulan anak muda yang bersama Hazil mereka hanya disebutkan memiliki dua buah pistol, geranat, dan perlawanan lainnya lebih banyak menggunakan bambu runcing.

Menurut saya ini menunjukkan sebuah keberanian dari anak muda. Sedangkan lawan yang mereka hadapi seluruh serdadu mengenakan senjata tersebut. Bukan hanya satu atau dua. Mungkin juga penulis ingin menunjukan bahwa meskipun di tengah keterbatasan, bagi pemuda masa itu tidak ada halangan untuk tidak melawan karena senjata yang sebenarnya adalah keberanian dan keyakinan.

Bagi saya bagian yang paling menarik bukanlah tentang pemberontakan yang dilakukan anak muda, yang dalam hal ini diperankan oleh sosok Hazil. Dan justru inti dari buku ini juga bukan dalam masalah perlawanan terhadap musuh yang real. Tapi sebuah perlawanan terhadap musuh dalam diri sendiri, yaitu berupa pikiran yang dimiliki Guru Isa, ketakutan.

Ketakutan yang dirasakan Guru Isa ternyata berpengaruh terhadap psikologi dan psikis nya. Sampai dokter memfonisnya sebagai akibat dari psikologis ketika kelelakiannya tidak berfungsi, dan Fatimah, istrinya amat kecewa karena tidak bisa memuaskan hak batinnya sebagai seorang suami. Hal ini memperparah ketakutan yang dirasakan Guru Isa dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya termasuk cara dia memainkan musik. Musik yang dimainkan Guru Isa adalah musik dengan melodi yang penuh dengan perburuan akan kebahagiaan.

Guru Isa seringkali diliputi dengan ketakutan. Bahkan dia takut dimarahi anaknya yang berusia empat tahun saat dia dengan tidak sengaja menyiram anaknya dengan air tadahan hujan. Begitupun dia sangat takut ketika pulang tidak membawa uang untuk membeli beras, ia sangat takut kepada istrinya. Hingga ketakutan itu membawanya untuk melakukan hal yang diluar dari kebiasaan dirinya, mencuri.

Mochtar Lubis membuat saya greget saat berhadapan dengan Guru Isa. Saat membacanya, saya melalui sebuah keadaan yang membosankan saat Guru Isa tidak juga menemukan dirinya dan selalu saja dihadapkan pada ketakutan-ketakutan yang tidak berarti. Emosi saya yang harusnya terbawa pada cerita menarik lain jadi terkalahkan oleh ketakutan Guru Isa.

Tapi kita akan dibawa pada kesadaran lain di ujung cerita. Kita akan tahu bahwa segala hal yang dilalui oleh Guru Isa memiliki sebuah keajaiban. Selain sebuah keajaiban ketika kelelakiannya kembali, dan senyum lebar Guru Isa saat harus mendekam di penjara bersama kekalahan Hazil. Ketika Hazil merasa kalah, justru Guru Isa merasa dirinya adalah pemenang yang sebenarnya. Sebab dia terbiasa dengan rasa takutnya dan bisa berdamai dengan rasa takut itu.

Saya pikir tentang ‘ketakutan’ Guru Isa memang inti ceritanya, dan Mochtar Lubis benar-benar kuat memerankan peran Guru Isa disini. Karena seperti yang saya sebutkan tadi, saya jadi terpaku pada ketakutan Guru Isa, dan hampir tidak bisa tertarik pada cerita lain karena terfokus pada Guru Isa.

Dan pada akhirnya, bacalah buku ini. Sekalipun di pertengahan kau mungkin akan merasa bosan. Tapi cerita akhir akan membuatmu bernafas lega kembali.
Load disqus comments

1 komentar:

Iklan Bawah Artikel