DRAMA : SHE WAS PRETTY (Review)


Drama Korea She Was Pretty




She Was Pretty. Penulis Jo Sung Hee berhasil memberikan pesan yang bagus dalam ceritanya “She Was Pretty.” Saya jadi menyimpulkan ternyata semua orang bisa menjadi pemeran utama dalam hidupnya. Sebenarnya kita memilih sendiri jalan hidup kita, kita yang menentukan kita pemeran utama atau hanya pemeran figuran. Itu yang saya simpulkan dari cerita ini.

Kisah ini seperti kebanyakan kisah lain, bercerita tentang sebuah kekuatan cinta pertama. Meski saya tidak yakin benar ada cinta pertama, tapi cerita She Was Pretty seolah menggambarkan kuatnya cinta pertama. Tapi meskipun begitu sebenarnya saya yakin yang memberikan kekuatan disini bukan cinta pertamanya, tapi ada sisi psikologis yang diberikan oleh si tokoh perempuan kepada tokoh prianya. Nah, masih yakin ada cinta pertama?






Jackson (panggilan kepada tokoh utama perempuan: panggilan ini diberikan oleh teman baru si perempuan pemeran utama) digambarkan sebagai perempuan yang tidak cantik, rambutnya berantakan, dan tidak pernah memakai make up. Dia memiliki masa lalu dengan seorang pria gendut yang selalu teraniaya hidupnya. Semasa kecil, Jackson adalah perempuan yang cantik dan baik hati. Si gendut adalah salah satu orang yang mendapatkan kebaikan dari Jackson. Si Gendut yang mendapatkan olok-olok dari temannya dan seorang yang penakut, mendapatkan perhatian yang lebih dari Jackson. Seluruh kasih sayang yang si Gendut butuhkan, dia dapatkan dari Jackson. Maka, hati si Gendut pun terpaku pada Jackson yang baik hati itu.
Baca Juga Keseruan nonton Drama Korea W-Two Worlds



Kisah mereka disimbolkan oleh sebuah puzzle dari lukisan Pierre Auguste Renoir. Puzzle tersebut bergambar seorang laki-laki dan perempuan yang sedang berdansa, dan dibalik mereka ada seorang perempuan yang digambar kecil, sedang mengintip kedua orang itu. Yang kemudian, Jackson memilih dia adalah seorang perempuan yang sedang mengintip di belakang. Ini terjadi karena sebuah peristiwa yang dia lakukan sendiri, karena ketidak percayaan dirinya ketika akan bertemu si Gendut yang pulang dari luar negeri dan ingin menemuinya.

Drama Korea She Was Pretty



Mungkin penulis Jo Sung-Hee terinspirasi oleh lukisan itu saat membuat cerita She Was pretty ini.

Jackson meminta Hari, teman perempuannya untuk menggantikannya bertemu dengan si Gendut, karena wajah Jackson berubah menjadi tidak cantik. Karena si Gendut sekarang sudah menjadi tampan. Dia membayangkan hal yang bukan-bukan, bahwa si Gendut yang sekarang menjadi tampan mungkin tidak akan menerima keadaannya yang tidak secantik dulu. Jackson berfikiran bahwa si Gendut tidak akan meneriman dia lagi menjadi cinta pertamanya, karena keadaannya yang berbeda drastis dari ia semasa kecil.

Kesalahan kecil pada akhirnya akan membawa kita pada kesalahan-kesalahan yang lebih besar. Salah masuk pintu karena takut, hanya akan membuat kesalahan yang besar di kemudian hari. Pantas saja, Widji tukul mengatakan bahwa “menghamba kepada ketakutan hanya akan memperpanjang perbudakan.” Pada akhirnya itulah yang terjadi pada Jackson, dia membuang kesempatan karena ketidak percayaan akan dirinya sendiri. Tanpa dia sangka, si Gendut menjadi Wakil Pimpinan Redaksi dimana ia bekerja. Si Gendut yang ia kenal, berbeda saat ia menjadi Wapimred. Si Gendut yang dulu dia kenal adalah orang yang penakut, bahkan dia tidak bisa bebicara di depan umum. Tetapi sekarang si Gendut yang sudah menjadi tampan itu sudah bisa memimpin rapat dengan baik, tegas, dan berwibawa.

Karena penampilan Jackson tidak terlihat seperti karyawan lain yang bekerja di Majalah itu, ia seringkali kena marah, karena penampilannya yang acak-acakan dan tidak mencerminkan karyawan majalah Fashion. Maka, ia pun seringkali mendapatkan marah dari Wapimred.

Memang mengerikan ya, cerita seperti ini. Karena saya fikir cerita seperti ini mengingatkan kita untuk selalu percaya pada diri sendiri dan menghindari pikiran negatif serta menduga-duga. Betapa mengerikan hidup dengan pikiran yang negatif dan selalu menduga-duga.

Berbagai konflik bermunculan, mulai dari Hari yang mulai mencintai si Gendut, Si Gendut yang selalu merendahkan Jackson, persahabatannya dengan Hari terancam, dan banyak hal yang ia sembunyikan dari si Gendut.


Perempuan, Pilihlah Menjadi Pemeran Utama



Penulis Joo Sung-Hee tidak membuat saya geram karena cinta yang tidak terbalaskan atau si Gendut yang mencintai Hari karena cantik. Ceritanya tidak seperti itu, dan ini yang menarik menurut saya. Dimana kisah mereka menggambarkan kuatnya sebuah peran psikologis (saya tidak ingin memakai kalimat ‘cinta pertama’) dari Jackson kepada Si Gendut. Si Gendut tidak berpaling kepada Hari, karena Hari cantik, sebab, pengalaman masa kecil si Gendut telah dicuri oleh Jackson yang menggantikan kasih sayang yang tidak didapatkan si Gendut. Dan ini mempengaruhi si Gendut sampai dewasa.

Malah sebaliknya, si Gendut meskipun dia tahu bahwa Jackson tidak lagi cantik dia tetap mencintai Jackson apa adanya. Karena pengalaman masa lalu yang si Gendut dapatkan dari jackson itulah yang membuat si Gendut hanya memilih Jackson. Si Gendut tidak pernah melupakan kebaikan masa lalu dari Jackson. Dan hal ini membuat Jackson sadar, bahwa apa yang dipikirkannya selama ini salah tentang dirinya.

Ya, kita bisa melihat ini dari sisi psikologis anak. Mereka yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tua, entah karena orang tuanya meninggal atau karena alasan lain, ketika mendapatkan perhatian dari orang lain pengaruhnya mungkin akan sangat kuat. Bahkan sampai ia menjadi dewasa. Kalau cerita ini pengaruhnya mungkin lebih dramatis, yaitu ke arah dimana si Gendut ingin memiliki orang tersebut. Pengaruh yang lebih nyata di kehidupan mungkin saja berupa sikap yang lebih negatif, misalnya dalam pacaran, mencari banyak perhatian dari lawan jenis, atau sering mempermainkan lawan jenis.

Selain itu, hal yang mesti diinggat dari cerita ini adalah sebuah kenyataan akan take and give. Tentang memberi dan menerima. Jackson memberikan kebaikan kepada si Gendut tanpa pamrih, dan kemudian tanpa disangka-sangka Jackson pun mendapatkan timbal balik yang luar biasa indahnya. Saya jadi teringat teman ketika membicarakan hal ini. Dia berniat menghianati pacarnya yang selingkuh juga, tapi kemudian niatnya diurungkan karena dia sadar pada keadaan take and give itu. Dia pada akhirnya yakin, apa yang dia berikan akan kembali kepadanya juga. Baik itu hal yang baik ataupun hal yang buruk.

Jackson selalu membuat dirinya menjadi pemeran pembantu, selama ini. Ia menyadari itu, ini tidak hanya terjadi pada kisah cintanya, tapi juga pada pekerjaannya. Dia seringkali mengatakan bahwa dia belum sanggup untuk menulis artikel ketika dia disuruh mencoba menulis sebuah artikel oleh direkturnya. Dia menolak karena merasa dia belum mampu, bahkan sebelum mencobanya.

Padahal si Gendut sama sekali tidak ingin melihat perempuan lain selain Jackson. Tujuan utama dalam hidupnya adalah bekerja dan menemukan Jackson.





Dan pada akhirnya Jackson menyadari bahwa pemeran utama itu adalah pilihan. Bukan ditentukan oleh nasib yang turun dari langit. Pemeran utama keberadaannya adalah sebuah ciptaan yang kita buat sendiri dan kita usahakan. Jika keberadaan kita dalam kehidupan rasa-rasanya hanya menjadi pemeran pembantu, maka apa lagi yang perlu kita perbaiki selain diri sendiri. Iya kan? She Was Pretty

Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel