Selektif Ngasih Pengemis



Fenomena pengemis di Indonesia sudah tidak bisa dibendung. Semakin hari nampaknya semakin banyak saja dan juga caranya semakin beragam. Mulai dari balita sampai lanjut usia kita bisa temukan mereka dimana-mana. Dipinggir jalan Soekarno Hatta atau di pinggiran kota seperti Cibiru.


Saya sering melihat anak-anak kecil berdua membawa sound system kecil menyanyi keliling, mereka anak laki-laki dan perempuan yang usianya sekitar usia lima atau enam tahun, itu disekitaran Cibiru. Mereka menyanyi diiringi musik dangdut yang tidak jelas kemana musik, kemana lirik. Dan sering ketika nongkrong di warung samping kampus pengemis seperti saling memberi tahu bahwa disana sedang banyak orang berkumpul. Sehingga, kadang uang lima ribu harus siap di kantong untuk sekedar memberi receh pada mereka agar segera pergi. Itupun saya kasih, kalo teman saya yang minta, kalau tidak ya saya biarkan saja.

Dan yang anehnya lagi, ada ibu-ibu dan dua orang anak kecil yang sejak saya masuk kuliah sampai keluar lagi mengemis di samping kampus. Kadang dekat gerbang, kadang di gerbang belakang. Kedatangan si ibu seperti pekerja kantoran saja, datangnya pagi sekali dan pulang malam sehabis isya kadang saya masih lihat si ibu itu keliling dengan anaknya. Mungkin sembari pulang, si ibu itu juga meminta-minta. Tapi salut lho, dia konsisten.

Yang saya tidak senang dari para pengemis itu mereka membawa anak-anak. Saya yakin mereka mencari perhatian agar lebih dikasihani dengan membawa anak-anak. Ingin menunjukan bahwa mereka punya banyak anak dan tidak punya uang. Atuh, bu kalau mau mengemis mah jangan bawa anak-anak segala.

Dan hebatnya anak-anak itu, mereka jadi tidak malu meminta-minta kepada orang lain. Di Bandung itu banyak, banyak sekali. Pokoknya kalau kamu diam di tempat rame atau lagi makan bakso di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian mereka akan datang menyodorkan tangan untuk dikasih uang.

Dan banyak juga ibu-ibu serta teteh-teteh yang masih bisa mencari uang dengan jalan yang lebih baik. Usia-usia mereka masih bisa mencari kerja kesana-kemari seperti menjadi asisten rumah tangga. Kan banyak toh yang membutuhkan asisten rumah tangga. Saya yakin tenaga mereka juga masih cukup untuk bekerja di pabrik-pabrik, atau membuat gorengan dan di jual. Seperti Mak Odah yang ada jualan di samping kampus. Nenek berusia 70 tahunan itu juga masih kuat jualan gorengan. Meskipun gigi sudah ompong kemana-mana. Dan saya, serta teman-teman saya juga akan lebih sedih liat mak Odah daripada ibu-ibu yang minta-minta dengan banyak anak digembol dikanan dan kiri.

Maka dari itu, saya lebih senang memberi uang kepada para musisi jalanan atau pengemis-pengemis tertentu yang memang terlihat sangat membutuhkan. Banyak toh dari mereka yang suaranya bagus, seperti yang sering saya temui di POM Bensin Malangbong kalo tidak salah nama tempatnya. Kebetulan bis jurusan Bandung-Ciamis sering lewat sana, dan mereka selalu memburu bis-bis yang berhenti itu. Suara mereka bagus dan alat musik yang digunakan juga beragam, gitar, jimbe, dan kadang drum kecil saya tidak tahu apa namanya. Lagu yang mereka nyanyikan juga tidak kalah keren, mereka sering menyanyi iwan fals, atau lagu-lagu lawas yang sarat makna.

Makanya, hayu ah stop ngasih ke pengemis yang seperti itu. Selektif lah kalau mau ngasih juga. Atau kalau mau beramal, sholat saja di mesjid terus pulangnya masukin uang ke kotak amal. Seribu dua ribu juga jadi pahala. Daripada ngasih ke orang-orang yang sering mengemis pembawa anak-anak.

TUlisan hari ini terinspirasi dari sini http://www.pekanews.com/2015/02/tahukah-anda-mengapa-bayi-pengemis.html



Load disqus comments

0 komentar

Iklan Bawah Artikel